Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KEBANGKITAN SANG TERATAI PERAK
Waktu adalah tabib yang paling jujur bagi mereka yang terluka, namun bagi sebagian orang, waktu adalah tungku api yang membara, tempat di mana besi mentah ditempa menjadi pedang yang paling tajam.
Lima tahun telah berlalu sejak malam berdarah di dasar jurang Kota A. Bagi publik dan tajuk berita lama, nama "Aura Mahendra" hanyalah sebuah kenangan pahit yang memudar—catatan kaki tentang seorang istri yang malang yang tewas dalam kecelakaan tragis akibat badai.
Mansion Mahendra masih berdiri tegak, bahkan lebih megah dari sebelumnya. Bisnis Adrian Mahendra telah menggurita, menjadikannya salah satu pria paling berpengaruh, berdiri bangga di samping Sisca yang kini menyandang gelar sebagai nyonya rumah yang sah.
Namun, jauh dari hiruk-pikuk Kota A yang penuh dengan dosa dan kebohongan, di sebuah pulau pribadi yang tidak terpetakan di Samudra Pasifik, sebuah legenda baru telah lahir dari abu kematian.
Pulau itu dikenal sebagai The Sanctuary, markas operasional rahasia dari organisasi The Sovereign, sebuah kekaisaran medis dan intelijen yang mengendalikan jalur kehidupan di balik layar dunia.
Di dalam sebuah laboratorium medis yang dindingnya terbuat dari kaca kristal anti-peluru, seorang wanita berdiri tegak menghadap ke arah laut lepas. Cahaya matahari pagi yang memantul di permukaan air biru toska menyinari wajahnya, namun cahaya itu tidak mampu menembus kedinginan yang terpancar dari matanya.
Wanita itu mengenakan jubah putih dokter yang dipotong dengan sangat presisi, menonjolkan tubuhnya yang kini ramping namun penuh dengan kekuatan tersembunyi.
Rambut hitamnya yang dulu sering kusam karena tekanan hidup, kini tumbuh sehat dan berkilau seperti sutra, terurai indah hingga ke pinggang. Ia tidak lagi menunduk; dagunya terangkat dengan otoritas yang tak tergoyahkan.
Dunia medis internasional mengenalnya sebagai Dr. Alana, atau lebih dikenal di kalangan elit sebagai "The Silver Lotus". Seorang dokter bedah jenius yang mampu melakukan keajaiban di atas meja operasi, sekaligus ilmuwan farmasi yang memegang paten atas obat-obatan yang paling dicari di dunia.
Alana menatap pantulan dirinya di kaca. Bekas luka parut di pelipisnya telah hilang tanpa jejak berkat teknologi regenerasi sel induk yang ia kembangkan sendiri.
Namun, ia tahu bahwa luka di hatinya—luka akibat pengkhianatan suaminya dan tamparan adik tirinya—masih ada di sana, dibiarkan berdenyut setiap hari sebagai pengingat akan hutang darah yang harus ditagih.
"Suhu pasien stabil, Dokter. Prosedur transplantasi saraf optik selesai dengan sukses. Tim di Zurich melaporkan bahwa pasien telah sadar dan memberikan donasi sebesar sepuluh juta dolar sebagai bentuk apresiasi," suara rendah dan berat dari interkom memecah keheningan.
Alana tidak segera menjawab. Ia perlahan melepas sarung tangan medisnya, membuangnya ke wadah steril tanpa sekali pun menoleh. "Kirimkan lima puluh persen dari dana itu ke panti asuhan di Asia Tenggara. Masukkan sisanya ke dalam dana operasional kepulangan kita. Kita akan segera berangkat, Leo."
Seorang pria besar dengan bekas luka di sepanjang rahangnya masuk ke dalam ruangan. Itu adalah Leo, kepala pengawal pribadi Alana sekaligus pria yang menariknya dari rongsokan mobil lima tahun lalu.
Ia menatap Alana dengan rasa hormat yang mendalam—campuran antara pengabdian kepada seorang pemimpin dan rasa kagum pada seorang wanita yang berhasil merangkak keluar dari neraka.
"Semua logistik sudah siap, Dokter. Identitas Anda sebagai konsultan utama International Medical Research telah dilegalkan oleh otoritas Kota A. Jet pribadi akan lepas landas dalam tiga jam," lapor Leo. "Namun, saya harus memperingatkan Anda. Adrian Mahendra telah memperkuat posisinya. Dia baru saja mengakuisisi rumah sakit kakek Anda yang lama dan mengubahnya menjadi pusat bisnis properti."
Mata Alana berkilat dingin. "Dia menggunakan tanah kakekku untuk membangun istana di atas darah keluargaku? Bagus. Biarkan dia membangunnya setinggi mungkin, agar saat aku meruntuhkannya nanti, suara kehancurannya akan terdengar hingga ke seluruh negeri."
Tiba-tiba, pintu laboratorium terbuka dengan suara dentuman kecil. Dua sosok kecil melesat masuk seperti kilat dan langsung memeluk kaki Alana.
"Mummy! Lukas mencoba meretas sistem satelit lagi! Dia bilang dia ingin melihat apakah taman di mansion Kota A itu cukup luas untuk dijadikan tempat parkir helikopter pribadinya!" seru seorang anak perempuan cantik dengan rambut dikuncir dua yang rapi. Itu adalah Luna, sang jenius matematika dan strategi yang memiliki ketajaman analisis melampaui orang dewasa.
