NovelToon NovelToon
Dia Datang Dari Langit

Dia Datang Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Beda Usia / Cinta Beda Dunia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: MZI

Sinopsis "Alien Dari Langit"

Zack adalah makhluk luar angkasa yang telah hidup selama ratusan tahun. Ia telah berkali-kali mengganti identitasnya untuk beradaptasi dengan dunia manusia. Kini, ia menjalani kehidupan sebagai seorang dokter muda berbakat berusia 28 tahun di sebuah rumah sakit ternama.

Namun, kehidupannya yang tenang berubah ketika ia bertemu dengan seorang pasien—seorang gadis kelas 3 SMA yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Gadis itu, yang awalnya hanya pasien biasa, mulai tertarik pada Zack. Dengan caranya sendiri, ia berusaha mendekati dokter misterius itu, tanpa mengetahui rahasia besar yang tersembunyi di balik sosok pria tampan tersebut.

Sementara itu, Zack mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya—ketertarikan yang berbeda terhadap manusia. Di antara batas identitasnya sebagai makhluk luar angkasa dan kehidupan fana di bumi, Zack dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menjalani perannya sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Rasa Malu Karena Sesuatu

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Elly akhirnya mengangkat kepalanya dari bantal. Wajahnya masih merah, tapi setidaknya ia sudah bisa berpikir lebih jernih.

Tunggu dulu… kenapa aku jadi begini? Ini cuma Zack! Aku tidak seharusnya bereaksi seperti ini!

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan apa-apa, bahwa Zack hanya menggoda dan tidak benar-benar serius. Tapi, saat ia mengingat senyum nakal Zack, tatapan lembutnya, dan bagaimana dia selalu menyebutnya "calon istri", jantungnya berdebar lebih cepat lagi.

"Ahhh! Kenapa dia seperti itu?!" Elly berteriak pelan dan kembali membenamkan wajahnya di bantal.

Di luar kamar, ayah dan ibunya hanya bisa tertawa kecil mendengar suara putri mereka yang frustasi sendiri.

Keesokan Harinya

Hari Senin pun tiba. Elly bertekad untuk tidak bertingkah aneh di depan Zack. Ia akan menghindarinya sebisa mungkin sampai perasaannya kembali normal.

Namun, rencana itu langsung hancur saat ia turun dari mobil dan melihat Zack berdiri di gerbang sekolah, menunggunya dengan ekspresi santai.

"Selamat pagi, calon istriku," sapa Zack dengan nada menggoda.

Elly membeku di tempat.

Ya ampun! Kenapa dia harus menyapaku seperti itu?!

Tanpa banyak berpikir, Elly langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah yang berlawanan.

Zack mengerutkan kening, lalu tersenyum jahil. "Hei, kenapa kau lari?"

Elly mempercepat langkahnya. "Aku tidak lari!"

"Tapi kau berjalan seperti ingin menghindariku," kata Zack sambil mengikuti langkahnya dengan mudah.

"Aku hanya… ingin langsung ke kelas!"

"Kalau begitu, ayo jalan bersama," ujar Zack dengan santai.

Elly mendengus. "Aku bisa sendiri."

Zack tertawa kecil. "Tapi lebih seru kalau berdua, bukan?"

Elly mengerang dalam hati. Ya Tuhan, kenapa dia seperti ini?!

Sesampainya di kelas, Rina langsung menatap mereka dengan penuh selidik. "Kenapa kau kelihatan aneh, El?"

Elly buru-buru duduk dan menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja!"

Zack duduk di kursinya dengan ekspresi puas. "Elly sedang sedikit pemalu hari ini."

Elly menatapnya tajam. "Aku tidak pemalu!"

Rina tertawa kecil. "Oh? Lalu kenapa wajahmu merah begitu?"

Elly langsung menutup wajahnya dengan buku. "Kalian semua menyebalkan!"

Zack dan Rina saling berpandangan dan tertawa.

Selama Beberapa Hari ke Depan

Sejak hari itu, Elly berusaha keras untuk menghindari Zack. Ia akan mencari alasan untuk pergi lebih awal, bersembunyi di perpustakaan saat istirahat, dan bahkan meminta Rina untuk jadi tamengnya.

Namun, Zack selalu berhasil menemukannya.

