NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Sementara itu... di luar ruangan.

Reyhan berjalan melewati lorong. Pandangannya sempat tertuju pada ruangan Radit yang tertutup rapat. Ia membaca tulisan “Meeting Internal” dengan kening berkerut.

“Meeting sama siapa?” gumamnya sendiri. Namun ia mengabaikannya.

Langkahnya pun menjauh… tanpa tahu, bahwa di balik pintu itu, sesuatu sudah tumbuh lebih panas dari yang bisa ia bayangkan.

Setelah tiba di Lorong Kantor.

Langkah kaki Reyhan pelan menyusuri suatu ruangan. Tangannya membawa folder kerja, dengan niat ingin mengonfirmasi data kepada Rania, yang ternyata kosong.

Pintunya terbuka setengah.

“Ran?” panggilnya, hati-hati.

Tak ada jawaban.

Ia sempat melongok ke dalam—tidak ada siapa pun. Ia hendak berbalik pergi ketika langkah kaki dari arah berlawanan membuatnya menoleh.

Rania muncul dari koridor. Napasnya sedikit tersengal, rambutnya sedikit berantakan. Kemeja formalnya kusut di bagian kerah dan bahu. Lipstiknya… tak rata. Terdapat bekas pudar di sudut bibir, dan sedikit noda merah di bawah dagu.

Langkah Reyhan otomatis terhenti.

“Rania…” gumamnya pelan.

Rania langsung berdiri kaku.

“Ada apa?” tanyanya ketus.

Reyhan tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah wanita di hadapannya, memperhatikan dengan mata yang terlalu tenang untuk disebut biasa.

“Kalau gak penting, minggir. Aku sibuk,” ucap Rania sambil berjalan cepat.

Namun Reyhan bergerak duluan.

Tangannya perlahan terangkat, menyentuh sisi dagu Rania dengan satu jari. Sentuhan yang pelan, tapi membuat Rania mematung seketika.

“Apa—”

Reyhan menghapus noda lipstik di sudut bibir Rania dengan ibu jarinya.

“Jangan sentuh aku.”

“Maaf…” gumam Reyhan. “Aku cuma gak mau orang lain lihat kamu kayak gini.”

“Dan kamu pikir kamu siapa, buat peduliin aku?”

Reyhan terdiam.

“Aku cuma mau tanya soal data tadi,” katanya akhirnya. “Tapi... kalau kamu sibuk…”

“Sibuk banget. Jadi pergi.”

Reyhan mengangguk. Ia tidak ingin memperpanjang. Tapi langkahnya tidak langsung pergi. Ia berdiri sebentar, menatap Rania yang kini memunggunginya.

“Kalau kamu butuh aku... aku harap kamu cari aku secepatnya.”

Rania memejamkan mata. Tangannya mengepal.

Tapi ia tidak menjawab.

Dan Reyhan pun pergi.

---

Ketika akhirnya malam tiba, Kantor masih beroperasi seperti biasa. Ketika akhirnya lampu di beberapa ruangan sudah padam dan mulai sepi. Namun Rania masih duduk di kursinya, menatap layar laptop dengan mata sembab karena terlalu lelah.

Tangannya berhenti di atas keyboard.

Sudah jam sembilan malam.

Dari sore tadi, Radit tak terlihat. Tak ada pesan dan suara. Bahkan panggilan terakhirnya ditolak begitu saja.

Pikiran Rania mulai liar.

Apa dia sibuk? Atau sedang dengan orang lain? Atau lupa dengan ajakannya?

Tapi ia cepat-cepat menepis pikiran itu. Ia berdiri, merapikan tasnya, dan memilih tidak menghampiri ruangan Radit seperti biasanya, karena terlalu lelah.

Setibanya di Rumah...

Rania melepas blazernya dengan pelan. Melempar tubuhnya ke sofa dan menatap langit-langit rumahnya yang tenang.

Beberapa menit kemudian, ia membuka ponselnya, melihat satu pesan dari Radit, dikirim pukul 21.52:

“Maaf banget, aku ketiduran di ruang rapat setelah menemui seseorang. Kamu udah pulang?”

Namun, tidak ada permintaan maaf yang cukup ampuh untuk menyembuhkan perasaan diabaikan.

Rania membaca pesan itu... dan hanya mengunci ponselnya kembali tanpa membalas..

***

Keesokan harinya, Rania tiba di kantor dengan kepala sedikit berat dan mata yang memerah. Ia tidur terlalu malam dan bangun terlalu pagi.

Tak lama setelah ia duduk dan membuka laptop…

Ting!

Notifikasi dari pesan grup kerja masuk.

"Gila, semalam Pak Radit dinner bareng model terkenal di hotel bintang lima. Gak bilang-bilang!"

