Setiap rumah tangga pasti memiliki yang namanya masalah begitu pun dengan rumah tangga Dian dan Andara.
Karena sebuah kejadian Dian harus menerima kenyataan, bahwa kemungkinannya kecil untuk dia bisa memiliki anak atau bisa hamil lagi! Bagai disambar petir di siang bolong, saat Dian mendengar kenyataan itu.
Tetapi wanita itu tidak kehilangan semangat hidupnya, dia percaya usaha dan doa pasti tidak akan mengkhianati hasil.
Tapi sayang, ujian rumah tangganya tidak sampai di situ, karena saat mertuanya meminta dia untuk mengizinkan suaminya menikah lagi, dia pun dengan terpaksa mengiyakan hal itu.
Sakit, kecewa dan hancur! Tentu saja Dian rasakan, tetapi Dian berusaha tegar menghadapi setiap keadaan sampai pada akhirnya ia lelah dan merelakan semuanya.
Kenapa? Karena dunianya menuntut dia untuk berdamai dengan keadaan, sementara keadaan membunuhnya secara perlahan. Dengan menangis di tengah malam dan tersenyum serta tertawa di pagi hari. Walaupun dia tahu semuanya tidak akan seindah dulu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan untuk keluarga Bagaskara
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di pengadilan bersamaan dengan Andara. bahkan mobil mereka di parkiran bersebelahan dengan mobil Andara.
Dari dalam mobil Dian bisa melihat dengan jelas, pengacara, Andara , Mama dan papa mertuanya satu persatu keluar dari mobil itu.
"Sebaiknya kakak sama Dion keluar lebih dulu biar dia sama aku di dalam sini." Ucap Melly, Kepada suami dan kakak iparnya.
" Kenapa kita nggak barengan aja sih." Tanya Dian sembari menatap bergantian kepada adik dan Melly.
" Ya. Karena kita ingin memberi kejutan kepada keluarga suami kakak." Jawab Melly apa adanya.
" Iya Kak, ikuti saja apa yang dikatakan Melly! semua yang kita lakukan saat ini, untuk kebaikan kakak dan Gio." Sahut Dion ketika kakaknya itu hendak membuka mulutnya untuk protes lagi dengan apa yang disarankan oleh Melly.
" Baiklah Mel kakak titip Gio ya!" Pinta Dian langsung disambut anggukan kepala oleh Melly.
" Iya Kak, kakak tenang ya! Gio aman kok sama aku." Ucap Melly membuat Dian sedikit lebih tenang.
Setelah memastikan Gio akan baik-baik saja bersama Melly, Dian pun memutuskan untuk keluar bersama Dion dan asisten adiknya itu.
Dian melangkah dengan anggun, masuk ke dalam gedung pengadilan bersamaan dengan Dion diikuti oleh asisten Dion, Reval dan Jayden. Sementara Luna dan Nurul menemani Melly di dalam mobil bersama Gio.
Setibanya di depan ruang Sidang Dian duduk berhadapan dengan keluarga Bagaskara tentu saja ditemani Dion dan kawan-kawan. pada bangku yang telah di sediakan untuk menunggu waktu sidang di mulai.
Posisi mereka yang berhadapan membuat Dian dapat melihat dengan jelas wajah sinis ibu mertuanya. wanita paruh baya itu, tidak tanggung-tanggung untuk menunjukkan ketidaksukaannya kepada Dian di hadapan Dion dengan menyindir Dian.
" Akhirnya hari ini datang juga. kenapa nggak dari dulu sih." Ucap wanita paruh baya itu sembari menatap Dian sesaat sebelum memalingkan wajahnya.
Melihat hal itu Dion hanya menunjukkan smirknya begitupun dengan Reval dan Jayden. Mereka bahkan dengan spontan menguat kan Dian. Reval misalnya, ia memberi kode melalui gerakan bibir dan tangannya. ' tenang ada kita, semua akan baik-baik saja.' Begitulah kita. Sementara Jayden mengusap punggung kakak sepupunya dan Dion menggenggam erat tangan kakak Dian. membuat wajah Dian yang awalnya di tekuk kini senyum kembali.
Sementara Andara seperti biasa hanya menegur dengan memanggil ibunya. " Pantas saja kakak aku ingin bercerai dari kamu, Ternyata begini sikap kamu kepadanya." Dion balas mengatai Andara di depan kedua orang tuanya. " Ternyata keluarga yang di pandang hormat dan baik di luaran sana, aslinya seperti ini." Sambungnya lagi.
" Tolong Maafkan sikap istri dan anak saya! saya tahu mereka sudah tidak adil kepada Dian dan maafkan ke tidak berdaya saya karena tidak dapat melindungi kakak kakak Nak Dion." Sahut lelaki paruh baya itu ketika Dion dan Reval menatap kepadanya.
" Jika ucapan om barusan karena takut kita akan memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan om! maka om tidak perlu khawatir, karena sampai detik ini kita masih bisa membedakan antara masalah pekerjaan dan masalah pribadi." Reval Turut menimpali ucapan mereka. sehingga situasi nya menjadi semakin tegang.
