"Kamu dan ayah adalah paket kombinasi paling menyebalkan di dunia. Kalian merantaiku dan mengikutiku kemana-mana." Ameera.
"Bila perlu aku akan menjadi Kutumu." Rangga.
Cinta tidak selamanya harus memiliki. Inilah yang terjadi pada Rangga. Baginya menjaga dalam persahabatan adalah bentuk lain dari cinta tanpa harus memiliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka Ameera
Ameera sedang menatap foto masa kecilnya bersama ayah dan ibunya, yang menggantung di dinding kamarnya. Ia tenggelam dengan kenangan masa lalunya dimana disaat itu, ia belum mengenal kata kehilangan.
Lampu kamar yang temaram membuat Ameera semakin larut dalam kesedihannya. Ia merasa sangat terpuruk dengan keadaannya.
Ia ingat dengan Rangga, selama ini disaat dirinya sedang sedih, hanya Rangga yang mampu menghiburnya. Tapi kenyataannya sekarang Rangga tidak ada bersamanya.
Ozan bersama ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan malam tahlilan untuk Rudianto yang akan mulai besok sampai tujuh hari kedepan. Selama tahlilan belum selesai, mereka semua akan tinggal sementara dirumah Ameera untuk menemaninya. Mereka tidak ingin Ameera sendirian dimasa-masa sulitnya.
Setelah itu Ozan menceritakan kepada Hasan tentang bukti kejahatan Hendri yang sudah diserahkan kepada pihak berwajib. Hasan merasa lega karena setelah Hendri di tangkap dan di penjara, hidup Ozan dan Ameera akan berjalan normal tanpa perlu dijaga dengan pengawalan ketat. Ozan tidak mengatakan pada ayahnya bahwa Rangga adalah anak Hendri, karena dia tau Rangga anak yang baik, dan tidak terlibat dalam kejahatan ayahnya.
Malam sudah larut. Hasan dan Zarima menempati kamar tamu, sedangkan Ozan memilih tidur dikamar Rudianto.
Saat hendak masuk kekamar, ibunya memanggil.
"Ozan, mau kemana kamu?" Tanya Zarima ketika melihat Ozan akan memasuki kamar Rudianto
"Mau tidur, Mah. " jawab singkat.
"Kenapa kamu kekamar itu? kamar Ameera kan diatas. Kamu temani ameera, kasihan dia sendirian!"
Zarima menunjuk pintu kamar Ameera yg terletak di lantai dua namun terlihat dari arah ruang tamu.
"Aku gak mau ganggu Ameera Mah, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri." Ozan lalu masuk ke kamar Rudianto, membaringkan tubuhnya yang lelah diatas kasur.
Setelah membolak-balikkan posisi tidurnya, Ozan tetap tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya terus tertuju pada Ameera. Ia pun keluar dari kamar dan hendak menuju kamar Ameera. Tapi sebelumnya, Ozan kedapur dulu membuat susu hangat untuk Ameera.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar. Ameera masih duduk mematung disisi tempat tidurnya tanpa menghiraukan suara ketukan pintu.
"Ameera, kamu sudah tidur belum? Aku masuk ya..." ucap Ozan dari balik pintu. Karena tidak ada jawaban, Ozan masuk kekamar dan mendapati Ameera masih duduk melamun. Ia menghampirinya dan duduk disebelahnya. Ozan meletakkan segelas susu di atas meja.
Ozan merangkul bahu Ameera dan menyandarkan kepala Ameera dibahunya. Sesekali ia membelai lembut kepada Ameera.
"Kamu tidur, ya... nanti kamu sakit. " Ameera mengangguk pelan. Ozan memberikan susu hangat yang dia buat untuk Ameera. Dengan sekali teguk Ameera menghabiskan susunya. Setelah itu, Ozan membantunya berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
"Aku akan keluar dari sini setelah kamu tidur." ucap Ozan lembut. Tak lama kemudian Ameerapun tertidur. Ozanpun kembali kekamar Rudianto untuk tidur.
***
Satu minggu kemudian...
Malam tahlilan untuk ayah ameera telah selesai. Hasan dan Zarima sudah pulang kerumah terlebih dahulu karena sudah satu minggu ini menginap dirumah Ameera. Sementara Ozan dan Ramon pergi ke kantor polisi karena mendapat laporan Hendri telah ditangkap.
Selama seminggu ini Ameera banyak diam dan hanya mengurung diri dikamar. Semangat hidupnya seperti meredup. Ameera pergi ke balkon rumahnya, menatap langit yang dipenuhi taburan bintang. Rasa sedih masih menguasai hatinya.
Malam itu Rangga datang menjenguk Ameera. Karena dia tahu Ameera akan tinggal dirumah Ozan setelah malam tahlilan ayahnya selesai. Sementara minggu depan, Rangga akan berangkat keluar negeri untuk mengurus pendaftaran kuliahnya.
"Bu, Ameera mana ya?" Tanya Rangga kepada Bu Yani saat pintu terbuka.
"Ameera lagi di balkon." Jawab Bu Yani
" Rangga, tolong kamu hibur dia. Kasihan Ameera. Seminggu ini dia kelihatan murung dan tidak mau bicara. Makan juga sedikit. Kamu mengenal Ameera lebih dari siapapun. Mungkin kamu bisa membujuknya." Kata Bu Yani panjang lebar.
"Baiklah Bu, aku keatas dulu, ya... Kebetulan aku bawa martabak kesukaan Ameera"
Lalu Rangga menaiki tangga menuju lantai atas. Dilihatnya Ameera sedang duduk di kursi ayunan yang terletak di balkon rumah.
