NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.21. Ashes and Silence

Pertempuran telah selesai dengan kemenangan telak dari kelompok Theo, banyak bandit yang tersisa memilih menyerah dan kabur. Tawa dari kelompok Marek keras mengisi desa, meski ada beberapa dari mereka yang terluka mereka semua masih terlihat senang saat tahu Marek yang mengalahkan bos bandit.

Berbeda dengan Halvar dan prajuritnya, terlihat murung karena kehilangan satu orang dari mereka. Perasaan bersalah Halvar saat melihat tubuh anak buahnya tergeletak di tanah membuatnya sedikit marah.

Theo melihat dua kelompok itu dari tempat berdiri, dia melangkah pergi tanpa ada yang menyadari.

“HAHAHA”

“Kau memang keren ketua!!!”

“Babi itu tak bisa berkutik dengan kekuatanmu”

Semua orang menyanjung Marek.

Marek hanya diam, menarik kapaknya dari kepala bos bandit. Lalu dia melihat sekeliling.

“Dimaana bocah itu?” tanya Marek pada semua orang.

Semua orang langsung sadar, Theo menghilang saat pertempuran berakhir.

Halvar juga langsung menoleh di tempat terakhir melihat Theo—tapi dia sudah menghilang.

“Apa mungkin dia sedang mengejar sisa bandit yang kabur?” tanya seseorang.

“Tidak, dia bukan anak yang seperti itu,” jawa Calder.

“Calder, kau cari temanmu itu. Yang lain urus para bandit yang menyerah dan sisa mayat-mayat ini, dan ambil apapun yang berguna,” perintah Marek cepat. “Aku akan mencari sisa penduduk desa.”

Marek melirik Halvar yang masih diam terpaku, lalu melangkah pergi.

.

Di sisi lain desa, Theo menyusuri tempat dengan langkah tenang.

‘Aku mersakan aura kehidupan dari sini, tapi aku tak tahu pastinya. Bagaimana denganmu Lily?'

[TING]

“Saya juga merasakannya tuan, tapi sepertinya mereka sedang sekarat sekarang, itulah kenapa hawa keberadaan mereka sangat tipis.”

Lalu Theo melihat bangunan yang masih utuh di sudut desa, terlihat seperti gudang untuk seluruh desa. Dia melangkah ke bangunan itu, membuka pintu besar dengan perlahan, wajahnya berubah menjadi gelap saat melihat pemandangan yang ada di dalam. Lima wanita sedang meringkuk ketakutan saat melihat Theo di pintu masuk, mereka hanya menggunakan kain seadanya untuk menutupi tubuh mereka. Wajah mereka terlihat pucat, kering dan banyak luka memar di sekujur wajah dan tubuh.

Theo mengepal tangannya erat.

“Harusnya ku cincang saja babi berengsek itu!!!” ucap Theo, dia menahan amarahnya.

“Yah, kau benar bocah, harusnya aku mencincangnya dulu sebelum membunuhnya!!!” ucap suara yang tiba-tiba berdiri di samping Theo.

Theo menoleh suara familiar itu.

“Kenapa kau di sini?” tanya Theo.

“Aku yang harusnya bertanya, kenapa kau bisa menemukan tempat ini lebih cepat,” ucap Marek melangkah masuk mendekati wanita-wanita itu di sudut ruangan.

Theo hanya menatap, masih di tempatnya berdiri.

Marek mendekati para wanita itu, dengan perlahan. Melihat mereka sangat ketakutan saat melihat Marek.

“Tenanglah, kami sudah membunuh orang yang menyakiti kalian. Kalian bisa lebih tenang sekarang.” ucap Marek, menenangkan para wanita itu dengan sangat lembut.

“Be-benarkah tuan?” tanya salah satu wanita.

“Yah,” jawab Marek. “kalian bisa kembali ke rumah kalian sekarang.”

Lima wanita itu saling bertatapan, air mata mereka langsung tumpah saat mendengar penjelasan Marek.

Marek menatap dengan lembut, berjongkok di dekat mereka.

Membiarkan mereka berlima menangis.

Melihat itu, Theo memutuskan untuk meninggalkan mereka.

.

Theo kembali ke kelompoknya.

Para prajurit bayaran sedang sibuk mengurus mayat-mayat bandit, menumpuknya satu persatu.

“Tumpuk mereka semua, jangan ada yang tertinggal!!!!”

“Siapkan api untuk membakar mereka!!!”

Mereka semua bergerak cepat, bahkan prajurit Halvar juga membantu mereka.

Di sudut lain, bandit yang menyerah diikat satu sama lain. Theo melangkah mendekati mereka. Mereka semua melihat Theo dengan datar, tak ada rasa takut pada anak kecil seperti Theo.

“Hei, Ash.” panggil Calder dari belakang. “Dari mana saja kau?”

Theo tak menghiraukan panggilan Calder, dia masih menatap para bandit itu.

“Ash?” panggil Calder lagi.

“Dimana markas kalian?” tanya Theo.

Bandit-bandit masih diam menatap Theo, beberapa dari mereka juga menahan tawa.

“Hei, anak kecil!!! Jangan terlalu som...”

