Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.
Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.
Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.
"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.
"Kau adalah milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Monster Beruang
'Batu ... setan ... batu ... setan ....'
Saat sedang berbincang-bincang dengan Ashley dan Aldrich tentang hadiah yang dia mau. Tiba-tiba Sora mendengar sebuah suara di kepalanya. Suaranya berat dan menyeramkan.
'Batu setan, akan segera kutemukan dan akan menjadi milikku!'
"Apa kalian dengar itu?" tanya Sora.
"Aku mendengar suara yang menakutkan. Ia mengatakan akan menemukan batu setan dan akan menjadi miliknya." jelas Sora.
Ashley dan Aldrich saling bertatap-tatapan, wajah mereka terlihat kebingungan dengan perkataannya.
"Aku tidak mendengar apapun." sahut Ashley.
"Aku juga tidak mendengarnya." timpal Aldrich. "Mungkin kau salah dengar."
'Batu ... setan ...' Suara itu kembali terdengar.
"Suaranya ada lagi. Kalian benar-benar tidak mendengarnya?" Ashley dan Aldrich menggelengkan kepalanya.
"Apa aku berhalusinasi? Tapi, aku yakin mendengar sebuah suara." gumam Sora.
"Mungkin kau lelah. Ayo kembali ke tenda dan beristirahat." Ashley menggenggam tangan Sora mengajaknya kembali ke tenda.
"Akh!" Tiba-tiba ada sebuah suara yang memekikkan telinganya. Suaranya seperti sebuah kaca yang retak.
"Ada apa denganmu?" ucap Ashley khawatir.
Sora menutupi telinganya yang sakit. Suara retakan itu terus terdengar suaranya semakin lama semakin nyaring.
Sora melihat ke sekitar. Orang-orang memandang dengan tatapan penasaran karena melihat reaksi Ashley dan Aldrich. Mata Sora terbelalak saat melihat sebuah retakan di dinding pelindung.
"Dindingnya retak." ucap Sora menunjuk ke arah retakan dinding.
Ashley melihat ke arah yang Sora tunjuk. "Dindingnya retak? Apa kau yakin?" Sora menganggukkan kepalanya yakin.
"Javier, panggil penyihir putih dan periksa apakah dindingnya benar-benar retak." Perintahnya. Javier langsung melaksanakannya dan berlari pergi.
"Sora, ayo kembali ke tenda." ajak Ashley, Sora menganggukkan kepalanya.
Saat hendak akan pergi. "Aaaaaaa ...." Telinganya sangat sakit. "Dindingnya akan pecah." Beritahu Sora.
"Rawrrrrr ...."
Terdengar auman monster yang sangat keras, suaranya menggelegar menakuti semua orang.
"Itu monster!"
"Ada monster datang menyerang!"
Semua orang mulai panik, kerusuhan terjadi. Mereka semua berlarian kemana-mana mencari tempat berlindung.
Seekor beruang besar setinggi 5 meter muncul. Getaran terasa saat monster itu berjalan. la mengaum memamerkan kemurkaannya.
"Itu adalah berebear." Sora ingat monster itu ada di dalam buku setan.
Seekor beruang yang bisa berdiri dengan kedua kakinya. Dikatakan didalam buku, kekuatannya ada pada tangan besarnya itu. la selalu melayangkan tangan besarnya dan menghancurkan lawannya. Makhluk itu dikatakan kuat dan sensitif.
"Jendral!" Javier datang bersama pasukan penyihir putih. "Apa yang terjadi?" Kagetnya.
"Kenapa monster bisa masuk menembus dinding?"
"Apa kalian tidak melihat dindingnya hancur?"
"Hancur?" Para penyihir terdiam, mereka memasang tatapan terkejut dan saling tatap-tatapan satu sama lain.
"Maafkan kami. Sebenarnya kami tidak bisa melihat dindingnya, hanya seorang penyihir tingkat tinggi yang bisa melihatnya." sahutnya.
"Kalian tidak bisa melihat? Lalu kalian memperbaiki pelindungnya dengan asal-asalan begitu." Hardik Ashley. Otot lehernya tampak menegang.
"Maafkan kami." Para penyihir itu menundukan kepalanya, meminta maaf.
"Apa anda yakin dindingnya hancur?"
timpalnya.
"Jika tidak hancur mana mungkin monster itu bisa masuk kesini." Ashley tidak mengatakan kalau Sora lah yang memberitahunya. Seakan ia ingin menutupi sesuatu tentangnya.
"Semuanya dengarkan! kalian yang bisa bertarung angkat pedang kalian dan bantu melawan monster itu, sisanya bawa para wanita, anak-anak serta yang tidak bisa memegang pedang pergi ke tempat perlindungan." teriak Ashley memberi perintah.
