Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergulatan dalam Penerimaan
Lauren masih terduduk di atas rumput taman belakang yang lembap. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denyut ketakutan yang ditinggalkan oleh sosok hitam tinggi di seberang pagar tadi. Herza melayang rendah di sampingnya, binar energinya masih tampak tidak stabil.
"Dia sudah pergi, Lauren. Masuklah," bisik Herza. Suaranya terdengar letih.
Lauren bangkit dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia menyeka sisa tanah di roknya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, lampu-lampu masih berpijar terang, menerangi setiap sudut tanpa ampun. Bram sedang tertidur di kursi panjang dengan televisi yang menyala tanpa suara, sementara Maria mungkin sudah terlelap di kamar.
Lauren terus berjalan menuju lantai dua. Ia menutup pintu kamarnya pelan, memutar kunci, dan bersandar di sana. Napasnya masih pendek-pendek. Pandangannya terjatuh pada cermin besar yang tertempel di pintu lemari pakaiannya.
Ia melangkah mendekat. Di bawah siraman lampu neon yang putih tajam, Lauren menatap bayangannya sendiri. Seorang gadis berusia dua belas tahun dengan rambut hitam sebahu dan mata yang tampak terlalu tua untuk wajahnya. Ia menyentuh permukaan kaca, menelusuri garis matanya.
Mata ini, batinnya pahit.
Mata yang merenggut masa kecilku.
"Kenapa kamu menatap dirimu seolah kamu melihat monster?" Herza muncul di pantulan cermin, berdiri di belakang Lauren.
"Bukankah memang begitu, Herza?" Lauren berbalik, menatap arwah mentornya dengan mata berkaca-kaca.
"Gara-gara kemampuan ini, Ayah harus hidup dalam ketakutan. Ibu harus menangis setiap malam. Teman-temanku menganggapku gila. Dan sekarang, makhluk-makhluk itu memburuku seperti hewan."
Lauren mengepalkan tangannya.
"Aku benci semua ini. Aku ingin menjadi seperti Siska. Aku ingin peduli pada nilai matematika atau warna tas baruku, bukan pada berapa banyak entitas yang menunggu di koridor sekolah."
Herza terdiam sejenak. Ia melayang mendekat, wajah remajanya menampakkan empati yang dalam. "Kamu bisa saja membuang semua latihan kita. Kamu bisa berhenti bermeditasi dan membiarkan perisaimu runtuh."
"Lalu aku akan normal?" tanya Lauren penuh harap.
"Tidak," jawab Herza tegas.
"Kamu akan menjadi wadah yang kosong. Mereka akan masuk, mengambil alih ragamu, dan menggunakan energimu untuk menghancurkan apa pun yang kamu cintai. Menjadi normal adalah pilihan yang sudah diambil darimu sejak detak jantung pertamamu, Lauren."
Lauren terisak. Ia merosot duduk di lantai, menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya. Bahunya terguncang hebat. Selama bertahun-tahun, ia memendam keinginan untuk melarikan diri, untuk bangun suatu pagi dan menemukan bahwa semua hantu itu hanyalah mimpi buruk yang panjang. Namun, pertemuan dengan sosok hitam di taman tadi menyadarkannya bahwa pelarian adalah ilusi.
"Aku lelah membenci diriku sendiri," bisik Lauren di sela tangisnya.
Herza berlutut di depannya, meski ia tidak bisa menyentuh fisik Lauren.
Mmmm"Kebencianmu adalah makanan bagi mereka. Semakin kamu menolak dirimu, semakin mudah bagi kegelapan untuk menemukan celah. Kamu adalah cahaya, Lauren. Tapi cahaya tidak akan berguna jika pemiliknya terus mencoba memadamkannya."
Lauren mendongak. Ia menatap Herza, lalu kembali menatap cermin. Di dalam benaknya, ia memutar kembali ingatan tentang anak laki-laki yang ia selamatkan di lapangan basket. Tentang bagaimana ia bisa membantu arwah wanita yang sedih di taman. Ia teringat rasa hangat saat ia berhasil mengusir larva energi dengan tangannya sendiri.
Ada kekuatan di sana. Kekuatan yang, jika ia terima, bisa menjadi pelindung bagi orang-orang yang ia sayangi.
"Jika aku menerimanya... apa aku masih bisa disebut manusia?" tanya Lauren pelan.
"Kamu adalah manusia dengan tanggung jawab yang lebih besar," jawab Herza.
"Takdir tidak meminta izin darimu, tapi kamu bisa memilih bagaimana cara menjalaninya. Menjadi korban yang ketakutan, atau menjadi petarung yang berdaulat atas jiwanya sendiri."
Lauren menarik napas panjang. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia berdiri kembali, menatap bayangannya di cermin dengan tatapan yang berbeda. Ia tidak lagi melihat seorang gadis kecil yang malang. Ia melihat seorang gadis yang membawa beban dunia gaib di pundaknya, namun tetap berdiri tegak.
Ia menyentuh lengan seragamnya, tempat memar hitam itu pernah berada. Memar itu sudah hilang, namun bekasnya tertanam di dalam ingatannya sebagai pengingat akan bahaya yang nyata.
"Mulai sekarang, aku tidak akan memohon untuk menjadi normal lagi," suara Lauren terdengar stabil, lebih rendah, dan penuh tekad
"Bagus," puji Herza.
"Itu adalah fondasi terpenting dari kekuatanmu. Penerimaan diri."
