Anhe gadis yang telah di besarkan dalam lingkaran kegelapan. Hanya mengerti akan pembunuhan, membantai tanpa henti, tugas mematikan yang siap datang setiap waktu. Tanpa di duga gadis itu terbunuh saat menghadapi musuh besarnya. Dia bangkit kembali menjadi seorang gadis muda yang masih berusia lima belas tahun. Gadis dengan tubuh lemah, sakit-sakitan dan terbuang.
Anhe terlahir kembali sebagai putri kelima orang yang hampir dia bunuh. Di menit terakhir Tuan besarnya meminta untuk mundur dan pembunuhan di hentikan. Sehingga keluarga itu selamat dari pembantaian. Dan kini dia harus menjadi salah satu dari Putri perdana menteri pertahanan itu sendiri. Terjerat dalam skema keluarga besarnya bahkan keluarga kerajaan yang saling bertentangan.
Gadis pembunuh itu kini harus siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat peristirahatan dalam ketenangan
Gejolak di pemerintahan tidak dapat di hentikan di saat kabar Raja Ning telah melakukan pemberontakan. Semua petinggi istana berharap Raja Ning segera di tangkap dan di jatuhi hukuman mati.
Setelah rapat selesai Raja kecil Ying di minta masuk ke dalam ruangan pribadi Kaisar. Saat dia masuk istrinya sudah ada di sana menatap diam dengan senyuman. "Yang Mulia." Memberikan hormatnya.
"Tidak perlu terlalu formal seperti itu." Kaisar Ying Weisheng mendekat dan langsung merangkul pundak adik ketiganya. Pandangan matanya jatuh kearah adik iparnya. "Adik ipar. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Kamu bahkan berhasil menjadi pimpinan dari para pembunuh yang telah di hidupi Raja Ning. Berkat kamu semua usaha selama belasan tahun ini tidak sia-sia."
Li Anhe sedikit merendahkan pandangan matanya. "Yang Mulia terlalu berlebihan. Saya tidak memiliki kemampuan sebesar itu."
"Adik ipar terlalu merendah." Menepuk kuat pundak Adik ketiganya. "Kamu mendapatkan istri yang luar biasa." Kaisar Ying Weisheng menatap senang. "Ying An, perang akan tetap berlangsung. Aku hanya berharap kalian bisa kembali dengan selamat."
Raja kecil Ying memberikan hormatnya lagi. "Baik. Jika tidak ada hal lain lagi. Kami mohon pamit."
"Baik. Jaga diri kalian. Aku ingin kalian kembali dalam keadaan selamat dan sehat," ujar Kaisar Ying Weisheng.
"Baik." Raja kecil Ying pergi bersama istrinya keluar dari ruangan pribadi Kaisar. Di luar pria muda itu menatap istrinya untuk beberapa kali. Dia masih berharap Li Anhe menjelaskan kedatangannya keistana.
Gadis itu merangkul lengan suaminya. "Aku hanya ingin menyerahkan semua nama dari para pembunuh bayangan. Dengan begitu hubunganmu dan Kaisar Ying Weisheng masih dapat di rekatkan. Aku tidak ingin perpecahan terjadi lagi hanya karena sebuah organisasi yang seharusnya di bubarkan."
Raja kecil Ying tersenyum tipis mendengar penjelasan istrinya. "Terima kasih."
"Aku tahu kalian memiliki hubungan yang sangat erat. Tapi di saat ada dua kekuatan besar dalam satu negara tentu akan ada gejolak lain yang mengikutinya. Biarlah kekuatan ini ada di tangan Kaisar. Dengan begitu kita bisa hidup tenang. Maaf aku tidak berdiskusi terlebih dulu denganmu." Li Anhe menatap manja kearah suaminya.
Pria muda itu mengelus lembut kepala istrinya. "Kamu telah memikirkan jalan keluar terbaik untuk kita. Kenapa aku harus marah?" Pandangan Raja kecil Ying jatuh di kedua tangan Li Anhe. "Saat itu aku meminta pengawal kediaman untuk memakamkan jasadmu. Sekarang aku sudah mendapatkannya lagi. Aku juga telah memindahkannya ke tempat yang lebih layak."