Orang-orang yang panik menjadi sedikit tenang, mereka mengikuti arahan Ashley.
'Batu setan.' Suara itu kembali menggema ditelinga Sora. 'Akan kutemukan batu itu dan akan kuhancurkan manusia ini.'
Sora melihat kearah monster itu. "Apa suara monster itu?" Dia jadi teringat dengan penyerangan monster di kota. Suaranya hampir sama, berat dan menakutkan.
'Ketemu!' Mata Sora dengan monster itu bertemu. 'Akhirnya aku menemukannya.'
Ternyata benar. Itu adalah suara monster itu. Monster itu berlari dengan kencangnya berlari ke arah Sora. Berlari dengan tubuh besarnya membuat tanah bergetar.
"Semuanya cepat hentikan monster itu!" Perintah Ashley.
Semua orang yang bisa bertarung, menarik pedangnya dan bertarung melawan monster itu. Satu persatu terlempar oleh hempasan tangannya dan jatuh terkapar, sulit untuk menghentikan monster besar itu.
"Javier, cepat bawa Sora ke tempat aman." Perintah Ashley. Semakin lama monster itu semakin dekat dengan Sora.
"Baik." sahutnya. "Ayo nona kita harus pergi dari sini."
Kaki Sora terasa lemas, telinganya sakit serta badannya gemetar. Dia tidak bisa menggerakkan badannya.
"Maaf nona." Javier menggendong Sora lalu berlari pergi.
"Jangan pergi." teriak monster itu, saat dirinya melihat Sora pergi. "Tidak akan kubiarkan kau pergi."
Monster itu melumpuhkan banyak orang dan terus berlari ke arah Sora. la melayangkan tangan besarnya. Untungnya Ashley sangat sigap, ia menahan tangan monster itu dengan pedangnya.
"Cepat pergi dari sini." teriaknya, Ashley menyadari kalau monster itu mengincar Sora.
Ashley berusaha keras menghentikannya, tapi kekuatannya terlalu besar. Ashley terlempar oleh tangan monster itu dan monster itu terus mengejar Sora. Jika terus seperti itu, monster itu akan mendekat ke tempat perlindungan dan melukai yang lainnya. Akan ada semakin banyak korban yang berjatuhan.
"Javier, turunkan aku." pinta Sora.
"Tidak bisa." tolak Javier. "Jendral memintaku untuk membawa nona ke tempat aman." Kekehnya, ia tidak mau mendengarkan Sora.
"Jika kita tetap ke sana, yang ada tempat itu akan dihancurkan lagi." Javier menggertakan giginya bingung dan kesal.
"Sebaiknya kita kembali ke tempat tadi, disana ada banyak ksatria yang bisa membantu." saran Sora.
Javier mengikuti perkataan Sora dan kembali ke tempat Ashley berada.
"Kenapa kembali?" tanya Ashley bingung saat melihat mereka kembali.
"Sepertinya monster itu mengincar diriku. Jika pergi ke tempat perlindungan, yang ada akan banyak korban yang berjatuhan." ungkap Sora.
"Jangan pikirkan orang lain. Kau harus memikirkan keselamatan dirimu sendiri."
"Menukar keselamatanku dengan kematian mereka. Aku tidak mau." Kekeh Sora.
Tanah kembali bergetar, monster itu kembali datang. Semua orang yang masih bertahan, berdiri disekitar Ashley siap untuk menyambut kedatangan monster itu lagi.
"Jangan menjauh dariku!" ucap Ashley tegas.
"Iya." Sora turun dari gendongan Javier. "Javier juga harus ikut membantu." pinta Sora.
Javier menarik pedangnya dan siap melawan juga. Pertarungan kembali terjadi, para ksatria kembali menyerangnya. Beberapa sayatan berhasil mendarat di tubuh monster itu, tetapi tetap tidak bisa melumpuhkannya. Semakin lama yang bertahan semakin sedikit.
"Akh!" Sora lengah, monster itu sudah ada di depannya, ia berhasil menangkapnya. la menggenggam tubuh Sora dengan tangannya yang besar.
"Sora!" Semuanya terkejut.
"Lepaskan aku!" Berontak Sora. Pegangan monster itu sangat erat, tubuhnya sulit untuk digerakkan.
"Apa itu?" Sora melihat ada sebuah cahaya bersinar di kepala monster itu. Cahaya samar-samar.
'Kumpulkan batu setan dan lindungi dunia ini.' Suara wanita yang pernah dia dengar, kembali mengucapkan kata-kata aneh.
