SEASON 1
Bagaimana rasanya ketika tiba tiba kamu di jodohkan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Saudara sepupu Mantan kekasihMu?
Mungkin tidak masalah mereka bersaudara,tapi yang menjadi masalah adalah,kamu belum benar benar bisa melupakannya.
-
SEASON 2
Kebersamaan yang berlangsung lama, dalam atap yang sama. Nyatanya menumbuhkan cinta bagi adik kakak yang tidak memiliki hubungan darah
Daren dengan Syan
Meski usia mereka terpaut empat tahun, nyatanya Daren tidak memperdulikan hal itu, ia jatuh cinta pada kakaknya. Syan.
Dan berusaha keras untuk mendapatkan cinta sang Kakak meski ada pria lain yang dijadikan gadis itu sebagai pilihannya. Bukan Daren, tetapi pria pilihan orang tuanya yang berhasil membuat Syan berpaling dari Daren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Juan
*
Kepulangan Juan disambut baik tentunya oleh para penghuni mansion. Robert memang sudah memberitahukan Pak Abas jika Juan akan pulang hari ini juga dari rumah sakit
Setelah perdebatan kecil yang terjadi antara dirinya dengan Carra. Akhirnya Carra mengalah dan membiarkan saja sang suami yang ingin cepat cepat pulang
"Dady" Teriak khas anak kecil yang akhir akhir ini sering melintas di indera pendengaran Carra
Syan yang semula berdiri di teras rumah seketika segera berlari menghampiri Juan yang baru keluar dari mobil saat Robert membukakan pintu untuknya
"Syan" Juan seketika langsung mengelus puncak kepala gadis kecil itu dan mencium pipi kiri dan kanannya. Untuk menggendong Syan, sepertinya tangannya masih terasa sakit
"Dady sudah sembuh?" Tanyanya dengan tatapan antusias. Yah, tadi pagi Syan sempat sekilas mendengar obrolan antara Abas dan Robert. Jika sang Dedy ada di rumah sakit
Juan mengangguk dengan tersenyum. Kemudian menggandeng Carra yang berdiri di sampingnya
"Dady sudah sembuh sayang. Ayo masuk, Dady harus beristirahat" Sahut Carra sambil mencubit pipi Syan
Syan mengangguk. Lalu ketiganya berjalan layaknya memang keluarga kecil yang bahagia. Robert mengekor di belakangnya
Sedangkan para pelayan yang berbaris di teras mansion hanya menunduk hormat, begitu Juan dan sang istri berjalan melewati mereka menuju ke dalam mansion
*
Setelah Juan masuk, para pelayan juga masuk dan kembali ke posisinya masing masing
"Juan, kau mau aku buatkan apa?" Tanya Carra setelah ia dan Juan duduk di sofa di ruang utama mansion, juga Syan yang sedari tadi menggelayut manja di tangan Juan. Mungkin dia rindu dengan Dady-nya
"Mm, barangkali kau ingin makan sesuatu" Sahut Carra lagi. Kemudian ia hendak beranjak, tapi Juan menahan tangannya
"Aku tidak ingin apapun" Sahut Juan dengan pandangan mata yang bertatapan lurus dengan mata Carra
"Kau belum makan apapun kecuali hanya bubur saja tadi pagi. Dan ini sudah sore Juan"
"Aku tidak ingin apapun Carra. Aku hanya perlu. Kau duduk. Disini" Sahut Juan sambil menepuk tempat di sampingnya
Carra hanya patuh, ia mengangguk dan kemudian duduk di samping Juan
"Mom. Mengapa pulang dari hospital Dady menjadi sangat manja pada Momy?" Tanya Syan dengan polosnya
Carra tersenyum, dengan tatapan meremehkan yang memandang Juan
"Kau tanyakan saja pada Dady" Sahut Carra kemudian
Syan tak bertanya, ia hanya mengalihkan pandangannya pada Juan yang sekarang sedang menatapnya
"Dad" Katanya kemudian
"Mmm" Juan bagai berfikir, dengan tangan yang menopang dagunya
"Because, Dady mencintai Momy mu" Sahut Juan dengan tatapan meledek pada Carra. Carra hanya berdecak, tidak habia fikir dengan Juan yang tiba tiba saja berubah macam itu
"Oow. Aku tidak mengerti urusan orang dewasa" Sahut Syan sambil geleng geleng kepala dengan tangannya yang diletakan dikepala
Juan dan Carra hanya tertawa melihat tingkah putri kecil mereka. Dan Robert yang sedang duduk di kursi dekat ruang kerja Juan hanya tersenyum. Ikut merasa senang dengan kebahagiaan majikannya
"Carra?" Panggil Juan, yang membuat Carra menoleh dari layar tv di hadapannya
"Kau ingin apa?" Tanya Carra
"Tidur" Sahut Juan
Carra tersenyum, kaku. Lalu melirik Syan yang tengan asik menonton sebuah film disney di tv besar yang berada di ruang utama mansion
"Euu"
"Hanya tidur Carra. Aku ingin beristirahat" Sahut Juan. Menepis fikiran kotor yang sepertinya sedang bersarang di kepala istrinya. Ahh memang begitu yang difikirkan Carra
Ia masih terngiang ngiang dengan ucapan Juan saat di rumah sakit beberapa jam yang lalu
"Ohh, begitu. Yasudah, ayo" Sahut Carra yang sudah berdamai dengan fikiran acaknya
"Syan. Dady akan beristirahat ke kamar, kau tidak apa apa disini?" Tanya Juan yang sudah beranjak dari duduknya
"Yes Dad, aku akan memanggil Rose nanti" Jawab Syan, sedangkan matanya tetap fokus pada film yang tengah di tontonnya
Juan dan Carra beranjak setelah mengusak rambut Syan sebelum meninggalkannya
"Robert, kau boleh pulang sekarang. Datang kemari lagi besok pagi" Sahut Juan pada Robert yang sudah berdiri di dekat tangga begitu Juan beranjak tadi
"Baik Tuan" Robert mengangguk patuh. Kemudian berlalu setelah pamit kepada Juan dan Carra
Juan dan Carra melangkah menaiki anak tangga. Tapi kemudian Carra mengingat sesuatu dan menghentikan langkahnya
"Ada apa?" Tanya Juan yang juga ikut menghentikan langkahnya saat sang istri berhenti
"Euu, ada sesuatu yang harus aku ambil di dapur. Sebentar!" Sahut Carra lalu melangkah kembali menuruni anak tangga. Baru ia meninggalkan Juan satu langkah, tiba tiba suara suara Juan mengiterupsinya
"Carra"
Carra memejamkan matanya sebentar, kemudian kembali pada Juan yang ada di belakangnya
"Hanya sebentar. Aku akan segera kembali, yah" Bujuk Carra dengan tatapan sayu pada sang suami. Membuat Juan jadi tidak tega jika tidak memberinya izin. Mau tidak mau akhirnya Juan mengangguk, membuat Carra tersenyum hangat kemudian kembali turun dan meninggalkan Juan yang berdiri di tangga
*
Sementara itu, Carra pergi ke dapur mencari Abas. Dan Carra menemukan pria paruh baya itu tengah minum di dekat dispenser
"Pak Abas"
Abas terkesiap begitu ia mendengar suara nonanya. Hampir saja ia tersedak saat mendengarnya. Untung saja refleknya bagus sehingga ia dengan cepat mampu mengontrol diri
"Nona" Sahutnya dengan menunduk hormat pada Carra setelah meletakan gelasnya
"Kenapa Pak Abas tidak memberi tahu saya jika Tuan masuk rumah sakit?" Tanya Carra. Berusaha mengemukakan protesnya karena merasa tidak di utamakan dalam mengetahui keadaan Juan
"Maaf Nona, tapi Tuan sendiri yang melarang saya untuk memberi tahu anda" Tuturnya dengan sopan
"Saya takut di pecat Nona" Sambungnya
Carra terdiam. Apa Juan sekejam itu? Ahh, tapi setidaknya, seharusnya Carra tau sesatu tentang Juan lebih dulu, bukan malah Abas yang jauh lebih tau daripada Carra
"Tapi setidaknya, seharusnya Pak Abas memberi tahu saya. Bagaimana pun, saya adalah istri sah dari Tuan Juan disini" Sahut Carra yang tetap kekeh dengan keinginannya untuk di perhatikan
Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak tau disaat mana Juan sedang dalam keadaan bahaya
"Baik Nona" Abas mengangguk patuh
Kemudian Carra berlalu pergi meninggalkan Abas dengan perasaan sedikit kesal. Mungkin seharusnya Carra marah pada Juan, tapi apa berani ia marah marah pada suaminya itu?
Arggh, sepertinya tidak
Carra melangkah menaiki anak tangga sambil memijit pelipisnya. Jangan sampai nanti Juan mengamuk padanya karena lama tidak kembali
sukses
semangat
mksh
gtu aja ko repot si juan..kau kn org berkuasa
krna dsni kyanya si jeni yg cinta mati sma juan tp juan ga prnh gubris