NovelToon NovelToon
Dokter Bar-Bar Kesayangan Mafia Tampan

Dokter Bar-Bar Kesayangan Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Dokter Genius / Beda Usia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Seraphine E

Dibesarkan oleh kakeknya yang seorang dokter, Luna tumbuh dengan mimpi besar: menjadi dokter bedah jantung. Namun, hidupnya berubah pada malam hujan deras ketika seorang pria misterius muncul di ambang pintu klinik mereka, terluka parah. Meski pria itu menghilang tanpa jejak, kehadirannya meninggalkan bekas mendalam bagi Luna.

Kehilangan kakeknya karena serangan jantung, membuat Luna memilih untuk tinggal bersama pamannya daripada tinggal bersama ayah kandungnya sendiri yang dingin dan penuh intrik. Dianggap beban oleh ayah dan ibu tirinya, tak ada yang tahu bahwa Luna adalah seorang jenius yang telah mempelajari ilmu medis sejak kecil.

Saat Luna membuktikan dirinya dengan masuk ke universitas kedokteran terbaik, pria misterius itu kembali. Kehadirannya membawa rahasia gelap yang dapat menghancurkan atau menyelamatkan Luna. Dalam dunia penuh pengkhianatan dan mimpi, Luna harus memilih: bertahan dengan kekuatannya sendiri, atau percaya pada pria yang tak pernah ia lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seraphine E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : The Edge of Irony

Di ruang tamu yang lebih menyerupai galeri seni daripada rumah tinggal, Lucius Blackwell duduk di kursi berlapis kulit mahal. Tangan panjangnya terlipat santai di atas meja marmer, sementara mata tajamnya menyapu ruangan tanpa fokus tertentu. Wajahnya mencoba menampilkan ketenangan, namun senyum kecil di ujung bibirnya mengkhianati upayanya. Itu adalah senyuman seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya, kecuali emosinya sendiri.

Pintu kayu besar terbuka, dan Rudolf masuk dengan langkah tergesa. Di tangannya, sebuah ponsel menyala dengan notifikasi yang terus berdatangan, seolah layar itu tak mampu menahan arus informasi yang membludak. "Boss, kau harus melihat ini!" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.

Lucius hanya melirik, mengangkat satu alis dengan dingin. "Apa lagi sekarang?" tanyanya tanpa antusiasme, suaranya lebih rendah dari biasanya, namun cukup untuk menunjukkan kalau dia terlihat tidak tertarik.

Rudolf mengabaikan nada datar itu. "Luna Harrelson. Gadis kecilmu itu, dia jadi top scorer di seluruh negeri! Lihat, ada fotonya bersama rektor Imperial University." Dia menyerahkan ponsel itu kepada Lucius, memperlihatkan gambar seorang gadis dengan senyum cerah, memegang papan penghargaan di tengah aula universitas. Ada sesuatu dalam senyum itu yang membuat Lucius merasa terjepit di antara kebanggaan dan keengganan.

“Dan kenapa ini penting bagiku?” Lucius menyandarkan punggungnya, mencoba menjaga jarak dari apa yang dianggapnya terlalu personal. "Itu hanya hasil ujian. Tak ada yang istimewa."

"Tidak istimewa?" Rudolf hampir kehilangan kata-kata. "Boss, dia jadi top scorer nasional! Kau tahu seberapa besar artinya ini?"

Lucius menggeleng pelan, menolak terbawa arus emosi Rudolf. “Berhenti berbicara seolah-olah aku adalah pacarnya,” ujarnya, setengah bergumam. “Kami tidak ada hubungan istimewa.”

Dari sudut ruangan, suara lain bergema. "Benarkah?" Angela, kakak perempuan Lucius, menatapnya dengan ekspresi tajam. Di sampingnya, Robert Blackwell, sang ayah, mengamati mereka sambil menyeruput minumannya. Keduanya seperti dua hakim yang sudah menunggu terdakwa membuat pengakuan.

Lucius mendengus, matanya memicing pada Angela. "Apa yang kau inginkan, Angela?"

Angela menyilangkan tangan di dadanya. "Aku hanya ingin tahu kenapa kau terus menyangkal hal yang sudah jelas. Gadis itu, dia bukan hanya sekadar seseorang bagimu."

"Lucius, kalau kau memang tertarik dengannya, bawa dia kerumah ini. Kenalkan pada kami. Lagipula dia juga sudah menyelamatkan nyawamu. Keluarga kita berhutang budi padanya" kata Robert sang ayah.

"Dad, dia bahkan belum berusia 20 tahun. Dia masih kelas 3 SMA" Jawab Angela singkat.

"Memangnya apa masalahnya, kalau dia perempuan baik-baik, dan mereka saling mencintai tidak ada masalah. Lagipula usia hanya angka, lihat aku dan mommymu. Usiaku terpaut 15 tahun lebih tua darinya, tapi kami bahagia, dan aku juga tidak menikah lagi sejak mommymu meninggal dunia 10 tahun yang lalu" kekeh Robert, bangga pada dirinya sendiri, seperti ingin mendeklarasikan bahwa dirinya adalah pria paling setia didunia.

Lucius membuka mulut untuk menjawab, tetapi ponselnya bergetar sebelum satu kata pun terucap. Nomor asing muncul di layar, namun entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Halo,” jawabnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Di ujung telepon, suara yang ia kenal baik menyapa. “Paman Lucius, aku baru saja mengirim jam tanganmu. Kau mungkin akan menerimanya hari ini.”

