NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah

Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Arga dan Anya duduk berdampingan, sementara Galen tak henti menempel pada Pramudya, persis seperti ibunya, Rini.

"Arga, Anya," Pramudya membuka percakapan, "apa kalian ingin Ayah berikan apartemen sebagai tempat tinggal? Atau rumah sekalian?"

Anya hampir saja menjawab, namun suara Rini memotongnya. "Rumah ini saja sudah cukup. Apartemen atau rumah terpisah terlalu besar untuk pasangan muda seperti kalian."

Anya mendecih pelan. Ia menatap Rini, menyadari wanita itu tak henti-hentinya memprovokasinya. Dengan nada tegas, Anya menjawab, "Aku ingin rumah sendiri, Ayah. Agar aku dan Arga memiliki ruang dan privasi yang Lebih leluasa." Ia sengaja mengabaikan tatapan sinis Rini.

Galen menyeringai mengejek. "Anya, kalian berdua masih muda. Lagipula, Arga punya masalah mental yang butuh pengawasan. Lebih baik kalian tinggal di sini saja, biar Ayah bisa memantau perkembangannya," ucap Galen dengan nada merendahkan.

Anya hanya bisa memutar mata. "Ya ampun, ibu dan anak sama-sama menyebalkan! Padahal aku ingin punya rumah sendiri biar bisa melakukan apapun yang kumau" batin Anya kesal.

Anya mendelik tajam ke arah Galen. "Urusan Arga adalah urusanku, karena aku istrinya. Ayah sudah mempercayakan Arga padaku, dan aku mampu menjaganya. Kami butuh ruang untuk belajar mandiri, bukan pengawasan tanpa henti," balas Anya dengan nada dingin, setiap katanya penuh penekanan. Ia kemudian menoleh pada Pramudya, memohon dukungan.

"Sudah, cukup," Pramudya menengahi. "Apa yang kalian katakan ada benarnya. Arga memang masih butuh perhatian, dan mereka berdua juga butuh privasi. Karena itu, Ayah akan membelikan kalian rumah sebagai hadiah pernikahan."

Senyum sinis terukir di bibir Anya, ditujukan pada Galen dan Rini yang tampak kesal.

Namun, Arga masih terpaku, menundukkan kepala dalam diam. "Ayah, apa Ayah lupa kalau Arga tidak bisa jauh dari Ayah?" tanya Galen, berusaha membujuk Pramudya agar berubah pikiran.

"Arga harus belajar mandiri, Galen. Ayah tidak bisa terus-menerus melindunginya. Justru itu yang akan menghambat perkembangannya," jawab Pramudya tegas.

Dengan ragu, Arga mengangkat wajahnya, menatap Pramudya dengan mata yang penuh ketakutan. "Tapi, Ayah... Arga mau Ayah di sini. Arga mau Ayah, Arga nggak mau Ayah diambil orang lain," bisiknya nyaris tak terdengar. Ketakutan terpancar jelas dari wajahnya.

"Ada Anya yang mendampingi Arga. Dan perlu Arga tahu, Ayah tidak akan diambil oleh siapapun dan Ayah akan tetap menjadi Ayahnya Arga," ucap Pramudya mencoba memberikan pengertian pada Arga.

"Arga hanya mau Ayah..." Arga terisak, air mata mulai membasahi pipinya.

Di balik senyum simpatiknya, Galen menyeringai kecil, hampir tak terlihat. "Sempurna. Dengan begini, aku bisa lebih mudah mengendalikan Arga dan mendapatkan apa yang kuinginkan dari Ayah," pikirnya licik. Ia yakin, rencananya akan berhasil.

"Arga, Ayah tahu ini sulit. Tapi Ayah melakukan ini karena Ayah sayang sama Arga. Ayah ingin Arga bisa mandiri dan bahagia. Ayah akan selalu ada untuk Arga, meskipun kita tidak tinggal serumah lagi. Ayah janji akan sering mengunjungi Arga dan Anya." Pramudya memeluk Arga erat, mencoba menenangkan putranya.

"Arga, Ayah tahu ini berat. Tapi Ayah melakukan ini karena Ayah sayang sama Arga. Ayah ingin Arga bisa mandiri dan bahagia. Ayah akan selalu ada untuk Arga, meskipun kita tidak tinggal serumah lagi. Ayah janji akan sering mengunjungi Arga dan Anya," ucap Pramudya sambil memeluk Arga erat, berusaha menenangkan putranya yang masih berurai air mata.

