NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pembantu
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bacaan Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Mabuk dan Gairah

Makan malam itu berakhir sebagaimana ia dimulai—tertata rapi di permukaan, namun menyisakan kekacauan di baliknya. Setelah keluarga Diharja meninggalkan kediaman Aryanaka, para pelayan kembali membereskan meja, lilin-lilin dipadamkan, dan taman belakang kembali menjadi ruang sunyi yang hanya ditemani suara serangga malam.

Bagas menyaksikan semua itu dari kejauhan, termenung dalam kesendirian. Ucapan Hendra Cakra Diharja terus menggema di kepalanya, menolak pergi meski malam semakin larut.

Kalau kamu ingin pernikahan kalian tetap direstui, kamu harus membantu menghentikan penyelidikan kasus itu.

Jika kamu tidak mau, maka tidak ada pernikahan.

Saya tidak ingin mempunyai menantu yang menjadi musuh saya sendiri.

Bagas menghela napas panjang. Ia naik ke lantai atas, masuk ke ruang kerjanya, lalu berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap taman. Disana, lampu taman telah dipadamkan, menyisakan bayangan dedaunan pohon yang bergerak.

Ia merasa terjebak.

Sebagai Jaksa, ia tahu betul apa konsekuensi apabila bermain kotor. Namun, sebagai calon menantu, ia dipaksa memilih antara prinsip, atau sosok yang ia cinta—Farah Putri Diharja. Dua hal yang selama ini ia yakini bisa berjalan berdampingan, tetapi kini malah dipertentangkan secara brutal.

Tangannya merogoh ke dalam lemari kecil yang tersembunyi disana. Sebotol minuman alkohol ia keluarkan, diikuti gelas kristal yang jarang ia sentuh. Bagas menuang tanpa ragu.

Satu tegukan.

Panas menjalar di tenggorokan, turun ke dada, tapi tidak cukup membakar amarah yang mengendap.

Tegukan kedua. Ketiga.

Ia duduk di kursi, menyandarkan kepala dengan mata terpejam. Wajah Farah muncul sekilas di benaknya—tenang, idealis, dan selalu percaya bahwa Bagas akan melakukan hal yang benar. Justru itu yang membuat dadanya semakin sesak.

"Sial, semua orang ingin aku tunduk," gumamnya lirih.

Tanpa sadar, botol itu hampir setengah kosong ketika Bagas berdiri kembali. Langkahnya terlihat sudah tidak stabil.

Ia akhirnya keluar dari dari ruang kerjanya, menyusuri lorong, menuruni tangga panjang dengan langkah limbung. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan aneh di dinding, dan saat itu pula, matanya berhenti pada sebuah pintu.

Pintu kamar Sarah.

Entah dorongan apa yang menggerakkan tangannya. Bagas tidak mengetuk. Pintu itu didorong dan terbuka begitu saja. Disana, di ranjang beralas kain putih, seorang wanita dengan baju tidur berwarna merah muda sedang tertidur teramat pulas.

Dalam pandangan mata yang buram, Bagas tetap dapat melihat kecantikan sang dara—terlentang dengan selimut yang tersingkap. Tubuh moleknya sungguh menggoda dibawah sinar rembulan yang menyelinap masuk melalui teralis jendela. Sama seperti Bagas, yang dengan kurang ajarnya menyusup kesana, guna mencari pelampiasan akan emosi yang belum terealisasi.

Perlahan pria itu mendekat, mengambil posisi duduk dipinggir ranjang. Tangan besar berurat itu mengelus rambut hitam nan panjang yang terurai indah di atas bantal.

"Saya ingin kamu, Thalia," bisik Bagas sambil tangannya dengan cepat berpindah menuju bibir—berkeliling disana, menikmati keindahan, kelembutan, dan harum yang mengundang jiwa lelakinya.

Merasa sudah tidak bisa meredam gairah yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan, Bagas langsung saja menundukkan kepala, perlahan menyerbu bibir menggoda milik Sarah.

Awalnya hanya sebatas kecupan - kecupan kecil yang pria tersebut berikan, namun lama-kelamaan, karena terasa manis dan membuatnya candu, Bagas semakin meningkatkan intensitas.

Setelahnya, tidak lagi berkutat dengan kecupan ringan, kini bibir tebal Bagas kian memberikan lumatan beringas.

"Eughh," lenguh Sarah masih dengan mata terpejam.

