“15 menit, lakukan semuanya untuk membuatmu hamil dalam kurun waktu itu! Saya tidak menerima waktu lebih dari itu”
Layla Anabella, wanita yang diselingkuhi oleh suaminya itu memilih menjadi ibu pengganti pasangan kaya raya yang tidak bisa punya anak karena sang istri mandul untuk membayar biaya pengobatan ibunya.
Namun, sang istri risih dengan keberadaan Layla dan menjebaknya sehingga Layla diusir karena melanggar perjanjian tanpa tahu kalau dirinya sudah mengandung benih pria itu.
7 tahun kemudian Layla berniat melamar kerja untuk biaya hidupnya dan putranya namun ternyata bos perusahaanya adalah pria itu.
Apa yang akan terjadi setelahnya? Apakah pria itu tahu kalau dia punya seorang putra yang sangat mirip dengannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon serena fawke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil hitam milik Saka berhenti di depan rumah Layla. Mesin masih menyala, tapi pria itu tidak beranjak. Matanya yang tajam menangkap sosok pria asing keluar dari gang sempit di sebelah rumah Layla. Langkahnya santai, seolah tempat itu sudah tidak asing baginya.
Layla yang baru turun dari mobil langsung menegang. Napasnya tercekat, jemarinya mengepal erat di sisi tubuhnya. Tama. Pria yang tidak ingin dia temui dalam situasi seperti ini, terlebih lagi dengan Saka di sampingnya.
Buru buru, Layla keluar dari mobilnya hendak mencegah Tama mendekat sehingga Saka tidak melihatnya namun semuanya terlambat, Saka sudah melihatnya.
”Mas! Cepet pergi dari sini kalau ada yang mau dibicarakan, kita bicarakan besok saja.” Layla hendak mendorong Tama segera pergi dari sana sebelum Saka menyadari.
Namun, Saka sudah keluar dari mobil dengan gerakan lambat, tetapi sorot matanya dingin dan penuh tanda tanya. Dia yakin siapa pria ini, Saka pernah melihatnya tentu saja saat di runah sakit kemarin dan dia akan memastikannya dengan matanya sendiri.
”Kenapa harus menyuruhnya pergi cepat cepat, Anabella?”
Deg!
Saka bertanya tanpa basa-basi, suaranya rendah dan mengintimidasi.
Layla menoleh cepat, otaknya berpacu mencari jawaban. "P-Pak Saka...” Kata-katanya tertahan, tenggorokannya terasa kering. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Masalah benar benar datang tanpa henti di hidupnya.
Tama mengernyit kebingungan saat melihat Layla keluar dari mobil bersama seorang pria tampan dengan jas rapi ini. Penampilannya sangat berwibawa dan seluruh pakaiannya terlihat sangat mahal, seperti dibuat oleh designer terkenal.
Tama langsung tahu pria ini bukan kalangan menengah kebawah tetapi kalangan atas. Bahkan mobilnya saja mobil mahal keluaran terbaru pula.
Kenapa Layla bisa mengenal pria kaya raya seperti ini?
Tatapan Tama dan Saka seperti bertukar rasa penasaran masing-masing, sementara Layla yang berada dalam posisi sulit disana.
Sementara itu rahang Saka langsung mengeras saat melihat Tama menarik Layla mendekat untuk berdiri dibelakangnya dan menjauh dari Saka. Ingin rasanya Saka menghajar pria ini karena seenaknya menyentuh Layla namun dia tahan.
Dia perlu penjelasan. Lupakan tentang Layla yang tiba tiba memanggilnya dengan embel embel ’Pak’ di depan pria ini. Saka tidak peduli karena di depannya ada pria asing yang sudah menganggunya selama beberapa hari ini semenjak dia melihat Layla berbicara dengannya di rumah sakit.
Saat itu Saka merasa dia tidak ada urusan dengan wanita ini. Namun Saka tidak bisa menahan rasa kesalnya melihat itu dan kali ini terulang lagi.
Kali ini dia pastikan menegaskan pada siapapun pria ini siapa dirinya.
”Siapa kau?” tanya Tama, tatapannya terlihat tidak suka dengan Saka, apalagi dia melihat Layla keluar dari mobilnya.
Saka menatap tajam tangan Layla yang masih dipegang oleh Tama dan dengan gerakan cepat dan penuh paksaan Saka menarik Layla ke dekatnya membuat Layla benar benar dalam posisi sulit.
”Kau bisa tanya pada Anabella apa hubungan kita, tapi kau tidak berhak menyentuhnya, siapa kau pikir dirimu?” sinis Saka membuat Tama tersulut emosinya sedikit.
Layla berusaha melepaskan cengkeraman tangan Saka namun Saka semakin mengeratkannya membuatnya hanya bisa pasrah.
"Aku mantan suaminya," Tama tiba-tiba bersuara, langkahnya penuh percaya diri saat mendekat. Senyum tipis terukir di bibirnya, seolah menikmati ketegangan yang baru saja tercipta. "Dan kau siapa?"
Saka tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin, rahangnya mengeras. Layla bisa merasakan hawa dingin yang dipancarkan pria itu.
