Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Pertarungan dan di temukannya eyang Anggun
Ghava dan Cia serempak melompat ke belakang, mereka langsung waspada. Bersiap melawan sesuatu yang besar, berdiri kokoh di depannya.
Begitu debu dari reruntuhan hilang, terlihat jelaslah sosok di depan mereka. Tak ada ekspresi takut, yang tertampak pada wajah Ghava dan Cia. Justru mereka menatap datar, sosok yang tengah menatap marah pada mereka.
Sosok di depan mereka, sering digambarkan sebagai pangeran iblis. Bisa berwujud lalat raksasa atau makhluk besar lainnya, yang melambangkan kerakusan atau kesombongan.
Memiliki dua tanduk besar melingkar, deretan gigi tajam dan juga besar. Kedua mata yang merah menyala, kedua telinga yang memiliki daun telinga lancip ke atas. Bahkan Ghava dan Cia, seolah bisa melihat ada api di belakang punggungnya. Sekujur tubuh sosok itu, berwarna merah bara api.
"Rupanya ini sosok iblis, yang menjadi sesembahan mu. Menarik..." ucap Ghava
"Lu bener, ga sesembahannya ga yang nyembah nya. Sama-sama punya sifat iri, rakus dan juga angkuh. Merasa dirinya yang paling hebat, merasa paling jago dan kuat." balas Cia (jangan nyanyi!!!!)
"Begitulah sifat dara iblis, ia merasa dirinya paling sempurna. Karena itulah, mereka di usir dari Surga-Nya Allah. Miris memang..." Ghava dan Cia saling tatap, mereka mengangkat kedua alisnya.
'GGGRRRRRRR..... KALIAN TAKKAN BISA KELUAR HIDUP-HIDUP DARI SINI, AKU AKAN MEMANGSA KALIAN HIDUP-HIDUP.'
"Yakin?? Emang bisa?" tanya Cia mengejek sosok besar tersebut.
Sosok besar itu tak terima, dirinya di katai dua anak manusia di depannya. Ia mengangkat tangan kiri, laku ia hempaskan dengan kuat ke arah Ghava dan Cia.
"AWAAASS CI" keduanya serentak melompat juah ke belakang
BUUUMMM
.
.
"Ini bener rumahnya kan??" tanya Ilmi
"Kalo menurut info dari si Cia sih, beneran ini rumahnya." jawab Kaif, seraya melihat ke sekitarnya
"Kita langsung masuk aja, pa gimana ini?" tanya Haiba
"Mau plop aja, apa mau manggil pak Rt?? Biar jadi saksi aja gitu, gimana keadaan di dalem. Iya kan??" tanya Ifa, yang juga memberi saran.
"MANGGIL RT" jawab Ilmi, Kaif dan Haiba
"Yuk gass keun"
.
Setelah menjelaskan duduk permasalahannya, akhirnya ketua RT dan beberapa warga bersedia membantu. Rumah utama keluarga besar Anggun, memang sudah lama tak terlihat aktifitas. Biasanya ada seorang nenek dan kakek, duduk di depan teras. Eyang Tami dan eyang Mahdi, orang-orang memanggilnya.
Tapi sudah cukup lama, tak terlihat. Hanya ada dua pelayan, yang bergantian keluar masuk untuk membeli bahan makanan. Dan satu tukang kebun, yang datang satu minggu sekali.
Terkadang satu bulan atau dua bulan sekali, ketiga anak lelakinya akan datang menjenguk. Yang pak Rt tau, bila Dahlia anak bungsu telah tiada. Kakak sulungnya, mengatakan bila Dahlia di makamkan di makam keluarga. Meski sempat curiga, tetapi kedua anak lainnya mengatakan hal yang sama.
Membuat pak Rt tak jadi curiga, karena mana mungkin ketiga bersaudara itu berbohong?? Pikirnya..
Pak Rt taunya, bila kedua orang itu dibawa oleh anak pertama mereka. Maka dari itu, beliau tidak mencurigai apapun.
"Kok ga ada yang bukain pintu, pak? Apa pelayannya ga ada di rumah?" tanya Kaif
"Harusnya ada, jam segini neng Gauri ga ngapa-ngapain kayanya. Kan eyang Tami nya, udah ga ada di sini." jawab salah satu warga
"Kedua eyang ada di rumah ini pak, makanya kami ajak kalian ke sini. Itu untuk bantu kami mencari kedua eyang, mereka di sekap di salah satu ruangan di rumah ini." jawab Haiba, mengejutkan warga dan pak Rt
"Neng tau darimana? Jangan asal menuduh, takutnya...
