Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Raminah menghembuskan nafas terakhir
Bu Raminah dalam keadaan kritis, Bu kokom terus berusaha menghubungi Abi akan tetapi tak pernah di angkat.
"Abi kamu kenapa sih, di telpon tak pernah di angkat, ibu kamu sedang sekarat tau tidak!" keluh Bu Kokom sembari terus berusaha menghubungi nomor telepon Abi, setelah sekian lama dan entah berapa panggilan di lakukan akhirnya di angkat juga.
"Halo Abi kemana saja sih kamu di telepon baru di angkat!" ucap Bu Kokom begitu sambungan terhubung.
"Halo siapa ini?!" terdengar suara perempuan di seberang telepon.
"Eh kamu siapa, mana Ab!" Bu Kokom terkejut.
"Kamu yang siapa, ngapain nyari suamiku?!" jawab Wulan dari seberang telepon dengan nada kasar.
"Aku bibinya,mana Abi?!" jawab Bu Kokom yang tak kalah emosi.
"Nggak ada!" jawab Wulan Ketus.
"Jangan bohong kamu ya, mana Abi, cepat kasihkan Hp nya sama Abi, aku mau bicara penting!" paksa Bu Kokom.
"Di bilang enggak ada ya enggak ada, situ budek ya!"
Tuuuuuuuuttttttt!
Wulan mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Yah...yah kok malah di matiin, dasar gila woe, dasar wong edan!" Bu Kokom jadi emosi sendiri.
"Ada apa Bu Kokom?" tanya Bu Lastri tetangga Bu Kokom yang baru saja datang membawakan baju ganti.
"Ini loh Bu Lastri, Hp Abi baru bisa di hubungi eh malah yang angkat perempuan yang ngaku-ngaku istrinya Abi, tapi bukan Dewi, kalau Dewi aku kenal suaranya!" jawab Bu Kokom dengan nada kesal.
"Hah yang bener, berarti kabar Abi nikah lagi ternyata benar dong Bu Kokom, terus Dewi bagaimana di sana?!" ucap Bu Lastri yang hampir tak percaya.
"Ah ya juga ya Bu, kasihan Dewi, jauh-jauh ke sana malah di hianati suaminya, ah semoga Tuhan selalu melindungi anak itu, Dewi anak yang baik" ucap Bu Kokom penuh harap.
"Iya Bu Kokom, saya yakin Allah tidak akan membiarkan Dewi sengsara di sana, kita doakan saja Bu" imbuh Bu Lastri.
"Tapi masalahnya sekarang bagaimana, Bu Raminah kritis sedang Dewi dan Abi jauh di sana!" Bu Kokom jadi bimbang sendiri.
"Hah mau bagaimana lagi Bu, kalau memang sudah waktunya ya kita sebagai tetangga juga warga yang baik yang mengurusnya nanti" jawab Bu Lastri dengan santai.
Bu Kokom pun menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya.
"Hah kasihan sekali kamu Bu Raminah, aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika berada di posisi Bu Raminah, sudah anak jauh, sakit sekarat enggak ada yang ngurusin apa lagi perduli, duh Bu Lastri sedih banget aku hikz...hikz...hikz!!!" ucap Bu Kokom sembari memeluk bu Lastri.
"Dih amit-amit jabang bayi bu..kalau sampai kejadian begitu sama aku ya nih bu, aku akan berainkarnasi lagi dan aku cekik anakku satu persatu kayak di drapend-drapend itu!" jawab Bu Lastri dengan menggebu-gebu.
"Hikz hikz hikz, mana ada yang begituan , itu hanya ilusi saja" bantah Bu Kokom.
zrrrooootttttt!!!
Bu Kokom membuang ingus di bahu Bu Lastri dan mengusapkan pada bajunya Bu Lastri.
"Aaaaaaaaaaa, Bu Kokooooooommmmm, ih menjijikkan sekali kau ini, sana jauh-jauh dariku!" Bu Lastri histeris dan langsung mendorong tubuh Bu Kokom menjauh darinya.
"Hehe...nggak sengaja Bu Lastri, nggak ada tisu soalnya" jawab Bu Kokom sembari nyengir kuda.
"Alesan saja, kotor nih bajuku, hah aku mau ke kamar mandi dulu, bener-bener apes hari ini!'' gerutu Bu Lastri yang kemudian langsung pergi meninggalkan Bu Kokom sendirian.
Bu Kokom kemudian duduk di kursi tunggu, dia pun mengirim pesan pada Abi barang kali nanti di lihat sama Abi.