Ada keheningan singkat. Suara itu milik Luna. Tegas, sederhana, namun dengan nada yang mampu membuat Lucius kehilangan arah. Ia berjalan menjauh dari meja, meninggalkan tatapan penuh kecurigaan dari Angela dan Robert.

"Terima kasih," jawab Lucius, mencoba terdengar santai. Namun, detak jantungnya tidak bekerja sama. "Ngomong-ngomong, selamat atas prestasimu. Kudengar kau menjadi top scorer."

Suara Luna terdengar ringan namun penuh percaya diri. "Bukankah itu sudah jelas?" candanya, dengan nada yang membuat Lucius merasa seperti anak sekolah yang baru saja ditegur gurunya. Dia tertawa kecil, mengakui keunggulannya tanpa malu-malu.

"Baiklah, aku menelponmu hanya untuk mengatakan hal itu. Terima kasih…" suara Luna kembali terdengar, hampir mengakhiri percakapan, tapi Lucius cepat-cepat menahannya.

"Tunggu...." serunya, tanpa sadar suara itu sedikit lebih tinggi dari yang dia inginkan. Luna terdiam sejenak, mendengar ketegangan dalam suara Lucius yang tiba-tiba berubah.

"Ada apa?" tanya Luna, suaranya datar, seolah merasa Lucius pasti memiliki alasan lebih dari sekadar sekedar ucapan terima kasih.

"Mungkin... mungkin kita bisa makan bersama untuk merayakannya," kata Lucius berusaha mencari alasan yang lebih masuk akal, "Kau tahu, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menyelamatkan nyawaku."

Luna terdiam, seolah mencerna permintaan Lucius, tetapi Lucius bisa merasakan dari suaranya, ada sedikit perasaan berbeda yang tersirat.

“Apa kau yakin? Aku makan cukup banyak” jawab Luna, suaranya berubah, mungkin sedikit lebih lembut.

Lucius tertawa pelan, seolah merasakan kehangatan yang tidak bisa disembunyikan, "Tidak masalah."

“Baiklah kalau begitu,” Luna akhirnya setuju, “Kita bisa bertemu besok. Aku akan beritahu di mana tempatnya nanti.”

Lucius menahan napas sebentar sebelum menjawab, “Oke, sampai jumpa besok.”

“Ya, sampai jumpa,” Luna menutup pembicaraan, suaranya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

Saat telepon berakhir, Lucius menatap ponselnya, senyuman tipis masih bertahan di wajahnya. Ada sesuatu yang hampir menyerupai kebahagiaan, sesuatu yang jarang ia rasakan, apalagi perlihatkan. Sekalo lagi dia mamandangi nomor itu, dan menyimpannya dengan nama "Wild Kitten"

Namun, di balik pilar, Angela, Robert, dan Rudolf mengintip dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. Angela menyilangkan tangan sambil mengangkat alis. "Lucius," katanya, "kau lebih buruk dalam menyembunyikan perasaan daripada yang kau kira."

Lucius tidak menjawab. Dia berbalik dan berjalan pergi, membiarkan Angela dan Rudolf bertukar pandangan penuh arti.

Ditempat lain...

Di sisi lain kota, di sebuah ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu redup, Henry duduk dengan tenang, memandangi sebuah foto yang baru saja ia dapatkan. Gambar itu menunjukkan Lucius, berdiri bersama sekelompok anak muda, tetapi matanya hanya tertuju pada satu sosok—Luna Harrelson.

"Jadi dia sering mengamati gadis ini?" tanyanya, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang tersembunyi.

Oscar, pengawal setianya, mengangguk. "Sepertinya begitu, Tuan. Tapi kurasa gadis itu tidak tahu apa-apa."

Henry menyipitkan matanya, menelusuri wajah Luna di foto itu. Senyumnya yang cerah adalah ironi yang mencolok, mengingat apa yang sedang direncanakan Henry. "Semua orang punya celah," gumamnya, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. "Dan mungkin, dia adalah celah yang kita cari."

Oscar menatap tuannya dengan sedikit ragu. "Apa yang harus kita lakukan?"

Henry menyandarkan tubuhnya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang menakutkan. "Pantau dia. Jangan lakukan apa-apa... untuk sekarang. Tapi siapkan segalanya. Gadis ini akan menjadi senjata kita untuk menghancurkan Lucius Blackwell."

Oscar mengangguk, meninggalkan ruangan dengan ekspresi tegang. Sementara itu, Henry terus memandangi foto itu, menyadari bahwa dalam permainan ini, setiap bidak harus digunakan dengan tepat. Dan Luna, tanpa disadari, adalah bidak yang paling penting.

...****************...

1
dheey
apakah othor bagian dri ahli medis? crita seru. bikin dag dig dug
Siska Amelia
mantap
Siska Amelia
thor segera lanjut thor kalo gak aku gak akan kasi hadiah
Siska Amelia
lanjut dong thor plisss
dheey
semakin penasaran.
dheey
rudolf.... elu sama amelia, cucokkkk... wkwkwk
dheey
bagussss luna!!!
Ratna Fika Ajah
Luar biasa
Nurwana
mo tanya thor... emang umur Luna dan Lucius berapa???
Seraphine: Perbedaan usia 8 tahun
Jadi waktu Luna masih SMA dia 18 tahun.
dan si Lucius ini ngempet dulu buat deketin Luna sampai si Luna lulus jadi dokter dulu, karena bab2 awal dia masih abege 🤣✌️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!