Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan
Siang itu, kantin kampus seakan tak pernah kehabisan denyut kehidupan. Derap langkah mahasiswa yang lalu-lalang, suara kursi yang diseret tergesa, tawa yang meledak tanpa beban, hingga seruan para penjual yang menawarkan menu siang bercampur menjadi satu kebisingan yang justru terasa akrab. Udara dipenuhi aroma gorengan hangat, mi rebus, bakso dan jajanan lain...aroma sederhana yang selalu menjadi saksi bisu lelah dan mimpi anak-anak kampus.
Di salah satu sudut kantin, Shaqila duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Di hadapannya, segelas es teh manis berdiri nyaris utuh. Es batunya mulai mencair, meninggalkan jejak embun di sisi gelas yang dingin. Sedotan di tangannya berputar pelan, berulang-ulang, tanpa tujuan jelas...seperti gerakan refleks seseorang yang tengah berusaha menenangkan pikiran yang gaduh.
Wajah gadis itu sekilas terlihat tenang, nyaris tak ada yang janggal. Namun jika diperhatikan lebih lama, sorot matanya berkata lain. Mata itu, yang biasanya jernih dan hidup, kini tampak redup. Pandangannya menembus keramaian kantin, tapi seolah tak benar-benar melihat apa pun. Ia ada di sana, duduk di bangku plastik yang sama dengan ratusan mahasiswa lain, namun pikirannya terasa jauh.
Di seberangnya, Siska duduk dengan energi yang kontras. Begitu nampan makanannya diletakkan di atas meja, gadis itu langsung mencondongkan tubuh ke depan. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, senyumnya merekah lebar....senyum seseorang yang membawa kabar atau pertanyaan yang sudah lama mengendap di ujung lidah.
"Qil," panggilnya, suaranya sedikit diturunkan namun sarat antusiasme. "Gimana? Ada perkembangan nggak sama kak Arga? Kata lo kemarin kan, kalian mau date,"
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Siska...ringan, tanpa beban. Namun bagi Shaqila, satu kata itu terasa seperti batu kecil yang menghantam tepat di dadanya.
Gerakan tangannya terhenti. Sedotan berhenti berputar. Bahunya menegang sekilas sebelum akhirnya jatuh lagi ke posisi semula. Shaqila menghela napas pelan, lalu menunduk, seolah sedang merapikan sesuatu di atas meja...padahal yang ingin ia rapikan adalah ekspresi yang tiba-tiba goyah.
Siska langsung menangkap perubahan itu. Senyumnya memudar, digantikan kerutan kecil di antara alis.
"Eh… kenapa?" tanyanya lebih hati-hati. "Kok wajah lo kusut?"
Shaqila tersenyum tipis. Senyum itu tidak sepenuhnya palsu, tapi jelas bukan senyum yang lahir dari kegembiraan. "Sis… jangan bahas dia dulu, ya."
Siska memiringkan kepala. "Loh? Kenapa?" Ia makin mendekat, suaranya merendah. "Lo berantem dengan kak Arga?"
Shaqila terdiam mendengar itu. Matanya jatuh pada permukaan meja kantin yang penuh goresan bekas waktu...nama-nama yang diukir sembarangan, simbol hati yang setengah terhapus. Lalu, dengan suara lebih pelan, lebih rapuh, ia mulai bercerita.
Tentang Arga yang datang dengan cara yang begitu meyakinkan. Tentang pesan-pesan panjang yang membuatnya merasa diperhatikan. Tentang perhatian kecil yang terasa besar karena datang di saat ia sedang lelah, tertekan oleh skripsi.
Gadis itu akhirnya menceritakan semuanya kepada Siska. Tentang Arga yang ternyata memiliki kekasih. Yaitu Tasya sepupunya sendiri. Mereka LDR karena Tasya kuliah keluar negri, sampai pada akhirnya Tasya kembali dan Arga sama sekali tidak pernah berkata apa-apa pada sejak kejadian terakhir itu. Bahkan di ponsel pun tidak pernah.
Siska mendengarkan dengan wajah yang perlahan mengeras.
Mata Siska membelalak. "Hah? Serius, Qil?"
