Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di sebuah desa kecil di tepi pantai bernama Desa Hianli, kehidupan berjalan sederhana. Walau terpencil, desa itu penuh dengan penduduk dan tawa anak-anak yang terdengar dari setiap sudut. Anak-anak sering bermain di pantai dengan bola rotan buatan sendiri.
"Hahaha, kalian semua sangat lambat!" teriak seorang anak sambil menggiring bola rotan, dikejar teman-temannya yang sebaya.
"Tunggu! Jangan biarkan Chuan terus membawa bolanya, kejar dia!" sahut salah satu anak yang berusaha merebut bola dari kaki Han Chuan.
Han Chuan berlari semakin kencang menyusuri jalan desa, hampir menabrak beberapa orang yang lewat, begitu juga anak-anak lain yang mengejarnya.
"Hei, kalian hati-hati kalau main!" tegur seorang wanita yang sedang membawa bakul berisi ikan.
"Maaf, Bibi Mei! Besok aku akan lebih berhati-hati!" jawab Han Chuan sambil tetap berlari, menggiring bola ke arah pantai. Sesampainya di sana, ia langsung bermain bersama teman-temannya, tertawa keras sambil mengoper bola.
Namun, di saat mereka asyik bermain, sesuatu yang janggal terjadi di dalam desa.
"Ibu, ini aku bawa kayu bakar dan beberapa ikan yang baru kutangkap dari sungai," ucap seorang pemuda sambil menurunkan beban di punggungnya.
"Iya, letakkan saja di sana. Sebentar lagi Ibu ambil," sahut sang ibu dari dalam rumah.
Saat pemuda itu tengah merapikan kayu, tiba-tiba tanah di bawah kakinya retak. Aura hitam pekat menyembur ke udara. Ssshhrrkkk! Suara mengerikan terdengar ketika beberapa tentakel hitam menyembul, melilit tubuhnya dengan cepat.
"Aa—!" teriaknya terputus. Tubuhnya terseret ke bawah tanah tanpa sempat meminta tolong. Makhluk itu lenyap kembali, merayap di bawah tanah menuju jantung desa.
Kejadian serupa terjadi di beberapa tempat lain di desa. Dari bawah tanah, tentakel hitam terus muncul, menyambar manusia, menarik mereka ke kegelapan tanpa ampun.
Salah satu makhluk itu kemudian bergerak menuju pantai, mengikuti suara tawa anak-anak yang bermain bola bersama Han Chuan.
"Ayo! Kejar bolanya! Masak kalian semua payah sekali!" seru Han Chuan, terus menggocek bola dengan cepat.
Anak-anak lain berusaha mengejar. Salah seorang anak yang berada paling belakang terjatuh. Tepat saat ia jatuh, tanah di bawahnya berguncang. Aura hitam muncul lagi. Bwoooss! Tentakel hitam menyambar keluar, melilit tubuhnya dan menariknya ke bawah tanah. Crrkkhh! Suara tulang patah terdengar samar sebelum tubuhnya lenyap ditelan bumi.
Makhluk itu masih bergerak, terus mengintai dari bawah tanah, mendekati anak-anak yang lain. Saat jarak tinggal sedikit, tanah bergetar keras seolah siap memuntahkan kengerian.
Namun tepat pada saat itu, seorang wanita muncul dari arah desa. Dengan cepat ia menangkap bola rotan yang memantul ke arahnya. Tangannya terulur cepat, thap! dan telinga Han Chuan langsung terjepit cubitannya.
"Ah! Ibu, jangan begitu, sakit!" teriak Han Chuan meringis.
"Chuan, apa kau sudah lupa waktu? Main terus saja kerjanya," ucap ibunya dengan nada kesal.
"Bu, aku cuma sebentar kok!" protes Han Chuan sambil berusaha melepas telinganya.
"Sudah, ikut Ibu saja. Lebih baik duduk di bukit sebelah sana," kata sang ibu, menunjuk ke arah bukit yang lumayan tinggi dengan sebuah pohon besar berdiri kokoh. Dari salah satu dahannya tergantung ayunan tua yang bergoyang pelan diterpa angin laut.
“Tapi kan, Ibu, aku masih ingin main,” ucap Han Chuan yang telinganya masih dicubit oleh ibunya.
“Sudahlah, ikut Ibu saja. Ibu juga membawa buku gambarmu dan kuasnya,” ucap ibunya dengan lembut sambil memegang tangan Han Chuan, lalu membawanya naik ke bukit yang ditunjukkan tadi. Han Chuan mau tidak mau akhirnya mengikuti ibunya.
Saat mereka pergi, monster yang masih berdiam di dalam tanah kembali bergerak, meluncur ke arah anak-anak yang masih asik bermain. Satu per satu dari mereka ditelan oleh tentakel hitam itu, tanpa ada yang mengetahui.
Sementara itu, Han Chuan dan ibunya sudah sampai di atas bukit. Mereka duduk santai, Han Chuan bersandar di samping pohon besar sambil mulai melukis. Sesekali ia menatap ibunya dengan senyum tipis.
Ibunya bangkit dan mendekati Han Chuan. “Coba Ibu lihat, pelukis kecil Ibu sedang menggambar apa,” ucapnya sambil duduk di depan anaknya.
Han Chuan membalik buku lukisannya, memperlihatkan hasil karyanya.