Kabut tebal menyelimuti kedua pandangan mata Li Anhe. "Kamu menemukannya?"
"Em."
Senyuman samar terlintas di wajah Li Anhe, "Apa kamu mau menemaniku melihatnya?"
"Aku akan selalu menemanimu."
Setelah kaluar dari istana kereta melaju menuju kearah pinggiran kota. Membutuhkan waktu sekitar dua jam dan akhirnya kereta sampai di salah satu kediaman cukup megah yang ada di dekat pinggiran hutan.
"Ini terlihat terlalu berlebihan," Li Anhe menatap suaminya.
Raja kecil Ying memeluk tubuh istrinya. "Bagaimana mungkin? Kamu pantas mendapatkannya. Kamu istri Raja kecil, tentu harus mendapatkan yang terbaik dari yang baik." Mereka melangkah masuk kedalam aula utama khusus yang di peruntukan satu jasad yang hanya tinggal tulang belulang. Papan nama berdiri kokoh tanpa goyah. Tepat di bawahnya terkubur jasad dari pembunuh paling mematikan.
Li Anhe berdiri diam menatap papan tanpa nama di atasnya. Raut wajahnya tidak dapat di artikan. 'Untuk diriku di masa lalu. Kamu sudah terlalu lelah menghadapi kepatihan dalam hidup. Sekarang beristirahatlah dengan tenang.' Gumamnya dalam hati.
Raja kecil Ying memberikan penghormatan terakhirnya. Baru setelahnya menatap kearah istrinya. "Yi er, aku mencintaimu." Mengelus lembut pipi istrinya. Senyuman hangat terlihat di wajah istrinya. "Kita pergi?"
"Em..." Li Anhe mengangguk setuju.
Mereka keluar dari ruangan itu dan kembali kearah kereta yang ada di luar kediaman pribadi. Di dalam kereta Li Anhe menyandarkan dirinya kearah suaminya. Saat masa lalu kembali dalam ingatannya, gadis itu menjatuhkan pandanganya. "Kehidupanku di masa lalu di penuhi perintah tanpa henti. Hanya demi bertahan hidup aku harus membunuh jika tidak ingin di bunuh. Puluhan orang di kumpulkan dalam satu ruangan dengan genangan air tanpa senjata. Dengan tangan kosong kami bertarung tanpa henti untuk mempertahankan hidup. Sebelum pertarungan di mulai tidak ada makanan atau minum selama tiga hari. Agar kami bisa bertarung dengan lebih buas. Hanya satu dari puluhan gadis muda yang bisa hidup."
Kegelapan di masa itu terlalu pekat. "Tidak ada kehangatan. Yang ada hanya rasa dingin di dalam ruangan gelap dengan penerangan seadanya. Tidak kata persahabatan, saudara atau bahkan keluarga. Yang ada hanya lawan dalam pertarungan. Setelah belasan tahun atau mungkin puluhan tahun aku berhasil menjadi nomor satu dan bisa melatih ratusan murid. Terkadang aku mengajarkan mereka artinya menjadi manusia. Bukan hanya sebagai alat pembunuhan."
Raja kecil Ying hanya diam mendengarkan perkataan istrinya. Dia meraih lebih erat tubuh Li Anhe. Rasa sakit ikut terasa kuat menekan hatinya.
"Ying An, terima kasih sudah memberikan tempat peristirahatan yang nyaman. Setidaknya ini adalah sebuah penebusan yang terbaik untuk tubuh penuh luka itu." Air mata Li Anhe menetes perlahan. Kehangatan dari pelukan suaminya membuatnya tidak dapat menahan rasa sakit di hatinya lagi.
Raja kecil Ying mencium kening istrinya. "Kamu berhak mendapatkan yang terbaik."
