Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Sisi mengacak rambutnya dengan kesal. Sejak semalam ia membaca pesan dari Raja Neraka itu, dan sialnya, ia sama sekali tidak bisa melupakannya.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Besok Lucien akan pulang.
Sisi benar-benar tidak tahu bagaimana harus menghadapinya nanti. Bisa saja pria itu menyemburkan api karena amarahnya, atau yang lebih buruk, mewujudkan ancaman dalam pesannya.
Atau mungkin…
Astaga, apa yang ia pikirkan? Tidak mungkin itu terjadi!
TOK! TOK!
Dua ketukan di pintu menghentikan Sisi yang sejak tadi berguling gelisah di atas tempat tidur.
Ia membuka pintu, dan wajah Lyra langsung menyambutnya.
“Ada apa?” tanya Sisi ketus.
Ia bahkan belum turun sarapan, belum mandi, dan benar-benar sedang malas menghadapi dunia.
“Lucien terus meneleponku. Dia bertanya kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi,” keluh Lyra sambil manyun.
Sisi menggaruk tengkuknya. Baru sekarang ia ingat ponselnya rusak gara-gara ulah kakak Lyra yang menyebalkan itu.
“Rusak,” jawab Sisi singkat.
“Halo, Lucien, kau dengar, kan? Rusak… iya… baiklah. Dadah.”
Mulut Sisi langsung menganga.
“Lyra… kau sedang menelepon Lucien?” tanyanya kaget.
Lyra mengangguk santai “Dia bilang kau harus beli ponsel baru.”
Sisi hanya mengangguk. Padahal ia tidak punya rencana keluar hari ini. Ia ingin memanfaatkan waktu di kamar Lucien selagi pria itu belum pulang, karena ia tahu, setelah Lucien kembali, ia tidak akan bisa tidur di sana lagi.
***
Dengan jubah mandi masih melekat di tubuhnya, Sisi keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian. Ia memilih kaus putih dan celana jeans berpinggang tinggi, dipadukan dengan Converse hitam. Rambutnya diikat tinggi, lalu ia memakai bedak tipis dan lip tint.
Sempurna.
“Ibu, aku mau keluar sebentar. Ada yang perlu dititipkan?” pamit Sisi ketika bertemu Lady di ruang tamu.
“Cantik sekali, Nak. Tidak ada. Hati-hati di jalan, dan jangan pulang terlalu malam. Suamimu pasti menelepon lagi,” pesan Lady.
Sisi tersenyum tipis, mengangguk, lalu pergi.
Begitu duduk di mobil, pikirannya kembali melayang pada pesan Raja Neraka itu. Kesal, ia membenturkan kepalanya pelan ke setir.
“Menyebalkan,” gumamnya.
***
Di toko ponsel, Sisi sudah berputar-putar cukup lama.
“Mau mencoba iPhone terbaru kami, Nona?” tanya pramuniaga dengan senyum profesional.
Mungkin wanita itu menyadari Sisi sudah mondar-mandir sejak tadi.
“Tidak. Itu ponsel egois,” jawab Sisi tanpa menoleh.
“Samsung Galaxy?”
“Itu tidak sopan.”
“Xiaomi?”
“Aku bukan orang Tiongkok.”
“Google Pixel?”
“Aku terlalu pintar.”
“Jadi kau mau beli atau tidak?” Pramuniaga itu akhirnya membentak.
Sisi terkejut. Wanita itu jelas sudah kehilangan kesabaran.
Sisi berbalik dengan senyum manis “Begitu caramu melayani pelanggan?” tanyanya polos.
Pramuniaga itu menatapnya kesal, tangannya mengepal.
“Nona, sepertinya kau tidak benar-benar berniat membeli. Sudah hampir setengah jam kau hanya berkeliling,” ucapnya tajam.
“Aku belum menemukan yang cocok.”
“Makanya aku tawarkan.”
“Masalahnya, aku tidak suka semua tawaranmu,” ujar Sisi dengan senyum menggoda.
Senyum palsu pramuniaga itu langsung menghilang.
“Nona, tolong keluar saja.”
Hah?
“Kau mengusirku?” suara Sisi meninggi. “Aku mau membeli!”
Pramuniaga itu menatapnya dari kepala sampai kaki, lalu tersenyum sinis “Maaf, tapi sepertinya kau tidak mampu membeli ponsel di sini. Lebih baik ke pasar. Lebih murah dan sesuai kemampuanmu.”
Rahang Sisi sempat turun sebelum ia tertawa sarkastis.
“Berikan ponsel termahal di toko ini,” perintahnya tenang.
Pramuniaga itu tidak bergerak.
“Kau tuli? Aku bilang ponsel termahal. Aku bayar sekarang!” bentak Sisi.
“Nona, jangan berpura-pura kaya--”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi pramuniaga itu. Ruangan langsung hening.
Pipi wanita itu memerah. Ia menatap Sisi dengan marah.
“Beraninya kau bicara seperti itu padaku?” bentak Sisi. “Begini caramu melayani pelanggan?”
“Nina, ada apa ini?” Seorang pria berseragam manajer menghampiri mereka.
“Pramuniaga Anda tidak punya sopan santun. Apa aku harus pakai gaun bertabur emas supaya dianggap layak beli ponsel?” teriak Sisi.
Pramuniaga itu tertunduk. Keberaniannya lenyap.
“Berikan aku IPhone terbaru. Dan aku ingin dia dipecat,” ucap Sisi dingin.
“Siapa kau sampai bisa memecatku?” balas pramuniaga itu nekat.
Sisi tersenyum. “Dan kau siapa sampai berani menghina orang?”
Karena terlalu marah, Sisi keluar dari toko dan menyuruh manajer mengirim ponsel ke mansion. Kalau ia bertahan lebih lama, mungkin akan terjadi keributan.
Menyebalkan. Secantik ini dikira miskin.
***
Di perjalanan pulang, mesin mobil Sisi tiba-tiba mati.
Ia turun dan semakin kesal melihat asap mengepul dari kap mesin.
“Luar biasa. Hari keberuntunganku,” gumamnya sarkastis.
Tidak ada ponsel. Tidak ada mobil lewat. Langit bahkan tampak akan hujan.
“Tuhan, aku tidak ada masalah dengan-Mu, kan?” tanyanya ke langit.
“Kau terlihat gila.”
Suara bariton dari belakang membuat Sisi menoleh perlahan.
Pria itu tersenyum lebar.
“Jericho,” gumam Sisi.
Entah kenapa, harapan langsung muncul.
Jericho mendekat “Ada apa?”
“Kelihatan, kan? Mesin mobilku berasap,” ketus Sisi.
Jericho malah tertawa “Galak sekali. Sedang tidak mood?”
“Tidak. Perbaiki saja. Jangan banyak bicara.”
“Wow. Mau menjadikanku montir?” godanya.
Sisi menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“AC-mu terlalu dingin. Mana tombolnya?”
Jericho tertawa lagi.
“Kau lucu.”
“Kau pelupa,” balas Sisi menirukan nadanya.
Jericho kemudian memeriksa mesin mobilnya. Sisi berdiri agak menjauh, merasa canggung.
Inilah rasanya berhadapan dengan mantan yang dulu begitu dekat.
Jericho adalah paket sempurna, kaya, sopan, baik, kadang sombong, dan sangat tampan.
Pria yang hampir semua wanita impikan.