"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protes nyonya emeli
"Apa yang mama lakukan pada Runi? Kenapa mama mau menamparnya?" tanya Yandra seraya menghampiri Runi.
"Istri kamu ini memang pantas di tampar. Karena dia sangat kurang ajar bicara sama mama!" sahut wanita itu masih menyorot tajam.
Yandra menatap Runi, seakan ia ingin meminta klarifikasi dari wanita itu.
"Mas, apakah mas tidak percaya sama aku? Mas tahu aku kan? Aku tidak akan bicara buruk bila tidak di pancing terlebih dahulu," ujar Runi menatap dalam pada sang suami.
"Sudahlah, kamu sekarang istirahat ya. Biar aku suruh mama dan Gracia pulang," ujar Yandra membantu Runi untuk berbaring, lalu menyelimuti hingga nyaman.
Runi mengangguk patuh. Saat Yandra hendak membalikkan tubuhnya, Runi meraih tangan lelaki itu.
"Apakah mas percaya sama aku?" tanya Runi.
"Tentu saja aku percaya," jawab Yandra membuat nyonya Emeli menatap kesal.
"Kenapa kamu selalu saja membela wanita itu, yandra? Kamu jangan mudah sekali percaya dengan ucapannya. Belum tentu anak yang di kandungnya adalah anak kamu!" tekan nyonya Emeli.
"Hasil tes DNA itu sudah keluar. Kita sama-sama mengetahui hasilnya. Tetapi kita tunggu papa dan mommy datang terlebih dahulu, nanti bang Vano yang akan membacakan hasilnya," jawab Yandra tenang.
"Baiklah. Kita akan lihat hasil tes DNA itu."
"Jadi benar, tadi malam papa kamu tidur di rumah istri tuanya?" imbuh nyonya Emeli merasa kesal karena suaminya bersikap tidak adil.
"Ya mana aku tahu. Lagian semalam mama nggak mau di ajak sama papa. Ya jadinya papa pulang kerumah mommy deh. Mama juga nggak boleh marah, karena itu salah mama sendiri," ujar Yandra.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu sama mama? Kamu mau bilang kalau semua kesalahan dari mama?"
"Aku nggak bilang begitu, tetapi aku cuma ingin mama paham dengan kewajiban mama."
Nyonya Emeli menatap putranya kesal sekali. Kenapa anaknya itu lebih berpihak pada ibu tirinya.
"Mama heran sama kamu ya. Kenapa kamu selalu saja berpihak pada ibu tiri, dari pada ibu kandungmu sendiri. sebenarnya siapa ibu kamu yang sesungguhnya?" intrupsi wanita baya itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?" seru papa. Lelaki itu baru saja masuk bersama mommy Amira.
Nyonya Emeli segera menoleh pada pasangan itu. hatinya masih kesal karena tadi malam tuan saga tidak pulang.
Sesaat ruangan itu senyap. Hanya mereka saling pandang satu sama lain.
"Kapan kamu datang, Ma?" sapa papa pada istri mudanya. Wajah lelaki itu tampak tenang, seakan tidak ada masalah yang terjadi.
"Kenapa papa tidak pulang tadi malam?" tanya Emeli dingin.
"Tadi malam pulang dari RS sudah cukup larut, jadi papa putuskan tidur di rumah Amira saja," jawab lelaki itu.
"Tapi kenapa papa tidak menjawab telpon mama? Tidak bisa seperti itu juga. Mau semalam apapun, papa harus pulang. Karena itu jatah pulang kerumah mama!" Emeli meninggikan nada bicaranya.
"Jaga nada bicaramu, Emeli. Kamu tahu ini di RS?" intrupsi tuan saga menggeram.
"Jika tidak mau aku seperti ini, maka papa harus bersikap adil. Kalau seperti ini papa curang!"
"Aku tidak curang. Kamu yang tidak becus menjadi istri. Jika aku sudah pulang kerumahmu, maka kamu jadi istri harus patuh dan nurut. Jadi jangan salahkan aku jika aku sering pulang ke rumah Amira. Karena dialah yang selalu ada dalam situasi apapun. Dia selalu setia mendampingi aku!" tegas lelaki baya itu.
Emeli terdiam membeku. Sementara itu nyonya Amira hanya tersenyum samar.
"Selamat sore semuanya!" suara dokter Vano membuat semua mata orang mengarah padanya.
"Kebetulan semua keluarga sudah datang, jadi aku bisa membacakan hasil tes DNA nya sekarang."
Bersambung...