Kathleen tidak pernah menyangka bahwa rasa penasaran bisa menyeret hidupnya ke dalam bahaya besar!
Semua berawal dari kehadiran seorang cowok misterius di kelas barunya yang bernama William Anderson. Will memang selalu terkesan cuek, dingin, dan suka menyendiri. Namun, ia tidak sadar kalau sikap antisosialnya yang justru telah menarik perhatian dan membuat gadis itu terlanjur jatuh hati padanya.
Hingga suatu hari, rentetan peristiwa menakutkan pun mulai datang ketika Kathleen tak sengaja mengetahui rahasia siapa William sebenarnya.
Terjebak dalam rantai takdir yang mengerikan, membuat mereka berdua harus siap terlibat dalam pertarungan sesungguhnya. Tidak ada yang dapat mereka lakukan lagi, selain mengakhiri semua mimpi buruk ini sebelum terlambat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rivelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Akhir hidupku?
“Mati sia-sia? Silakan, coba saja. Aku tidak pernah takut dengan kalian!” tantangku seraya bangkit berdiri kemudian menusukkan pisau yang masih kugenggam erat ini pada jantung makhluk itu.
“ARGHHH!”
Ia menggerung kesakitan. Sebuah cahaya berwarna kuning keemasan tampak berpendar terang dari bekas luka tusukanku. Hanya dalam waktu sekejap, tubuhnya pun lenyap seketika!
Dua makhluk lain sontak menatapku dengan murka. Mata mereka nyalang dan embusan napas berat keduanya terlihat seperti kepulan asap. Salah satu dari mereka kembali merangkak naik ke atap bangunan di atasku sembari meraung.
“BERANINYA KAU!”
Aku tidak terlalu menghiraukannya karena makhluk bertubuh masif yang ada di hadapanku ini sekarang punya peluang lebih besar untuk menyerang. Makhluk itu melangkah maju. Kepalan tangannya terbuka, menyiapkan kuku-kuku tajam yang sudah siap untuk merobek kulitku kapan saja.
“Jangan harap kau bisa pergi dengan selamat dari sini, William. Kau harus membayar semua perbuatanmu dengan setimpal!” erangnya lantas mengayunkan kedua cakarnya padaku.
Aku langsung menangkis kuku tajamnya yang hampir mencabik dadaku. Ia mundur beberapa langkah. Setelah menghindar dari serangan mengerikan itu, aku segera berlari ke sisi lain—mengelak dari hujaman makhluk yang sebelumnya naik ke atas bangunan tinggi di belakangku, alhasil tubuhnya pun menghantam tanah dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman. Tentu dia takkan mati begitu saja.
Selagi makhluk itu masih tersungkur di tanah, konsentrasiku kembali beralih pada Dökkálfar bertubuh masif tadi. Ini adalah kesempatanku untuk menyerang balik. Kuarahkan pisauku padanya, tapi rupanya ia juga tidak kalah gesit.
Dammit!
Mata pisauku meleset dan hanya berhasil menyayat bagian pinggangnya sedangkan kuku tajam makhluk itu telak merobek lengan dan bahuku sekaligus. Aku mengernyit sembari berusaha menutupi luka di lenganku yang mengeluarkan cukup banyak darah. Rasa nyeri pun perlahan-lahan mulai menjalar ke sekujur tubuhku.
“Itu masih belum seberapa. Aku bisa membuatmu lebih sengsara dari yang kau rasakan sekarang.” Ia menunjukkan ekspresi penuh tekad.
“Lakukan saja sesuka hatimu. Hidupku juga sudah semakin sengsara semenjak berurusan dengan kalian!” tukasku kemudian lekas menyerang kembali ke dua titik sekaligus. Kutusukkan pisauku kebagian rusuk dan dadanya. Kali ini seranganku tepat sasaran.
Ia mengerang, rongga mulutnya melangah lebar karena senjataku ini dapat menimbulkan sensasi terbakar yang luar biasa untuk mereka.
