NovelToon NovelToon
Asrama Berdarah

Asrama Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Spiritual / Tamat
Popularitas:279.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kolom langit

Bagaimana rasanya ketika kamu bercermin dan ternyata bukan wajahmu yang muncul pada pantulan cermin? Inilah yang dialami Vega Indriana di sekolah barunya.

Setiap kali bercermin, bukan wajahnya yang muncul, melainkan sosok asing yang tak dikenalnya.

Sejak kedatangannya di sekolah asrama, berbagai gangguan misterius kerap dialaminya. Bahkan mimpi yang sama selalu datang di malam hari.

Dibekuk oleh rasa penasaran, Vega pun mencari tahu tentang misteri yang tersimpan. Hingga akhirnya ia menemukan fakta tentang tragedi berdarah yang terjadi 17 tahun lalu, yang ternyata berkaitan erat dengan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Anak Annisa Wulandari

Ini siapa?” gumam Vega.

Pikirannya dengan cepat menebak setelah menyadari pemuda di dalam foto itu sangat mirip dengan dirinya. Tanpa sadar, Vega mengeluarkan foto pemuda tersebut dari album dan mencoba memastikan dugaannya dengan membandingkan wajahnya di depan cermin. 

“Duh be*go!” Vega menepuk dahinya sendiri. Hampir lupa bahwa setiap kali bercermin bukan wajahnya yang tampak, tetapi wajah Icha. 

Ia lantas kembali memandangi wajah pemuda dalam foto itu. Lama dan sangat teliti. Di lihat dari sisi mana pun, Vega merasa sosok lelaki itu adalah cerminan dirinya dalam bentuk seorang pria.

 “Om ini kok mirip aku, ya? Apa jangan-jangan orang ini yang namanya Reza? Berarti dia ....” 

Ayah ....

Vega cepat-cepat mencari petunjuk lain di dalam kotak milik ibunya. Seolah semesta mendukung, di sana ada sepucuk surat dengan nama pengirim Andra Fahreza, lengkap dengan alamat. 

...*...

...*...

...*...

Vega berlari-lari melewati jalan yang cukup ramai di Kota Bandung siang itu, menuju sebuah gedung perkantoran.

Setelah mencari berbagai informasi dengan mengandalkan sosial media, akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk. Bahwa Andra Fahreza merupakan seorang pengusaha yang cukup sukses.

Langkah Vega terhenti saat telah tiba di depan sebuah gedung pencakar langit. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengurai lelah.

Perjalanan dari rumah Oma sampai pusat kota Bandung memakan waktu hampir dua jam dengan bus.

"Ini ya, kantornya?"

Selama beberapa saat, Vega tampak ragu. Ia hanya mematung di depan pintu kaca dan memperhatikan orang-orang yang berlalu.

Perlahan, ia memberanikan diri melangkah.

"Maaf, Dek! Mau ke mana?" Suara seorang petugas kemananan mengalihkan perhatian Vega.

"Saya mau ketemu Andra Fahreza, Pak!" ucapnya tanpa basa-basi.

Sang petugas keamanan mengernyit, seraya mengedarkan pandangan ke arah gadis belia dengan penampilan sangat tomboy di hadapannya. Baju kaus oblong dan juga jeans modern yang sobek di beberapa bagian.

"Ada perlu apa dengan Bapak, Dek?"

Vega terdiam seketika. Tak tahu harus menjawab apa.

"Saya ... ada sesuatu yang perlu dibicarakan."

"Sudah buat janji?" Pria berseragam navy itu masih menunjukkan sikap ramah.

Vega menggeleng pelan. Jangankan membuat janji, ia sama sekali tak tahu kontak lelaki itu.

"Wah, maaf sekali. Kalau mau ketemu Bapak harus buat janji dulu, Dek."

"Tapi saya harus menyampaikan sesuatu yang penting, Pak!"

"Iya, saya tahu. Semua orang yang mau bertemu Bapak pasti ada hal penting. Tapi semua harus membuat janji dulu."

"Tolong saya, Pak. Saya perlu bicara dengan Pak Andra," mohon Vega. Tetapi, petugas kemananan tersebut tetap pada pendiriannya dan tak mengizinkan Vega untuk melintas.

Akhirnya, Vega pun mencari celah. Ia mengambil langkah seribu menuju lobi.

Sayang, beberapa petugas keamanan lain menghadang dan menahannya.

"Lepaskan saya! Saya mau bicara dengan Pak Andra!" teriaknya sekuat tenaga.

Kala Vega terus memberontak, para petugas kemananan itu membawanya menuju pintu kaca.

Vega masih menjerit dan memohon, saat pandangannya mengarah kepada sosok lelaki dewasa yang baru saja keluar dari sebuah lift khusus. Tampak sangat gagah dan berkuasa.

Selama beberapa saat, Vega terpaku memandangi lelaki itu. Meskipun sangat berbeda dari foto yang ia temukan, namun Vega dapat mengenali wajahnya dengan baik.

"Pak Andra Fahreza, saya Vega, anaknya Annisa Wulandari!" teriaknya sekuat tenaga, ketika melihat lelaki itu berjalan menuju mobil.

Sontak teriakan Vega berhasil menghentikan langkah lelaki itu. Ia mematung memandangi gadis belia yang berdiri tak jauh darinya.

...****...

1
Setiya Wati
Penasaran dengan ceritanya... lanjutin donk Thor
Nuning Listiani
bagus cerita nya , jadi ingin terus membaca
Nuning Listiani: /Heart/ saya suka.akur cerita nya
total 1 replies
Safitri Agus
gak ada sambungan nya ini?
lanjut dong kak Chicha 😊
diara
ditunggu up nya
Lemsi Sembiring
gmna apa ada kelanjutan nya.gantung ceritanya penasaran
Rini Astuti 10
emang ini udah tamat chica saay , klw ita ko gantung banget
Dia_Ana
katanya tamat tapi kok gantung
Dia_Ana
kamarnya masih serumah knp gak dibersihkan
Dia_Ana
langsung ketemu alamatnya...apa vega pernah berjumpa oma sebelumnya?
Dia_Ana
apa andin gaksadar kalau wujud vega mirip icha?
Dia_Ana
wajah icha dan vega memang sama dari awal apa gimana?
Dia_Ana
bagus...novel horor pertamaku
Dia_Ana
sisil yang adiknya juno kh ini
Sri Ngatini
bagus seru jg horor
Azumi Rahmat
Kok ngantung si Thor gk ada kelanjutannya lgi
Anissa Mayasari
KA chica...mana kelanjutan nya
Rifanda Dewi
good
Hera Imoet
akhirnya bisa ketemu sama ayahnya... lanjuttttttt yupzzz cemungutzz 😘🥰
Hera Imoet
Andin masih menutupi kebenaran kenapa yaa
Hera Imoet
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!