Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pacar Saya
BAb 32
Ucapan terima kasih dan doa bergantian disampaikan pada Asoka. beberapa hari hujan terus membuat semuanya mengeluh dengan cucian juga sulitnya membeli makan. Alhasil pria itu mengeluarkan uang pribadi untuk membeli mesin cuci dan kulkas kecil. Tugas mereka baru satu bulan dan masih ada beberapa bulan ke depan.
“Hehe, makasih ya dok,” ujar Lisa dan Asoka hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.
“Panggil yang lain, aku harus tanya siapa yang mau ambil libur duluan untuk pulang ke Jakarta!”
“Oke.”
Asoka pikir Lisa akan ke belakang untuk memanggil teman-temannya taunya malah berteriak.
“Woy, ngumpul dulu!”
Kesepakatan bersama, akhirnya Beni mengambil kesempatan perdana untuk pulang ke Jakarta meski hanya dua malam, akan dia gunakan untuk bertemu dengan keluarganya.
“Ada yang mau kalean titip nggak, mana tahu bisa aku bawakan pas balik kemari.”
“Yang gak ada di sini apaan ya,” seru Yuli.
“Cowok ganteng,” cetus Lisa.
“Ah, setuju,” ujar Yuli lagi.
“Si Jule, mulutnya. Kurang apa gue, udah selesai wow ini," cetus Rama dan Yuli malah tergelak.
“Sayang, aku kurang ganteng?” Asoka pun protes karena ucapan Lisa.
Beni berdecak mendapati pasangan itu malah berdebat. “Pri, kita ke luar. Pusing lama-lama kepalaku. Emang nggak ada ot4k ini perempuan, bisa-bisanya ngomong begitu. Bagaimana pula aku bawa cowok ganteng, di jual di mana yang kayak gitu.”
“Sabar bang, padahal saya salah satu dari peserta cowok ganteng ya,” canda Sapri dan Beni malah menghela nafas sambil menggeleng pelan.
“Emang sudah gawat semua, bahaya.”
Lisa terbahak menanggapi Asoka, sedangkan Yuli dengan Rama masih saja berdebat meski hanya bercanda.
Ponsel di tangannya bergetar, nama Inka tertera di layar. Raut wajah Lisa berubah lalu berdecak dan me reject panggilan itu.
“Siapa?” tanya Asoka heran.
“Dari rumah.”
“Sayang,” ucap Asoka menyentuh bahu Lisa. Selama ini dia memang heran dan bertanya-tanya, dari semua anggota tim hanya Lisa yang tidak terlihat menghubungi apa lagi video call dengan keluarganya. Rama sudah pernah menjelaskan saat Asoka bertanya, kalau Lisa tidak akur dengan keluarganya yang sekarang. Hubungan mereka tidak harmonis.
“Masalah harus dihadapi dan diselesaikan, jangan dihindari. Aku tidak tahu seberat apa, tapi ada aku di sini yang akan selalu mendukungmu.”
Lisa menghela pelan lalu mengangguk.
“Makasih ya dok.”
“Sayang, panggil aku sayang jangan panggil dokter karena kamu bukan pasien aku.”
Lagi-lagi Lisa tertawa.
Sedangkan di tempat berbeda, Inka mengump4t karena panggilannya terus di reject oleh Lisa.
“Dasar beg0, lihat aja nanti lo pasti nyesel. Apalagi yang belum gue ambil dari hidup lo. Doni juga udah jadi pacar gue. Tinggal bujuk Ayah, sebagian miliknya akan pindah jadi milik gue. Sepertinya Lisa harus dikasih kejutan,” seru Inka lalu terkekeh.
***
“Hati-hati ya bang, salam untuk keluarganya,” ujar Lisa juga yang lain.
Beni hanya menggeleng saja menanggapi rekan timnya yang dianggap gesrek, mengantar sampai depan puskes bahkan ber dadah-dadah macam mengantar orang mau umroh saja. Hanya Asoka yang diam dan terlihat normal.
Ada mobil yang disewa untuk mengantar sampai terminal di kota dan pindah ke bus yang akan membawanya ke Jakarta.
“Udah bubar, ngapain pada di sini. DI kira Bang Beni mau pindah rumah kali,” usir Rama padahal dia yang paling semangat.
