Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Pagi itu Hana mengantar Kenzo ke sekolah sekaligus pergi ke kantor.
Hana: "Sepulang sekolah pak Agus yang akan menjemputmu, sayang." ucapnya. "Mama sudah berpesan padanya tadi." ucapnya lagi.
Kenzo: "Iya, ma." sahutnya pelan.
Hana: "Kita sudah sampai, sayang." ucapnya. Hana membantu Kenzo keluar dari dalam mobil, ia mengantar putranya masuk sampai di depan pintu gerbang sekolah. Hana terkejut karena di depan pintu gerbang, Aldo berdiri menunggu Kenzo.
Kenzo: "Itu papa, ma." ucapnya sambil menunjuk ke arah Aldo. "Papaaa." teriaknya sambil berlari kecil ke arah Aldo.
Aldo: "Jangan berlari, sayang. Kamu bisa jatuh." ucapnya sambil memeluk Kenzo dengan senyum di bibirnya.
Kenzo: "Apakah papa sudah lama di sini?" tanyanya dengan polos.
Aldo: "Sekitar 5 menit, sayang." ucapnya sambil mencium kening putranya.
"Ting... Ting." terdengar bel sekolah telah berbunyi, Hana menatap wajah Aldo yang sedang tersenyum memeluk putranya.
Hana: "Biarkan Kenzo masuk, mas. Bel sekolah sudah berbunyi." ucapnya dengan cemas.
Aldo: "Masuklah, nak. Nanti kita bertemu lagi, ya." ucapnya pelan sambil menurunkan Kenzo dari gendongannya.
Kenzo: "Iya, pa." sahutnya. Kenzo berlari kecil masuk ke dalam halaman sekolahnya. Aldo tersenyum bangga menatap putranya dari luar pagar sekolah, setelah memastikan Kenzo masuk ke dalam ruang kelasnya, Aldo menoleh pada Hana.
Aldo: "Apa kabar, Hana?" tanyanya pelan.
Hana: "Seperti yang kamu lihat, mas. Aku baik dan sehat." ucapnya dengan wajah datar. Aldo menatap wajah Hana dalam-dalam, wajah bulat, putih nan cantik yang lama tidak ia tatap. "Wajah Hana semakin cantik, penampilannya juga seperti wanita karier." guman Aldo.
Aldo: "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Hana." ucapnya pelan.
Hana: "Aku siap mendengarkan pertanyaanmu, mas." ucapnya sambil menatap Aldo. "Jangan terlalu lama, aku sibuk." ucapnya dengan tegas.
Aldo: "Apakah kamu sudah lama mengenal Peter?" tanyanya dengan rasa penasaran. Hana terkejut, ia tidak menyangka jika Aldo akan menanyakan hal itu. "Kamu tahu, Hana. Peter adalah rekan bisnisku yang baru bergabung di perusahaanku." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Hana: "Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, mas. Aku pergi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucapnya dengan tegas. Hana melangkah dengan terburu-buru dan hendak masuk ke dalam mobilnya, namun Aldo memegang tangan Hana dari belakang dengan erat.
Aldo: "Tunggu, Hana. Aku hanya ingin berbicara baik-baik padamu." ucapnya pelan.
Hana: "Berkali-kali aku berkata padamu, bahwa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, mas." ucapnya sambil menatap tajam pada Aldo. "Mengertilah, mas. Kita tidak ada hubungan lagi." ucapnya lagi.
Aldo: "Aku belum selesai dengan hatiku, Hana. Ada rindu yang belum selesai untukmu." ucapnya dengan suara yang agak keras. "Siang malam aku selalu merindukanmu, Hana." ucapnya lagi dengan penuh perasaan.
Hana: "Itu urusan hatimu, mas. Semua yang kamu katakan hanyalah omong kosong." ucapnya dengan tegas. "Menjauhlah dari hidupku." ucapnya lagi sambil menatap tajam pada Aldo.
Aldo: "Setelah kita berpisah, aku baru menyadari semuanya. Aku tidak bisa melupakanmu, Hana." ucapnya dengan penuh perasaan.
Hana: "Kalau Sari mendengar ini, ia pasti sangat membenciku." ucapnya dengan kesal.
