Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil mewah Rizal perlahan memasuki halaman rumah.
Dengan sangat hati-hati, Rizal membantu Hayu turun, bahkan hampir ingin membopongnya jika saja Hayu tidak bersikeras ingin berjalan pelan.
Mereka sampai di rumah dan Rizal sudah menyiapkan kejutan di kamar mereka yang pindah di bawah selama kehamilan Hayu.
Rizal perlahan membuka pintu kamar utama yang baru saja ia pindahkan ke lantai dasar.
"Surprise, Sayang!" ucap Rizal lembut.
Begitu pintu terbuka, Hayu terpana. Kamar itu bukan sekadar pindah lokasi, tapi sudah didekorasi ulang dengan sangat cantik.
Rizal telah menyiapkan kasur yang jauh lebih empuk dengan banyak bantal sandaran agar Hayu nyaman saat bedrest.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah buket bunga lili putih kesukaan Hayu yang mengharumkan seluruh kamar.
Yang paling menyentuh hati adalah sebuah rak kecil berisi buku-buku tentang kehamilan dan beberapa perlengkapan bayi yang sudah mulai Rizal cicil, tertata rapi di samping tempat tidur.
"Mas, ini semua kamu yang siapkan?" tanya Hayu terharu, matanya mulai berkaca-kaca melihat perhatian suaminya yang begitu detail.
"Iya, aku tidak ingin kamu naik turun tangga lagi. Di sini akses ke mana-mana lebih mudah, dan aku bisa menjagamu lebih baik," jawab Rizal sambil membimbing Hayu duduk di tepi ranjang.
"Mulai sekarang, kamar ini adalah kerajaanmu. Kamu cukup istirahat dan bahagia saja."
Hayu memeluk Rizal erat, merasa sangat beruntung memiliki pelindung seperti suaminya.
Meskipun cobaan dengan ibunya masih membekas, kenyamanan rumah dan kasih sayang Rizal membuat semua itu terasa jauh di belakang.
Setelah beristirahat sejenak di kamar baru mereka, aroma lezat mulai tercium dari arah ruang makan.
Pelayan sudah menyiapkan makanan untuk Hayu dan Rizal, berbagai menu sehat telah tersaji rapi di atas meja.
Saat mereka duduk bersama, Rizal menatap hidangan itu, lalu menatap istrinya dengan tatapan manja yang jarang ia tunjukkan di kantor.
"Aku kangen cumi asam manis kamu, Sayang. Tapi kamu sedang hamil, harus banyak istirahat.
Jadi aku makan apa yang ada saja ya," ucap Rizal sambil tersenyum tipis, mencoba menahan keinginannya karena tidak ingin merepotkan
Hayu yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Mendengar itu, hati Hayu tergerak.
Ia tahu suaminya sudah sangat lelah menjaganya dan menuruti segala ngidamnya yang aneh-aneh.
Hayu tidak ingin membuat suaminya kecewa, maka dengan gerakan pelan namun pasti, ia bangkit dari kursi dan langsung ke dapur.
"Sayang! Kamu mau ke mana? Kamu harus bedrest!" seru Rizal panik sambil ikut berdiri.
"Sebentar saja, Mas. Aku hanya ingin memasak cumi untukmu. Aku kuat, kok," jawab Hayu menenangkan.
Ajaibnya, saat mulai mengolah bumbu, memotong bawang, dan memasukkan cumi ke dalam wajan, tidak ada rasa mual ataupun lelah yang ia rasakan.
Biasanya aroma makanan yang menyengat akan membuatnya mual, tapi kali ini ia justru merasa sangat bersemangat sampai masakan sudah selesai.
Mungkin ini adalah kekuatan cinta seorang istri, atau mungkin si kecil di dalam kandungan tahu bahwa ayahnya sedang sangat menginginkan masakan ibunya.
Hayu kembali ke meja makan dengan piring berisi cumi asam manis yang masih mengepul panas dan terlihat sangat menggoda.
"Ini dia, cumi asam manis spesial untuk suamiku yang paling sabar," ujar Hayu sambil meletakkan piring itu di depan Rizal.
Rizal tertegun, matanya berbinar haru. "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar luar biasa. Tapi setelah ini, janji ya, kamu harus langsung kembali rebahan!"
Melihat piring cumi asam manis yang masih mengepul itu, Rizal tidak bisa lagi menahan seleranya.
Ia segera mengambil nasi hangat dan menyiramkan saus asam manis buatannya ke atas nasi.
Rizal sangat lahap memakan masakan Hayu sampai tidak bersisa.
Setiap suapan seolah membayar tuntas rasa lelahnya selama berjaga di rumah sakit.
"Ini benar-benar enak, Sayang. Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa masakan kamu," puji Rizal di sela-sela makannya dengan wajah yang tampak sangat puas.
Melihat suaminya makan dengan begitu antusias, nafsu makan Hayu pun ikut bangkit.