"Batu setan?" Sora menegaskan pandangannya, dia melihat cahaya itu berasal dari sebuah serpihan seperti serpihan kaca. 'Apa itu adalah batu setan.' Batin Sora.
'Berikan batu setannya.' ucap monster itu.
"Batu? Batu apa yang kau maksud?" Sora berpura-pura tidak tahu.
'Jangan bohong aku tahu kau memiliki batunya.'
"Aku benar-benar tidak tahu."
Monster itu marah tak puas dengan jawaban Sora. la menggenggam Sora lebih erat.
Tubuhnya terasa akan remuk jika terus ditekan. Membuat dadanya sesak dan menjadi sulit untuk bernafas.
'Jika aku tidak bisa mendapatkan batunya, kau akan kumakan.'
Monster itu membuka mulutnya bermaksud melempar tubuh Sora ke dalam mulutnya. Tidak ada yang bisa Sora lakukan untuk menghentikannya, dia hanya bisa pasrah.
"Sora!" Panggil Ashley, ia berlari naik ke atas tubuh monster itu dan menusukkan pedang ke lengan monster itu, membuat genggaman nya terlepas.
Sora terjatuh, tapi Aldrich dengan sigap menangkapnya.
"Kau tak apa?" Sora menganggukkan kepala, meskipun badannya terasa seperti mau remuk tapi dia masih bisa mempertahankan kesadarannya.
"Aku akan membawamu ke tempat aman." tawar Aldrich.
"Jangan. Nanti jika monster itu mengejar lagi bagaimana?" Sora khawatir.
"Jangan khawatir, Ashley akan menanganinya."
Sora melihat Ashley bekerja sama dengan Javier melawan monster itu, gerakan mereka sangat cepat. Monster itu tampak kewalahan.
"Ayo pergi." Aldrich berlari sambil menggendong Sora, menuju ruang perlindungan.
"Aldrich, turunkan aku disini." pinta Sora.
"Aku harus mengantarmu ke tempat yang aman dulu." tolak Aldrich.
"Aku bisa jalan sendiri. Lagipula jaraknya tidak jauh." ujar Sora. "Kau harus membantu Ashley, monster itu sangat kuat."
Wajahnya tampak bingung dan ragu. "Berjanjilah kau benar akan ke sana."
"Iya aku berjanji." sahut Sora serius.
Akhirnya Aldrich menurunkannya, dengan ragu-ragu ia berlari meninggalkannya disana.
Sora tidak menurutinya, dia kembali ke tempat itu dan bersembunyi di balik semak-semak. Melihat keadaan disana.
"Aku harus mendapatkan batu setannya, tapi bagaimana caranya?" Sora memutar otak. Mencari cara mengeluarkan batunya dan tidak boleh ketahuan siapapun.
"Kakinya adalah kelemahan monster itu. Jika bisa melumpuhkan kakinya maka akan mudah untuk membunuhnya." Itu adalah isi dari buku setan.
Dari kejauhan, Sora melihat seorang pria muda, menarik busur anak panahnya. la berkali-kali ingin menembak tapi ragu dan tidak jadi menembak.
"Bidik lah kakinya." ujar Sora datang menghampirinya.
"Siapa kau?" la sangat terkejut hingga membuatnya terjungkal. "Kenapa seorang wanita masih ada disini dan tidak ke tempat perlindungan?"
"Shuut ... jangan berisik." Sora menutup mulutnya. "Sama sepertimu, aku ingin membantu mereka tapi jika memaksa ke sana hanya akan merepotkan. Kau berfikir yang sama denganku juga, kan?"
"Tidak. Aku hanya penasaran dengan monster itu karena aku tidak pernah melihatnya." elaknya.
Sora tidak percaya dengan omongannya. Dia tahu pria ini sangat ingin membantu. Tapi sepertinya ia terlalu penakut untuk menghadapinya langsung.
"Kelemahannya ada di kakinya, jika kau dapat melukai kedua kakinya, kau bisa melumpuhkan monster itu." jelas Sora.
"Aku tidak ingin membantu mereka." la terus mengelak.
"Lakukan saja apa yang aku katakan."
Sora terus memaksanya. Akhirnya dia punya cara untuk mengeluarkan batu itu tanpa repot-repot melawan monster itu.
"Apa kau yakin?" la memandangi Sora dengan ragu.
"Iya. Tembakan tepat ke arah belakang kakinya, itu bagian terlemah darinya."
Pria itu menuruti perkataan Sora, ia menarik anak panah mengincar bagian yang disuruh. la terlihat sangat fokus.
"Kena!" Dengan sekali tarikan, panahnya tepat mengenai kaki monster itu.
"Tembak kaki satunya lagi."