NovelToon NovelToon
Hadiah Jodoh

Hadiah Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Slice of Life
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: PERMATABERLIAN

Bagaimana jadinya saat tiba - tiba ibumu menanyakan saat ini berapa umurmu dan menawari hadiah ulang tahunmu yang ke 21 dengan hadiah jodoh?.

"Nis, Nisa sekarang umurmu berapa?." Tanya Dewi tiba-tiba saat masuk kamar putrinya. Nisa yang ditanya sang ibu pun langsung menjawab tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang sang ibu terkadang sangat random. " Dua puluh tahun sebelas bulan ".

" Berarti sudah boleh menikah, hadiah ulang tahunnya jodoh mau? "Jawab sang ibu yang membuat Nisa kaget dan langsung tertawa.
Nisa yang sudah hafal betul tentang kerandoman ibunya pun berniat meladeni pembicaraan ini yang dia kira adalah candaan seperti yang sudah sudah.

" Boleh... Asal syarat dan ketentuan berlaku, yang pertama seiman, yang kedu-".Belum selesai Nisa bicara dia mendengar ibunya sudah tertawa lepas yang membuat Nisa juga ikut tertawa dan langsung pergi dari kamar putrinya.

Tanpa Nisa ketahui bahwa yang ia anggap candaan itu adalah sesuatu yang serius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PERMATABERLIAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.

Brak

Pintu ruangan Yuda terbuka dengan keras dan tentunya hal itu mengejutkan orang yang berada didalamnya.

Yuda yang saat itu sedang mengecek laporan tentunya terkejut dengan bunyi pintu ruangannya yang dibuka dengan tiba-tiba dan sangat kasar itu.

Ia yang sudah siap memarahi pelaku yang berbuat tidak sopan menurutnya itu nyatanya tidak jadi melakukannya saat melihat pelakunya.

Dapat Yuda lihat diambang pintu Ami sedang berdiri dengan mata yang memerah, ia sempat berpikir apakah Ami baru saja menangis saat melihat keadaannya saat ini.

"Kita perlu berbicara tuan Yuda yang terhormat!"ucap Ami yang memberi penekanan pada akhir kalimatnya.

Mendengar ucapan Ami, Yuda mengernyitkan alisnya, ia jadi menerka apakah merahnya mata Ami itu bukan karena menangis tetapi sedang emosi kepadanya.

" Sikap Anda tidak sopan sama sekali sebagai asisten. "ucap seorang staff perempuan yang memang saat Ami masuk ke ruangan Yuda tanpa permisi staff itu sedang memberikan laporan keuangan kepada Yuda.

" Silahkan Anda keluar dulu, kita bahas lagi nanti."ucap Yuda yang memutuskan lebih memilih untuk berbicara terlebih dahulu dengan Ami karena entah mengapa melihat dari tatapan Ami yang seperti siap mengulitinya itu sepertinya ini adalah sesuatu yang sangat penting.

Mendengar ucapan Yuda yang secara tidak langsung mengusirnya, staff perempuan itupun pergi dari ruangan Yuda dengan gurat wajah kesal dan memberikan tatapan tidak sukanya kepada Ami.

"Dasar Ami sialan, gagal lagi merayu Pak Yuda padahal lagi ada kesempatan." ucap staff perempuan itu saat ia telah keluar dari ruangan Yuda.

Saat staff itu telah keluar dari ruangan Yuda dan pintunya telah tertutup, barulah Ami menghampiri Yuda yang masih duduk di kursi kebesarannya itu dengan tatapan mata yang tak lepas terus menghunus kepada Yuda.

Barulah setelah Ami berada di depan Yuda yang dibatasi oleh meja kerja, Ami tanpa aba-aba langsung melemparkan tespek yang dari tadi digenggamnya kearah Yuda hingga tespek itu mengenai Yuda dan berhamburan di lantai.

"Dasar pembohong!"

"Ada apa ini." ucap Yuda yang bingung dan belum memahami apa yang terjadi.

Yuda memungut apa yang dilemparkan Ami kepadanya tadi dan baru sadar bahwa itu adalah sebuah tespek dengan dua garis merah disana.

"Anda bilang saya tidak akan hamil, tapi nyatanya apa? saya hamil!" ucap Ami marah yang mulai kehilangan kendali akan dirinya karena sudah dikuasai oleh amarah.

"Sepertinya saya memang terlalu bodoh karena mempercayai ucapan Anda malam itu."ucap Ami sambil menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi di pipinya lalu tertawa menertawakan kebodohannya sendiri.