Perempuan itu sepertinya benar-benar kelelahan. Bahkan, ketika lidah Bagas telah masuk—melesak dan menguasai seluruh mulut Sarah, si pembantu baru itu tetap tidak terbangun.

Hal tersebut semakin mengundang birahi Bagas Aryanaka. Ia semakin beraksi dengan meremas dada sang dara. Bergantian disana ia nikmati keduanya. Mulutnya juga disibukkan dengan memberikan tanda liar pada seluruh ceruk leher wanita yang ia anggap sebagai gundik barunya.

"Eughh, akhh....Mashh Bagas."

"Cih, bahkan dalam tidur pun, kamu terus memikirkan aku ya Thalia," celetuk Bagas bangga.

Bagas disana semakin kehilangan kendali. Napasnya berat, gerakannya kasar, sementara kesadarannya tergerus oleh alkohol dan emosi yang menumpuk. Kerapian pakaian Sarah sudah tidak lagi utuh, berantakan karena ulah tangan besar sang majikan.

Dan saat itulah—

Sarah yang merasa terganggu dalam tidurnya, tiba-tiba terbangun.

Matanya terbuka lebar, napasnya sontak tersendat saat menyadari ada seorang pria yang berada dikamarnya, bahkan dengan santainya menjulang diatasnya tubuhnya.

"Bagas Brengsek Aryanaka!" jerit Sarah kesal dalam benaknya.

Posisi Bagas terlalu dekat. Panik menyergap Sarah seketika. Refleks, ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga.

"Lepaskan!" bentak Sarah pada akhirnya.

Namun, dengan tangkas, Bagas justru menangkap pergelangan tangannya erat, mencengkeram keras hingga membuat wanita dibawahnya meringis.

"Diam," ucap Bagas rendah dan kasar.

"Jangan rusak kesenanganku malam ini. Kamu mainan baruku!"

Ucapan itu membuat darah Sarah mendidih. Takut bercampur amarah, ia kemudian meronta keras. Tetapi tenaga Bagas tentu lebih kuat.

"Saya bukan mainan Anda, lepaskan saya!" teriaknya.

Bagas tertawa pendek, nadanya sinis. "Sejak kamu menjawab 'Iya', Maka kamu sekarang adalah mainan saya. Posisi gundik memang sangat cocok untuk wanita murahan seperti kamu!"

Mendengar penjelasan sekaligus ejekan dari mulut putra tunggal Aryanaka itu, Sarah semakin merasa marah. Kepalanya kian bergerak cepat—semakin berusaha untuk lepas dari cengkeraman Bagas yang menyakitkan.

Akan tetapi, tetap saja tidak ada yang berubah, bahkan Bagas menjadi semakin beringas. Ia tahu tenaganya sebagai perempuan tidak akan cukup. Maka, dengan sisa keberanian yang ia punya, Sarah meludah tepat ke wajah Bagas.

Waktu seolah berhenti.

Bagas terdiam. Matanya membelalak, wajahnya berubah gelap dalam sekejap. Perlahan ia menyeka ludah itu, rahangnya mengeras.

"Kamu cari mati?" desisnya tajam.

Sarah menahan gemetar, tapi tatapannya kini lurus dan menantang. Suaranya sedikit bergetar, namun masih bisa terdengar cukup jelas.

"Saya belum resmi jadi gundik Anda, selama belum ada perjanjian hitam di atas putih."

Kalimat itu menghantam Bagas lebih keras dari tamparan mana pun.

Ia tertegun.

Bukan karena ancaman. Bukan karena kelancangan semata. Tapi, karena untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang berani meludah kepadanya. Berani menentang Bagas di depan wajahnya, dan berani melawan otoritas miliknya sedemikian rupa.

Keheningan pun menguar di antara mereka.

Bagas melepas cengkeramannya perlahan. Dadanya naik turun, amarah dan mabuk beradu di kepalanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memilih mundur selangkah.

Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada kemenangan di sana—hanya luka, penghinaan, dan sesuatu yang terasa memilukan.

Bagas berbalik, melangkah keluar dengan langkah berat. Pintu dibelakangnya ia tutup keras. Sarah segera mengunci pintu kamarnya itu. Tubuhnya melemas, ia jatuh terduduk di tepi ranjang, napasnya tersengal, dan tangannya gemetar hebat.

Malam itu, ia tahu satu hal pasti.

Bagas Aryanaka bukan hanya berbahaya karena perubahannya, namun juga berhasil membangkitkan trauma Sarah akan cinta yang berujung dusta.

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!