"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curang Akibat Kebijakan
Udara di Pasar Arcapada semakin menyengat seiring matahari yang merangkak naik menuju puncak langit.
Bunyi tak-tuk-tak-tuk yang berasal dari alas kaki kayu dengan tali kulit tebal. Sendal sederhana yang lazim dipakai kaum bangsawan saat bepergian santai, menemani langkah Rosie menyusuri tanah becek.
Rosie merasakan keringat mulai mengalir di balik lapisan bedak dingin yang tebal, menciptakan sensasi gatal yang luar biasa, tapi dia berusaha keras untuk tidak menggaruknya.
Dia melangkah dengan hati-hati di antara genangan air sisa pembuangan pedagang ikan dan tumpukan sayur yang mulai layu. Matanya yang tajam terus menyisir setiap papan harga atau sekadar mendengarkan tawar-menawar antara pembeli dan penjual.
Langkah kaki pengawalnya, Jaka dan Wira, menimbulkan suara berdebum yang teratur di atas tanah yang becek. Di sampingnya, Gendis terus berjalan dengan kepala tertunduk, sesekali merapikan selendang merah tua yang menutupi bahu Rosie.
Rosie berhenti di depan sebuah lapak rempah yang cukup besar di sudut pasar bawah. Bau lada dan ketumbar menyeruak, menusuk hidungnya hingga dia hampir bersin.
"Lada hitamnya per cupak berapa harganya, Pak?" tanya Rosie sambil menunjuk wadah kayu berisi butiran hitam yang mengilap.
Pedagang itu, seorang pria dengan kumis tipis dan mata yang bergerak gelisah, menatap Rosie dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sepuluh Keping Aruna, Nona," jawabnya dengan nada yang sedikit berlebihan.
Rosie terdiam sejenak. Otaknya yang terbiasa menghitung selisih harga di kantor pusat Jakarta langsung bekerja dengan kecepatan penuh.
Di dalam buku pembukuan ayahnya yang dia audit kemarin, harga beli dari petani hanya sekitar dua keping per cupak. Itu berarti ada kenaikan harga sebesar empat ratus persen dari hulu ke hilir.
Gila, marginnya gede banget, batin Rosie sambil mengepalkan tangan di balik selendangnya. Mark-up harganya enggak masuk akal. Siapa yang ambil potongan sebanyak ini? Distributor atau memang sistem pasarnya yang bobrok?
Dia kemudian beralih menatap timbangan yang digunakan oleh pedagang itu. Alat timbang tersebut terbuat dari sebuah balok kayu jati panjang yang digantung pada sebuah tali di bagian tengahnya. Di satu ujung terdapat piringan anyaman bambu untuk meletakkan rempah, dan di ujung lainnya terdapat batu pemberat yang diikat.
Rosie memperhatikan saat pedagang itu menimbang pesanan seorang wanita tua di depannya. Ada yang aneh. Rosie menyadari bahwa titik tumpu tali pada balok kayu tersebut tidak berada tepat di tengah. Titiknya sedikit bergeser ke arah piringan muatan.
Dalam logika fisika sederhana yang dia pelajari di sekolah, pergeseran titik tumpu itu akan membuat beban yang ringan terlihat lebih berat di sisi piringan. Belum lagi, tangan pedagang itu tampak menekan sedikit bagian ujung balok saat batu pemberat mulai terangkat.
"Timbangan Bapak ini enggak akurat. Curang ini mah namanya," ucap Rosie dengan nada datar.
Suasana di sekitar lapak itu mendadak hening. Pedagang itu tersentak, tangannya gemetar hingga butiran lada tumpah ke lantai tanah. "Apa yang Nona bicarakan? Timbangan ini sudah saya gunakan bertahun-tahun tanpa ada masalah."
Rosie melangkah maju, mengabaikan tarikan kecil di selendangnya oleh Gendis yang mulai ketakutan. "Lihat deh talinya. Bapak sengaja geser dua jari ke arah piringan, kan? Dengan begini, lada yang cuma setengah cupak bakal kelihatan kayak satu cupak penuh di mata pembeli. Ditambah lagi jempol Bapak itu, jangan pikir saya enggak lihat kalau Bapak nekan baloknya biar makin berat. Bapak lagi ngerampok orang-orang di sini secara halus, ya?"
Wajah pedagang itu memerah padam, antara malu dan marah karena kedoknya dibongkar di depan umum. "Beraninya kamu menuduhku curang! Kamu hanya seorang gadis yang wajahnya tertutup bedak tebal, tahu apa kamu soal dagang?" bentaknya sambil berdiri menantang.
Jaka dan Wira yang sejak tadi bersiaga langsung melangkah maju ke depan Rosie. Mereka tidak perlu mencabut senjata, cukup dengan menonjolkan otot lengan yang kokoh dan tatapan mata yang mengancam. Pedagang itu seketika menciut, langkahnya mundur hingga menabrak rak rempahnya sendiri.
"Nona, tolong, kita tidak boleh mencampuri urusan ini," bisik Gendis dengan suara yang sangat gemetar di telinga Rosie. "Mari kita pergi sekarang sebelum kerumunan semakin banyak."
Kenapa? Dia udah jelas-jelas nipu pembeli, Gendis," sahut Rosie tanpa mengalihkan pandangan dari pedagang yang kini ketakutan.