Aldo: "Sari sudah mengetahui semuanya, Hana. Ia tahu jika aku masih menyayangimu." ucapnya dengan antusias.
Hana: "Sudahlah, mas. Aku bisa telat ke kantor jika terus meladeni ceritamu." ucapnya sambil membalikkan badannya dan membuka pintu mobilnya, namun Aldo kembali meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan erat. "Lepaskan tanganku, mas." ucapnya dengan kesal. Semakin Hana memberontak untuk menarik tangannya, Aldo semakin kuat menggenggam tangan Hana. Di belakang mobil Hana, ada mobil Sari yang sejak tadi memperhatikan Aldo dan Hana. Sari keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Hana dan Aldo.
Sari: "Ternyata kamu pergi pagi-pagi sekali karena ingin menemui Hana dan Kenzo." ucapnya sambil menatap wajah Hana dengan tatapan tajam dan penuh kebencian. Aldo terkejut, ia tidak menyangka jika Sari mengikutinya sejak awal.
Aldo: "Apa yang kamu lakukan di sini, Sari?" tanyanya.
Sari: "Seharusnya aku yang bertanya padamu, mas." ucapnya kesal. "Mengapa kamu selalu mengejar cinta Hana?" tanyanya dengan nada tinggi. Perlahan-lahan, Hana membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan mobilnya menghindari Sari dan Aldo. Hana tidak ingin terlibat lagi di antara Aldo dan Sari, dari kaca spion mobilnya Hana melihat Aldo dan Sari yang masih terlibat pertengkaran.
Hana: "Aku muak dengan mereka. Semoga aku tidak bertemu lagi dengan mereka." gumannya dengan penuh kekesalan. "Aku sudah telat ke kantor." ucapnya lirih sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Sari dan Aldo masih berdebat, pak satpam terpaksa turun tangan untuk menyuruh mereka pulang. Dengan terpaksa, Sari masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Aldo untuk ikut bersamanya pulang ke rumah. Hari itu, Aldo tidak masuk ke kantor karena Sari melarangnya. Setibanya di rumah, Sari meluapkan kekesalannya dengan melempar semua barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Mbok Surti dan suster Siska sangat ketakutan, karena baru pertama kali ini mereka melihat Sari mengacak rumahnya sendiri.
Sari: "Selama ini aku selalu berusaha memahami dirimu, mas. Kamu tidak pernah menghargai perasaanku." ucapnya dengan suara yang keras. "Kamu selalu mengejar Hana, sedangkan ia tidak pernah memperdulikan dirimu lagi." teriaknya lagi. Emosi Sari meluap-luap, Aldo hanya duduk diam sambil menundukkan kepalanya. Aldo tidak ingin menentang Sari karena jika ia menentang Sari, maka Sari akan semakin geram terhadapnya. Mbok Surti dan Siska melihat Sari dari dalam dapur, mereka berbisik-bisik sambil menatap pada Sari.
Mbok Surti: "Pasti tuan Aldo melakukan kesalahan lagi pada nyonya." ucapnya lirih dengan penuh keyakinan.
Siska: "Memangnya kenapa dengan pak Aldo, mbok?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Mbok Surti: "Aku juga tidak tahu, suster. Jangan tanya padaku." ucapnya kesal.
Beberapa menit berlalu Sari dan Aldo sama-sama terdiam, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dalam keheningan itu Aldo menatap wajah Sari dalam-dalam, ia menghela nafas berat seakan ingin mengatakan sesuatu yang cukup berat dalam hatinya.
Aldo: "Kita berpisah saja, Sari. Maafkan aku karena aku tidak bisa mencintaimu seperti mencintai Hana." ucapnya dengan suara berat. Sari menatap tajam kedua mata Aldo, ia tidak percaya dengan pernyataan Aldo.
Sari: "Sesuatu yang telah aku raih, tidak akan pernah aku lepaskan." ucapnya pelan namun tegas. "Kamu pasti mengerti dengan perkataanku, mas." ucapnya lagi.
Aldo: "Kamu juga harus mengerti bahwa aku tidak bisa mencintaimu, Sari." ucapnya. "Jangan memaksakan diri lagi, Sari. Cukup, aku sangat lelah." ucapnya dengan suara berat.
************************************