Kereta melaju kembali menuju ke kediaman Raja kecil Ying. Di saat gadis itu ingin turun dia melihat semua keluarganya sudah ada di depan pintu masuk melakukan penyambutan. Nyonya tua Chao, Tuan Li, Nyonya Li dan semua saudaranya ada di sana.
"Kalian datang? Nenek," Li Anhe memeluk Neneknya.
Raja kecil Ying tersenyum senang melihat istrinya kembali bahagia.
"Yi er, kamu dan suamimu akan melakukan perjalanan sangat jauh. Dan entah kapan kalian akan kembali lagi ke Ibu Kota. Nenek mengajak semua orang untuk datang memberikan pesta terbaik untuk kalian berdua," ujar Nyonya tua Chao. Dia lebih mendekatkan wajahnya, "Suamimu juga yang telah merencanakan semua ini."
Nyonya Li mendekat kearah putrinya. Meksipun Li Anhe hanya anak selir tetep saja dia juga menjaganya dengan baik. "Anhe, Ibu hanya berharap kalian dapat kembali dengan selamat." Menatap tajam kearah suaminya yang masih diam.
"Ayah juga berharap hal yang sama," ujar Tuan Li.
"Kita harus masuk. Jangan terlalu lama di luar," Nyonya tua Chao berjalan menggandeng tangan cucunya di ikuti semua orang.
Kehangatan keluarga terasa memenuhi kediaman Raja kecil Ying. Di sela-sela kesibukan dan keramaian semua orang yang saling berbincang santai. Nona muda kedua Li Rui mendekat kearah Li Anhe dan duduk di sampingnya. "Anhe, kakak ikut senang kamu tidak mendapatkan suami sekarat. Setidaknya kamu memiliki orang yang mampu di andalkan."
Nona muda pertama Li Wen ikut duduk bersama, "Adik kedua. Aku kira kamu akan merasa iri dengan keberhasilan adik kita."
Nona muda kedua Li Rui menatap malas kearah kakak pertamanya. "Kakak pertama, meskipun kehidupanku cukup berantakan. Tetap saja aku seorang wanita. Dan dia juga adikku bagian dari keluarga Li. Sekejam-kejamnya diriku. Aku tidak mungkin menyumpahi adikku sendiri hidup sengsara. Di tambah dengan adanya Raja kecil Ying menjadi menantu keluarga Li. Suamiku, Nyonya utama dan semua selir lainnya. Tidak akan berani menyentuhku." Tersenyum bangga.
Nona muda pertama Li Wen tersenyum senang. "Kamu ada benarnya."
Kali ini kata keluarga benar-benar terasa sangat dekat. Bahkan melekat kuat di benak Li Anhe. "Terima kasih." Gadis itu langsung memeluk kedua kakak perempuannya.
Dua wanita di dalam pelukan Li Anhe pada awalnya binggung dan terkejut. Namun setelahnya mereka merasa senang dan ikut bahagia menyambut pelukan adiknya.
sudah memberi karya yg begitu sempurna, dari alur cerita, kata2 yg sesuai pada zaman nya dan untuk karakter Li anhe dan raja kecil Ying🥰
mereka saling melengkapi, saling menghargai, saling menguatkan dan saling mencintai tanpa tuntutan yg berat 🥺
pokok nya ter the best ❤️❤️❤️
perjuangan yg tidak mudah untuk mereka berdua 🥺
penuh luka dan duka,
tapi aku puas dan ikut bahagia, karena mereka happy ending 🥰
thor tolong buat karya terbaru lagi ya
dia yg mau di bunuh dan terpaksa membunuh tapi memilih meminta maaf terlebih dahulu dan merasa bersalah pada istri ny😭😭😭
tolong ini author keren banget buat cerita ini🥰🥰🥰
jangan lupa jaga kesehatan agar bisa lebih banyak berkarya di masa depan❤️❤️❤️❤️❤️
semangat dan sehat selalu
di jamin puas dan ketagihan 🥰🥰🥰
semangat terus dan bisa menciptakan banyak karya terbaik kedepan nya