Kisah pernikahan paksa yang di alami oleh seorang gadis berusia 22 tahun dengan seorang laki-laki arogan yang di pilih ayahnya sebagai mempelai pria putrinya.
Sabrina, terpaksa menerima pernikahan ini demi menyelamatkan perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut, dia harus merelakan dirinya sebagai alat balas budi kepada laki-laki yang telah bersedia membantu keluarganya.
Meskipun sang suami adalah laki-laki yang begitu tampan dan mapan, Sabrina kurang menyukainya. Sabrina memiliki karakter yang cenderung mudah mengeluh dan keras kepala, ia wanita yang tidak suka di atur dan bertindak sesukanya.
Di novel ini, kalian akan di buat kesal tujuh turunan sama si pemeran utama. HAHAHA
Selamat membaca, semoga suka ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sopir dan pengawal
Sampai di depan gerbang rumah, aku begitu bersyukur karena tidak lupa jalan pulang, padahal sebenarnya aku ragu-ragu pulang tanpa tuan Arga atau tuan Joe, letak perumahan elite ini memang berada di tengah kota, tapi jalan masuknya sangat rumit, rumah-rumah besar yang berjejer membuatku bingung dan sulit menghafal setiap gang.
Aku memasuki rumah dengan lesu, lelah rasanya seharian berkebun sendiri, apalagi di kunjungi oleh mak lampir yang datang tak di undang, pulang tak diantar, sungguh menguras emosiku hari ini.
"Kau sudah pulang?" tanya tuan Arga menyambutku di depan kamar.
"Ya." Aku menjawab tanpa menoleh, hari ini begitu melelahkan, aku tidak ingin ada masalah.
"Kau kemana saja, Joe bilang kau tidak ada di butik." Dia mengikutiku masuk ke dalam kamar.
"Saya menunggunya di depan caffe, saya tidak melihatnya datang, jadi saya tidak tau," ucapku melepas sepatu dan duduk di depan cermin.
"Joe sangat mengkhawatirkanmu," lanjutnya.
"Benarkah?" Aku menoleh memandangnya.
"Ya, sepertinya dia begitu perhatian padamu."
"Mungkin hanya perasaan tuan saja," ucapku santai.
"Entahlah, tapi aku berpikir dia begitu tertarik padamu," ucapnya sambil berjalan menuju sofa favoritnya.
Bukannya kau sendiri yang bilang kalau aku ini tidak cantik, keriting dan bukan idaman banyak laki-laki. Mana mungkin sopirmu yang berwajah tampan nan imut-imut itu tertarik padaku, mungkin pikiranmu sedang agak goyang, Tuan.
Aku bergegas menuju kamar mandi, badan sudah terasa lengket dan gatal karena seharian berkeringat.
Usai mandi, aku dan tuan Arga makan malam hanya berdua saja, kami tidak saling menyapa di meja makan, entah apa yang merasukinya, dia sedari tadi hanya diam dan makan tanpa merepotkanku, tapi ini sebuah keuntungan bagiku.
Kami kembali menuju kamar, aku mengganti piyama panjangku dengan lingerie seperti biasa, namun lagi-lagi tuan Arga seperti sedang tidak ingin menggoda ataupun berkomentar, ada yang aneh jika dia hanya diam seribu bahasa seperti ini, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Aku gelisah tidak bisa tidur, dia juga terlihat menatap nanar langit-langit kamar, entah apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya.
"Tuan," ucapku membuyarkan lamunannya.
"Ya."
"Tuan belum ngantuk, mau saya buatkan susu hangat?" Aku menawarinya dengan sukarela.
"Tidak perlu, aku sedang tidak ingin," ucapnya datar.
"Baiklah." Lalu aku kembali berbaring membelakanginya.
Suasana hening diantara kami membuat pikiranku berlarian kesana kemari mencari tau tentang laki-laki di belakangku yang sedang diam tak bersuara.
Apakah dia memikirkan wanita simpanannya ya, apa dia tau kalau nona Hana mendatangiku, apa dia khawatir hubungan gelap mereka terbongkar olehku.
Pikiranku menebak-nebak tidak tentu.
"Kita akan berangkat bulan madu minggu depan, ambil libur kerja beberapa hari." Akhirnya dia bersuara setelah berjam-jam membisu.
"Kemana?" tanyaku tanpa menoleh.
"Singapore atau Paris."
Wah, benarkah aku akan pergi ke luar negri, ini seperti mimpi bagiku. Sayangnya dalam mimpiku, aku tidak pergi dengan laki-laki sepertimu, hah.
Ada perasaan bahagian yang membuncah, namun di setiap kebahagiaan yang datang selalu ada ketakutan yang menyelinap dalam kalbu. Tentu saja ketakutan itu karena acara pergi ke luar negri aku lakukan dengan manusia paling menyebalkan di muka bumi yang pernah aku kenal, sialnya lagi dia adalah suamiku saat ini.
"Kau senang?" ucapnya lembut, lalu berbaring mendekatiku.
"Ya," jawabku pura-pura cuek, aku akan kehilangan muka kalau sampai terlihat begitu bahagia dan bersemangat untuk pergi bulan madu dengannya.
