Wanita adalah makhluk paling rumit di dunia. Sangking rumitnya, pikiran, bahkan perkataannya bisa berubah seiring waktu.
Pada ulang tahun pernikahan pertama, Sandra melontarkan candaan ringan, mengatakan bila tak kunjung memiliki anak akan meminta Bastian menikah lagi.
Bastian tak menanggapi candaan Sandra sama sekali, hingga pada akhirnya di tahun ke sepuluh pernikahan. Hal yang tak diinginkan Sandra lantas terjadi. Ternyata, secara diam-diam Bastian menikah siri dengan sekretaris pribadinya bernama Laura dan sekarang tengah berbadan dua.
Apa yang akan dilakukan Sandra? Apa dia akan pergi atau memilih bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pengantin Baru
Mendapat pertanyaan, Sandra mengedipkan mata berulang kali. Apa dia tidak salah mendengar barusan, Marisa menanyakan kapan pernikahan akan diadakan.
"Jadi Nenek setuju?" tanya Chester langsung, tak kalah senangnya karena sang nenek seolah-olah sudah memberi restu.
"Tentu saja Nenek setuju, yang menikah kan kau, jika kau bahagia Nenek juga ikut bahagia," kata Marisa kali ini dengan senyum mengembang.
Melihat Marisa tersenyum, Sandra tanpa sadar ikut tersenyum juga. "Sekali pun seorang janda Nek?" tanya Sandra dengan hati-hati.
"Loh, memangnya apa yang salah dengan janda, mereka juga harus bahagia kan, ayo mendekatlah, duduk di samping Nenek!" Marisa seketika menepuk sofa di sampingnya yang masih kosong.
Dengan sigap Sandra menghampiri Marisa sambil melirik Chester sekilas. Yang di mana lelaki bermata cokelat itu terlihat kesenangan bukan main sekarang.
"Kau pasti capek ya dengan berita di luar sana, mulai detik ini kau harus selalu bahagia ya." Begitu Sandra berhasil duduk di sampingnya, Marisa mengelus pelan pucuk kepala Sandra. Berita yang beredar di luar sana tentu saja telah sampai di telinga Marisa.
Sentuhan kecil di kepala, membuat hati Sandra seketika menghangat, dan tanpa permisi pula cairan bening mengalir pelan dari sudut mata Sandra.
Selama ini Sandra tidak pernah mendengar seseorang menanyakan bagaimana perasaannya. Sejujurnya kejadian Bastian berselingkuh, membuat energi dan perasaan Sandra benar-benar terkuras. Sandra lelah, sangat lelah. Bersikap kuat dan tegar, tapi tetap saja dia hanyalah seorang wanita, mudah rapuh dan juga butuh perhatian. Ditambah lagi, sedari kecil dia tidak pernah melihat kedua neneknya, entah itu dari sebelah papa atau pun mamanya. Karena kedua neneknya sudah lama berpulang.
"Eh, kok nangis?" Marisa spontan terkejut. Chester dan Calvin pun tak kalah terkejutnya.
Sandra perlahan menghapus air mata menggunakan jari telunjuk. Namun, bulir air itu makin berjatuhan. "Maaf Nek, aku ...."
"Kemarilah Nak." Dengan cepat Marisa menarik tangan Sandra dan mendekapnya erat-erat.
Detik itu pula tangis Sandra langsung pecah, Sandra pun membalas memeluk Marisa sambil memejamkan mata dengan sangat rapat. Pundaknya tampak bergetar pelan, dadanya terlihat kembang kempis, menahan sesak yang menjalar di rongga paru-paru sekarang. Runtutan kejadian beberapa minggu ini membuat Sandra sangat tertekan.
Sandra pun heran, mengapa kali ini tak bisa mengontrol emosi. Padahal dia sudah bersumpah, tidak mau menampakkan kesedihannya di depan orang lain. Namun, hanya dengan satu usapan hangat di kepala dan satu pertanyaan sepele, Sandra mendadak rapuh.
"Menangislah sepuasmu, Sandra. Luapkan semua kesedihanmu, besok atau lusa jangan pernah menangis lagi, lelaki seperti Bastian tidak pantas kau tangisi, air matamu ini terlalu berharga untuk menangisi pria itu," kata Marisa mengelus pelan punggung Sandra.
Dalam pelukan, Sandra membalas dengan mengangguk pelan.
Mendengar tangisan Sandra yang menyayat hati, Chester dan Calvin saling lempar pandang sejenak.
"Anak orang harus dijaga, awas saja kau melakukan hal yang sama seperti Bastian," ucap Calvin pelan sambil melayangkan tatapan tajam pada putra sulungnya itu.
Chester mendelikkan mata ke atas sejenak. "Iya, iya, aku dan Bastian berbeda ya Pa. Jangan disamakan."
"Benar, awas saja kau menyakiti Sandra! Burung kakaktuamu akan Nenek potong!" Marisa yang tak sengaja mendengar percakapan di samping. Secepat kilat melirik tajam ke arah Chester, tanpa melepaskan pelukan.
