Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Isolasi Jaringan
Hari yang dinanti bagi sebagian orang, akhirnya tiba. Pagi itu, SMP Negeri 12 tampak asing. Tidak ada lagi bau sampah dari pasar sebelah yang biasanya terbawa angin, karena gerbang sekolah ditutup rapat bagi pedagang kaki lima. Sebagai gantinya, sebuah minibus hitam mewah dengan logo emas "SMA Garuda Nusantara" terparkir megah di halaman sekolah yang sudah disapu bersih hingga tak ada sehelai daun pun yang tersisa.
Senara berdiri di depan cermin retaknya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia mengenakan seragam terbaiknya, putihnya sudah agak kekuningan, tapi licin karena disetrika dengan penuh kehati-hatian oleh ibunya semalam. Di sakunya, ia merasakan beban kecil dari robot biru itu. Entah mengapa, ia merasa lebih tenang jika benda itu ada bersamanya.
"Nara, ingat," bisik ibunya di pintu rumah. "Apapun hasilnya, kamu tetap berlian di mata Ibu. Maaf ya, ibu tidak jadi datang ke sekolah, banyak cucian baju dari tetangga, sayang kalau ibu tolak."
Senara mengangguk, mencium tangan ibunya, lalu melangkah menuju medan pertempuran.
Sementara itu, dua blok dari sekolah, di lantai atas bangunan tua yang terbengkalai, Bima sedang duduk di depan tiga layar monitor yang ditenagai oleh baterai portabel berkapasitas besar. Ia mengenakan tudung jaket hitam, matanya terpaku pada grafik spektrum frekuensi yang menari-nari di layar.
"Tim verifikasi sudah masuk ke aula," lapor asistennya melalui jalur radio khusus, satu-satunya jalur yang sengaja ia sisakan untuk koordinasi internal. "Mereka mulai melakukan pengecekan berkas fisik."
Bima menarik napas panjang. Jemarinya melayang di atas tombol Enter. "Aktifkan tahap satu, mulai dengan frekuensi Wi-Fi dan seluler 4G/5G."
Dengan satu ketukan, sebuah gelombang elektromagnetik tak kasat mata memancar dari antena yang tersembunyi di balkon bangunan itu. Gelombang itu menyebar dengan kecepatan cahaya, menyelimuti radius delapan ratus meter, termasuk SMP Negeri 12.
Di dalam aula SMP 12, suasana sedang sangat khidmat. Tiga orang penguji dari SMA Garuda, dengan setelan jas rapi dan wajah tanpa ekspresi, sedang duduk di depan meja panjang. Di hadapan mereka, Senara berdiri dengan laptop sekolah yang sudah tua, siap mempresentasikan portofolio digitalnya.
"Baik, Senara. Silakan tampilkan data kolaborasimu dengan Bima yang sudah diunggah ke cloud Garuda," ujar salah satu penguji, seorang pria berkacamata dengan tatapan tajam.
Senara mengklik tautan di layarnya. Namun, yang muncul hanyalah ikon lingkaran berputar. Loading.
Senara mengerutkan kening. Ia melirik ke arah modem Wi-Fi di sudut ruangan. Lampu indikatornya yang biasanya hijau, kini berkedip merah dengan cepat. Ia mencoba menyegarkan halaman itu, namun hasilnya nihil.
"Maaf, sepertinya ada gangguan jaringan," ujar Senara tenang, meski jantungnya mulai berdegup kencang.
Maria yang berdiri di pojok ruangan segera mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa sinyal. "Lho, kok sinyal saya tiba-tiba hilang total? 'No Service'?" bisiknya panik pada guru lain.
Tidak hanya Maria. Seluruh orang di ruangan itu, termasuk para penguji, mulai mengecek perangkat mereka. Semua ponsel mendadak buta. Tidak ada internet, tidak ada sinyal telepon, bahkan pesan singkat pun tidak bisa terkirim.