"Wah! Pantes aja dia upload story tapi gak ngetag siapa-siapa. Ternyata..."

"Pantes Pak Radit gak kelihatan semalem "

Rania menatap layar. Tangannya diam di atas keyboard.

Seorang model terkenal. Cantik. Elegan. Dan terlalu dekat dengan Radit semalam.

Rania tidak ingin cemburu. Tidak seharusnya. Tapi entah kenapa dadanya terasa panas.

Aku kerja sampai malam buat bantu promosi, tapi dia malah dinner cantik?

Matanya mengabur. Ia memejamkan mata sejenak.

Ketika ia membuka mata lagi, semua emosi sudah ia kubur. Ia kembali mengetik, seolah tak terjadi apa-apa.

Siang harinya, ketika waktu istriahat tiba.

Rania makan di pojok ruangan sendirian. Biasanya Radit akan mengirim pesan atau minimal muncul untuk menyapa. Tapi hari itu... tidak ada kabar sama sekali.

Baru saja ia selesai menyuap sendok terakhir, suara langkah terdengar.

“Makan sendirian aja nih?” tanyanya dengan suara pelan.

Rania menoleh, “Lagi gak pengen rame-rame.”

Radit mendekat, “Aku baru kelar meeting di luar. Tadi malam juga... maaf banget, aku gak sempat kabarin kamu.”

Rania hanya menatapnya.

“Dinner?” ucapnya pelan.

“Iya. Tapi itu… dadakan. Investor Singapore minta aku temenin dia, buat finalisasi kontrak.”

“Dan kamu langsung bilang iya?”

Nada Rania sedikit berubah.

“Ini kerjaan, Ran.”

“Aku juga kerja. Semalam lembur buat konten promosi, tapi kayaknya aku terlalu berharap kamu… muncul.”

Radit terdiam. Ia tahu ia salah.

“Ran…”

“Gak apa-apa,” potong Rania. “Aku gak marah. Cuma… cape aja.”

Ia bangkit, membawa kotak makannya ke wastafel.

“Next time kalau aku kerja lembur lagi, gak usah ngerasa bersalah. Kayaknya aku harus mulai membiasakan diri.”

Radit bangkit, menahan lengannya. “Hei…”

“Aku tahu ini cuma kontrak. Tapi kamu gak perlu bikin aku ngerasa kayak... cadangan.”

Radit menggenggam tangannya lebih erat. Tapi sebelum sempat menjawab...

“Pak Radit! Maaf. Ada tamu, katanya perwakilan dari Investor Singapura!”

Salah satu staf datang tergesa.

Radit menoleh cepat. Lalu kembali menatap Rania.

“Kita belum selesai.”

“Aku rasa udah cukup,” jawab Rania singkat.

Staf yang tadi memanggil Radit sudah menunggu di luar.

Radit tak langsung pergi. Ia diam di ambang pintu, menatap punggung perempuan yang bahkan saat marah pun terlihat… memikat.

Perlahan, langkahnya kembali mendekat.

Hening.

“Ngapain masih di sin?i!” Rania mencoba menjauhkan pandangannya

Senyumnya tipis, tapi dalam.

“Kamu tau gak kalau aku udah bilang ke banyak orang…” bisik Radit

“Kalau aku udah punya calon istri.”

Rania mengerutkan dahi.

"Dan perempuan itu, Soraya, alias kamu… Rania.”

“Kamu tahu, kan? Dunia ini terlalu kejam untuk orang jujur… tapi aku tetap mau nyebut namamu. Di depan semua orang.” sambung Radit, pede.

Rania menunduk, hatinya sedikit hangat.

“Aku gak nyuruh kamu buat lakuin hal itu,” gumamnya.

“Terus kenapa pipimu merah?”

“Karena kamu pegang tanganku sembarangan. Kalau ada orang yang liat gimana?”

Radit terkekeh, malah makin mendekat.

“Kalau keliatan orang, ya aku bisa jelasin. Dan, kalau ga terima… yaudah, sini. Aku cium kamu sekalian.”

“Radit!”

Terlambat.

Ia sudah mengecup pipi Rania—cepat tapi sukses membuat darah perempuan itu naik ke wajah.

Rania terdiam. Separuh kesal, dan malu.

Radit mengusap pucuk kepalanya pelan.

“Makasih, ya… udah tetap di sini.”

Ia lalu berbalik, berjalan pelan menuju pintu.

Sebelum benar-benar keluar, Radit menoleh sekali lagi. “Ran.”

Rania menoleh juga, walau malas.

“Nanti malam, kamu jangan kemana-mana. Aku jemput. Aku bakal utamain kamu, dan aku bakal tolak semua ajakan kayak malam lalu demi kamu.”

“Buat apa?”

“Buat bahas soal 'Soraya' yang harus tampil di depan keluargaku minggu depan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!