Lauren memejamkan mata. Ia memfokuskan pikirannya pada ulu hati. Ia memanggil titik cahaya biru yang pernah Herza tunjukkan. Kali ini, cahaya itu muncul dengan lebih mudah. Ia tidak perlu lagi berjuang menariknya dari sumur yang dalam. Cahaya itu seolah sudah menunggu untuk dipanggil, siap menyelimuti batinnya.
Lauren merasakan kehangatan yang menjalar dari dada ke ujung jemarinya. Getaran energinya terasa lebih sinkron dengan detak jantungnya. Rasa takut yang tadinya mencekik kini berubah menjadi kewaspadaan yang tajam.
"Aku adalah Lauren," bisiknya pada kegelapan di sudut kamar.
"Dan aku tidak akan menyerahkan kunciku pada siapa pun."
Herza tersenyum bangga. Arwah remaja itu merasakan gelombang energi Lauren yang kini jauh lebih padat dan teratur. Ini adalah titik balik yang mereka butuhkan. Seorang indigo yang tidak lagi berperang dengan batinnya sendiri adalah musuh yang paling menakutkan bagi alam bayangan.
Malam semakin larut, namun Lauren tidak merasa mengantuk. Ia berjalan menuju meja belajarnya, mengambil buku harian yang selama ini ia gunakan untuk mencurahkan rasa frustrasinya. Ia membuka halaman baru yang masih kosong.
Dengan jemari yang mantap, ia menuliskan satu kalimat di bagian paling atas: *Aku siap menghadapi takdirku.
Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip sekali. Hawa dingin yang sangat pekat merembes masuk dari celah jendela yang terkunci rapat. Lauren tidak melompat ketakutan. Ia justru berdiri tenang, membiarkan energi birunya berpendar tipis di permukaan kulitnya.
Suara cakar yang menggores kaca jendela terdengar pelan namun tajam. *Srak... srak... srak...
Lauren menoleh ke arah jendela. Di balik kaca, di tengah kegelapan malam, ia melihat pantulan matanya sendiri yang kini berpendar biru redup. Namun, di balik pantulannya, ada sesuatu yang lain. Sosok jubah hitam compang-camping dari lapangan basket berdiri di sana, menempelkan wajahnya yang rata ke kaca.
Makhluk itu membuka mulutnya yang lebar, mengeluarkan suara desisan yang mampu memecahkan konsentrasi orang biasa.
Lauren melangkah maju. Ia tidak mundur ke pojok kamar. Ia berhenti tepat di depan jendela, hanya terpisah beberapa sentimeter dari entitas mengerikan itu. Ia menatap lurus ke arah tempat di mana seharusnya mata makhluk itu berada.
"Pergi," perintah Lauren dingin.
Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela. Sebuah gelombang energi biru yang murni meledak dari tangannya, menghantam kaca tanpa memecahkannya. Entitas itu terlempar ke belakang, melengking kesakitan sebelum akhirnya menghilang menjadi debu hitam di udara malam.
Lauren menarik tangannya kembali. Ia tidak gemetar. Ia merasa utuh.
"Mereka akan mengirim sesuatu yang lebih kuat setelah ini," Herza memperingatkan dari sampingnya.
Lauren menatap langit malam yang luas, tempat bintang-bintang tersembunyi di balik polusi cahaya kota. Ia tahu Herza benar. Serangan tadi hanyalah gangguan kecil, sebuah reaksi dari kegelapan yang mulai menyadari bahwa target mereka tidak lagi mudah ditekan.
"Biarkan saja," jawab Lauren pelan.
"Aku sudah bosan bersembunyi di balik lampu yang menyala."
Lauren meraih saklar lampu kamarnya. Selama lima tahun, ia tidak pernah berani menyentuh benda ini di malam hari. Tangannya sedikit ragu di atas tuas plastik itu. Ia menoleh ke arah Herza, yang mengangguk kecil sebagai dukungan.
Klik.
Lampu kamar padam. Kegelapan seketika menelan ruangan itu.
Lauren berdiri diam di tengah gelap yang pekat. Jantungnya berdegup, namun bukan karena panik. Ia mulai merasakan setiap pergerakan energi di sekitarnya. Ia bisa melihat Herza yang berpendar lembut, dan ia bisa merasakan kehadiran-kehadiran kecil yang mengintai di sudut-sudut lemari.
Lll
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di tengah kegelapan itu, dari lantai di bawah tempat tidurnya, mulai muncul kabut hitam yang sangat tebal. Kabut itu tidak dingin, melainkan terasa panas dan berdenyut seperti jantung raksasa.
Sebuah tangan dengan kuku-kuku panjang yang terbuat dari bayangan murnil perlahan-lahan keluar dari bawah l, mencengkeram kaki tempat tidur hingga kayunya merintih pecah.
Lauren terkesiap. Ini bukan serangan luar. Ini adalah sesuatu yang muncul dari dalam rumahnya sendiri.
"Herza! Apa ini?" seru Lauren, matanya membelalak menatap kabut yang mulai menyelimuti kakinya.
Herza mencoba mendekat, namun ia terpental oleh dinding energi gelap yang mendadak muncul membatasi Lauren. Wajah arwah mentornya itu tampak penuh ketakutan yang belum pernah Lauren lihat sebelumnya.
"Lauren! Keluar dari kamar itu! Itu bukan entitas biasa! Itu adalah..."
Suara Herza terputus saat kabut hitam itu mendadak melesat naik, membungkus tubuh Lauren dan menariknya dengan kekuatan brutal ke arah kegelapan di bawah tempat tidurnya yang kini terbuka lebar seperti lubang tanpa dasar.