Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Saat Aru sudah berada di sebuah rumah makan Padang yang cukup terkenal di kota Jakarta, ia bersiap melakukan pertemuan dengan kliennya. Sebelumnya, Aru telah memesan sebuah ruangan VIP khusus demi kenyamanan meeting hari ini.
Sejak pukul sembilan pagi, Aru sudah memulai rapat bersama pemilik GMT Group. Setelah hampir dua jam berdiskusi mengenai berbagai poin kerja sama, akhirnya meeting itu pun selesai.
“Konsep ini cukup berani,” ujar Pak Damar sambil menyandarkan tubuh. “Tapi justru itu yang membuatnya menarik.”
Aru tersenyum profesional. “Kami ingin pembangunan ini tidak hanya cepat selesai, Pak, tapi juga memiliki nilai jangka panjang.”
Setelah hampir dua jam berdiskusi, pertemuan pun mencapai kesimpulan.
“Saya rasa kerja sama ini akan berjalan dengan baik,” kata Pak Damar sambil berdiri. “Terima kasih atas pemaparannya, Aru.”
“Terima kasih kembali atas kepercayaannya, Pak,” balas Aru sambil menjabat tangan Pak Damar GMT Group akan menjaga komitmen yang sudah kita sepakati
“Senang bekerja sama dengan Anda, Pak Damar,” ucap Aru ramah sambil menjabat tangan kliennya.
“Saya juga senang bekerja sama dengan GMT Grup,” balas Pak Damar sambil tersenyum. “Ditambah lagi, kamu selalu memberikan ide-ide kreatif dan inovatif dalam setiap kerja sama kita. Itu nilai plus yang jarang saya temui.”
Aru tersenyum sopan. “Terima kasih atas pujiannya, Pak. Saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proyek yang kita jalani.”
“Baiklah kalau begitu, Aru,” ucap Pak Damar sambil merapikan jasnya. “Saya harus segera berangkat ke luar kota. Untuk perkembangan pembangunan selanjutnya, kamu bisa langsung berkoordinasi dengan sekretaris saya.”
“Baik, Pak. Akan saya tindak lanjuti,” jawab Aru sambil mengangguk paham.
“Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat siang.”
“Selamat siang, Pak Damar. Semoga perjalanan lancar.,” balas Aru.
Pak Damar pun keluar dari ruangan VIP tersebut. Aru kemudian membereskan beberapa berkas yang masih tergeletak di atas meja. Ia masih berada di tempat yang sama karena setelah ini akan melanjutkan meeting berikutnya bersama perusahaan lain.
Merasa pikirannya mulai penat, Aru memilih beristirahat sejenak untuk menenangkan otaknya sebelum kembali bekerja.
“Lumayan menguras pikiran,” gumamnya pelan sambil membuka ponsel, memberi waktu pada otaknya untuk beristirahat sebelum meeting berikutnya.
...****************...
Di sisi lain, Kenan sudah berada di dalam mobil Rubicon hitam kesayangannya bersama Joe, Kai, dan Amar yang bertugas sebagai sopir sekaligus pengawal. Kenan memang dikenal gemar mengoleksi mobil-mobil gagah seperti Ferari, Rubicon, Lamborghini, Mercedes Benz.
Kenan duduk di kursi belakang bersama Kai. Sejak dari rumah, Kai namapak bersemangat ingin segera sampai. Kenan sudah memberi tahu Kai bahwa hari ini mereka akan makan siang bersama Aru. Tanpa banyak tanya, bocah kecil itu langsung menyambut rencana tersebut dengan penuh antusias.
Wajah Kai tampak berseri sepanjang perjalanan.
"Daddy… nanti Kai boleh duduk dekat Bunda, kan?” tanyanya dengan mata berbinar.
Kenan tersenyum kecil. “Boleh. Tapi ingat, Bunda masih ada kerjaan. Jadi Kai nggak boleh nakal. Kai harus tunggu bunda selesai kerja dulu. ”
Kai mengangguk cepat. “Nggak apa-apa, Dad. Kai mau tunggu. Yang penting bisa ketemu Bunda.”
Walaupun Kai masih tiga tahun, tapi bocah itu sudah sangat fasih berbicara.
Joe yang duduk di kursi depan ikut tersenyum mendengar percakapan itu. Jarang sekali ia melihat Kai seantusias ini hanya untuk makan siang bersama seseorang. Biasanya dirumah maupun diluar, Kai termasuk anak yang sangat susah makan. Bahkan Kenan dan keluarganya sampai kehabisan cara untuk menyuruh Kai makan.
