NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang tidak penting

 Rumah selalu terasa sunyi, ketika anak telah pergi ke sekolah. Arumni mulai membersihkan meja makan yang berantakan sehabis sarapan, lalu mencuci piring beserta semua perabotan yang telah digunakan tadi.

  "Loh kok masih sibuk di dapur sih, sayang?" Tanya Adit sebelum berangkat.

 Arumni menghentikan aktivitas mencuci piringnya, memandang suaminya dengan tangan yang masih basah. "Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan di jam segini, sudah biasa, kan?"

 "Biasa saja kenapa sih, jawabnya." Gumam Adit.

 "Apa?"

 "Nggak papa, memangnya ada apa?" gurau Adit.

  Arumni mengernyit, lalu kembali dengan aktivitasnya. Bukannya berangkat, Adit justru mondar-mandir di dapur, membuat Arumni semakin sibuk dengan pertanyaan yang tidak penting.

 Adit mengangkat cangkir kopinya yang masih tersisa sedikit, "sayang, apa kamu masih ingat kebiasaan ku sebelum kita menikah?"

 Arumni menjawab tanpa menoleh, "aku cuma ingat setiap malam kamu datangi kedai pak Beni, selebihnya aku tidak tahu."

 Adit menenggak kopinya yang sudah dingin itu, "jadi, kamu tidak ingat apa warna favorit ku?"

 "Biru," jawabnya singkat.

 "Alhamdulillah masih ingat." Adit membuka kulkas, lalu menutupnya kembali.

 Arumni menoleh, merasa aneh dengan sikap dan pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari suaminya itu. "Mau tanya apa lagi?"

 Adit kembali duduk, "ini lagi dipikirin." Katanya.

 Arumni menyempatkan diri duduk di sebelahnya. "Jangan lama-lama, aku lagi nunggu," katanya.

  "Jangan nunggu pertanyaan ku, cepat sana selesaikan dulu pekerjaan mu." Adit melirik, "habis ini mau bantu kakak mu, kan?"

 Dahinya berkerut, "aku nggak punya kakak ya, mas. Jangan lupa, aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Tya." Ucapnya serius.

 "Kok ucapan mu beda dari yang kemarin?"

 "Yang mana?" Arumni bingung dengan pertanyaan suaminya pagi itu, seperti tidak biasanya.

 "Itu loh, yang kemarin duduk santai satu bangku di pasar, itu kakak mu, kan?"

  Tangannya bergerak otomatis menarik tangan Adit, "berangkat sekarang." Ucapnya sambil tertawa.

 "Lah kok, jadi ngusir?" kata Adit.

 "Ini sudah siang ya, mas. Nanti kamu terlambat, aku juga mau lanjut beberes." Katanya sambil mendorong-dorong punggung suaminya meski tidak tergeser sama sekali.

  "Aku mau antar kamu dulu," Adit terus saja menggodanya.

  "Aku nggak mau ke mana-mana, aku mau di rumah saja." Ucapnya dengan gigi yang menyatu serta kelopak mata yang melebar.

 "Kakak mu sedang sibuk loh, sayang." Adit terus menggodanya meski sudah berada di luar pintu.

 "Mas, tolong. Aku nggak mau terkena razia." Kata Arumni yang membuat Adit meledakkan tawa.

  Adit mengakhiri candaannya, setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. "Ha ha, oke. Sayangnya aku harus pergi sekarang."

 "Iya, pak polisi, cepatlah berangkat. Hati-hati di jalanya... semangat juga saat di lapangan, jangan lupa makan siang." Pesan Arumni sambil menahan tawa.

  "Aku akan ingat, sayang. Kamu juga jaga diri, ya?" Adit tersenyum melambaikan tangan, lalu pergi meninggalkan rumah.

  Arumni masih menunggu hingga suaminya tak terlihat lagi, ia merasa sedikit kesepian, namun merasa bangga dengan suaminya yang berdedikasi.

  * *

  Sepulangnya dari mengantar Rama, bu Susi terus saja menanyakan hal yang tidak penting untuk mengoda Galih.

 "Gimana menurut mu, Galih?" tanya bu Susi secara tiba-tiba.

 "Apanya, ibu?"

 "Guru kelasnya, Rama?"

  "Ya aku nggak tahu. Kenapa ibu nggak tanya sama Rama saja?" Lagi-lagi Galih selalu mengalihkan pembicaraan.

 "Sampai kapan, Galih?" bu Susi bergumam sambil berjalan keluar, " ibu tunggu di luar, ya." Ucap bu Susi yang hanya dijawab anggukan dari Galih.

 Sambil menunggu Galih, bu Susi duduk di kursi teras rumahnya, ia membuka media sosial milik Galih dan Arumni yang dulu. Dipandangnya foto pernikahan mereka. "Galih, sudah berapa lama kamu menduda?" gumamnya lagi.

  Langkah Galih terhenti di pintu, saat ia hendak keluar untuk mengantar ibunya ke pasar, matanya tertahan menatap layar ponsel ibunya, ia pun duduk di kursi satunya lalu mengambil ponsel ibunya. "Ibu, sejak kapan ibu punya media sosial?" Tanya Galih penasaran, dia tahu, di jaman ibunya dulu belum ada yang seperti sekarang.

  Bu Susi tersenyum, "ibu diajari sama Rama." Katanya.

 "Buat apa ibu? ibu kan sudah tahu semua." Kata Galih.

  Bu Susi menghela napas. "Ibu ingin sekali melihat mu bahagia bersama keluarga baru mu, Galih. Kapan kamu mau cari istri?"

  "Aku belum siap, ibu."

  Wajahnya sedikit kecewa, namun bu Susi mencoba memahami anaknya itu.

  Galih menyadari, "iya, ibu. Aku akan cari, tapi jangan desak aku, ya?"

  "Ya sudah. Ibu cuma bisa berdoa, semoga kamu segera menemukan yang tepat." Ucap bu Susi, lalu mengambil ponselnya dari tangan Galih.

 "Aku tahu ini mustahil, ibu. Tapi aku tidak putus berharap. Sejujurnya aku masih ingin Arumni, dan hanya Arumni saja. Atau aku akan tetap menduda seumur hidup."

 "Galih!" panggil bu Susi setelah melihat Galih duduk terdiam. "Ini sudah siang, kenapa malah melamun?"

  Lamunannya pun pecah saat ibunya memanggil, "iya, bu." Ucapnya lalu mengantar ibunya ke pasar.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!