”Kau bisa tanya pada Anabella seperti apa hubungan kita, benarkan?” Saka menoleh ke arah Layla membuat Tama begitu curiga dengan keduanya.
Sebenarnya Tama hendak menemui Layla untuk mengetahui kabarnya dan berusaha memperbaiki hubungannya dulu karena sejujurnya dia sangat menyesal sudah mengkhianati Layla dulu.
Tama ingin memperbaiki semuanya dengan Layla karena dia akhirnya sadar sekarang kalau Laylalah wanita yang tulus dengannya. Namun Tama malah melihat Layla keluar dari mobil pria lain.
”Layla, katakan kau terlihat tidak nyaman. Katakan padaku siapa dia? Apa dia memaksamu?” tanya Tama dengan wajah khawatir. Layla menggeleng lemah.
"Dia....Dia Pak Saka, bosku di kantor." Layla buru-buru berkata, berharap jawaban itu cukup.
Saka langsung menatap Layla tajam. Rasanya matanya bisa menusuk Layla saking tajamnya. Jelas pria itu tidak puas dengan jawaban Layla.
Tama tertawa kecil, mengejek. "Hanya bos?" Matanya menyipit, menatap Saka dengan penuh penilaian. "Jika memang hanya bos, kau tidak berhak ikut campur dengan urusan pribadi Layla.”
Saka masih diam, tetapi langkahnya maju. Sekarang dia berdiri tepat di depan Tama, tubuhnya lebih tinggi dan lebih dominan. "Aku tidak perlu menjelaskan hubunganku dengan Anabella padamu," katanya dengan nada datar tetapi berbahaya.
Tama tidak mundur, dagunya terangkat sedikit. "Tapi aku perlu tahu kenapa bosnya mengantar dia pulang seperti ini. Kau terlalu peduli untuk ukuran seorang atasan."
Saka mencibir. "Kau terlalu ingin tahu untuk seorang mantan suami."
Tama mendengus, matanya berkedip penuh perhitungan. "Aku peduli karena aku mengenalnya lebih lama darimu."
Saka tersenyum miring, tetapi matanya tetap gelap. "Lucu sekali. Tapi jika kau benar-benar mengenalnya, kau seharusnya tidak menjadi masa lalunya."
Tama tersentak, tetapi ia dengan cepat menyembunyikan reaksinya. "Jangan bicara seolah-olah kau lebih tahu tentang dia dibanding aku," katanya dengan nada meremehkan.
Saka mengangkat satu alisnya. "Dan kau jangan bersikap seolah-olah kau masih punya tempat di hidupnya."
Tama mencengkeram kerah kemeja Saka tanpa peringatan, mendorongnya mundur selangkah. "Kau pikir kau siapa?" geramnya.
Saka tetap tenang, tatapan matanya tidak goyah sedikit pun. "Lebih baik darimu," jawabnya dingin sebelum balas mencengkeram kerah Tama dan menariknya lebih dekat. ”Tanyakan pada Anabella apa hubunganku dengannya, yang pasti itu jauh lebih baik darimu!”
Ketegangan di antara mereka semakin meningkat, nyaris meledak. Layla melangkah maju, kedua tangannya terangkat untuk menghentikan keduanya. "Berhenti!" suaranya gemetar. "Aku tidak ingin ada pertengkaran di sini!"
Tama menatapnya dengan ekspresi serius. "Kalau begitu, kau harus memilih, Layla. Aku atau dia?"
Saka mencibir, ekspresinya meremehkan. "Kau pikir dia akan memilihmu?" tanyanya dingin.
Layla benar benar frustasi, rasanya dia ingin menghilang saja darisini. "Aku tidak ingin memilih di antara kalian. Kenapa kalian bersikap kekanak-kanakan seperti ini hah?”
Saka menatapnya dalam, matanya tajam dan penuh tekanan. "Kau terlalu banyak memberi ruang bagi orang-orang tidak penting dalam hidupmu."
Tama tertawa sinis. "Dan kau menganggap dirimu penting?"
Saka tersenyum tipis. "Aku tidak butuh anggapan. Aku tahu posisiku."
Layla meremas jemarinya, frustrasi dengan keduanya. "Tama, tolong pergi," katanya akhirnya, suaranya bergetar.
Tama diam sesaat. Dia tidak menyangka Layla malah mengusirnya. ”Aku? Apa kau yakin Layla? Kau menyuruhku pergi?”
Layla benar benar frustasi. Dia tidak ada urusan dengan Tama tapi dia jelas punya urusan banyak dengan Saka, dia tidak ingin menyinggung pria ini.
Saka tersenyum penuh kemenangan. ”Dengar? Dia menyuruhmu pergi!” sinis Saka.
Tama menatap Layla lama sesaat sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dengan tatapan terakhir yang sulit diartikan, ia akhirnya berbalik dan pergi.
Saka tetap diam sampai pria itu menghilang dari pandangan. Napasnya dalam, tetapi amarah di matanya belum reda. "Mulai sekarang aku akan mengantarmu pulang!”
”APA?”
Hai hari ini double update jangan lupa tinggalkan jejak yaa