NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENUJU PUSAT ORBIS

Cahaya biru yang redup masih berpendar di antara reruntuhan Kota Orbis. Arka, Kiara, Ezra, dan Dr. Helena berdiri di tengah jalanan berbatu, menatap menara besar di pusat kota.

Itu tujuan mereka.

Jika benar ada sumber utama energi Orbis, maka pasti ada di sana.

Tapi mereka bukan satu-satunya yang mengincarnya.

Ordo Lux Veritatis juga ada di sini.

Mereka telah melihat kekuatan musuh—bola energi biru yang bisa menyerang, gerakan cepat yang tak manusiawi.

Namun, Arka juga menemukan sesuatu.

Logam Orbis bisa menyerap energi itu.

Mungkin, ini adalah kunci untuk mengalahkan Ordo Lux Veritatis.

Ezra menepuk bahu Arka, menyadarkannya dari pikirannya. "Kalau kita mau masuk ke menara itu, kita harus bergerak sekarang."

Arka mengangguk. "Ayo."

Mereka pun melangkah maju, menuju jantung Kota Orbis.

JALANAN YANG TERLUPAKAN

Mereka bergerak cepat, melintasi jalan-jalan yang dipenuhi reruntuhan dan patung-patung rusak.

Semakin dekat ke menara, semakin banyak mereka menemukan jejak pertempuran lama—bekas luka di dinding, sisa-sisa senjata kuno, dan jejak energi aneh yang masih berkilauan di udara.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" gumam Kiara.

Dr. Helena menatap sekeliling dengan ekspresi penuh kekhawatiran. "Dari catatan yang aku temukan sebelumnya… Kota Orbis bukan hanya sekadar kota kuno. Ini adalah pusat peradaban yang jauh lebih maju dari yang kita duga."

Ezra menyipitkan mata. "Tapi kalau mereka begitu maju, kenapa mereka menghilang?"

Dr. Helena terdiam sejenak sebelum menjawab pelan.

"Mungkin… mereka dihancurkan."

Arka mengepalkan tangan. Itu masuk akal. Kota ini memang terasa seperti medan perang yang telah lama ditinggalkan.

Tapi oleh siapa?

Sebelum mereka bisa membahas lebih lanjut—

Sesuatu bergerak di balik bayangan.

PERTEMUAN TAK TERDUGA

Mereka semua berhenti.

Ezra langsung mengangkat pistolnya. "Ada yang mengintai kita."

Kiara menarik belatinya. "Ordo Lux Veritatis?"

Tiba-tiba, dari balik reruntuhan, muncul sesosok pria tua berjubah abu-abu.

Berbeda dengan anggota Ordo Lux Veritatis yang mereka temui sebelumnya, pria ini tidak memakai topeng.

Rambutnya putih panjang, wajahnya dipenuhi keriput, namun matanya tajam dan penuh kewaspadaan.

"Kalian bukan bagian dari mereka," katanya dengan suara dalam. "Tapi kalian juga bukan penduduk Orbis."

Mereka saling bertatapan sebelum Arka melangkah maju. "Siapa kau?"

Pria itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Namaku Eldrin. Aku adalah penjaga terakhir Kota Orbis."

RAHASIA ORBIS

Mereka berlindung di dalam sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh.

Eldrin menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbicara.

"Kota Orbis adalah peradaban terakhir yang menguasai energi primordial. Kami hidup damai selama ribuan tahun… sampai mereka datang."

"Mereka?" tanya Dr. Helena.

Eldrin menghela napas berat.

"Ordo Lux Veritatis."

Arka dan Kiara saling berpandangan.

"Jadi mereka sudah menyerang kota ini sejak lama?" tanya Ezra.

Eldrin mengangguk.

"Mereka ingin mengambil kekuatan inti Orbis. Mereka percaya bahwa dengan menguasainya, mereka bisa menjadi penguasa dunia."

Kiara mengepalkan tangannya. "Dan mereka berhasil?"

Eldrin menggeleng.

"Penduduk Orbis melawan. Kami menghancurkan sebagian besar teknologi kami agar tidak jatuh ke tangan mereka. Namun… kota ini tetap hancur."

Suasana menjadi sunyi.

Arka merenungkan kata-kata Eldrin. Jika itu benar, maka Ordo Lux Veritatis telah mengejar kekuatan ini selama ratusan—bahkan mungkin ribuan—tahun.

Dr. Helena menatap Eldrin dengan ragu. "Tapi kalau kau masih di sini… apakah masih ada harapan?"