"Ini aneh," gumam penguji wanita di tengah. "Seluruh koneksi kami terputus secara serentak. Apa sekolah ini memiliki kebijakan pemutusan sinyal saat ujian?"
Maria maju dengan wajah pucat. "T-tidak, Bapak, Ibu. Kami tidak pernah mematikan sinyal. Mungkin ini gangguan dari menara pusat."
Senara menatap layar laptopnya yang kini menampilkan tulisan "No Internet Connection". Ia teringat pada Bima, ia teringat wajah Bima saat di laboratorium tempo hari.
"Ini pasti ulahnya," batin Senara. "Dia ingin melumpuhkanku di depan tim verifikasi."
Dari bangunan tua, Bima melihat kegaduhan kecil dari balik teropong jarak jauhnya. Ia melihat guru-guru berlarian ke luar ruangan, mencoba mencari sinyal di lapangan, namun tetap gagal.
"Tahap dua," perintah Bima dingin. "Aktifkan pemblokir spektrum radio. Jangan biarkan ada perangkat apa pun yang mengirim atau menerima bit data."
Di layar monitornya, Bima melihat grafik frekuensi di sekitar sekolah menjadi datar. Mati total. Sebuah kesunyian digital yang sempurna. Ia menunggu, menunggu keajaiban Blok 4 itu muncul. Ia ingin melihat apakah sosok misterius di belakang Senara akan mencoba melawan balik kekuatannya.
"Ayo, Senara. Tunjukkan taringmu. Tembus jammerku jika kamu memang punya pelindung," bisik Bima penuh obsesi.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan Bima.
Di aula yang mulai gaduh, Senara menarik napas panjang. Ia melihat kegugupan para guru dan kebingungan tim penguji. Jika ia diam dan menunggu internet kembali, ia akan terlihat seperti siswi yang bergantung sepenuhnya pada bantuan eksternal, dan itu adalah nilai merah bagi calon siswa Garuda.
Senara perlahan menutup laptopnya. Ia melangkah maju, melepaskan kabel HDMI yang menghubungkan laptop ke proyektor.
"Mohon maaf atas gangguan teknis ini, Bapak dan Ibu Penguji," suara Senara terdengar lantang dan stabil, memecah kepanikan di ruangan itu. "Karena jaringan sedang tidak memungkinkan, saya akan mempresentasikan seluruh portofolio saya secara manual. Saya telah menghafal seluruh struktur data, angka probabilitas, dan algoritma yang saya susun bersama Bima."
Para penguji tertegun. "Tanpa visual?"
"Iya. Saya akan menggunakan papan tulis," ujar Senara sambil menunjuk papan tulis putih di belakangnya.
Tanpa menunggu persetujuan, Senara mengambil spidol. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia mulai menggambar diagram alur, menuliskan rumus-rumus kompleks, dan menjabarkan data statistik yang seharusnya ada di layar proyektor. Ia menjelaskan setiap poin dengan artikulasi yang sangat jelas, tanpa terbata-bata sedikit pun.
Maria terpana, Senara tidak hanya menghafal datanya, ia memahami setiap lekuk logika di balik proyek tersebut. Ia menjawab pertanyaan penguji tentang variabel-variabel sulit dengan jawaban yang jauh lebih mendalam daripada yang ada di draf tertulis.
Di saku jaket Senara, robot biru itu terasa hangat. Sangat hangat. Tapi robot itu tidak melakukan perlawanan digital, robot itu seolah tahu bahwa saat ini, Senara tidak butuh bantuan cyber. Senara sedang bertarung dengan senjatanya yang paling murni.
Otaknya sendiri.
Bima menatap layarnya dengan tidak percaya. "Kenapa tidak ada aktivitas balik? Kenapa tidak ada upaya peretasan ke arah sistemku?"
Ia segera memeriksa rekaman audio jarak jauh yang ia pasang secara ilegal di aula. Melalui suara yang sedikit terganggu, ia mendengar suara Senara yang sedang menjabarkan teori genetika dengan lancar.