"Ga nuduh pak, kalo ga percaya bisa cek nanti di dalam. Kita nanti berpencar, buat cari ruangan yang kemungkinan temp..
Ceklek
"Ada apa ya, kok banyak orang?" tanya seorang perempuan, yang ternyata pelayan Gauri.
"Kamu sekap dimana para eyang?" bukannya menjawab, Ilmi langsung ke tujuannya.
DEG
Wajah Gauri langsung terlihat tegang dan juga pucat, hal itu bisa dilihat oleh warga.
"Jadi bener Ga, kamu sekap eyang Tami sama eyang Mahdi?" tanya pak Rt tak percaya
GLEK
'Bagaimana mereka bisa tau? Kalo aku kasih tau, tuan besar akan bunuh kakek ga ya?' Gauri terlihat bimbang, antara takut tapi cape.
Keempat saudara itu saling tatap, mereka langsung melembutkan ekspresi wajahnya.
"Lu ga usah takut, tuan besar lu ga bakal macem-macem ma keluarga lu. Gue jamin.." ucap Haiba, membuat Gauri langsung menatapnya. Mencari kebohongan, di kedua mata gadis cantik itu. Tapi, tak ada...
"K-kamu tau.." Haiba mengangguk
"Alhamdulillah" gumam Gauri pelan, seraya mengusap dadanya
"Mari semuanya masuk, saya akan tunjukkan dimana mereka." ucap Gauri, semua orang mengikutinya dari belakang
"Eyang Tami dan Eyang Mahdi, ada di ruang rahasia tuan besar. Tapi mereka baik-baik saja, saya merawat mereka dengan baik. Hanya saja, tuan besar melarang keduanya keluar dari rumah. Bila tuan besar datang, saya meminta eyang untuk pura-pura lemah dan memasang pasung. Tapi kalo tuan besar tidak datang, saya melepaskan semuanya. Beruntung ruangan itu, CCtv nya bisa saya akali. Jadi tuan besar tidak tau, kalo semua hanya akal-akalan saya saja." jelas Gauri, seraya berjalan ke arah satu ruangan.
"Lo bisa ngakalin CCtv?" tanya Ilmi kagum
"Sedikit, kalo cuma hal-hal kaya gitu saya bisa. Karena tuan besar, tidak melarang saya menggunakan laptop. Tanpa mereka tau, bila saya mempelajari beberapa hal mengenai IT." jawab Gauri tersenyum ramah
"Syukurlah kamu masih waras, tidak memperlakukan buruk majikanmu." ucap Kaif datar, Gauri menoleh dan kembali tersenyum
"Saya punya kakek, yang juga sama sudah sepuhnya dengan eyang. Kalau saya memperlakukan mereka jahat, maka sama saja saya jahat pada kakek saya. Selama ini tuan besar mengancam saya, menggunakan nyawa kakek. Saya tak bisa menolak, maka dari itu saya memperlakukan eyang dengan sangat baik." jawab Gauri, tanpa merasa tersinggung sama sekali.
Ceklek
Mereka masuk ke sebuah ruang kerja, rupanya itu ruang kerja eyang Mahdi waktu masih aktif. Tetapi tidak sampai situ, Gauri masih mengajak mereka masuk ke dalam. Ke belakang rak buku, ternyata ada pintu lain.
Ceklek
"Silahkan, kalian bisa melihatnya langsung." ucap Gauri mempersilahkan Ilmi dan yang lain, untuk lebih masuk ke dalam.
Dan ternyata benar, di sana eyang Tami dan eyang Mahdi tengah duduk santai minum teh.
"Alhamdulillah...
.
.
BUUUUMMM
Terjadi gempa buatan si iblis, seluruh tanah bergetar. Dinding bukan hanya retak, namun hancur karena saking kerasnya hentakkan tadi.
"Busyeeett... Bisa gepeng gue, kalo sampe kena bogeman itu Ci." celetuk Ghava, yang terlihat ngos-ngosan. Ghava tengah berjongkok, dengan posisi lutut kanan menempel pada lantai. Sedangkan kaki kirinya, ia tekuk biasa.
Cia berdiri tegak, kedua matanya mencari titik kelemahan sosok besar itu.
"Lu bener, untung kita ngehindar tepat waktu. Kalo telat dikit aja, udah jadi dendeng pak dengdeng kita." balas Cia, Ghava melirik kesal sepupunya itu.
"Kek nya kita butuh bantuan yang lain, buat rantai sekujur tubuhnya. Kalo cuma berdua, kek nya ga asyik Ghav." lanjut Cia
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak
votenya emak😘