Tinggal tersisa satu lagi. Namun, anak buah Zaphiele yang tersungkur di tanah tadi tahu-tahu menghilang. Aku terkejut saat ia mendadak muncul dan melesat lebih cepat dari sebelumnya. Makhluk itu berhasil mencakar punggungku. Lalu, menghempaskanku ke tembok. Kurasakan ada cairan hangat yang mengalir turun dari pelipisku. Aku berusaha bangkit, tapi untuk mengangkat kepala saja rasanya sudah begitu berat.
“Kau beruntung karena kami hanya datang bertiga kali ini,” ejeknya lantas merebut pisauku dan menghancurkannya.
“Jangankan bertiga, aku bisa menghabisi semua makhluk terkutuk seperti kalian!” balasku geram.
“Kau sudah tidak berdaya dan aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku. Pedang Egbertyne pasti akan jatuh ke tangan kami, Ljósálfar!” lanjutnya sembari tertawa angkuh. Ia kemudian mencekik leherku dan mengangkatnya tinggi-tinggi sampai kedua kakiku tidak bisa menyentuh tanah lagi.
Cengkeraman dari kuku tajamnya itu serasa mengoyak tenggorokanku. Aku menengadah ke langit, mencari udara yang masih bisa kuhirup. Makhluk brengsek ini terlihat sangat menikmati semua penderitaanku. Ia terus memperkuat cengkeramannya sementara aku memejamkan mata. Napasku rasanya seperti sudah berada di ujung tanduk.
“WILLIAM!” Seseorang berteriak memanggil namaku dengan suara lantang.
Aku berusaha kembali membuka mataku lebar-lebar dan mengerjap ketika sebilah pedang tiba-tiba menembus dada makhluk itu dari belakang. Ia meraung, suaranya terdengar lebih kencang hingga menggema ke sepanjang jalan. Cengkeraman tangannya pun terlepas dan aku jatuh ke tanah. Hanya dalam hitungan sekian detik, makhluk itu langsung lenyap tak bersisa.
“William, cepat buka matamu! Kau baik-baik saja?” tanya Arthur khawatir karena wajahku memucat.
Aku mengangguk lemah.
“Ayo, bangunlah. Kita harus segera pergi dari sini!”
Arthur langsung membawaku ke Alfheim, tempat di mana para Light Elf (Ljósálfar), penjaga Pedang Egbertyne berkumpul. Tempat rahasia ini terletak jauh dari bumi serta tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang. Hanya kaum seperti kamilah yang dapat masuk ke sana. Tugas utama kami adalah menjaga sebuah pedang terkuat di sembilan dunia yang bernama Egbertyne dari makhluk sialan seperti mereka. Pedang itu bisa menjadi sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.
“Hei, apa yang telah terjadi?” Luca berlari menghampiri kami. Ia adalah salah satu teman baikku di Alfheim.
“Luca, tolong cepat kau obati William sekarang! Dökkálfar licik itu sudah menyerangnya,” pinta Arthur.
Luca mengiyakan dan segera memapahku ke ruangan yang keamanannya terbilang cukup ketat. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai macam obat-obatan yang tentunya tidak akan dapat ditemukan di luaran, mengingat musuh kami juga bukanlah seorang manusia.
Aku melepas jaket dan baju bagian atasku yang sudah robek-robek akibat terkena serangan mereka tadi.
Luca buru-buru meraih sebuah botol kaca yang berisi larutan berwarna ungu pekat. Ia mengernyitkan wajah begitu melihat luka-luka yang ada di sekujur tubuhku. “Kau tahu, ini pasti sangat menyakitkan, Will ....”
“Tak apa. Lakukan saja,” lirihku. Sejujurnya, aku sangat membenci obat itu. Meski akan sembuh total dalam waktu kurang dari tiga hari, tetap saja obat itu sungguh menyakitkan.
“Tahan sebentar! Kau harus cepat pulih,” ujarnya seraya meneteskan larutan tersebut sedikit demi sedikit.
Aku menggeliat, menggigit rahangku kuat-kuat. Obat buatannya ini benar-benar pedih dan juga panas hingga membuatku nyaris berteriak.
“Ini tidak bagus. Luka di lenganmu cukup dalam.”
“Ya, aku tahu. Tolong lakukan dengan cepat. Aku sudah tidak tahan. Rasanya sakit sekali ....”