Rangga datang membuyarkan lamunan Ameera.
"Kalau sedih itu nangis, biar perasaan nya lega, "
Amera tergelak, kaget dengan kemunculan Rangga yang tiba-tiba. Tapi kemudian Ameera kembali menatap langit.
"Aku bawakan martabak kesukaan kamu. " sambil menyerahkan kantongan ditangannya. Ameera hanya melihatnya tanpa berniat mengambilnya.
Rangga kemudian ikut duduk di ayunan disamping Ameera. Membuka kardus pembungkus martabak, lalu menyuapkan kepada Ameera.
"Nih, aku suapin ya."
ameera menolak.
"Aku gak lapar. " ucap Ameera datar.
"Apa mogok makan ampuh untuk menghilangkan kesedihan?" Tanya Rangga.
Ameera menjawab dengan menggeleng. Rangga menatap Ameera.
"Kalau mogok makan gak bisa menghilangkan sedihmu, ngapain kamu mogok makan?" lanjut Rangga.
Tanpa menunggu lama Ameera memakan martabak kesukaannya yang dibawa oleh Rangga.
"Kenapa rasa nya gak enak, ya?" Masih sambil mengunyah.
"Perasaan kamu yang lagi gak enak, bukan makanannya." Ameera kemudian mmakan martabak itu dengan lahap. Tidak lama kemudian, Bu Yani datang membawakan minuman untuk Rangga. Ia juga membuatkan jus untuk Ameera. Setelah nya, Bu Yani kembali turun ke lantai bawah.
"Aku juga bawakan ini!" Rangga menyerahkan lollypop kepada Ameera. Melihat lollypop ditangan Rangga, Ameera tersenyum kecil. Ia teringat masa kecilnya, ketika sedih, Rangga akan memberikan permen lollypop untuknya. Itulah alasan mengapa Rangga sering memanggilnya lolly.
"Lolly, kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri. Makanya aku kesini supaya kamu bisa membagi dukamu sama aku."
"Aku gak mau lemah, Rangga. Ayah bilang aku harus kuat" sahut Ameera dengan suara yang lemah.
"Kamu tau gak, kadang-kadang menangis itu menghapus sebagian duka kita. Menangis gak selamanya membuat kita kelihatan lemah Kok. Kamu menelan semua luka yang kamu rasakan sendirian. Itu bukan kuat Ameera, itu namanya egois"
Mendengar kata-kata Rangga, mata Ameera mulai berkaca-kaca.
"Biarkan air matamu yang menghapus semua duka yang ada dihatimu." Rangga merangkul bahu Ameera dan menyandarkan Ameera dibahunya.
Tangis Ameera pecah untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya. Tangisan yang terdengar sangat pilu. Sementara Rangga terus merangkul bahunya. Sesekali mengusap punggungnya memberinya kekuatan.
"Menangislah sampai air mata kamu mengering. Kamu akan lebih baik dengan menangis."
Ameera terus menerus menangis dengan suara lirih.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Ozan sedang memperhatikan Ameera dan Rangga. Terlihat gurat cemburu diwajahnya melihat istrinya bersama Rangga. Ada sedikit rasa kecewa, karena Ameera sudah menjadi istrinya, tapi lebih nyaman menumpahkan kesedihannya dihadapan Rangga.
Lagi-lagi ia harus melupakan egoisnya. Ia pikir Ameera memang lebih nyaman dengan Rangga karena mereka sudah berteman sejak kecil. Ia membiarkan Ameera menangis dan bersandar di bahu Rangga, setidaknya sampai Ameera merasa lebih baik. Mungkin saat ini hanya Rangga yang mampu mengurangi duka dihati Ameera. Ia terus menunggu dibalik pintu.
Setelah dirasa Ameera sudah cukup puas menangis, Ozan menghampiri mereka.
"Ameera...!" Ozan sudah ada dibelakang Ameera
Ameera tersentak kaget, lalu berbalik. Dilihatnya Ozan yang berada di belakang nya. Sementara Rangga tidak memperlihatkan reaksi apapun.
Sadar akan posisinya, Rangga beralih berdiri didepan Ameera
"Ayo kita pulang." Ozan mengajak Ameera pulang ke rumahnya
"Aku belum siap-siap, " kata Ameera
"Kamu gak perlu bawa apa-apa. Semua keperluan kamu sudah disiapkan di rumah."
Ameera lalu berdiri, beranjak menuju ke kamarnya.
"Gue mau bawa Ameera pulang ke rumah gue, kalau lu mau nengokin Ameera, boleh kok. Lu ke rumah gue aja" kata Ozan kepada Rangga.
"Cukup jaga Ameera, jangan biarkan dia sendiri. Ameera itu rapuh. Dia gak sekuat yang kita lihat." Rangga menghela nafas
" Ya sudah, gue duluan, ya" Rangga lalu meninggalkan rumah Ameera.
Sementara di kamarnya, Ameera sedang duduk di tepi ranjangnya.
Ia mengambil sebuah foto kecil yang terbingkai, terletak di meja nakas di kamarnya. Foto dirinya saat masih kecil bersama ayah dan ibunya.
Ia hanya akan membawa foto tersebut bersama nya.
Ameera dan Ozan pun pulang ke kediaman Chandra Jaya setelah berpamitan dengan bu Yani.
kalo dia bawa warisan dari pak Hasan, boleh deh aku yg adopsi Rangga
😂😂😂
makin rumit thor