Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Mungkinkah?
"Apa katamu?"
Wajah Evan menjadi begitu pucat ketika mendengar kata-kata dari telepon itu merasa tidak mempercayai apa yang didengarnya tangannya menjadi gemetar memegangi kotak hadiah itu.
Namun bukannya mendapatkan balasan dari ujung telepon, sosok itu segera menampakkan diri tepat di depan Evan, sepertinya terlihat Hanna sudah mengamati Evan dari tadi.
Hanna perlahan-lahan berjalan mendekat ke arah Evan, membuat ekspresi Evan semakin pucat. Evan masih terdiam di sana seolah mematung masih tidak mempercayai tentang apa yang barusan dia dengar.
Melihat itu, Hanna semakin mendekat kearah Evan, lalu mengambil tangan Evan untuk diletakkan pada perutnya yang masih datar.
"Disini ada anak kita."
Evan yang sekali lagi mendengar hal tidak masuk akal itu segera mundur, wajah pucat terlihat sekali dalam ekspresinya.
"Tidak! Tidak mungkin!!"
Hanna yang melihat ekspresi Evan, mau tidak mau merasa cukup kecewa.
"Mas Evan, ini adalah calon anakmu. Kamu tidak bisa seperti itu seolah tidak menerimanya. Apakah kamu masih ingin terkena Karma? Dimasalalu bukankah kamu mengabaikan calon anakmu lalu lihat hasilnya...."
Hanna tentu tahu banyak tentang Evan, Evan yang selama ini hanya memendam semua kekhawatiran dan kesedihan dihatinya. Rasa penyesalan yang besar dan dia tanggung selama ini.
Dan disinilah, senjata Hanna untuk mengerjakan Evan, dia mempertaruhkan segalanya dalam rencana ini.
Evan yang mendengar itu, ekspresinya menjadi semakin pucat, tampak kesedihan juga muncul disana, teringat lagi kejadian masa lalu.
"Mas Evan harus menerimanya, ini adalah anugerah dari yang di atas bahwa kamu akhirnya akan memiliki seorang anak."
Evan masih diam, benar-benar tenggelam dalam pikirannya, tangannya mulai berkeringat dan gemetaran, seolah benar-benar hendak menjatuhkan kotak hadiah yang ada di tangannya.
"Jangan Bicara Omong Kosong!! Tidak mungkin itu anakku!"
"Mas Evan, jangan mencoba untuk menyangkal anak ini, ini adalah calon anak kita, bisa saja kamu akan menyesalinya jika kamu menolak, siapa yang tahu, ini mungkin satu-satunya kesempatan kamu bisa memiliki seorang anak?"
Hanna kembali mengambil tangan Evan untuk menyentuh perutnya, agar bisa merasakan kehidupan baru yang ada di sana.
Sekali lagi, Evan tengelam dalam pikirannya ketika menyentuh perut Hanna, dia mulai memikirkan bahwa di dalam sana ada sebuah kehidupan baru, calon anak yang sudah dia nanti-nantikan.
Bohong jika dia bilang tidak menginginkan seorang anak.
Hanya saja...
"Mas Evan, ini adalah darah dagingmu, sesuatu yang tidak akan pernah Sofia bisa berikan kepadamu."
Ketika Evan mulai mengigat wajah Sofia ekspresinya menjadi semakin pucat.
"Tidak!!! Ini bukan Anakku!!"
Evan sekali lagi mundur ke belakang untuk menjaga jarak dengan Hanna.
"Mas Evan kenapa masih keras kepala menyangkalnya!"
"Kamu pikir aku akan tertipu wanita licik sepertimu?"
"Mas Evan bisa melakukan Tes DNA jika memang tidak percaya! Ini benar-benar anakmu!"
"Tidak!! Tidak mungkin...."
Hanna menatap wajah Evan yang saat ini terlihat terguncang dan hancur, dia merasa tidak senang. Jadi Hanna segera mengunakan tangannya untuk memegang kedua pipi Evan, mencoba membiarkan dia yang ada di hadapannya itu untuk menatap kearahnya.
"Mas Evan, bahkan walaupun kamu ingin menolaknya ini kita tidak bisa menyangka fakta bahwa saat ini Aku tengah mengandung anakmu."
Tatapan mereka bertemu, namun Evan segera menatap kearah bawah, tidak ingin menatap Hanna.
Hanna semakin tidak suka dengan reaksi itu, dia kira Evan setidaknya akan bahagia dengan berita kehamilannya.
'Apakah karena Sofia yang mandul itu?'