Hampir jam satu siang dan layanan puskes sudah berakhir, tapi semua masih berada di sana. Sapri dititipi pesanan makan siang siap berangkat dengan motor Beni. Lisa dan Yuli menempati kursi tunggu pasien untuk berbincang sambil menunggu makan siang datang.
Asoka berada di ruang kerjanya, seperti biasa fokus dengan laptop, Rama di depan lobby sambil menghis4p vape. Ada mobil masuk ke area puskes, mungkin pasien. Namun, plat mobil tersebut menunjukan kalau pemiliknya bukan penduduk setempat. Plat Jakarta, sama seperti kendaraannya juga Asoka.
Masih memperhatikan, tidak lama pintu mobil terbuka dan ….
“Bangs4t, ngapain tuh orang kemari.”
Rama menoleh ke dalam, Lisa tampak tertawa bersama Yuli. Kedua gadis itu kalau berbincang ada saja hal yang membuat mereka tertawa bersama. Selama ini sering mendengarkan keluh kesah dan curhatan Lisa tentang hidupnya setelah sang bunda tiada dan selama bertugas di Singajaya gadis itu selalu terlihat bahagia dan ceria.
Bukan hanya sendiri, pasangan itu keluar dari mobil menghampirinya. Berjalan bergandengan mirip orang mau nyebrang jalan.
“Permisi, ini benar puskes Singa… Singa apa yang?”
“Singajaya,” ujar si pria.
“Ah iya, Singajaya.”
Rama menunjuk plang di pintu gerbang. “Lihat tuh, segede gaban!”
“Lisa ada ‘kan? Dia katanya tugas di sini.”
“Mau apa ketemu Lisa?” Rama bertanya balik dengan nada tidak ramah.
“Woi, Bang, kok lo nyolot gitu sama cewek gue.”
“Tau, sok ganteng banget. Punya masalah hidup apa lo, kenapa dilampiaskan ke kita?”
Mendengar ada perdebatan, Lisa dan Yuli pun beranjak dari acara gibahnya.
“Rama berantem ya,” seru Lisa. Melangkah keluar melalui lobby dan terkejut mendapati pasangan yang ada di sana. “Inka?”
“Nah, tuh dia nongol,” ucap Inka yang langsung memeluk lengan Doni. “Apa kabar kamu Lisa?”
Rama Menghampiri Lisa. “Masuk, biar gue yang urus remehan kayak gini atau pulang lewat belakang bareng Yuli.”
Lisa bergeser karena dihalangi oleh Rama.
“Mau apa kalian kemari?”
Doni berdehem lalu menunduk, ada rasa bersalah pada Lisa dan sesal. Apalagi Lisa terlihat lebih … waw.
“Nemuin elo-lah, beg0 kok dipelihara.”
“Ya ampun itu mulutnya,” ucap Yuli yang siap ikut membalas, tapi dilarang oleh Lisa dengan menyentuh lengannya.
“Sebaiknya kalian pulang ke Jakarta, jangan buat ribut. Ini tempat orang, kita semua tamu di sini.”
“Gue nggak sudi datang ke sini, tempat pelosok dan kumuh gini kalau lo nggak abaikan gue. Bilang apa lo sama ayah sampai dia menolak permintaan gue untuk kuliah ke Ausie!”
“Ayah nolak kamu ya tanya sama dia, aneh. Lagian dia ayah aku bukan ayahmu.”
“Emang cari perkara. Lo pasti iri sama gue, Doni malah pilih gue dan lo hasut ayah untuk menolak semua permintaan gue. Emang culas ya lo.”
“Lisa bener, sebaiknya kalian balik ke Jakarta. Urusan keluarga jangan dibahas di sini,” cetus Rama.
“Nggak usah ikut campur, loe siapa sih? Pacarnya Lisa?” cecar Inka. Tidak tahu siapa Rama yang ada hubungan kerabat dengan mendiang Ibunya Lisa.
“Bukan urusan kamu,” sahut Lisa.
Inka terkekeh. “Ya ampun Lisa, miris banget hidup lo. Lepas dari Doni dapat yang begitu.”
“Ada apa ini? Siapa yang berani menghina pacar saya?”