"Mencintaimu dengan Tulus: Kisah Cinta LDR"
Matara Vega Sakti dan Sherina Ayesha Wicaksono, dua mahasiswa semester satu yang menjalin cinta di tengah jarak. Mereka berbagi impian, harapan, dan tawa. Namun, ketika Sherina pulang ke Indonesia untuk liburan semester, perasaan cemburu Vega mulai menggerogoti hubungan mereka.
Konflik memuncak ketika Vega menemukan Sherina dekat dengan teman lamanya. Kesalahpahaman dan kecurigaan membuat hubungan mereka goyah. Apakah cinta mereka cukup kuat untuk menahan badai?
Di tengah kebimbangan dan kesulitan, Vega dan Sherina harus memilih antara memperbaiki hubungan atau berpisah. Akankah mereka menemukan jalan kembali ke pelukan each other?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LYS Halaman 32
Mobil hitam milik Vega sampai didepan rumah berlantai dua milik keluarga Wicaksono. Tidak lama Vega dan Sherina keluar dari mobil tersebut lalu keduanya berjalan bergandengan tangan menuju depan pintu utama.
Sebelum masuk ke dalam rumah Sherina menyempatkan lebih dulu menatap Vega, begitu pula sebaliknya Vega juga menatap Sherina lebih dulu dengan tatapan penuh cinta.
Keduanya bertatapan cukup lama tanpa ada yang berniat ingin bersuara, hingga suara deheman dari arah pintu utama mengagetkan mereka berdua.
Sherina dan Vega segera melepas genggaman tangan dan memutus tatapan penuh cinta tersebut, lalu mereka mengalihkan pandangan pada seseorang yang telah mengejutkannya.
"Pa, Om," kata Sherina dan Vega, bersamaan.
Ya, seseorang tersebut adalah Arman, Papa-nya Sherina. Arman yang memang sejak tadi belum tertidur karena harus menyelesaikan tugas kantor tidak sengaja mendengar deru mobil yang seperti berhenti di depan rumah.
Arman yang memang tidak tahu jika Sherina ternyata tidak ada di rumah tadi sempat terkejut tat kala melihat anak gadisnya baru saja pulang bersama seorang pria. Tetapi keterkejutannya berubah dengan senyuman tipis dan penuh kelegaan saat pria yang bersama putrinya adalah Vega, Pria yang telah dia kenali.
Dengan kedua tangan berada dalam saku celana, Arman menatap Sherina dan Vega dengan serius menyembunyikan perasaan lega yang menghampiri.
"Kalian berdua dari mana saja? Apa kalian tidak tahu jika ini sudah hampir pukul sepuluh malam?" tanya Arman terkesan tegas, tujuannya adalah untuk membuat mereka berdua tetap ingat waktu dan berpacaran secara sehat.
"Maaf, Om aku tidak bermaksud, tapi kami berdua baru saja membicarakan tentang hubungan kami," jawab Vega, dia tahu akan kekhawatiran Papa-nya Sherina.
"Pa, ak--"
"Sherina, cepat masuk," kata Arman, menyela perkataan Sherina. "Lain kali jangan lupa waktu, bisa saja ada setan yang menggoda kalian dan mengarahkan pada suatu hal yang tidak di benarkan," kata Arman lagi, saat Sherina berjalan melewatinya untuk masuk ke dalam rumah.
Sherina menghentikan langkah menunduk dengan sedikit takut. "Baik, Pa." katanya lalu masuk ke dalam rumah lebih dalam dan menuju kamarnya.
Setelah Sherina masuk dan tak terlihat lagi, Arman mendekati Vega yang sedikit menunduk lalu menepuk bahunya. "Bagaimana hubungan kalian?" tanya Arman.
Pertanyaan Arman mampu membuat Vega mengangkat wajah dan menatap calon mertuanya tersebut. "Kami sudah kembali berbaikan, Om. Bahkan aku sudah menyematkan cincin dijari manis Sherina tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Arman, karena Vega menggantung ucapannya.
"Maaf, Om saat aku menyematkan cincin pada Sherina tidak ada pihak orang tua yang di undang karena itu adalah bagian rencana teman-temanku dan tanpa sepengetahuanku."
kata Vega, dia merasa tidak enak hati karena acara pertunangannya tidak di hadiri orang tua Sherina, Vega merasa hal tersebut kurang sopan.
Arman terkejut tetapi hanya sesaat lalu dia tersenyum tipis. "Sebenarnya saya sebagai Papa-nya Sherina sedikit kecewa karena tidak menyaksikan anak gadis saya bertunangan dengan pria yang di cintainya. Namun, itu tidak jadi masalah asalkan Sherina tetap bahagia," kata Arman, dia mencoba memahami keinginan anak muda di zaman sekarang.