" Oh iya anak kamu sama istri kedua kamu berapa berapa sih?" Tanya Jayden, entah apa sebabnya, sehingga laki-laki itu bertanya demikian dan memancing semua mata menatap kepadanya.
" Aku?" Tanya Andara sembari menunjuk dirinya sendiri.
" Siapa lagi! Disini yang mempunyai dua istri hanya kamu dan sampai saat ini kami masih setia kepada istri kami masing-masing dan belum berniat mencari pengganti, walaupun istri kami banyak kekurangannya." Tegas Jayden.
" Kami! kamu aja kali." Sahut Dion dan Reval bersamaan tanpa memikirkan situasi. kedua lelaki itu tidak terima jika istri mereka di katakan banyak kekurangannya.
" Iya-iya, istri kalian berdua yang terbaik."
" Anak aku tiga!" Jawab Andara bersamaan dengan ucapan Jayden.
" Hebat ya! laki-laki berapa? perempuan berapa?" Jayden kembali bertanya kepada Andara, sementara Dian, Reval dan Dion memilih Dian dan mendengarkan.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu! mau membandingkan menantu saya dengan kakak kamu yang mandul itu, jelas berbeda lah." Tentu saja sang nyonya tidak akan tinggal diam jika anaknya di tanya-tanya seperti itu. dan kata-kata wanita paruh baya itu membuat Dion kehabisan kesabarannya, hampir saja ia berdiri dari duduknya dan menghancurkan wajah wanita sombong itu, tetapi genggaman tangan Dian dan gelengan kepalanya membuat Andara kembali duduk di tempat semula.
" Maaf ya nyonya Bagaskara yang terhormat, saya hanya bertanya dan tidak bermaksud membandingkan menantu anda dengan kakak saya karena di lihat dari segi manapun kakak saya unggul dalam segala hal. Jika kalian keberatan untuk memberi tahu cukup katakan saja tidak perlu menghina kakak saya seperti itu." Ucap Jayden lagi, lelaki itu tidak kalah emosinya dengan Dion.
Sementara Dian yang sudah terlatih dengan rasa sakit itu, hanya Diam toh apa yang di ucapkan calon mantan mertuanya itu tidak benar, karena sekarang dia memiliki Gio.
" Ketiganya perempuan." Jawab Andara sebelum situasi semakin rumit.
" Ternyata Tuhan cukup adil ya." Sahut Jayden sembari tertawa mengejek.
" Apa maks_" Sebelum Andara sempat bertanya. mereka di minta untuk masuk ke ruang sidang.
Dan di dalam ruangan itu, Dian duduk berdampingan bersama Andara. Wanita itu hanya hanya menatap lurus kepada hakim, sementara Andara sesekali harus mencuri pandang kepada Istri nya itu.
Dalam sidang kali ini, Dion mampu menghadirkan bukti dan saksi, ia juga meminta pengacaranya untuk meminta pertimbangan dari majelis hakim agar Gio di hadirkan di akhir persidangan. Dengan melewati banyak pertimbangan akhirnya para majelis hakim memutuskan untuk menghadiri Gio di akhir persidangan sebelumnya pembacaan putusan.
Setelah melewati serangkaian proses sampai pada kesimpulan dari Dian maupun Andara. akhirnya hakim memutuskan untuk menunda persidangan selama dua jam.
Dalam Dua jam itu, mereka memutuskan untuk menunggu sambil makan siang bersama disalah satu restoran yang tidak jauh dari pengadilan.
Setelah makan siang mereka kembali ke pengadilan, lima menit sebelum sidang di mulai kembali .
Dan sesuai kesepakatan mereka, sebelum mendengar putusan hakim, Dian telah duduk di tempatnya sambil memangku Gio. dan jangan tanya seperti apa wajah kaget serta bingung keluarga Bagaskara.
Saking kaget dan bingung, mereka sampai tidak dapat berkata-kata saat Hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan perceraian Dian di ikuti ketukan palu.
" Bagaimana om Tante! kejutan saya hari ini? Jika kalian ingin menyangkal kehadirannya, silahkan saja, karena keluarga Xavier membutuhkan anak laki-laki untuk melanjutkan usaha dan garis keturunan kami." Ucap Dion tepat di samping mantan mertua kakaknya. posisi dia yang berada tepat di belakang mereka membuat ia leluasa mengatakan hal itu. " Ingat om, Tante! sebanyak apapun anak atau cucu perempuan kalian, tidak ada yang dapat membawa nama Bagaskara di masa depan. hanya dia yang bisa melakukan itu, tapi jangan berharap aku akan mengizinkan kalian untuk menyentuhnya." Setelah itu Dion beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban pasangan paruh baya itu dan menghampiri Dian Sembari mengambil Gio dari Gendongan kakaknya sebelum tangan Andara sempat menyentuh Gio.
" Ayo kita pulang kak, urusan kita sudah selesai disini." Ucap Dion kepada kakaknya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
sekarang nikmati saja penyesalanmu...itu gk sebanding dg penderitaan Diana selama ini