Saat di kantin…

Elly bersembunyi di sudut dengan Rina. "Aku akan makan di sini saja supaya Zack tidak menemukanku."

Tiba-tiba, suara Zack terdengar dari belakang mereka. "Selamat makan, calon istriku."

Elly tersedak.

Saat di perpustakaan…

Elly sedang bersembunyi di balik rak buku, pura-pura membaca.

Zack duduk di sebelahnya dengan santai. "Wah, kau rajin sekali. Buku apa yang kau baca?"

Elly hampir menjatuhkan bukunya.

Saat di lapangan olahraga…

Elly berpura-pura berlatih sendirian.

Zack muncul di depannya dengan senyum jahil. "Butuh pasangan latihan?"

Elly hampir pingsan.

Rina, yang melihat semuanya, hanya bisa tertawa. "El, sepertinya kau tidak bisa lari dari Zack."

Elly mendengus. "Aku harus bisa!"

Rina mengangkat alis. "Tapi kenapa kau ingin menghindarinya?"

Elly menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu… Aku hanya…"

Rina tersenyum penuh arti. "Kau hanya malu karena kau mulai menyukainya juga, kan?"

Elly membelalakkan mata. "T-Tidak mungkin!"

Rina hanya tertawa. "Baiklah, baiklah… Tapi, hati-hati, El. Zack tidak akan menyerah begitu saja."

Elly hanya bisa mengerang, merasa dunianya semakin rumit.

---

Hari demi hari berlalu, dan usaha Elly untuk menghindari Zack tetap tidak membuahkan hasil. Setiap kali ia mencoba menjauh, Zack selalu berhasil menemukannya. Seolah-olah dia punya radar khusus yang bisa mendeteksi keberadaan Elly di mana pun.

Suatu pagi, Elly turun dari mobil dan dengan cepat berjalan menuju kelasnya. Ia bahkan sengaja memilih rute yang lebih jauh agar tidak bertemu Zack. Namun, baru saja ia menghela napas lega, suara akrab itu terdengar di belakangnya.

"Selamat pagi, calon istriku."

Elly tersentak dan berbalik cepat. Zack berdiri di sana dengan senyum santainya, seolah ia sudah menunggunya sejak lama.

"Z-Zack?! Bagaimana kau bisa ada di sini?"

Zack mengangkat bahu. "Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat."

Elly mendengus. "Aku bukan anak kecil."

"Tapi kau tetap harus dijaga," kata Zack dengan nada menggoda.

Elly memutar mata dan mempercepat langkahnya. Zack hanya terkekeh dan mengikuti dari belakang.

Setibanya di kelas, Rina langsung menatap Elly dengan tatapan geli. "Kau masih gagal menghindarinya?"

Elly meletakkan kepalanya di meja dan mengeluh, "Aku menyerah."

Zack duduk di kursinya dengan senyum puas. "Akhirnya kau sadar bahwa kau memang tidak bisa lari dariku."

Elly hanya mendesah pelan. Kenapa rasanya aku sudah kalah sebelum bertarung?

---

Siang Hari – Perpustakaan

Karena frustasi, Elly memutuskan bersembunyi di perpustakaan, berharap bisa mendapatkan sedikit ketenangan. Ia memilih meja paling pojok dan mulai membaca buku tanpa benar-benar memahami isinya.

Namun, seperti yang sudah bisa ditebak…

"Apa kau sedang membaca buku tentang cinta?"

Elly hampir menjatuhkan bukunya. Ia menatap Zack yang sudah duduk di depannya dengan tatapan tidak percaya.

"Z-Zack! Bagaimana kau menemukanku?!"

Zack menyandarkan punggungnya ke kursi dan tersenyum santai. "Kau selalu datang ke perpustakaan kalau ingin menghindari sesuatu. Aku hanya perlu menunggu."

Elly menutup bukunya dengan kasar. "Aku tidak sedang menghindari siapa pun!"

"Benarkah?" Zack mencondongkan tubuhnya sedikit, menatapnya lekat-lekat. "Lalu kenapa kau selalu kabur setiap melihatku?"

Elly terdiam. Apa aku bisa bilang karena aku terlalu malu? Tentu tidak!

"Aku hanya… sibuk!" jawabnya cepat.

Zack mengangkat alis. "Sibuk dengan apa?"

Elly terdiam. Ia baru sadar bahwa ia tidak punya alasan yang jelas.