Galen mendesah kesal melihat Pramudya yang selalu saja memanjakan Arga di depan matanya. "Ayah, sudahlah, kasihan Arga. Dia ingin terus bersama Ayah."

"Iya, Mas. Arga pasti tidak akan nyaman di tempat baru," timpal Rini, berusaha meyakinkan Pramudya, Rini berusaha menghasut Pramudya seperti menambahkan bensin ke dalam api.

"Kenapa kedua orang ini selalu saja membuatku naik darah?" batin Anya geram, menatap tajam keduanya.

"Arga, tenanglah, ada aku yang akan menemanimu," ucap Anya lembut, berusaha membujuk Arga agar tidak terus bersedih. Ia tidak mau kalah dari dua orang menyebalkan itu. Bagaimanapun juga, ia dan Arga harus memiliki rumah baru.

Mendengar ucapan Anya, Arga sedikit lebih tenang. Ia melepaskan pelukan Pramudya dan menatap Anya dengan mata sembab. "A-apa benar, Anya? Anya akan terus menemani Arga?" tanyanya dengan suara serak.

"Tentu saja, Arga. Aku akan selalu bersamamu. Kita akan membuat rumah baru kita menjadi tempat yang paling nyaman dan bahagia," jawab Anya dengan senyum terpaksa tanpa diketahui oleh mereka. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Arga demi rumah baru.

Pramudya menghela napas lega melihat Arga mulai tenang. Ia berharap Anya benar-benar bisa menjadi sandaran bagi putranya, seperti yang ia janjikan.

Rini, seolah tak ingin melihat kebahagiaan itu, mendengus sinis. "Ck, mudah sekali termakan omongan manis. Kita lihat saja nanti, apa kamu sanggup bertahan di rumah baru itu, Anya. Arga butuh perhatian khusus, tidak semua orang punya cukup kesabaran untuk mengurusnya."

Anya menoleh, sorot matanya dingin membeku saat menatap Rini. "Tante tidak perlu ikut campur. Saya lebih tahu apa yang terbaik untuk Arga," balasnya dengan nada setajam pisau.

"Arga mau rumah baru dari Ayah!" seru Arga dengan riang, persis seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Pemandangan itu membuat Galen merasa mual. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika bisa melenyapkan Arga dari muka bumi ini, sehingga ia bisa menjadi putra tunggal kesayangan Pramudya.

"Arga, jangan kekanak-kanakan begitu. Kamu tidak malu pada istrimu?" tegur Galen dengan nada merendahkan, seketika membuat Arga terdiam dan menatapnya dengan tatapan kosong.

"Galen, jangan ikut campur urusan Arga. Dia itu suami saya. Kalau kamu mau mengurus Arga, silakan saja, tapi jadi babysitter-nya," balas Anya dengan nada mengejek yang menusuk yang membuat Galen terbungkam.

Mata Galen menyipit mendengar ucapan Anya. "Oh, jadi begitu caramu menghargai kakak iparmu sendiri? Aku hanya khawatir pada Arga, tidak seperti kamu yang hanya memikirkan keuntungan sendiri," balas Galen dengan nada sinis.

Anya tertawa sinis. "Khawatir? Atau ingin ikut campur urusan kami? Lebih baik urus saja dirimu sendiri, Galen. Aku yakin, ada banyak hal yang lebih penting yang harus kau lakukan daripada mengurusi hidup orang lain."

"Sudah, cukup! Aku tidak mau ada pertengkaran lagi di rumah ini," seru Pramudya dengan nada tegas dan berwibawa. Ia menatap Galen dan Anya bergantian, seolah memberikan peringatan. "Kalian berdua harus bisa saling menghormati. Arga juga sudah dewasa, dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri."

Arga semakin menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah menjadi penyebab pertengkaran antara Anya dan Galen. Ia merasa rendah diri, menyadari bahwa dirinya memang merepotkan dan tidak bisa seperti orang lain pada umumnya.

"Maafkan Arga," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. "Arga salah..."

Anya menatap Arga berusaha menenangkan Arga, "Sudah Arga, kamu tidak salah. Kamu kan anak baik tidak seperti mereka yang hanya bisa berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu," ucap Anya dengan penuh sindiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!