Eldrin menatap mereka dengan mata tajam.

"Satu-satunya harapan adalah menghentikan mereka sebelum mereka mencapai inti menara."

Arka berdiri. "Kalau begitu, kita tidak bisa membuang waktu."

Eldrin mengangguk.

"Ayo. Kita harus menghentikan Aldrich sebelum terlambat."

Mereka pun bersiap melanjutkan perjalanan, menuju pusat kekuatan Kota Orbis.

PERTARUNGAN DI GERBANG MENARA

Eldrin berjalan di depan, memandu mereka melewati jalanan kota yang hancur. Langkahnya mantap, meskipun tubuhnya sudah tua.

"Kita harus mencapai menara sebelum mereka," katanya dengan suara tegas.

Arka mengangguk, memegang erat pecahan logam Orbis yang tadi menyerap serangan energi.

Kiara berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke bayang-bayang di sekitar mereka.

"Kau merasa ada yang mengikuti kita?" bisiknya.

Arka mengangguk.

Ezra juga terlihat waspada. "Aku yakin kita tidak sendirian."

Baru saja ia selesai berbicara, tiba-tiba.

"SERANG!"

Suara itu menggema di udara, diikuti oleh hujan panah energi biru yang melesat ke arah mereka.

Mereka segera berlindung di balik reruntuhan.

Dari kegelapan, sekelompok anggota Ordo Lux Veritatis muncul, mengenakan jubah hitam dan topeng perak mereka.

Kiara menyumpah pelan. "Mereka sudah menunggu kita."

Eldrin menghela napas. "Mereka tahu kita akan datang."

Ezra mengokang pistolnya. "Lalu apa rencananya?"

Arka menggenggam pecahan logam Orbis dan menatap pasukan musuh.

"Kita lawan balik."

PERLAWANAN ORBIS

Ezra langsung melepaskan tembakan pertama, memecahkan batu di dekat musuh.

Kiara melompat ke depan, menyerang dengan cepat menggunakan belatinya.

Eldrin mengangkat tangannya dan simbol aneh bersinar di udara.

Tiba-tiba, energi biru yang ditembakkan ke arahnya berhenti di udara, lalu berbalik menghantam musuh.

Ezra melongo. "Kau bisa melakukan itu?!"

Eldrin hanya tersenyum tipis. "Aku bukan hanya penjaga tua biasa."

Di sisi lain, Arka berhadapan dengan salah satu anggota Ordo Lux Veritatis yang lebih besar.

Lawan itu mengayunkan pedang bercahaya ke arahnya, namun saat pedang itu hampir menyentuhnya, Arka mengangkat pecahan logam Orbis.

ZIIIING!

Serangan itu terserap begitu saja.

Lawan Arka terkejut sesaat, cukup lama bagi Arka untuk melayangkan pukulan keras ke wajahnya.

Musuh itu jatuh.

Dr. Helena, yang bersembunyi di balik reruntuhan, berseru, "Kita harus bergerak sekarang! Mereka hanya pengalih perhatian!"

Arka menoleh ke menara dan menyadari sesuatu.

Gerbang utama perlahan terbuka.

Dan di dalamnya, berdiri Aldrich.

Menunggu mereka.

DUEL DI BAWAH MENARA

Aldrich tersenyum dingin saat mereka mendekat.

"Aku sudah menduga kalian akan sampai di sini."

Kiara menyipitkan matanya. "Menyingkirlah."

Aldrich tertawa kecil. "Dan membiarkan kalian merebut kekuatan Orbis? Tentu tidak."

Ezra mengangkat pistolnya. "Mungkin kita harus paksa dia minggir."

Tapi sebelum ia bisa menembak, Aldrich mengangkat tangannya.

Udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah.

Tanah bergetar.

Batu-batu mulai melayang.

Dan di atas kepala Aldrich, cahaya biru berputar membentuk lingkaran sihir yang kompleks.

Eldrin tampak terkejut. "Itu… tidak mungkin."

Arka menatapnya. "Apa maksudmu?"

Eldrin menatap Aldrich dengan ngeri. "Dia… sudah menguasai inti energi Orbis."

Aldrich tersenyum lebih lebar. "Benar sekali."

Tiba-tiba, dari dalam menara, sesuatu mulai bangkit.

Sebuah patung raksasa, dengan mata bersinar biru.

Aldrich mengangkat tangannya, dan patung itu mulai bergerak.

Arka merasakan dingin merayap di punggungnya.

Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!