" Padahal saya sudah rela jika sampai kapanpun tidak akan ada laki-laki yang mau dengan saya, tapi kalo sudah seperti ini saya harus bagaimana."

Yuda masih diam saja dengan menjadi pendengar yang baik saat Ami mengeluarkan semua hal yang selama ini dipendam nya. Tebakan Yuda memang selalu benar bahwa diamnya Ami adalah bom waktu dan saat ini bom waktu itu telah meledak.

"Bagaimana saya harus menghadapi ini semua saya tanya tuan!"

"Saya ... saya sangat benc—" Belum selesai Ami menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja tubuhnya sudah mulai limbung, untungnya ia masih sempat berpegangan meja didepannya sebelumnya akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadarannya dipelukan Yuda.

"Benci Anda. " gumam Ami yang masih dapat Yuda dengar.

Melihat wanita yang tengah hamil anaknya itu tidak sadarkan diri membuat Yuda panik.

"Dio!" teriak Yuda memanggil asistennya.

"Disini bos." sahut Dio saat dirinya telah tiba diruangan bosnya setelah sebelumnya mendengar bosnya itu memanggilnya dengan cara berteriak yang tidak seperti biasanya.

"Siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang."

Tanpa banyak bertanya Dio segera menjalankan perintah bosnya itu walaupun sebenarnya dirinya sejak tadi bertanya-tanya kenapa Ami bisa pingsan dipelukan bosnya.

Yuda dengan segera menggendong tubuh Ami keluar dari ruangannya untuk menuju rumah sakit dan tentunya aksinya itu menjadi tontonan karyawannya.

Banyak karyawan yang bertanya-tanya akan apa yang terjadi, bersimpati dan tidak sedikit juga yang mencemooh Ami karena menganggap bahwa Ami sedang mencari perhatian atasannya dengan pura-pura pingsan.

"Enak banget Ami digendong sama bos, palingan itu pingsannya pura-pura dia."

"Heh mulut lo, lo gak lihat itu muka Ami emang pucet."

Ditengah perdebatan yang terjadi tiba-tiba Dio datang dan membubarkan kumpulan para staff itu yang asik membicarakan atasannya.

"Kalian itu dibayar buat kerja bukan untuk mengurusi hal yang lain." ucap Dio garang.

"Maaf Pak." ucap para staff sebelum akhirnya membubarkan diri untuk kembali bekerja setelah mendapatkan semprotan dari tangan kanan bos mereka.

*

*

"Bagaimana dok, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Yuda dengan tidak sabarnya kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Ami.

"Apakah Anda suami pasien?" tanya dokter itu kepada Yuda.

"Iya" jawab Yuda berbohong yang membuat Dio yang mendengarnya terkejut, pikirnya kenapa tidak jujur saya jika ia adalah atasannya.

"Sepertinya istri Anda sedang hamil muda dan saya anjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di dokter kandungan untuk lebih pastinya."

Belum selesai keterkejutan yang Dio rasakan saat mendengar bosnya itu mengaku sebagai suami Ami, ia kembali terkejut saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh sang dokter tentang keadaan Ami yang sedang hamil karena setahunya Ami belum menikah.

"Mungkin karena mengalami mual muntah dipagi hari yang membuatnya tidak berselera makan, sehingga hal itu yang membuatnya pingsan Pak karena tubuhnya kekurangan nutrisi.Mohon istrinya lebih diperhatikan ya Pak."

"Baik dok terima kasih." jawab Yuda setelah mendengar penjelasan sang dokter tentang penyebab yang membuat Ami sampai pingsan.

Setelah cukup lama memejamkan matanya akhirnya Ami mulai sadar dari pingsannya.

"Minum ... " gumam Ami yang merasakan haus.

Mendengar gumaman Ami itu dengan cekatan Yuda mengambilkannya minum dan membantunya untuk minum.

"Saya akan tanggungjawab, ayo kita menikah." ucap Yuda dengan tegas dan penuh keyakinan setelah selesai membantu Ami mencari posisi yang nyaman untuk berbicara.

Bersambung

Makasih buat yang masih setia menanti cerita ini dan maaf karena jarang update karena author lagi sibuk ya kakak-kakak

1
ZUNAYIRA
lumayan seru lanjut baca
ZUNAYIRA
aku suka
ZUNAYIRA
aku suka nopel inih bagus
EelisazasileE
cocok untuk yang suka konflik-konflik ringan
Berlian
cerita dengan konflik-konflik ringan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!