Vega tersenyum senang karena Papa Sherina tidak marah atau keberatan akan rencana teman-temannya.
"Terima kasih, Om. Setelah semua kekacauan yang aku lakukan dan perkataan kasarku pada Sherina, Om masih mau menerima aku dengan baik." kata Vega, dia sangatlah bahagia.
"Hm, itu semua saya lakukan karena demi kebahagiaan putri saya," jawab Arman, dengan wajah semakin tegas.
Vega mengangguk. "Baiklah, Om. Ini sudah malam aku pamit pulang dulu."
"Ingat! Satu kali lagi kamu menyakiti hati putri saya, saya jamin tidak akan lagi ada kesempatan kedua untukmu walau Sherina mencintaimu," kata Arman, memberi peringatan pada Vega.
Ini semua Arman lakukan demi kebaikan dan kebahagiaan bersama karena dapat Arman lihat Vega dan Sherina keduanya memiliki perasaan cinta yang sangatlah besar.
Vega menggangguk paham. "Permisi Om," kata Vega, dia sedikit menunduk lalu pergi dengan mobilnya menuju tempat tinggalnya.
.................................................
Pagi Harinya.
Sherina bangun dari tidur nyenyaknya, dia mengucek kedua mata lalu cepat-cepat turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Di dalam sana Sherina tengah membuang apa yang perlu dia buang seperti kebiasaan orang pada umumnya.
Lima belas menit, Sherina keluar dari kamar mandi sudah dengan wajah yang segar dan hanya menggunakan handuk saja. Ya, Sherina baru saja selesai mandi.
"Sherina! Bangunlah, kita sarapan pagi bersama," panggil Citra, sambil mengetuk pintu kamar Sherina.
"Iya, Ma!" jawab Sherina, sedikit berteriak lalu Sherina segera mengambil pakaian di dalam lemari.
"Sayang, Mama boleh masuk?" tanya Citra, dia masih berdiri di depan pintu kamar Sherina.
"Masuk saja Ma, pintunya tidak di kunci!" jawab Sherina, dengan sedikit teriak lagi kini dia sudah selesai berpakaian.
Pintu terbuka dari luar, Citra masuk dan kembali menutup pintu. "Sayang, kata Papa semalam kamu pulang dengan Vega. Apakah itu benar?" tanya Citra, dia mendekat pada Sherina.
Sherina menatap Mama. "Papa memberitahu Mama?" tanya Sherina, dia mulai menyisir rambut coklatnya yang panjang.
"Tentu saja," kata Citra. "Ayo cepat selesaikan berdandannya Papa ingin berbicara penting denganmu," kata Citra lagi.
Sherina mendengus dan segera menyelesaikan menyisir rambutnya. "Papa ingin bicara apa, Ma? Sherina penasaran," katanya, Sherina mulai menerka-nerka.
"Tentu saja tentangmu," jawab Citra, lalu menarik pelan lengan Sherina menuju meja makan.
Sementara dikediaman Sakti, pagi ini suasana tengah ramai karena Anton tengah memarahi putra semata wayangnya karena sang putra telah melakukan kesalahan.
"Kamu ini, apa kamu sudah tidak menganggap Papa ini Papa mu, HAH!" teriak Anton, menatap Vega dengan wajah murka.
Sementara, Vega yang terkena amarah dari Papa hanya bisa menundukan kepala pasrah, tidak berani membantah sekali pun karena ini memang kesalahannya.
Tetapi, Marina yang sejak sepuluh menit lalu mendengarkan amarah sang suami merasa kasihan dan tak tega pada Vega.
Marina mengusap lengan bahu suami. "Sudahlah Pa, ini masih sangatlah terlalu pagi. Tidak baik jika mengawali hari dengan amarah," kata Marina, dia berusaha meredam emosi sang suami.
Anton menghela dia mencoba untuk tenang. "Tapi putramu Ma, dia tidak menghargai Papa," kata Anton, dia merasa sangatlah jengkel dengan kelakuan Vega.
Marina mengangguk dia masih mengusap lengan bahu suami. "Iya, Mama paham Pa tapi Papa tidak boleh seperti ini terus, kasihan Vega," kata Marina, dia menatap Vega yang juga menatapnya dengan tatapan bersalah.
Vega yang sejak tadi duduk disofa mendekati Papa dan berlutut dihadapan Papa. "Maaf, Pa. Vega mengaku salah tapi bagaimana lagi Pa semuanya sudah terjadi,"
lanjut thor