Chester cepat-cepat menutup burungnya dengan kedua tangan. "Eits, jangan dong Nek, mulai dari detik ini jangan panggil aku burung kakaktua dong Nek, sebentar lagi aku akan menikah jadi panggil aku burung kakakmuda saja."
"Nenek tenang, aku akan menjaga Sandra kok burungku ini berbeda dengan burung yang lain," tambah Chester lagi.
Marisa enggan membalas, malah kembali mengalihkan pandangan ke arah Sandra. Yang saat ini tersenyum tipis sambil menangis tersedu-sedan saat mendengar guyonan nenek dan cucu itu barusan.
"Kalau Chester macam-macam, bilang sama Nenek ya San. Biar burungnya Nenek sembelih!" sembur Marisa membuat Sandra tanpa sadar mengeluarkan tawa. Sandra pun mulai membuka mata dan mengendurkan pelukan.
"Tadi mau dipotong sekarang mau disembelih, memangnya Nenek pikir burungku ini kurban apa!" protes Chester tak terima burungnya dibuli.
Marisa melototkan mata, secepat kilat mengetok kening Chester, menggunakan tongkat pamungkas miliknya, yang ditaruh di dekatnya sejak tadi.
"Ouch! Nek, sakit!" Chester langsung cemberut, berulang laki lelaki itu mengusap-usap keningnya yang tampak memerah sekarang.
"Makanya, jangan buat tensi Nenek naik. Burungmu itu harus dijaga, jangan suka buat ulah, lihat tuh burung temanmu udah buat anak orang terluka," kata Marisa membuat Chester mau tak mau menutup mulut rapat-rapat.
Beberapa menit kemudian, Sandra tak lagi menangis. Wanita itu sudah terlihat membaik. Sandra menahan malu kala tadi menangis di depan calon mertuanya barusan.
Kedatangan Juwita membuat suasana semakin menghangat. Sandra pikir Juwita seperti Bu Halimah, mantan mertuanya dulu. Nyatanya tidak, Juwita benar-benar baik bahkan menyambut kedatangannya dengan senyum tulus terukir di wajah. Tidak hanya itu, Sandra juga diajak ke dapur untuk masak bersama-sama. Juwita juga mengatakan apa saja makanan kesukaan Chester padanya, dan menanyakan apa makanan kesukaannya.
Sandra merasa keluarga Chester penuh kehangatan berbanding terbalik dengan keluarga Bastian dulu. Sandra mulai resah sekarang jika suatu saat nanti, Juwita, Calvin dan Marisa mengetahui bahwa dia dan Chester akan bercerai setelah masa kontrak menikah habis.
"Jadi, kapan kalian menikah?" tanya Juwita membuat lamunan Sandra langsung buyar.
"Setelah masa iddahku selesai." Sandra melempar senyum kaku setelahnya.
"Lamanya, tapi mau bagaimana lagi. Ya udah yuk kita ke ruang tengah gabung sama yang lain, biar makanan nanti dipindahin sama asisten rumah." Juwita pun mengajak Sandra berkumpul bersama kedua anaknya, suami dan mertuanya. Casey tidak ada di rumah, karena magang di rumah sakit sampai malam.
Beberapa minggu kemudian, hari yang dinantikan Chester telah tiba. Kini Sandra sudah sah menjadi istrinya. Akad nikah sudah dilaksanakan tadi pagi di kediaman Chester. Sementara, resepsi diadakan dari pukul tiga sore hingga pukul sepuluh malam di hotel berbintang lima tepatnya di hotel Langham, Jakarta.
Lelaki itu berulang kali melirik-lirik Sandra, pakaian nikah khas adat Jawa, membuat Chester jadi pangling dengan kecantikan Sandra. Saat ini Sandra dan Chester tengah berjalan di koridor hotel hendak mengistirahatkan diri, dari riuhnya pesta nikah yang baru saja digelar di lantai empat barusan.
Sandra mengabaikan tatapan Chester, karena dia sudah sangat lelah. Ingin memarahi pria itu untuk jangan menatapnya, pasti akan berakhir dengan sebuah perdebatan. Sandra memilih diam.
Sampai pada akhirnya, pengantin baru itu berhenti di sebuah pintu kamar.
"Silakan masuk Babyku." Chester tiba-tiba membukakan pintu kamar dan mempersilakan Sandra untuk masuk.
Tanpa membalas ucapan Chester, Sandra pun mulai melangkahkan kaki ke dalam ruangan.
Secepat kilat Chester menutup kamar rapat-rapat lalu tiba-tiba bersuara.
"Malam ini kau sudah siap kan Baby?" kata Chester dengan tatapan mesumnya.
semangat kak..
sukses selalu yaa Thor 😘😍😍🤗🤗
hebat!!!
mkanya sdh dpt istri baik2.... mlah mungut istri jalang....
haduehjj bastian.... bodoh amat sih km....
untuk bu halimah.... selamat.... mantu kesayanganmu... yg dlu km banggakn... justru mnebar pnyakit mematikan untuk anakmu🤣🤣🤣