"Abi ibumu sedang kritis di rumah sakit, kalau kamu anak yang berbakti lihatlah ibumu untuk yang terakhir kalinya, jangan sampai menyesal!" isi pesan Bu Kokom di sertai emotion kepala manusia bertanduk.
"Kalau nggak sampai pesan ini berarti benar-benar kebangetan istri baru kamu Abi!" ucap Bu Kokom kesal kemudian menggeletakkan Hp nya begitu saja di bangku kosong, dia pun menunggu di depan ruang Icu di mana Bu Raminah di tangani saat ini.
Team dokter keluar dari ruangan yang menyeramkan tersebut.
"Keluarga Bu Raminah!" panggil Dokter dengan lantang, Bu Kokom pun langsung mendekat.
"Saya dok, bagaimana keadaan pasien?!" tanya Bu Kokom dengan cemas.
"Mohon maaf, kami sudah sebisa mungkin mengusahakan yang terbaik, namun pasien tidak tertolong, komplikasi dari penyakit sebelumnya di tambah pendarahan di otak akibat terjatuh membuat kondisinya parah dan tak tertolong lagi" ucap dokter pada Bu Kokom.
Bu Kokom pun limbung ke lantai, badannya lemas tak berdaya, air matanya terjatuh dengan deras, Bu Kokom menangis tersedu-sedu dan sejadi-jadinya.
"Bu Kokom ada apa kenapa menangis?!" Bu Lastri datang dengan tergopoh-gopoh saat melihat Bu Kokom menangis.
"Bu Lastriiiiii hiiiiiiiii iiiiiii iiiii Bu Raminah sudah pergi hiiiiiiii....iiiiiii..iiii Bu Raminah sudah matiiiiiiiiii hhiiiiii...iiiiii...iiiii!!! Bu Kokom langsung menubruk Bu Lastri sembari menangis tersedu-sedu.
"Inalillahi wa'innalillahi roji'un...sudah bu sudah, jangan seperti ini, mari kita urus jenazah Bu Raminah, kita kabari yang lainnya!" ucap Bu Lastri yang lebih tabah menghadapi kabar kematian Bu Raminah, Bu Kokom masih lemas karena kesedihan yang di rasakannya, suster pun membawanya ke bangsal untuk beristirahat, sedang Bu Lastri pun segera menghubungi kepala desa dan memberitahukan kabar kematian Bu Raminah.
Karena Bu Raminah hidup sendirian dan tak ada sanak saudara maka warga sekitar dan para tetangga yang mengurus pemakaman beliau
Di tempat lain Wulan yang melihat isi pesan di Hp Abi pun menggerutu.
"Hah apa-apaan ini, bilang saja mau minta uang, pakai pura-pura sekarat segala, emang aku gampang di bodohi, enak sekali cih, jangan harap pesan ini sampai ke tangan mas Abi!" gerutu Wulan sembari menghapus pesan yang di kirim Bu Kokom tadi.
"Ada apa sayang, kok ngotak-atik Hp aku?" Abi yang baru saja dari kamar mandi melihat Hp nya di tangan Wulan sudah merasa ketar-ketir.
"Kenapa mas, emang ada yang kamu sembunyiin ya dari aku sampai- sampai aku tak boleh pegang Hp kami!" jawab Wulan yang mulai curiga.
"Ah enggak, mana ada aku sembunyiin sesuatu dari kamu, sekarang Hp juga ada di tangan kamu, cek aja ada tidak yang mencurigakan?" jawab Abi dengan gugup.
"Emang enggak ada sih, tapi kalau sampai kamu bohong di belakang aku, awas aja ya mas, aku enggak bakal maafin kamu sampai kapan pun!" ucap Wulan dengan tegas.
"tentu saja tidak ada, mana berani aku bohong sama kamu, kamu itu wanita yang aku cintai satu-satunya!" jawab Abi meyakinkan Wulan.
Abi menyembunyikan kontak Dewi dan menamainya dengan nama tukang sayur.
Tiba-tiba saja Abi merasakan nyeri di dadanya semakin kuat.
"Aaaahhhhhhh!!!" Abi memegangi dadanya dan bersandar di dinding.
"Mas....Mas Abi kamu kenapa Mas?!" Wulan pun panik.
"Dadaku....dadaku sakit sekali!" Keluh Abi dan dia pun langsung ambruk.
"Maaaaasssssss!!!!!"
cinta boleh wi gobloogg jangan