Hanna menjadi marah ketika memikirkannya. Lalu dia mulai mengambil kotak hadiah sebelumnya dari Evan, dan menunjuk sekali lagi gambar USG miliknya pada Evan.
"Lihat Mas Evan, kehidupan kecil ini adalah calon anakmu."
Evan yang masih tertunduk dan terguncang itu, tanpa sadar menatap kearah foto USG milik Hanna. Di sana walaupun hanya kecil, dia bisa melihat kehidupan kecil.
Calon anaknya, hanya memikirkan itu saja ada sedikit kehangatan didalam hatinya.
Hanna puas melihat perubahan ekspresi di wajah Evan.
"Ini mungkin masih begitu kecil namun dia akan segera tumbuh perlahan-lahan di dalam sini."
Hanna sekali lagi mengerakkan tangan Evan di perutnya yang masih datar itu.
Tatap mata Evan terlihat sayu ketika akhirnya bertemu dengan tatapan Hanna.
"Mas Evan, ini adalah anakmu, kamu pasti akan bisa melihat anak lahir, lalu perlahan-lahan tumbuh, apakah kamu tidak ingin merawat seorang anak?"
Evan tidak menjawab dan masih terdiam. Namun Hanna sedikit puas dengan itu, Evan sudah tidak menolak atau marah padanya lagi.
Disaat ini, Hanna mengambil kesempatan untuk memeluk Evan. Keduanya berpelukan cukup lama.
Sampai Evan akhirnya menyadari jika ini semua adalah kenyataan.
"Kamu benar-benar hamil?"
"Benar, anak kita... Ini mungkin sebuah berkah."
Evan masih terguncang namun dia tidak mendorong Hanna, hanya menikmati pelukan hangat itu untuk sesaat.
Daerah Kolam Renang cukup sepi karena aksesnya di larang untuk Para Tamu, di takutkan ada Insiden yang tidak diinginkan.
Sayangnya, mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang menatap kearah keduanya.
"Itu yang ingin Aku tujukan padamu Sofia."
Bastian yang kebetulan tadi sempat melihat gerak-gerik Evan yang mencurigakan menuju kearah kolam renang, jelas segera mengikutinya, dan ternyata tebakannya benar ketika melihat Hanna juga berada disana.
Dia tidak tahu apa yang keduanya bicarakan namun ingin merupakan kesempatan yang bagus untuk menujukannya pada Sofia.
Bukti nyata dari Perselingkuhan Evan dengan Hanna.
"Tidak..."
Ekspresi Sofia berubah menjadi pucat, tangannya menjadi gemetaran. Merasa tidak percaya dengan hal yang dilihatnya itu.
"Bagaimana mungkin... Mas Evan dan Hanna...."
Sofia menjatuhkan gelas yang ada ditangannya karena begitu terpukul dengan adegan yang ada di depannya itu, adegan dimana Hanna dan Evan tengah berpelukan. Gelas yang pecah seolah menggambarkan keadaan hatinya yang kini seolah pecah berkeping-keping.
Suara gelas pecah itu jelas menarik perhatian Evan dan Hanna yang tidak jauh dari sana.
Ekspresi Evan yang melihat Sofia yang saat ini menangis menjadi pucat. Dia buru-buru melepaskan pelukannya pada Hanna dan menuju kearah Sofia.
"Sofia, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba menangis?"
Evan mendekat kearah Sofia, masih berpura-pura tidak terjadi apapun.
Namun tangan Evan ditepis oleh Sofia dengan kasar. Sofia juga langsung menghapus air matanya, agar dirinya tidak terlihat menyedihkan. Sofia mencoba untuk mengatur emosinya dan segera bertanya,
"Apa yang kamu lakukan dengan Hanna disini?"
Mendengar pertanyaan itu, Evan jelas memberikan jawaban dengan santai,
"Apa? Hanna hanya memberikanku hadiah,"
"Kenapa harus disini?"
"Emm, kamu tahu kan Hanna cukup populer? Dia hanya tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Sofia, jangan salah paham seperti itu, Aku benar-benar tidak seperti yang kamu kira, Aku dan Hanna tidak ada apa-apa."
Bastian merasa kesal melihat sikap Evan yang masih saja pura-pura itu.
"Jelas-jelas kamu berpelukan dengan wanita itu!!"
Evan menatap kearah Bastian dengan penuh kebencian.
"Apakah Si Bregsek ini bicara macam-macam padamu? Sofia, tolong jangan dengarkan ucapan orang ini!"