Shaqila mengangguk pelan. Kini air mata jatuh lagi diwajahnya. Ia masih sedih mengingat kejadian itu.
Siska mendecak keras, tangannya mengepal di atas meja. "Gila! gue dulu sempat ngefans sama dia juga. Anak BEM, kelihatannya dewasa, sopan. Ternyata cih-".
"Astaga," Siska menggeleng kesal. "Gue kesel banget. Lo tuh nggak salah apa-apa, Qil. Seharusnya dari awal dia nggak usah kasih harapan kalau udah punya pacar. Pengen banget gue geprek tuh orang."
Shaqila tertawa kecil, getir. "Tidak papa kok Sis, gue juga yang bodoh. Terbawa suasana."
Tak jauh dari mereka, di dekat penjual minuman, Rayhan berdiri dengan sebotol air mineral di tangannya. Niat awalnya sederhana...membeli air, lalu kembali ke ruang dosen. Namun langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja mendengar suara Shaqila.
Ia memunggungi mereka, berpura-pura memeriksa ponsel. Namun kata demi kata yang meluncur ke telinganya membuat tubuhnya enggan bergerak. Tentang Arga, tentang kekecewaan, tentang harapan palsu.
Dada Rayhan mengencang perlahan.
Jadi inilah alasan di balik sorot mata Shaqila yang belakangan sering kosong. Sering menangis tengah malam hingga sakit.
Tangannya menggenggam botol air itu lebih erat dari seharusnya. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya...perasaan yang sulit ia beri nama. Bukan sekadar iba. Ada amarah tipis yang mengalir pelan, tertuju pada laki-laki yang berani mempermainkan hati gadis itu.
Rayhan menarik napas panjang, lalu melangkah pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sana. Tak ingin mempertanyakan kenapa cerita itu memengaruhinya sedalam ini.
...***...
Malam datang dengan tenang. Lampu ruang makan menyala lembut, memantulkan bayangan dua orang yang duduk berhadapan di meja makan. Hidangan sederhana tersaji rapi...sup hangat, tempe goreng dan ikan nila goreng, dam sambal terasi. Uap tipis masih mengepul, membawa kehangatan yang kontras dengan keheningan di antara mereka.
Shaqila duduk menyuap makanannya perlahan. Namun pikirannya jelas tak sepenuhnya hadir. Ada jeda-jeda kosong di antara tiap gerakan, seolah pikirannya tertinggal di siang tadi...saat ia curhat dengan Siska. Tentang rasa kecewa yang belum sepenuhnya reda.
Rayhan memperhatikannya diam-diam. Setiap helaan napas kecil, setiap tatapan kosong, semuanya tertangkap olehnya. Keheningan ini bukan hal baru, tapi malam ini terasa berbeda...lebih padat, lebih sarat makna.
''Besok..." ucap Rayhan akhirnya, memecah sunyi. "Kau ada jadwal apa?"
Shaqila tersentak kecil. "Besok?" ia berpikir sejenak. "Nggak ada yang penting, pak. Paling lanjut revisi skripsi."
Rayhan terdiam sesaat, lalu berkata, “Besok kita ke pantai.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tenang, tanpa penekanan. Namun dampaknya langsung terasa.
Shaqila membeku. "Ke… pantai?"
"Liburan," lanjut Rayhan. “Sehari saja. Supaya pikiran kau lebih segar. Agar lebih memudahkan otakmu membuat skripsi."
Beberapa detik berlalu sebelum Shaqila benar-benar mencerna kata-kata itu. Lalu perlahan, wajahnya berubah. Senyum muncul...bukan senyum sopan, bukan senyum yang dipaksakan, tapi senyum yang jujur dan lepas.
"Serius, pak?" tanyanya, nyaris tak percaya.
Rayhan mengangguk.
"Ya Allah," Shaqila terkekeh kecil. "Saya sudah lama banget nggak liburan."
Melihat reaksi itu, ada desiran aneh di dada Rayhan. Hangat...lembut. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat...sangat tipis, nyaris tak terlihat.
Namun senyum itu ada.
Hai hai hai guys,
Kembali lagi bersama Author,
Seperti biasa, jangan lupa like, komen, vote, dan bintang lima ya guys🤗
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih