Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase dan Pembalasan
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat. Arya tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Ria, sementara semburat merah masih sesekali muncul di wajahnya setiap kali mengingat kejadian semalam. Ria, di sisi lain, tampak jauh lebih santai, seolah keberaniannya semalam telah memberinya energi tambahan untuk menghadapi dunia.
Namun, ketenangan itu pecah saat ponsel Ria bergetar hebat di atas meja. Sebuah telepon dari Hendra.
"Halo, Pak Hendra?" sapa Ria.
"Ria, kau harus segera ke kantor sekarang!" suara Hendra terdengar panik dan penuh tekanan. "Server divisi kreatif dibobol semalam. Semua file desain untuk proyek rebranding internasional—termasuk draf orisinal milikmu—hilang total. Dan yang lebih parah, konsep yang mirip sekali dengan milikmu baru saja diunggah oleh agensi kompetitor sebagai teaser kampanye mereka!"
Wajah Ria yang tadinya cerah seketika berubah pucat, lalu mengeras. Ia segera berdiri, mengabaikan sarapannya yang baru dimakan separuh.
"Aku segera ke sana, Pak," ucap Ria singkat sebelum menutup telepon.
Arya yang menyadari perubahan drastis itu ikut berdiri. "Ada apa, Ria? Apa yang terjadi?"
"Seseorang mencuri desainku, Mas. Bukan cuma mencuri, mereka menghapus semua jejak pekerjaanku dan menjualnya ke kompetitor," jawab Ria sambil menyambar tas kerjanya. Matanya berkilat marah. "Ini bukan sekadar sabotase kantor biasa. Ini terencana."
"Ria, biar aku urus. Aku bisa menyuruh tim IT pusat untuk melacak pelakunya dalam hitungan jam," tawar Arya, tangannya sudah meraih ponsel untuk menghubungi bawahannya.
"Tidak!" tegas Ria, menghentikan tangan Arya. "Jika kau turun tangan sekarang, semua orang akan tahu siapa aku. Dan si pelaku akan punya alasan untuk bilang bahwa aku menang karena bantuanmu. Biarkan aku yang menghadapinya. Aku tahu siapa yang melakukannya."
Ria melangkah cepat menuju pintu. Arya hanya bisa menatap punggung istrinya dengan perasaan campur aduk antara cemas dan bangga. Ia tahu Ria sedang menuju medan perang, dan kali ini, musuhnya adalah ular di dalam selimut.
Sesampainya di kantor, suasana sangat mencekam. Siska tampak duduk di mejanya dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih, namun matanya memancarkan kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
"Aduh, sayang sekali ya, Ria," sindir Siska saat Ria melintas. "Baru satu hari jadi pahlawan, sekarang malah jadi penyebab kerugian besar perusahaan. Kau tahu kan, kalau draf itu mirip dengan milik kompetitor, perusahaan kita bisa dituntut plagiarisme? Kau pasti ceroboh menyimpan password-mu."
Ria berhenti tepat di depan meja Siska. Ia tidak meledak marah. Ia justru tersenyum—senyum yang membuat Siska mendadak merasa tidak nyaman.
"Siska, kau tahu apa kesalahan terbesar seorang pencuri?" tanya Ria dengan nada sangat rendah namun tajam.
"Apa maksudmu? Jangan menuduh tanpa bukti!" sentak Siska.
"Kesalahannya adalah mengira aku hanya menyimpan file itu di server kantor," Ria membungkuk, menatap langsung ke mata Siska. "Aku sudah melewati banyak pengkhianatan dalam hidupku untuk menjadi sebodoh itu. Aku punya salinan fisik dan digital yang tersimpan di cloud pribadi dengan timestamp terenkripsi yang tidak bisa dimanipulasi."
Ria berjalan menuju ruangan Hendra yang sedang dikerumuni oleh jajaran manajer. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku blazernya.
"Pak Hendra, saya punya cadangan datanya. Dan bukan itu saja," Ria menoleh ke arah pintu di mana Siska sedang menguping dengan wajah pucat pasi. "Saya juga memasang 'umpan' dalam file yang tersimpan di server. File yang dicuri itu mengandung metadata yang akan mengirimkan sinyal lokasi saat dibuka di perangkat luar."
Ria memberikan kode pada Hendra. "Jika Bapak ingin tahu siapa yang menjual data kita semalam, kita hanya perlu mencocokkan alamat IP-nya dengan log aktivitas karyawan."
Siska gemetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa Ria, gadis yang ia anggap lemah itu, ternyata jauh lebih cerdik dan waspada.
Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentum martir bagi Siska. Wajahnya yang semula merah padam kini berubah menjadi seputih kertas. Ia berusaha mundur perlahan dari ambang pintu, namun langkahnya terhenti saat Pak Hendra memberikan isyarat pada petugas keamanan untuk tetap di posisinya.
Ria menatap Siska dengan pandangan yang sulit dibaca—tidak ada amarah yang meluap-luap, hanya ada ketenangan seorang pemenang yang sudah tahu kartu lawan.
"Pak Hendra," ujar Ria sambil menyalakan layar proyektor. "File yang dihapus dari server semalam memang hilang, tapi sistem back-up pribadi saya mencatat aktivitas terakhir. Seseorang masuk menggunakan akun tamu pada pukul 21.00, namun mereka tidak menyadari bahwa file desain tersebut telah saya tanamkan script pelacak sederhana."
Ria menekan satu tombol. Di layar muncul sebuah peta lokasi dan alamat IP yang sangat spesifik. "File itu dibuka satu jam kemudian dari sebuah kafe yang berjarak hanya dua blok dari rumah Siska. Dan coba tebak? Alamat email yang menerima kiriman file itu adalah milik manajer agensi kompetitor yang juga merupakan sepupu dari Siska."
"Itu fitnah! Kau merekayasa ini karena kau benci padaku sejak SMA!" teriak Siska histeris, mencoba melakukan pembelaan terakhir yang sia-sia.
"Rekayasa?" Ria berjalan mendekati Siska. "Siska, aku tidak punya waktu untuk membencimu. Kau sendiri yang menghancurkan kariermu. Kau terlalu sibuk meremehkan ku sampai lupa bahwa aku lulusan Ekonomi Pemasaran dengan predikat terbaik. Logika dan keamanan data adalah makanan sehari-hariku."
Pak Hendra bangkit dari kursinya dengan wajah yang luar biasa marah. "Cukup, Siska. Kami sudah mendapatkan log aktivitas dari penyedia layanan internet di kafe tersebut. Rekaman CCTV di sana juga sudah diminta oleh tim hukum kita."
"Pak, tolong... saya hanya..."
"Kau bukan hanya menyabotase teman sejawatmu, Siska. Kau melakukan pengkhianatan korporasi. Ini adalah tindak pidana," tegas Pak Hendra. "Kau dipecat secara tidak hormat hari ini juga, dan tim hukum kami akan memproses tuntutan ganti rugi serta laporan pencurian data ke kepolisian."
Para karyawan yang tadi sempat termakan omongan Siska kini menatapnya dengan jijik. Siska dipaksa keluar dari ruangan, menangis tersedu-sedu sementara barang-barangnya dikemas secara paksa oleh petugas keamanan.
Setelah keributan mereda, Pak Hendra menghampiri Ria. Ia menjabat tangan Ria dengan rasa hormat yang tulus. "Ria, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Ketelitianmu menyelamatkan agensi ini dari kerugian miliaran rupiah dan tuntutan plagiarisme."
"Saya hanya melakukan bagian saya, Pak," jawab Ria rendah hati.
"Tidak, ini lebih dari itu. Mulai hari ini, posisi Asisten Manajer terlalu kecil untukmu. Saya ingin kau mengambil alih posisi Kepala Tim Kreatif untuk proyek internasional ini. Kau punya kendali penuh," ujar Hendra.
Ria tersenyum. Kemenangan ini terasa jauh lebih manis daripada ciuman semalam, karena ini adalah hasil dari otaknya yang tajam dan mentalnya yang baja. Ia berhasil membuktikan bahwa mawar yang pernah diinjak-injak itu kini telah menumbuhkan duri yang sangat kuat untuk melindungi keindahannya.
Saat Ria kembali ke mejanya, ia menemukan sebuah pesan masuk di ponselnya. Bukan dari Soraya, melainkan dari Arya.
“Aku melihat semuanya lewat laporan IT. Kau luar biasa, Sayang. Malam ini, mari kita rayakan kemenanganmu. Aku sudah memesan restoran favoritmu. Tanpa pengawal, tanpa supir. Hanya kita.”
Ria tersenyum tipis. Ia merasa dunianya benar-benar telah berubah. Namun, di sudut ruangan, ia melihat seorang staf baru yang tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali melirik ke arah Ria dengan tatapan yang mencurigakan. Ternyata, Soraya belum selesai. Jika satu bidak jatuh, ia masih punya bidak lainnya.