Kepala pria itu lepas sebelum menyelesaikan kalimatnya.

Semua orang terkejut.

Calder mendekati Ash dengan cepat, “Ash, apa yang kau lakukan?”

“Hei, bocah, apa-apaan kau itu?”

Theo menatap Calder dan yang lain, “Diamlah!!!”

Semua langsung terdiam, tak ada yang bergerak dan berbicara. Mereka sadar, sesuatu yang lebih menakutkan dari lima puluh bandit berdiri di depan mereka.

Theo menatap para bandit lagi.

“Dimana markas kalian?” tanya Theo sekali lagi.

Mereka masih diam, bukan karena meremehkan Theo, sekarang mereka diam karena terlalu takut untuk bersuara.

“Ada apa ini?” suara Marek, memecah keheningan.

Semua orang menolehnya.

Satu orang mendekatinya.

“Ketua...” menujuk ke arah Theo berdiri.

Marek melangkah cepat ke Theo. Lalu melihat satu tubuh tanpa kepala, dan belati yang di pegang Theo masih mengalir darah segar.

“Hei, bocah. Apa yang...” ucapannya terhenti saat melihat sorot mata Theo.

“Ma-mar-kas ka-mi...”

Satu kepala tepotong lagi oleh belati Theo.

“Jawablah yang jelas,” ucap Theo.

“D-di hutan wilayah selatan, bu-butuh dua hari untuk sampai ke sana,” jawab seseorang dengan cepat setelah melihat kepala temannya menghilang.

Theo menghela napasnya, memasukkan lagi belati itu.

“Sekarang giliranmu paman” ucap Theo, melangkah pergi meninggalkan semua orang.

Mereka semua mulai bisa bernapas setelah Theo pergi.

Dari sisi lain, Halvar terpaku menatap Theo.

.

Setelah ketegangan yang terjadi, suasana kembali seperti semula. Para prajurit juga menyisir setiap sisi desa untuk menemukan sisa mayat dari para penduduk desa.

Mereka semua bergerak cepat, lebih sedikit mengeluarkan suara.

Karena di dalam kepala mereka, masih terbayang-bayang dengan kesadisan yang di perlihatkan Theo. Sedangkan Theo sendiri tidur bersandar tembok rumah yang kosong, tanpa mempedulikan tatapan semua orang. Di sisi lain Halvar duduk termenung, menatap prajuritnya yang sedang membantu para prajurit bayaran. Di sebelahnya, tubuh prajurit Halvar tergeletak—hanya tertutup kain putih kecil.

“Jadi setelah ini apa?” tanya Marek berdiri di sebelahnya.

Halvar menolehnya.

“Menurutmu apa yang terbaik sekarang?”

Marek mendengus, menggaruk kepalanya—merasa kasihan pada kapten malang itu.

“Desa ini sudah hancur, tak ada lagi yang tersisa,” jawab Marek. “Hanya ada lima wanita yang tersisa, kita harus mengungsikan mereka dari desa ini. Lalu...”

Marek merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

“...mau kita apakan informasi yang kita dapat?” lanjut Marek.

Halvar hanya diam.

“Aku tak punya otoritas untuk ini, tapi dengan informasi itu... mungkin kita bisa mencegah desa lain agar tidak seperti desa ini.” ucap Marek.

Halvar terdiam sebentar, lalu menarik napasnya dalam-dalam.

“Berapa hari jarak kota terdekar dari sini?” tanya Halvar.

“Kota Briarhold ada di sebelah timur dari sini, mungkin satu hari kalau menempuh jalur utama.” jawab

Halvar berdiri setelah mendengar ucapan Marek.

“Baiklah, kita pecah pasukan untuk menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan kembali ke ibu kota untuk melapor, dan menyerahkan para bandit itu lalu...” Halvar melihat tubuh parjuritnya. “... satu lagi akan menuju Briarhold untuk mengungsikan sisa penduduk desa ini.”

“Baiklah, aku akan mengaturnya.” ucap Marek, melangkah pergi.

Api menyala di pinggiran desa, tubuh-tubuh bandit di bakar. Dan atas perintah Marek, para penduduk desa di kubur di dalam desa. Sebagai penghormatan terakhir pada mereka.

Setelah acara pemakaman, Marek membagi dua kelompok dari mereka. Masing-masing berisik delapan orang.

Theo, Marek, Halvar dan lima orang akan menuju ke Briarhold. Theo bertugas untuk menjadi kusir yang membawa kereta untuk para wanita.

Calder, Oren akan kembali ke ibu kota untuk melapor dan membawa para bandit serta satu prajurit dari Halvar yang tewas.

Kereta dan gerobak berpisah pada persimpangan jalan.

Theo hanya menatap langit dengan tenang di kursinya. Kuda di depan menarik kereta dengan perlahan.

“Hei, Ash. Apa kau tak apa duduk di situ? Aku bisa menggantikanmu,” tanya seorang pria dari kelompok Marek.

“Tak usah,”

Pria tadi hanya mengangguk canggung, melangkah sedikit pelan dengan kudanya.

Tanpa disadari semua orang memandang Theo bukan sekadar anak kecil sekarang.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!