Kisah cinta antara dua anak manusia yang di pisahkan jarak dan waktu, kehidupan yang keras dan penuh dengan manipulasi membuat mereka saling terpisah satu sama lain.
Akankah Samudra dan langit akan bersatu…? Jika penasaran dengan ceritanya, baca novel ini ya…?
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like nya, karena dengan like dan komentar kalian bisa menambah semangatku untuk melanjutkan cerita selanjutnya, salam hangat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keisengan langit.
Lagi dan lagi samudra mendengar nama bumi di sebut, rasa penasaran samudra semakin menjadi. Dia sangat ingin bertemu dengan bumi, tapi entah bagaimana bisa dia bertemu dengan bumi untuk sekarang ini.
"bumi..." ucap samudra sambil tersenyum sini, dia menatapsebuah lukisan di dinding kamar inap baron.
"Apa ada orang lain yang mengatakan jika kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan bumi...?" baron penasaran dengan reaksi yang di berikan samudra.
"Nyonya eli, tuan alex dan tuan adam."
"APA...!!? Kamu pernah bertemu dengan tuan adam sam...?" ucap baron dengan nada terkejutnya.
"Ketika langit di culik oleh anak buah tuan adam, dan aku yang di perintahkan nyonya eli untuk menbawanya kembali ke kediaman nyonya eli."
Baron semakin dalam melihat samudra, dia tahu siapa tuan adam. seorang laki laki yang teramat di segani karena kekejaman dan sikap tegasnya, dia tak segan segan membunuh musuhnya jika merasa terpojok.
Dengan pandangan mata menelisik, samudra menatap baron yang terdiam dengan pemikirannya.
"Sepertinya ada sesuatu yang anda sembunyikan mengenai tuan adam... apa saya boleh tahu...?"
"Tuan adam yang saya tahu dia memiliki peranggai yang sangat keras, kejam dan tegas, dia tidak segan segan melumpuhkan msuhnya dengan cara membunuhnya atau bisa jadi menyiksanya secara perlahan."
Samudra masih menyimak penjelasan mengenai tuan adam, baron menghembuskan nafasnya perlahan sebelum meneruskan ucapannya. baron menoleh melihat samudra yang masih melihatnya, dengan terpaksa baron meneruskan kembali.
"Aku pernah sekali melihat kekejaman tuan adam, saat mengeksekusi bawahannya yang menghianati belia, dia hanya melakukan perintah dari musuh tuan adam. tapi tuan adam yang tidak berbelas kasihan, rela menghukumnya dengan menyiksanya sampai orang tersebut meninggal karena kehabisan darah."
"Apa sekejam itu tuan adam, tapi kenapa aku tidak melihatnya seperti itu waktu bertemu beliau. saya lihat beliau hanya tegas, tapi tidak berdarah kejam yang rela membunuh demi keuntugannya sendiri."
Baron tersenyum sinis, setelah mendengar ucapan samudra. baron memilih membaringkan tubuhnya, dia merasa kembali sedikit pusing di kepalanya.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar, suatu saat kamu akan tahu sendiri. yang terpenting jika kamu menjanjikan sesuatu dengan beliau, lebih baik kamu melakukannya dengan baik, dan jangan sampai kamu mengecewakan tuan adam."
Dengan perlahan baron menutup matanya, dia memilih tidur karena rasa pusing dan kantuknya sudah dia rasakan, samudra yang melihat baron akan tidur, memilih membaringkan tubuhnya di sofa panjang, memiliki tubuh yang tinggi menjadikan samudra tidur harus sedikit menekuk kakinya.
Saat samudra akan memejamkan matanya terdengar dering handphone milik samudra, dengan malas samudra menggambil hand phone miliknya. melihat nama langit di layar hand phonenya, samudra memilih keluar dari ruang inap baron. dia tidak ingin menggangu baron akan beristirahat, pelan pelan samudra membuka pintu dan segera menjawab telpon dari langit.
"halo lala...."
"kak samudra... kakak lagi dimana...?"
"kak sam, sedang ada di rumah sakit. kenpa kamu belum tidur. ini sudah malam lala.." terdengar suara samudra sedikit kawatir melihat langit yang belum tidur.
"kakak pulang kapan...? aku bosen disini, apalagi di sini ada kak angel. ish.. bosen banget."
Samudra seketika tersenyum mendengar ucapan langit yang terdengar tidak suka dengan angel, memikirkan pertengkaran mereka tadi membuat samudra menjadi geli sendiri. langit yang mempunyai sifat keras dan juga angel yang mempunyai sikap tidak mau menggalah dengan langit.
"besuk kakak akan pulang setelah teman kakak ke sini, jadi kamu sabar ya di sana. tidak usah terlalu di ladeni ketika kakak kamu marah atau sedang kesal, biar kalian tidak adu mulut lagi kayak tadi."
"ish.. kakak, asal omong aja deh. adu mulut kog sama mak lampir, enakkan adu mulut sama cowok."
Seketika samudra memelototkan mata sempurna mendengar ucapan frontal langit, dia sampai menghentikan ucapan langit dengan segera.
"jangan sekali kali adu mulut sama cowok, yang ada malah jadi adu jotos." terdengar tertawa langit di balik telpon, sepertinya kebiasaan langit yang selalu mengisengi samudra, sampai samudra merasa kesal sendiri.
"kalau adu mulutnya sama mulut boleh dong kak, malah enak kak. haha..."
"langit sebelum kamu melakukannya, akan kakak jadikan rempeyek cowok yang akan adu mulut sma kamu."
langit terdiam dan kemudian mematikan handphonenya, sambura menatap hand phone miliknya. dia sangat marah dengan langit yang mengodanya, tapi godaan langit menjadi samudra merasa geram. dia tidak ingin langit melakukan apa yang dia bilang tadi.