NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Broto Membocorkan Rahasia

​​Sementara itu, di kantor, Agil tidak bisa fokus pada dokumen di depannya. Kata-kata sopir pribadi ayahnya kemarin terus berputar di kepalanya. “Tuan Besar menyetir sendiri ke Puncak.” Seorang pria sekelas Baskoro, yang bahkan untuk pergi ke lapangan golf saja butuh pengawalan, mendadak ingin menyetir sendiri selama berjam-jam hanya untuk membawa menantunya makan siang? Itu tidak masuk akal.

​Agil mengambil ponselnya, hendak menelepon ibunya, Rina. Namun ia ragu. Ibunya selalu tampak seperti orang yang sudah menyerah pada hidup.

​Tiba-tiba, seorang pria paruh baya masuk ke ruangannya. Dia adalah Pak Broto, orang kepercayaan Baskoro yang sudah bekerja selama dua puluh tahun, namun kini posisinya mulai digeser oleh kehadiran Agil.

​"Pak Agil, maaf mengganggu. Saya hanya ingin menyerahkan berkas audit gudang Puncak tahun lalu," ucap Pak Broto dengan nada datar.

​Agil menerima berkas itu, namun perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang terselip di dalam map—foto lama Baskoro bersama seorang wanita muda yang bukan ibunya.

​"Ini... siapa?" tanya Agil spontan.

​Pak Broto menatap foto itu, lalu menatap Agil dengan tatapan penuh arti. "Itu rahasia lama Tuan Besar, Pak. Beliau selalu suka mengoleksi 'perhiasan' yang indah. Kadang, beliau mengambilnya dari orang lain. Jika Bapak ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana Tuan Besar mengelola 'koleksinya', mungkin Bapak harus lebih sering memeriksa rekaman CCTV pribadi di vila Puncak."

​Agil tertegun. "CCTV pribadi?"

​"Tuan Besar memasangnya sendiri. Tidak ada orang kantor yang tahu. Kecuali mereka yang... pernah menjadi korban," Pak Broto berbalik dan keluar dari ruangan sebelum Agil sempat bertanya lebih lanjut.

​Jantung Agil berdegup kencang. Apakah Pak Broto sedang memberinya peringatan? Atau ini adalah bagian dari intrik kantor? Namun, pikiran Agil langsung tertuju pada Laila. Ia mengingat wajah Laila yang pucat saat pulang dari Puncak. Ia mengingat bagaimana Laila menepis tangannya saat ia hendak menyentuh lehernya.

​Sore harinya, Agil pulang lebih awal. Ia tidak langsung masuk lewat pintu depan, melainkan lewat pintu samping dekat taman. Ia melihat Laila sedang duduk sendirian di gazebo, menatap kosong ke arah kolam ikan.

​Agil mendekat tanpa suara. Ia melihat Laila memegang sebuah kalung berlian di tangannya. Kalung yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kalung yang harganya pasti jauh melampaui kemampuan gaji direktur barunya sekalipun.

​"Dari siapa kalung itu, Laila?"

​Laila tersentak hebat hingga kalung itu jatuh ke lantai rumput. Ia berbalik dan melihat Agil berdiri dengan wajah yang gelap dan penuh kecurigaan.

​"Mas... kamu... kamu sudah pulang?" Laila mencoba memungut kalung itu dengan tangan gemetar.

​"Aku tanya, dari siapa kalung itu? Aku tidak pernah membelikannya untukmu. Dan aku tahu kamu tidak punya uang sebanyak itu," suara Agil meninggi, sesuatu yang jarang ia lakukan pada Laila.

​Laila menelan ludah. "Ini... ini pemberian Mama Rina. Beliau bilang ini warisan keluarga untuk menantu pertama."

​"Mama Rina?" Agil tertawa sinis. "Mama tidak pernah memberikan perhiasannya pada siapa pun. Beliau bahkan tidak mau meminjamkannya padaku saat aku butuh modal bisnis dulu. Jujur padaku, Laila! Apakah itu dari Papa?"

​Laila terdiam. Air matanya mulai mengalir. Kebohongan demi kebohongan mulai menumpuk hingga ia merasa sesak nafas.

​"Mas... tolong jangan tanya lagi. Aku hanya ingin kita hidup tenang. Aku ingin kamu sukses di perusahaan ini," tangis Laila pecah.

