Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Perang dalam Sunyi
Lampu jalanan Dago yang remang-remang menjadi saksi bisu betapa hancurnya Maya malam itu. Namun, di balik seragamnya yang basah kuyup dan matanya yang merah, ada api yang baru saja menyala. Api yang tidak berasal dari kesedihan, melainkan dari kemarahan yang jernih.
"Cukup," bisik Maya pada dirinya sendiri. "Aku sudah cukup lari selama lima tahun."
Ia tidak pulang ke apartemennya. Maya memutar arah menuju sebuah warnet tua yang masih buka 24 jam di daerah Dipati Ukur. Ia butuh jejak digital. Jika benar ada transferan anonim lima tahun lalu, pasti ada catatan di email lamanya yang selama ini sengaja ia abaikan karena takut menghadapi masa lalu.
Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kata sandi email lamanya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat ribuan pesan yang belum terbaca. Ia mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: Transfer, Bank, Notifikasi.
Satu pesan muncul. Tanggalnya tepat tiga hari setelah ia sampai di Jakarta.
Notifikasi Kredit: Rp 50.000.000,- dari Pengirim: Yayasan Pelita Kasih.
Maya mengerutkan kening. "Yayasan Pelita Kasih? Bukan dari perorangan?"
Ia segera mencari tahu siapa pemilik yayasan tersebut di mesin pencari. Hasilnya membuat napas Maya tercekat. Yayasan itu adalah anak perusahaan dari Dirgantara Group—perusahaan keluarga Arlan. Namun, ada satu nama yang tertera sebagai dewan pembina saat itu: Sandra Clarissa.
"Ular itu benar-benar merencanakan ini sejak awal," desis Maya. Sandra tidak menggunakan uang pamannya, dia menggunakan dana yayasan untuk "menyuap" Maya tanpa sadar, lalu membuat seolah-olah itu adalah uang tutup mulut dari skandal hotel.
Sementara itu, di rumah tua Dago, Arlan masih berdiri di tempat yang sama. Kegelapan menyelimutinya setelah Maya pergi. Sandra mencoba mendekatinya, meletakkan tangan di bahu Arlan dengan lembut.
"Sudahlah, Lan. Dia memang nggak pantas buat kamu. Biarkan aku yang bantu kamu melupakan semuanya," bisik Sandra manis.
Arlan menepis tangan Sandra dengan pelan, namun tegas. "Aku mau sendiri, Sandra. Tolong keluar."
"Tapi, Lan..."
"KELUAR!" suara Arlan menggelegar di ruangan kosong itu.
Setelah Sandra pergi dengan perasaan dongkol, Arlan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia menatap kotak kayu milik ibu Maya. Pikirannya kacau. Ada bagian dari dirinya yang sangat ingin percaya pada Maya, tapi bukti yang disodorkan Sandra terlalu telak.
Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah botol wiski, menuangkannya ke gelas dengan tangan gemetar. Namun, saat ia hendak meminumnya, matanya menangkap sesuatu yang ganjil pada ventilasi di atas lemari buku.
Ada pantulan cahaya kecil yang tidak alami.
Arlan berdiri, memanjat kursi, dan menarik benda kecil itu. Sebuah kamera nirkabel.
Darah Arlan mendidih. Ia teringat saat Maya menyelinap ke ruangannya kemarin. Apakah Maya yang memasangnya? Atau justru orang lain yang ingin ia membenci Maya?
Keesokan paginya, Maya datang ke kantor pusat Dirgantara Group. Ia tidak meminta izin. Ia langsung menuju meja sekretaris Sandra.
"Saya mau bertemu Bu Sandra. Penting," ucap Maya tegas.
"Maaf, Mbak Maya, Bu Sandra sedang rapat dengan Pak Arlan," jawab sekretaris itu kaku.
"Kalau begitu, saya tunggu di sini."
Dua jam berlalu. Pintu ruang rapat terbuka. Arlan dan Sandra keluar bersama beberapa klien. Wajah Arlan tampak kuyu, matanya tampak menghitam karena kurang tidur. Begitu melihat Maya, langkahnya terhenti.
"Maya? Apa lagi yang kamu lakukan di sini?" tanya Arlan dengan nada dingin yang menusuk.
Maya mengabaikan Arlan. Ia berjalan tepat ke depan Sandra dan melemparkan cetakan email notifikasi transfer itu ke hadapan wanita tersebut.
"Bisa jelaskan kenapa 'uang pamanmu' itu datangnya dari Yayasan Pelita Kasih yang kamu pimpin sendiri?" tanya Maya dengan suara yang lantang hingga orang-orang di lobi menoleh.
Wajah Sandra memucat sesaat, namun ia segera menguasai diri. "Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan. Itu pasti dokumen palsu."
"Dokumen palsu?" Maya tersenyum sinis. "Aku punya riwayat aslinya di bank kalau kamu mau kita bawa ini ke jalur hukum atas tuduhan penggelapan dana yayasan."
Arlan mengambil kertas itu, membacanya dengan teliti. Matanya berkilat marah saat melihat nama yayasan keluarganya disalahgunakan.
"Sandra, apa ini?" tanya Arlan, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Lan, dia bohong! Dia cuma mau mengadu domba kita!" teriak Sandra panik.
"Lalu bagaimana dengan kamera ini?" Arlan merogoh saku celananya dan menunjukkan kamera kecil yang ia temukan semalam. "Aku sudah mengecek serial kodenya pagi ini ke bagian IT. Kamera ini dibeli menggunakan kartu kredit atas namamu, Sandra."
Skakmat. Sandra terdiam, tubuhnya gemetar. Semua orang di lobi menatapnya dengan pandangan menghina.
Arlan berbalik menatap Maya. Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan—maaf, penyesalan, rindu—namun lidahnya terasa kelu. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, dipenuhi oleh sisa-sisa kehancuran lima tahun yang lalu.
"Arlan," Maya berbisik, matanya berkaca-kaca. "Sekarang kamu tahu... siapa yang sebenarnya menjadi asing di antara kita."
Maya tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan keluar dari gedung itu. Ia sudah mendapatkan kembali harga dirinya. Namun, ia tahu, kebenaran tidak selalu membawa kembali cinta yang sudah terkubur terlalu dalam.
Di belakangnya, ia bisa mendengar Arlan memanggil namanya, tapi Maya terus melangkah. Ia butuh waktu untuk dirinya sendiri, sebelum ia bisa memutuskan apakah Arlan masih merupakan "rumah" yang layak untuk ia tinggali lagi.