“Kenapa kau hanya menggambar sebuah batu yang dihinggapi kupu-kupu? Padahal di depanmu ada nona cantik,” ucap ibunya sambil tersenyum, memuji dirinya sendiri. Memang, meskipun sudah menjadi seorang ibu, wajahnya masih muda dan cantik.
Han Chuan hanya menghela napas melihat tingkah ibunya. “Jadi, nona cantik, buat apa kita kemari? Jangan bilang cuma mau main ayunan,” ucapnya dengan nada datar.
“Hahaha, siapa pula yang main ayunan? Itu terlalu kekanak-kanakan,” jawab ibunya sambil menahan tawa.
Namun, tindakannya justru berbeda. “Hahaha, lebih tinggi lagi! Lebih tinggi lagi!” serunya riang, saat tubuhnya melayang naik-turun di ayunan besar di bawah pohon. Han Chuan duduk di samping, menatap dengan wajah datar seolah tak percaya.
Beberapa saat kemudian, ibunya turun dari ayunan dan berjalan kembali ke samping Han Chuan.
“Bu, Ayah ke mana? Kok seharian ini tidak kelihatan?” tanya Han Chuan.
“Ayahmu pergi ke kota untuk menemui keluarganya. Dia ingin meminta agar kita diterima kembali dalam keluarga, supaya bisa membantu ekonomi kita,” jawab ibunya tenang.
“Hahh... bisa jadi aku tidak bisa makan masakan enak malam ini,” keluh Han Chuan sambil bangkit, berjalan kembali menuju desa.
“Hei, apa maksudmu bilang begitu? Kau pikir masakan Ibu tidak enak?” ucap ibunya dengan nada kesal, lalu berhenti mendadak. Wajahnya berubah serius. Ia merasakan sesuatu muncul di belakangnya.
“Jangan buru-buru pergi, Yueling. Bermainlah sebentar denganku,” terdengar suara berat dari ayunan.
Sosok misterius duduk di sana, memakai jubah lusuh dengan tudung, wajahnya tertutup topeng menyeramkan. Kedua tangannya terlihat aneh: panjang, kurus, dengan kuku-kuku tajam seperti cakar iblis.
Dari tanah di sekeliling Yueling, monster-monster hitam bermunculan. Tentakel mencuat dari dalam bumi, melingkar liar, lalu makhluk-makhluk itu melompat ke arahnya sambil mengeluarkan suara “KRAAAHHH!” yang menggetarkan udara.
Namun, sebelum sempat mereka menyentuhnya, sebuah ledakan aura keluar dari tubuh Yue ling.
Gelombang energi spiritual berwarna biru menyelimuti seluruh tubuhnya. Penampilannya berubah drastis: rambutnya memanjang, berwarna putih berkilau, dua tanduk mirip rusa tumbuh di kepalanya. Pakaiannya berubah menjadi armor hitam pekat, pas melekat di tubuhnya, menyalurkan energi spiritual yang bergemuruh. Di belakangnya, senjata melayang: sebilah sabit raksasa berkilau, berputar pelan di udara, memancarkan cahaya dingin yang menakutkan.
sabit itu berputar cepat, memotong semua monster yang melompat ke arahnya. Darah hitam menyembur, melumuri tanah. Yueling menatap sosok berjubah itu dengan mata biru menyala, dan di dahinya muncul sebuah lambang bulan sabit.
Sosok misterius itu pun menunjukkan wujud aslinya. Jubahnya robek, tubuhnya membesar, menyerupai manusia tapi mengerikan: ia memiliki empat tangan, dua tentakel besar mencambuk di belakangnya, dan dua mulut—satu di wajah, satu lagi menganga lebar di perutnya, penuh gigi tajam berlumuran liur hitam. Empat matanya menyala merah, terletak di kedua bahunya, menatap ke segala arah.
Tubuhnya melesat cepat, menciptakan dentuman keras saat kakinya menghantam tanah. Tanah bergetar, kerikil beterbangan. Ia langsung menyerang Yue ling dengan cakarnya yang panjang, menggores udara hingga terdengar suara siulan tajam.
Pertarungan pun pecah di atas bukit. Sabit Yue ling beradu dengan cakar monster itu, yang menimbulkan percikan api.serta cahaya biru dan hitam beradu, membuat udara bergetar seolah akan pecah.
Sementara itu, di desa, kepanikan melanda. Orang-orang berlarian, mencari keluarga mereka.
“Hei! Apakah Bibi melihat anakku?!” teriak seorang wanita setengah baya dengan wajah panik.
Orang-orang bertanya satu sama lain, mencari anak, suami, istri, atau kerabat mereka. Namun, dari balik semak-semak, terdengar suara retakan tanah. Lalu, monster tersebut melompat keluar, tubuhnya besar, matanya merah, dan langsung menerkam warga.
“LARIII!!!”
Penduduk berlarian, sebagian mencoba melawan dengan senjata seadanya: cangkul, sabit, bahkan batang kayu. Bahkan ada warga yang langsung menyerang nya namun sia sia senjata mereka patah saat menghantam kulit keras monster.
Namun, jumlah makhluk itu semakin banyak. Ada yang berbentuk cacing raksasa dengan gigi mencuat keluar dari seluruh mulutnya, ada yang bertubuh besar berjalan dengan dua kaki seperti raksasa, ada pula yang menyerupai kalajengking hitam dengan ekor panjang beracun.
Suara raungan, teriakan, dan dentuman pertarungan memenuhi desa. Darah berceceran di jalanan, tubuh-tubuh manusia tergeletak, dan monster terus memburu mangsanya tanpa henti.