​Agil mencengkeram bahu Laila. "Hidup tenang? Bagaimana aku bisa tenang jika istriku menerima perhiasan mewah dari ayahku sendiri di belakangku? Apa yang sebenarnya terjadi di Puncak, Laila? Jawab aku!"

​Tepat saat itu, Baskoro muncul di teras, memperhatikan mereka dari kejauhan dengan senyum tipis. Ia tidak melerai. Ia justru menikmati pemandangan itu. Baginya, melihat Agil tersiksa adalah bagian dari "pelatihan" untuk menjadikan Agil pria yang dingin dan keras seperti dirinya.

​"Agil! Ada apa berisik di taman?" teriak Baskoro dengan suara berwibawa.

​Agil menatap ayahnya, lalu menatap Laila yang bersimpuh di depannya. Di saat itu, Agil menyadari bahwa rumah ini bukan lagi tempat tinggal, melainkan sebuah labirin penuh jebakan. Dan ia baru saja menyentuh salah satu benang pemicunya.

​"Tidak ada apa-apa, Pa," jawab Agil dengan suara yang tiba-tiba tenang, ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada kemarahan. "Kami hanya sedang membahas... rencana keberangkatanku ke London."

​Laila mendongak, terkejut. Agil menatap Laila dengan tatapan yang dingin. "Iya, Laila. Papa bilang aku harus ke London. Dan aku memutuskan untuk pergi. Aku ingin melihat, seberapa jauh 'kebaikan' Papa padamu selama aku tidak ada."

​Malam itu, Agil tidak tidur di samping Laila. Ia menghabiskan malam di ruang kerjanya, menatap berkas audit Puncak yang diberikan Pak Broto. Di matanya kini tidak ada lagi kekaguman pada sang ayah, yang ada hanyalah benih kebencian yang mulai bertunas, bersiap untuk menghancurkan segalanya dari dalam.

****

Malam di mansion Menteng terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun pendingin udara di kamar Agil dan Laila sudah dimatikan. Agil duduk di meja kerjanya, membelakangi ranjang di mana Laila berbaring mematung, berpura-pura tidur. Cahaya dari layar laptop Agil memantul di kacamata bacanya, memperlihatkan sorot mata yang tajam, penuh dengan kemarahan yang tertahan.

​Pikiran Agil terus tertuju pada perkataan Pak Broto tentang CCTV pribadi di vila Puncak. Sebagai pria yang besar di lingkungan korporasi, Agil tahu bahwa informasi adalah senjata paling mematikan. Jika ayahnya benar-benar memasang kamera tersembunyi untuk kepentingannya sendiri, maka di sanalah bukti pengkhianatan itu berada.

​"London..." gumam Agil pelan, nyaris tak terdengar.

​Ia tahu bahwa menyetujui tawaran ke London adalah sebuah risiko besar. Tiga bulan adalah waktu yang sangat lama untuk meninggalkan Laila sendirian di bawah cengkeraman Baskoro. Namun, Agil juga sadar bahwa jika ia tetap di sini tanpa bukti nyata, ia hanya akan menjadi bidak yang terus dipermainkan. Ia butuh kebenaran, seberapa pahit pun itu.

Keesokan harinya, Agil tidak pergi ke kantor. Ia berpamitan pada Laila dan ibunya dengan alasan ada pertemuan di luar kota untuk mengurus persiapan visa London. Namun, begitu mobilnya keluar dari gerbang Menteng, Agil segera mengganti arah menuju Puncak. Ia sengaja tidak menggunakan sopir kantor dan menyewa mobil biasa agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh GPS perusahaan.

​Sepanjang perjalanan, jantung Agil berdegup kencang. Ia teringat masa kecilnya, saat ia memandang Baskoro sebagai sosok pahlawan tanpa celah. Ayahnya adalah matahari di dunianya. Namun kini, matahari itu terasa membakar kulitnya sendiri.

Tiba di Puncak, Agil memarkir mobilnya agak jauh dari vila. Ia menyelinap melalui jalan setapak di hutan pinus yang pernah ia lalui saat kecil. Vila itu tampak sunyi. Hanya ada satu penjaga tua di pos depan yang sedang tertidur lelap.

​Agil memiliki kunci cadangan yang ia curi dari laci kerja Baskoro semalam. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu samping. Aroma kayu tua dan kelembapan pegunungan menyambutnya. Vila itu tertata sangat rapi, seolah-olah baru saja digunakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!