Di belakangnya, seorang anak laki-laki dengan wajah yang sangat tampan—sebuah salinan sempurna dari sisi maskulin Alana namun dengan tatapan yang sedingin es—berjalan tenang sambil memegang tablet transparan.
"Aku hanya sedang memastikan keamanan jalur penerbangan kita, Mummy. Radar bandara Kota A masih menggunakan teknologi lama, itu terlalu mudah untuk disusupi," kata Lukas dengan nada datar.
Alana berjongkok, merangkul kedua buah hatinya dengan kasih sayang yang tak terbatas. Lima tahun lalu, mereka hanyalah janin yang hampir mati karena benturan hebat di dasar jurang. Berkat teknologi inkubasi buatan The Sovereign, mereka berhasil lahir dan tumbuh menjadi anak-anak ajaib yang menjadi alasan utama Alana untuk terus bertahan.
"Lukas, Luna, dengarkan Mummy," Alana menatap mata mereka satu per satu. "Tempat yang akan kita kunjungi bukan sekadar tempat liburan. Di sana ada orang-orang yang berhutang pada kita. Apakah kalian mengerti apa yang harus kita lakukan?"
Lukas mengangguk pelan, kilatan kecerdasan yang berbahaya muncul di matanya. "Hutang harus dibayar dengan bunga, Mummy. Aku sudah mengunduh seluruh data finansial Mahendra Group. Mereka memiliki banyak celah yang bisa kuhancurkan dalam semalam jika Mummy mengizinkannya."
Luna tersenyum manis, namun senyumnya membawa kesan dingin. "Dan aku sudah memetakan semua relasi sosial mereka. Kita tidak akan menghancurkan mereka dalam semalam, Lukas. Itu terlalu cepat. Kita akan mempreteli sayap mereka satu per satu hingga mereka merangkak di depan Mummy."
Alana merasa bangga sekaligus getir. Anak-anaknya tidak memiliki masa kecil yang normal; mereka dibesarkan di laboratorium dan pusat intelijen. Namun, di dunia yang kejam ini, kekuatan adalah satu-satunya pelindung mereka.
"Bagus. Sekarang, pergilah ke jet. Leo akan menjaga kalian," perintah Alana.
Setelah anak-anak keluar, Alana berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengambil sebuah foto lama yang telah agak kuning di sudutnya—foto pernikahannya dengan Adrian.
Dalam foto itu, Aura tampak tersenyum naif, memeluk lengan Adrian seolah pria itu adalah dunianya.
Alana mengambil pemantik api perak di atas meja. Ia menyalakan api kecil dan membiarkan lidah api itu menjilat sudut foto tersebut. Ia melihat dengan kepuasan yang dingin saat api melahap wajah Adrian, mengubah kenangan manis itu menjadi abu hitam yang terbang tertiup angin laut dari jendela yang terbuka.
"Aura Mahendra yang lemah sudah mati di jurang itu," gumamnya, suaranya terdengar seperti janji kematian. "Yang kembali hari ini adalah Alana, sang Teratai Perak. Dan aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Alana melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang mantap. Ia melewati deretan staf medis dan penjaga bersenjata yang semuanya menunduk hormat saat ia lewat. Di landasan helikopter, sebuah helikopter hitam telah menunggunya untuk membawanya ke jet pribadi.
Angin laut bertiup kencang, menerbangkan jubah putihnya yang berkibar seperti sayap malaikat maut. Alana menoleh sekali lagi ke arah pulau yang telah memberinya kehidupan kedua. Di sana, ia belajar bahwa cinta adalah kelemahan, dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran.
Saat jet pribadi itu akhirnya lepas landas dan membelah awan menuju arah barat, Alana menatap ke bawah pada lautan luas. Di bawah sana, di suatu tempat di Kota A, Adrian Mahendra mungkin sedang merayakan kesuksesannya dengan segelas champagne.
Ia tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja berangkat, dan kali ini, tidak akan ada tempat untuk bersembunyi.
"Leo," panggil Alana tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
"Ya, Dokter?"
"Aktifkan protokol 'Return of the Empress'. Beritahu informan kita di Kota A untuk menyiapkan panggung. Aku ingin kepulanganku menjadi berita utama di setiap media, namun tanpa menyebutkan siapa aku sebenarnya. Biarkan mereka bertanya-tanya siapa wanita yang berani menantang Mahendra Group."
"Dimengerti, Dokter. Dan tentang CEO Arlan Syailendra? Dia terus mendesak untuk bertemu dengan Anda segera setelah Anda mendarat."
Alana menyandarkan tubuhnya di kursi mewah jet tersebut, menutup matanya sejenak. "Biarkan dia menunggu. Pria seperti Arlan perlu tahu bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa ia beli dengan kekuasaannya. Kita akan menemuinya saat waktunya tepat."
Jet itu terus melaju, membawa dendam yang telah dipendam selama 1.825 hari. Langit Kota A sudah terlihat di kejauhan, dan bagi Alana, setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju keadilan yang berdarah. Perjalanan seribu bab ini baru saja dimulai, dan sang Teratai Perak siap untuk mekar di tengah reruntuhan musuh-musuhnya.