Zack tersenyum jahil. "Kau tidak bisa menjawab, ya?"

Elly langsung berdiri. "Aku mau ke kelas!"

Namun, saat ia hendak pergi, Zack menarik pergelangan tangannya dengan lembut.

"Elly," panggilnya pelan.

Elly menoleh dan melihat Zack menatapnya dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum jahil, hanya tatapan lembut yang membuatnya bingung.

"Kau tahu, aku tidak akan berhenti mendekatimu," kata Zack dengan suara tenang. "Jadi, berhentilah menghindariku, oke?"

Elly merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Ia buru-buru menarik tangannya dan berlari keluar perpustakaan.

Zack hanya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. "Dia memang lucu."

---

Sore Hari – Di Rumah Elly

Setelah melalui hari yang penuh dengan gangguan dari Zack, Elly akhirnya bisa pulang ke rumah. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.

Saat makan malam, ayah dan ibunya mulai melontarkan pertanyaan yang membuatnya ingin bersembunyi di bawah meja.

"Jadi, bagaimana harimu dengan Zack?" tanya ibunya sambil tersenyum penuh arti.

Elly tersedak makanannya. "B-Biasa saja!"

Ayahnya tertawa kecil. "Benarkah? Tapi wajahmu terlihat sangat cerah hari ini."

Elly buru-buru menggeleng. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Zack!"

Ibunya tersenyum lembut. "Tapi kau menyukainya, kan?"

Elly langsung meletakkan sumpitnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa semua orang terus menggodaku?!"

Ayah dan ibunya hanya tertawa.

"Sepertinya Zack memang pria yang baik," kata ayahnya. "Kalau nanti kalian benar-benar bersama, aku tidak keberatan."

Elly mengangkat wajahnya dengan mata melebar. "A-Ayah! Aku masih sekolah!"

"Tidak ada salahnya merencanakan masa depan," jawab ayahnya santai.

Elly mengerang dan langsung berlari ke kamarnya.

Di belakangnya, kedua orang tuanya hanya saling tersenyum penuh arti.

"Aku rasa anak kita benar-benar menyukai Zack," kata ibunya.

Ayahnya mengangguk. "Kita lihat saja nanti."

Di dalam kamarnya, Elly membenamkan wajahnya ke bantal.

Kenapa hidupku jadi seperti ini?!

---

Elly duduk di pinggir tempat tidurnya, memeluk bantal erat-erat. Sejak kembali dari sekolah pikirannya terasa penuh sesak. Ia menggigit bibir, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Zack terus berputar di kepalanya.

"Kenapa aku terus memikirkan dia?"

Jantungnya berdetak lebih cepat saat mengingat bagaimana Zack dengan santainya menggoda dirinya, seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Kata-kata "Aku cuma ingin memastikan calon istriku tidak kelaparan," masih terngiang di telinganya, membuat wajahnya semakin panas.

Elly buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu.

"Tidak, tidak, Zack pasti cuma bercanda!" katanya pada diri sendiri, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Zack memperlakukannya. Sesuatu yang membuatnya merasa… spesial.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamarnya. Biasanya, kalau merasa gelisah seperti ini, ia akan membaca buku atau mendengarkan musik. Tapi malam ini, tidak ada satu pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari Zack.

"Apa dia benar-benar serius?"

Pikirannya semakin kacau. Ia mencoba mengingat ekspresi Zack saat mengatakan itu. Tatapan matanya, nada suaranya… semuanya terasa tulus.

Elly menjatuhkan dirinya kembali ke tempat tidur, menutup wajah dengan bantal dan menggumam lemah, "Kenapa aku jadi begini?"

Ia menendang selimutnya, berguling ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman, tapi tidak ada gunanya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas wajah Zack di pikirannya.

Akhirnya, dengan frustrasi, Elly bangkit dan menatap bayangannya di cermin. Wajahnya sedikit memerah, matanya berbinar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

"Jangan bilang… aku mulai menyukai Zack?"

Ia menutup mulutnya sendiri, terkejut dengan pemikirannya sendiri.

Elly langsung kembali ke tempat tidur, menarik selimut hingga ke atas kepala. Malam itu, meskipun sudah mencoba berbagai cara untuk tidur, pikirannya tetap dipenuhi oleh satu nama.

Zack.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!