Namun Sofia tidak mendengarkan ucapan Evan, dia mulai berjalan menuju kearah Hanna, sepertinya ingin mendengar sendirian penjelasan dari Hanna.
Berbagai macam emosi muncul dalam hati Sofia, namun dia tidak ingin gegabah.
Evan yang melihat Sofia mendekati Hanna itu menjadi panik, takut Hanna mengatakan omong kosong, terutama hal besar seperti kehamilannya.
Hanya membayangkan saja membuat Evan tidak tahan, akhir dari pernikahannya.
'Tidak. Ini tidak bisa.'
Evan juga segera menyusul Sofia yang mendekati Hanna itu.
"Hanna, Apa yang kamu lakukan di sini bersama Suamiku?"
Tatapan Hanna sedikit melirik pada Evan, seolah sedang menggodanya bahwa dia akan mengatakan segalanya.
"Kak Sofia, Aku hanya memberikan Hadiah pada Suami Kakak, dia kan sedang Ulang Tahun."
Sofia melihat ekspresi Hanna yang masih seperti biasanya, tersenyum kearahnya tidak tahu Apakah harus percaya atau tidak dengan ucapannya.
"Lalu kenapa kamu memeluknya?"
"Apakah ini membuat Kak Sofia salah paham? Bukankah ini wajar? Pelukan ucapan selamat? Apa yang salah dengan itu? Bukankah Aku juga memeluk Kak Sofia saat mengucap selamat ulang tahun?"
Ekspresi Hanna terlihat polos, seolah tidak berdosa sama sekali.
"Benar, itu hanya ucapan selamat biasa. Sofia, tolong kamu jangan percaya omong kosong yang dikatakan oleh bajingan itu!"
Evan menujuk Bastian dengan tegas.
"Sofia, berpikiran realistis sedikit, Bukankah aneh untuk mereka berdua berada di kolam renang yang sepi ini daripada di ruang pesta? Kalau hanya memberikan hadiah bukannya lebih aman di ruang pesta?"
Sofia terdiam, lalu menatap kearah kotak kado yang ada ditangan Hanna.
'Benar ada kotak hadiah....'
Evan juga memperhatikan dimana Sofia menatap, yaitu kotak itu ditangan Hanna, dia segera panik.
"Benar, ini Kotak Hadiah dari Hanna, apakah kamu masih tidak percaya?"
Evan segera buru-buru merebut kotak itu. Sofia memperhatikan gerak-gerik Evan yang terlihat aneh ketika melihat kotak itu.
'Pasti ada sesuatu disana.'
"Jadi Apa Isinya Mas Evan?"
"Aku juga tidak tahu, belum membukanya."
"Kalau begitu bagaimana jika membukanya sekarang?"
Sofia terlihat ingin merebut kotak hadiah itu.
"Kak Sofia, sebenarnya aku hanya ingin membuat sedikit kejutan, jadi bagaimana jika nanti saja di bukannya?"
Evan puas dengan dukungan Hanna.
"Benar, nanti saja. Tidak enak membukanya langsung di depan orangnya seperti ini."
Sofia tidak mendengarkan kata-kata itu dan mencoba merebut hadiah itu, namun terlihat Evan memegang kencang-kencang hadiah itu.
"Mas Evan! Aku hanya ingin melihat isinya, kenapa kamu seolah tidak ingin menunjukkannya?"
"Bukan begitu Sofia..."
Bastian juga menjadi curiga dan ingin merebut kotak itu juga, namun Evan menghindar dengan baik.
"Dasar Bregsek!! Jangan coba-coba kamu ikut campur!"
"Jika memang tidak ada yang disembunyikan Bukankah sebaiknya kamu menunjukkan isi hadiah itu?"
"Apa yang dikatakan Bastian benar, Mas Evan mana kotak itu?"
"Ayolah, Sofia sayang jangan seperti ini."
"Mas Evan!!"
Kali ini tangan Sofia berhasil memegang kotak hadiah itu, membuat Evan panik.
"Kak Sofia jangan terlalu berlebihan itu hanya kotak hadiah."
Sofia masih mencoba merebut kotak hadiah itu dari Evan.
Hanna yang kesal karena Sofia mengganggu waktunya dengan Evan tiba-tiba memiliki sebuah ide.
Dia mejegal kaki Sofia, hingga Sofia terpeleset karena lantai licin.
"Akhhhh...."
BYURRRR
Sayangnya hal yang tidak Hanna duga, Sofia menarik tangan Hanna membuat keduanya sama-sama masuk ke dalam kolam renang.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