"Bagus, mulai besok akan ada sopir yang mengantarmu dan menunggumu di butik sampai kau pulang," lanjutnya.
"Apa?" Seketika aku membalik badanku bertatapan muka dengannya.
"Kenapa kau terkejut, kau tidak suka?"
"Terlalu berlebihan kalau sampai sopir itu menungguku seharian di butik."
"Tidak apa-apa, dia bisa menjadi karyawan tambahanmu di butik, aku yang membayarnya." Dia menjawab enteng.
"Aku bisa memesan taxi online untuk langganan." Aku masih berusaha menolak.
Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada karyawanku kalau sampai tiba-tiba aku menjadi tuan putri yang memiliki sopir pribadi, apalagi dengan Riani, dia pasti akan menagih penjelasan panjang lebar dariku, dia kan selalu ingin tau.
"Sudahlah, Joe sudah mengatur semuanya."
"Apakah tuan Joe yang memberikan ide gila itu padamu, Tuan?"
"Tentu saja, siapa lagi yang lebih perhatian padamu selain dia," ucapnya lalu kembali terlentang.
"Itu karena saya adalah istri tuan, jadi mungkin dia juga ingin memperlakukan saya sebagaimana mestinya dia memperlakukan istri boss-nya." Aku mencoba mengutarakan pemikiranku.
Dia mengangkat bahu dengan bibir mencebik.
Lalu aku kembali berbaring miring membelakanginya, kantuk sudah menyerangku dari berbagai arah, hujan rintik-rintik di luar sana membuat udara sejuk meraba kulit dengan lembut, kemudian mata ini terpejam begitu saja setelah kesunyian mulai menerpa.
...
Pagi ini aku bangun lebih aawal, karena tidurku yang nyenyak dan leluasa tanpa pelukannya, jadi aku bisa bangun lebih pagi darinya.
Saat aku dan tuan Arga keluar kamar untuk sarapan, ternyata sudah ada tuan Joe yang datang, dia sudah sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan diatas meja ruang tengah sambil matanya fokus membaca sekilas tiap tulisan yang ada dalam kertas yang di pegangnya.
"Selamat pagi, Joe," sapa tuan Arga sambil mengancingkan lengan kemeja hitamnya.
"Selamat pagi, Boss."
"Ayo, kita sarapan dulu, nanti aku akan membantumu," ajak tuan Arga.
"Baiklah." Lalu tuan Joe beranjak mengikuti kami menuju meja makan.
Usai sarapan, mereka memperkenalkanku pada seorang laki-laki yang usianya mungkin seumuran dengan tuan Joe dan tuan Arga, penampilannya sangat rapi, memakai kaos berwarna hitam ketat dengan celana hitam kain yang sedikit longgar, jika di lihat-lihat mirip seperti penampilan seorang bodyguard, tidak ada gurat senyum yang terlukis di wajahnya, datar, benar-benar datar seperti tiada tanda-tanda kehidupan.
"Apa dia sopirku?" tanyaku sedikit ragu karena melihat raut wajah seram laki-laki di hadapanku.
"Ya," ucap tuan Arga.
"Namanya Bimo, dia akan menjadi supir sekaligus pengawalmu."
"Apa? aku tidak butuh pengawal." jawabku ketus.
"Aku tidak membutuhkan pendapat darimu, dan aku juga tidak menerima penolakan." ujar tuan Arga.
Sial sekali hidupku, jadi mulai hari ini aku akan di intai selama tidak bersamamu, maksudmu begitu?
Rasa kesal sudah menggerogoti seluruh jiwaku, ingin rasanya memaki tuan Arga tepat di depan wajahnya sampai aku puas meluapkan amarah yang sudah menumpuk setinggi gunung himalaya.
Akhirnya aku kembali menuju kamar, mengemasi beberapa barang yang harus aku bawa dan segera kembali bekerja agar tidak melihat manusia menyebalkan itu, sebelum kewarasanku semakin hilang dibuatnya.
Kenapa kau selalu saja berbuat sesuatu tanpa meminta persetujuan dariku dulu, kenapa kau selalu saja seenaknya sendiri sih, Apa kau pikir aku ini anak kecil yang butuh pengasuh?
Bagaimana reaksi Riani dan orang-orang butik kalau sampai tau aku memiliki sopir sekaligus bodyguard menyeramkan seperti itu, tuan Arga, kau benar-benar membuat hidupku semakin sulit dan rumit.
Sepanjang langkah kaki dari kamar sampai keluar rumah, aku terus saja menyumpahi laki-laki gila itu, sungguh aku akan tertular penyakit gila ini, bahkan aku bisa lebih gila darinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Terimakasih sudah menjadi readers setiaku, selalu dukung Author dengan meninggalkan like di setiap bab dan memberi komentar yang mendukung ya, ILY 3000 ❤️
semoga suka, sama kayak novel othor yg lainnya,,,,
🥰🥰🥰🥰
.justru klo hamil nanti Arga JD makin sayang
.walopun mulutnya Kdng sesuka
hati nya ..kamu hidup dalam kemewahan kok