Padahal biasanya ia sangat sensitif terhadap aroma makanan laut saat hamil, namun kali ini keadaannya berbeda.
Begitu juga dengan Hayu, ia ikut menikmati hasil masakannya sendiri dengan tenang.
Rasa gurih dari cumi dan kesegaran saus asam manisnya terasa sangat pas di lidahnya, tanpa memicu rasa mual sedikit pun.
Mereka berdua makan dalam suasana yang damai, sejenak melupakan semua drama dan ketegangan yang terjadi belakangan ini.
Setelah kedua piring benar-benar bersih, Rizal meletakkan sendoknya dan menghela napas lega sambil mengelus perutnya.
"Alhamdulillah. Akhirnya, perut Mas merasa sangat tenang sekarang," ujar Rizal sambil tersenyum lebar.
Ia kemudian berdiri dan menghampiri Hayu, mengecup keningnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih untuk makanannya, Sayang. Tapi ingat janji kita tadi, sekarang Mas akan bopong kamu kembali ke kamar untuk lanjut bedrest total. Tidak ada bantahan lagi, ya?"
Hayu hanya bisa tertawa kecil dan mengangguk, membiarkan suaminya kembali menjadi sosok pelindung yang siap memanjakannya sepanjang hari.
Rizal perlahan membopong Hayu kembali ke kamar baru mereka di lantai bawah.
Setelah merebahkan istrinya dengan sangat hati-hati dan memastikan posisi bantalnya sudah nyaman, Rizal ikut berbaring di sampingnya.
Sambil menatap wajah Hayu yang tampak jauh lebih tenang, Rizal mengulurkan tangannya dan mengelus perut istrinya dengan gerakan melingkar yang sangat lembut.
Ia seolah ingin menyapa buah hati mereka yang sedang tumbuh di dalam sana.
"Anak pintar, terima kasih sudah tidak membuat Bunda mual hari ini ya," bisik Rizal tepat di depan perut Hayu.
Rizal kemudian teringat sesuatu. Ia mengambil sebuah buku dari rak yang baru ia siapkan tadi.
Kemudian ia membawakan dongeng untuk Hayu dan calon bayi mereka.
Suara Rizal yang berat namun lembut mulai mengalun, membacakan kisah tentang petualangan yang penuh kedamaian.
Irama suara Rizal yang tenang bertindak seperti melodi pengantar tidur.
Perlahan, mata Hayu mulai terasa berat. Kehangatan tangan Rizal di perutnya dan suara suaminya yang membacakan cerita membuatnya merasa sangat aman dan dicintai.
Tak butuh waktu lama, napas Hayu mulai teratur dan Hayu tertidur pulas.
Rizal menutup bukunya perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram.
Sebelum ikut memejamkan mata, ia mengecup kening Hayu sekali lagi, bersyukur bahwa hari yang penuh drama ini berakhir dengan ketenangan di rumah mereka sendiri.
Pagi yang seharusnya tenang itu seketika berubah tegang.
Keesokan paginya, dimana Rizal membuka matanya dan melihat istrinya yang masih tertidur pulas, ia merasa sangat bersyukur.
Wajah Hayu tampak sangat damai tanpa gurat kesakitan seperti hari-hari sebelumnya.
Dengan gerakan sangat perlahan agar tidak membangunkan Hayu, ia bangkit dan menuju ke dapur untuk meminta pelayan menyiapkan sarapan sehat dan air hangat untuk istrinya.
Namun, belum sempat ia memberikan instruksi, petugas keamanan mengetuk pintu samping dengan wajah cemas.
Petugas itu mengatakan ada seorang wanita marah-marah mencari Hayu di depan gerbang utama.
Wanita itu berteriak-teriak menyebut Hayu anak durhaka dan menuntut untuk bertemu.
Rizal langsung tahu siapa wanita itu. Rahangnya mengeras, dan tatapannya berubah menjadi sangat dingin.
Ia tidak ingin keributan ini sampai terdengar oleh Hayu yang sedang butuh ketenangan total.
Rizal menganggukkan kepalanya dan ia keluar untuk menemuinya.
Begitu sampai di gerbang, ia melihat seorang wanita paruh baya yang tampak emosional sedang mencoba menerobos penjagaan. Itu adalah ibu kandung Hayu.
"Mana Hayu?! Suruh dia keluar! Berani-beraninya dia memblokir nomor ibunya sendiri setelah jadi orang kaya!" teriak wanita itu.
Rizal berdiri tegak di depan ibu mertuanya dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Cukup!!" ucap Rizal dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Jangan berteriak di depan rumah saya. Istri saya sedang sakit dan butuh istirahat total. Jika Anda ingin bicara, bicara dengan saya, jangan mencari Hayu."
Ibu Hayu tertegun sejenak, melihat sosok pria gagah di depannya yang jauh dari bayangan pria biasa yang ia kira telah menikahi putrinya.