“Baiklah! Tinggal sedikit lagi. Aku juga harus memastikan kalau obat ini betul-betul meresap,” balasnya lanjut menekan lukaku selama beberapa detik.
Aku mengepalkan tangan sembari berusaha mengatur napasku yang menderu kasar. Kepalaku sampai pusing tak karuan. Sebelumya aku sudah pernah terluka lebih parah. Akan tetapi, seingatku rasanya tidak sesakit ini.
Setelah selesai meneteskan seluruh larutan tersebut, Luca pun akhirnya membantuku untuk duduk tegak kembali. Ia lalu melilitkan perban pada bagian sayatan yang terlihat menganga lebar.
“Jangan sampai terlihat oleh siapa pun, apalagi manusia. Mereka pasti bisa curiga kalau melihat lenganmu yang robek seperti habis diterkam binatang buas ....”
Kuanggukan kepala mengerti. “Terima kasih, Luca. Kau sudah banyak membantuku.”
“Yeah, tidak masalah. Ini juga adalah tugasku,” balasnya. “Apa masih sakit?”
“Ya. Lengan kananku masih nyeri.”
“Hmm, kurasa lukamu kali ini akan butuh waktu lebih lama untuk sembuh. Kau kehilangan kekuatanmu, itu sebabnya ini jadi terasa jauh lebih menyakitkan.”
“Kau tahu dari mana kalau aku kehilangan kekuatanku?”
“Arthur yang menceritakannya. Sejak kemarin, ia tidak bisa tenang karena terus mengkhawatirkanmu. Ia takut kalau anak buah Zaphiele akan coba menyerangmu lagi. Kau tahu sendiri makhluk sialan itu selalu berusaha mencari kelemahan kita meski sekecil apapun.” Luca menjelaskan panjang lebar seraya mengambilkan obat cadangan untukku. “Well, kalau kau membutuhkan bantuan, aku juga bisa membantumu. Kau temanku dan kita harus saling bekerjasama, bukan?”
Aku tertawa pelan. “Tentu saja.” Lalu, bangkit berdiri untuk meraih bajuku serta memakainya kembali.
Setelah memasukkan beberapa obat cadangan yang Luca berikan ke dalam tas, aku berjalan ke ambang pintu sembari bertumpu pada benda-benda di sekitar. Namun, saat baru saja memegang kenop—hendak melangkah keluar—Arthur mengejutkanku. Ia ternyata sudah berdiri di sana sejak tadi.
“Kau mau pergi ke mana?” tanyanya seraya mengaitkan kedua lengannya ke belakang. “Beristirahatlah di sini dulu sampai keadaanmu membaik.”
“Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik sekarang,” sahutku.
“Ini perintah bukan tawaran, jadi kau tidak berhak membantah.”
“Arthur benar, Will,” sambung Luca yang kini sedang sibuk merapikan semua peralatannya. “Untuk malam ini, menginaplah di sini terlebih dahulu. Kondisimu masih lemah. Lagi pula, di luar sana juga berbahaya. Mereka bisa menyerangmu lagi kapan saja.”
“Kau dengar? Setidaknya patuhi perkataan temanmu kalau kau tidak mau mematuhi perkataanku.”
“Maaf. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, Arthur.”
Ia menghela napas lalu menajamkan tatapannya. “Kalau begitu lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Setelah pulang dari sini, aku tidak mau tahu kau harus bisa mendapatkan liontinmu lagi. Terserah bagaimanapun caranya—yang penting kekuatanmu kembali. Mereka pasti akan terus mengincarmu selama kau terlihat lemah, William.”
“Ya, aku mengerti. Terima kasih kau sudah mau memberikanku kesempatan,” balasku.
Sejauh ini, aku tahu kalau diriku memang sedang dalam bahaya. Sisa waktu yang kami miliki pun sudah tidak banyak. Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan liontinku lagi? Sementara jika kuambil paksa dari Steve, aku takut ia malah akan melakukan hal ekstrem yang dapat membahayakan benda itu.
Bagiku, liontin yang Arthur berikan tersebut sangatlah penting. Selain karena kekuatanku masih terikat di sana, ia juga merupakan lambang tugas sekaligus takdirku.