"Benar kata Gendis, Nona," tambah Laras yang baru saja mendekat setelah mengawasi Putih dari kejauhan. "Masalah harga dan timbangan di Pasar Arcapada bukanlah urusan kita. Ada aturan yang jauh lebih besar di sini."
Rosie mengerutkan kening di balik bedak tebalnya. Dia melihat beberapa warga pasar mulai berkumpul, berbisik-bisik sambil menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada yang tampak senang karena ada yang membela mereka, tapi lebih banyak yang tampak cemas.
"Nona, harga rempah di pasar ini telah ditentukan oleh kerajaan," jelas Gendis sambil terus mencoba menarik tangan Rosie. "Rempah-rempah yang dikumpulkan oleh Tuan Besar memang dikirim ke kerajaan sebagai upeti dan persediaan utama. Namun, sebagian rempah itu dikirim kembali oleh kerajaan ke pasar-pasar bawah untuk dijual secara eceran kepada rakyat. Harga jualnya sudah dipatok oleh perintah Raja. Kita dilarang mencampuri urusan harga pasar maupun cara pedagang menarik keuntungan untuk menutup upeti kerajaan yang tinggi, Nona."
Rosie tertegun. Jadi, harga yang mahal itu bukan sekadar permainan pedagang nakal, melainkan kebijakan fiskal kerajaan untuk membiayai istana? Dan kecurangan timbangan ini mungkin adalah cara pedagang bertahan hidup dari pajak yang mencekik?
Pedagang itu, melihat Rosie mulai terdiam, kembali mendapatkan sedikit keberaniannya. "Dengar itu? Bahkan pelayanmu saja tahu aturan! Kalau timbanganku aku buat jujur sejujur-jujurnya, aku tidak akan bisa membayar upeti kepada utusan istana pada purnama berikutnya. Anak istriku mau makan apa kalau semua aku berikan cuma-cuma?"
Rosie menatap pedagang itu dengan rasa miris. Dia baru menyadari bahwa dunia ini jauh lebih rumit daripada sekadar benar dan salah dalam pembukuan kantor.
Di sini, moralitas sering kali kalah oleh tekanan dari penguasa yang bahkan namanya saja tidak boleh disebut sembarangan.
"Tapi ya tetap saja, Pak. Nipu ya nipu," gumam Rosie pelan. "Rezeki dari hasil curang itu enggak bakal berkah. Malah bisa bawa sial buat anak istri Bapak di rumah kalau dikasih makan dari hasil nipu timbangan kayak begini."
Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Sebagai mantan manajer, dia tahu kapan harus menekan dan kapan harus mundur untuk strategi yang lebih besar. Jika dia membuat keributan besar sekarang, Citra pasti akan tahu dan dia akan dikurung lagi di kamar yang bau apek itu.
"Gini aja deh," ucap Rosie akhirnya. Dia mengambil selembar kain kecil dari saku selendangnya dan meletakkannya di atas meja pedagang itu. "Saya enggak akan lapor ke petugas pasar kali ini. Tapi Bapak benerin timbangan itu sekarang juga di depan mata saya. Geser talinya kembali ke tengah. Sebagai gantinya, saya bakal beli dua karung lada hitam Bapak dengan harga yang udah ditentukan kerajaan tanpa tawar-menawar."
Pedagang itu tampak ragu, tapi melihat Jaka yang masih berdiri seperti tembok karang di depannya, dia akhirnya mengangguk pasrah. Dengan tangan gemetar, dia menggeser tali pengikat balok kayu itu kembali ke titik tengah yang seharusnya. Dia menimbang dua karung lada hitam dengan benar dan menyerahkannya kepada Wira.
Rosie membayar dengan keping Aruna yang diberikan Citra tadi pagi. Dia tidak merasa menang, tapi setidaknya untuk hari ini, ada satu alat ukur yang berjalan dengan benar di Pasar Arcapada.
"Ayo kita pulang," perintah Rosie kepada rombongannya.
Saat mereka berjalan menjauh, Rosie masih sempat melirik ke arah Putih yang berada di area penjualan kain. Putih tampak sedang tersenyum lembut kepada seorang penjual kain yang memberikannya potongan sisa sutra secara cuma-cuma karena merasa kasihan melihat wajah kuyu sang gadis. Kontras sekali dengan apa yang baru saja dialami Rosie.
"Nona benar-benar berani," bisik Jaka saat mereka sudah agak jauh dari kerumunan. "Tapi tolong, jangan lakukan itu lagi. Kalau ada utusan kerajaan yang melihat Nona mencampuri urusan upeti dan harga, Kediaman Jati Jajar bisa dalam masalah besar."
Rosie hanya mengangguk pelan. Dia menyadari bahwa untuk mengubah alur perdagangan di Indraloka, dia tidak bisa hanya mengandalkan kemarahan di pasar.
Dia harus masuk ke dalam sistem, memahami bagaimana kerajaan mengelola rempah-rempah tersebut, dan mungkin suatu saat nanti dia bisa menawarkan sistem yang lebih masuk akal tanpa harus ada pedagang yang mencurangi timbangan demi sesuap nasi.
"Dunia ini benar-benar butuh audit total," bisik Rosie pada dirinya sendiri sambil menatap jembatan bambu di kejauhan. Dia merasa langkah kakinya kini terasa lebih berat, bukan karena kain jariknya, melainkan karena kenyataan pahit yang baru saja dia temukan di balik riuh rendah Arcapada.