Bima melepaskan headset-nya dengan kasar. Ia merasa bodoh. Ia baru saja menyadari kesalahannya. Ia begitu terobsesi untuk membuktikan keberadaan hantu digital, hingga ia lupa bahwa Senara, adalah manusia paling cerdas yang pernah ia temui. Dengan mematikan jaringan, Bima justru memberikan panggung bagi Senara untuk menunjukkan bahwa kehebatannya bukan berasal dari alat, melainkan dari dirinya sendiri.
"Dia tidak butuh internet," gumam Bima, suaranya mengandung campuran rasa kesal dan kekaguman yang luar biasa. "Dia mempresentasikan data 40 gigabyte dari ingatannya sendiri."
Satu jam kemudian, presentasi berakhir. Aula yang tadinya tegang kini dipenuhi oleh tepuk tangan, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh tim verifikasi Garuda yang terkenal kaku.
"Luar biasa, Senara," ujar ketua penguji sambil berdiri dan menjabat tangan Senara. "Kami sering melihat kandidat dengan teknologi tercanggih, tapi kami belum pernah melihat seseorang yang memiliki penguasaan data sedalam dirimu. Kamu membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak ditentukan oleh fasilitas, tapi oleh kapasitas."
Maria menangis terharu di pojok ruangan. Senara hanya tersenyum tipis, meski kakinya terasa lemas. Saat ia menjabat tangan penguji, ia merasakan robot di sakunya perlahan-lahan mendingin.
Begitu tim penguji keluar untuk beramah tamah dengan kepala sekolah, Senara berjalan ke arah jendela. Ia menatap ke arah bangunan tua di kejauhan. Ia tidak tahu pasti Bima ada di mana, tapi ia tahu laki-laki itu sedang memperhatikannya.
"Kamu gagal, Bima," bisik Senara pada angin.
Bima melihat momen itu melalui teropongnya, ia melihat Senara berdiri di jendela. "Matikan semuanya. Kita pergi," perintah Bima pada asistennya.
Ia membereskan perlengkapannya dengan kasar, rencananya berantakan. Ia tidak mendapatkan bukti tentang pelindung Senara, malah ia justru membantu Senara mendapatkan nilai sempurna di mata tim Garuda.
Namun, saat Bima hendak menutup laptopnya, sebuah notifikasi merah muncul di layar, berasal dari log sistem yang merekam kejadian di detik-detik terakhir sebelum ia mematikan alatnya.
[LOG: DETECTED PASSIVE SCAN FROM UNKNOWN SOURCE]
[DURATION: 0.002 MICROSECONDS]
[RESULT: SYSTEM VULNERABILITY MAPPED]
Bima membeku. Notifikasi itu menunjukkan bahwa selama ia melakukan isolasi jaringan, ada sesuatu yang melakukan pemindaian balik ke arahnya, sangat cepat, sangat singkat, sehingga tidak terdeteksi oleh sistem pertahanannya saat itu.
Benda itu tidak melawan isolasi jaringan Bima, benda itu justru menggunakan energi dari jammer Bima untuk memetakan seluruh kelemahan sistem milik Bima.
Bima menatap ke arah sekolah lagi, tapi Senara sudah tidak ada di jendela.
"Dia tidak melawanku..." bisik Bima, tangannya gemetar. "Dia hanya membiarkanku menunjukkan semua kartuku."
Hari itu, Bima belajar satu hal penting. Senara mungkin bukan hacker, tapi sesuatu yang ada bersamanya jauh lebih berbahaya daripada peretas mana pun yang pernah ia temui. Dan bagi Senara, hari itu adalah bukti bahwa meskipun dunia mencoba membisukannya dengan teknologi, suaranya tetap akan terdengar selama ia memiliki keberanian untuk bicara.
Pertempuran di SMP Negeri 12 berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Senara, namun bagi Bima, ini adalah awal dari obsesi yang jauh lebih gelap. Ia tidak lagi hanya ingin tahu siapa pelindung Senara, ia ingin memilikinya.