Joe melirik lewat kaca spion dan tersenyum samar. “Kelihatannya seseorang lagi bahagia hari ini.”
Kai tertawa kecil. “Kai senang mau makan sama Bunda,uncle.”
Kenan mengusap kepala Kai dengan lembut. Ada perasaan hangat sekaligus bersalah di dadanya hangat karena melihat anaknya kembali ceria, dan bersalah karena selama ini Kai tumbuh tanpa sosok ibu di sisinya.
“Nanti kalau bunda sudah selesai kerja, kamu boleh menyapanya,” ujar Kenan pelan.
“Iya, Dad. Kai janji nggak rewel,” jawab Kai mantap.
Tak lama kemudian, mobil Rubicon hitam itu berhenti di depan rumah makan Padang tempat Aru berada. Kenan, Joe, Kai, dan Amar turun dari mobil dan melangkah masuk dengan sikap tenang. Kehadiran mereka langsung menarik perhatian para pengunjung—bukan tanpa alasan, empat pria dengan aura berbeda itu tampak mencolok di antara keramaian restoran.
Kenan langsung menuju ruangan VIP yang telah dipesan Aru sambil menggendong Kai.
Baru saja pintu ruangan dibuka, Kai langsung berlari kecil ke dalam.
“Bundaaaa!” panggilnya lantang dengan suara riang.
Aru yang sedang duduk langsung menoleh. Ia terkejut melihat Kai. Namun,wajahnya langsung berubah cerah. Ia berjongkok dan membuka kedua tangannya.
"Kai,” ucap Aru.
Kai turun dari kendongan Kenan dan langsung berlari ke arah Aru.
“Sini sayang,” ucap Aru lembut.
Kai langsung memeluk Aru erat.
“Kai kangen,” katanya pelan namun jelas.
Aru mengelus punggung Kai. “Bunda juga. Kamu sehat, sayang ?”
Kai mengangguk. “Sehat bunda."
Kenan, Joe, dan Amar berdiri sejenak di dekat pintu, memberi waktu bagi keduanya untuk melepas rindu. Senyum tipis terukir di wajah Kenan tanpa ia sadari, melihat bagaimana Kai begitu nyaman dalam pelukan Aru.
Joe berdeham kecil. “Sepertinya Kai sudah menemukan zona nyamannya.”
Kenan hanya mengangguk pelan.
“Maaf, Pak Kenan,” ujar Aru. “Tadi sempat ada klien.”
“Tidak apa-apa,” jawab Kenan tenang. “Saya paham.”
Setelah suasana sedikit mereda, mereka pun mulai duduk dan membahas kerja sama antara Baskara Group dan Kama Company. Diskusi berlangsung serius, meski sesekali Kenan mencuri pandang ke arah Aru.
Di meja lain dalam ruangan yang sama, Kai duduk bersama Amar sambil memainkan ponsel, berusaha menepati janjinya untuk tidak mengganggu.
“Bagaimana kalau kita lakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek?” usul Aru serius.
“Bukan karena kita tidak percaya tim lapangan, tapi agar kita benar-benar yakin progres pembangunan rumah sakit dan hotel ini bisa selesai tepat waktu.”
“Itu ide yang bagus,” jawab Kenan mantap. “Dengan begitu kita bisa tahu apa saja yang masih perlu ditingkatkan. Nanti kamu dan Joe atur jadwalnya.”
"Baiklah kalau begitu pak Leo. Nanti saya akan atur dan konfirmasikan pada pak Jef. "
Joe mengangguk setuju"Baik Aru" .
Beberapa jam kemudian, meeting pun selesai. Mereka kini duduk di satu meja yang sama untuk makan siang bersama, suasana terasa lebih santai dan hangat.
Kai tampak duduk tenang di samping Kenan, sesekali melirik Aru dengan senyum kecil.
Makanan mulai dihidangkan. Suasana berubah lebih santai. Kai melirik Aru sesekali, memastikan keberadaannya.
“Daddy,” bisik Kai, “Bunda di sini, kan?”
Kenan tersenyum kecil. “Iya.”
Aru menangkap itu dan membalas dengan senyum hangat.
Untuk sesaat, semuanya terasa sederhana—tanpa tekanan kerja, tanpa beban masa lalu. Hanya makan siang, tawa kecil, dan kehangatan yang perlahan tumbuh.
Bersambung...............