Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tenggelam
Zee berlari menghampiri Aurel yang tengah duduk bersama kedua orang tua Leon. Ia menyalami papa dan mama Leon dengan takzim kemudian berpelukan sebentar dengan Aurel.
"Apakabar sayang? ". Tanya mama Leon pada Zee. Bukan hanya Leon yang menganggap Zee sebagai adiknya, bahkan kedua orang tua Leon pun menganggap Zee seperti anak bungsunya.
" Alhamdulillah aku baik, bu. Ibu sama bapak gimana kabarnya? ". Tanya Zee balik.
" Kami baik, alhamdulillah.. "
"Kenapa lama tidak main kerumah? Mama kangen Zee.. " Zee tersenyum hangat, kedua orang tua Leon sangat baik padanya. Bahkan meminta nya memanggil papa dan mama seperti Leon memanggil mereka juga.
"Kalo pulang kerja suka ngantuk, bu". Zee nyengir saja. Tak mungkin ia bilang jika sungkan kesana, bisa-bisa ia kena omel.
" Pindah saja kerja di kantor papa. Kamu bisa pilih mau posisi apa". Kini papa Leon yang bersuara. Ini bukan kali pertama papa Leon menawarkan pekerjaan di kantor untuk Zee.
"Papa benar Zee. Kamu bisa kerja dikantor papa saja". Aurel ikut mengopori.
" Kakak.. " Rengek Zee membuat Aurel mendengus karena paham apa maksud Zee.
"Aku kan cuma lulusan SMA, pak. Nanti nggak baik citra perusahaan kalau memperkerjakan aku". Jawab Zee jujur.
" Lagipula aku sudah nyaman bekerja di tempat bang Leon. Aku baik-baik saja.. " Terang Zee sebelum kembali dipaksa oleh kedua orang tua Leon.
"KAK ZEE!!!! "
Saat tengah asyik mengobrol, Zee dikejutkan dengan sebuah teriakan yang menyerukan namanya. Kepalanya memutar mencari sumber suara. Dan seketika matanya berbinar kala melihat sosok yang memanggil dirinya.
"AAAAA... MICIIIIIIN". Balas Zee yang juga berteriak, ia kemudian bangkit dan ikut berlari seperti Sasa. keduanya berpelukan sesaat.
Baik orang tua Leon maupun Aurel tampak bingung melihat keakraban Zee dengan sosok anak yang cukup mereka kenal.
" Kamu kok di sini juga? " Tanya Zee pada Sasa. Matanya menyisir sekeliling mencari keberadaan Mei atau oma Sandra.
Saat Zee melihat Mei dan juga Sandra di kejauhan, ia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat nya.
"Liburan dong. Emang kakak aja yang liburan". Sahut Sasa yang sudah memeluk lengan Zee.
Zee menggandeng tangan Sasa, membawa gadis itu untuk ia kenalkan pada Aurel.
" Haii aunty Aurel.. ". Zee menatap Sasa saat gadis itu menyapa Aurel dengan sebutan aunty.
" Hai cantik.. " Aurel mengecup kening Sasa singkat.
Sasa kemudian beralih menyapa kedua orang tua Leon. Kerutan di kening Zee semakin kentara, bagaimana bisa Sasa mengenal mereka semua.
Kebingungan Zee terjawab saat Mei dan Sandra menyapa kedua orang tua Leon, rupanya Mei juga cukup akrab dengan Aurel. Itu sebabnya Sasa sudah mengenal mereka.
Hanya satu yang belum Zee tahu, bahwa Ben adalah paman dari gadis ciliki itu. Padahal sudah beberapa bulan mereka saling mengenal.
Mereka mengobrol sebentar, Sasa yang ditanya bagaimana bisa mengenal Zee kemudian menceritakan semuanya.
"ZEE!! ". Perhatian Zee teralihkan oleh teriakan Maya. Lelaki kemayu itu melambaikan tangannya pada Zee.
" Kakak kesana dulu ya, Sa". pamit Zee pada Sasa.
"Aku mau ikut! ". Sasa ikut bangkit dari duduknya dan sudah memegang lengan Zee.
" Bolehkan ma? ". Rengek Sasa pada Mei. Zee menatap Mei dan Sandra meminta persetujuan.
" Jangan merepotkan kak Zee".
"Yess!!!". Seru Sasa yang menarik tangan Zee, namun Zee tahan. Zee kembali menatap Mei, Setelah melihat ibu dan nenek anak itu mengangguk, Zee segera membawa Sasa.
Dan disinilah mereka bertiga. Bermain istana pasir, membuat bentuk-bentuk dengan mainan yang dibeli oleh Maya sebelumnya.
Sementara para orang tua menatap dari jauh keseruan Zee dan juga Maya serta Sasa. Bibir mereka melengkung tiap melihat tawa ketiga orang itu.
" Cantik sekali". Gumam Sandra yang rupanya didengar oleh ibunda Leon.
"Sangat cantik. Bukan begitu? ". Tanya Ibu Leon membuat Sandra menoleh.
Saat ini Zee memakai setelan santai, sebuah celana berwarna abu-abu muda dipadukan dengan kaos putih polos yang dibalut dengan kemeja berwarna pink. Sederhana namun tetap terlihat cantik dipakai Zee.
" Iiih... nggak gini kak Maya". Sasa protes karena merasa Maya membuat istananya terlihat aneh.
"Ini tuh seni tauuu.. se-ni". Ucap Maya menekankan setiap katanya.
" Mana ada seni kaya begini sih". Sungut Sasa
Kedua orang berbeda usia itu sibuk berdebat perihal istana pasir dan segala bentuknya. Sementara Zee menatap hamparan laut yang tenang didepannya.
Namun ada sesuatu yang mengganggu penglihatan gadis itu. Zee menyipitkan matanya, melihat seksama apa yang tertangkap netranya.
Sesaat kemudian ia bangkit dengan buru-buru membuat Maya dan Sasa kaget. Belum sempat mereka protes, Zee sudah berlari kearah pantai. Sembari berlari Zee melepas kemeja yang tadi ia pakai dan melemparnya asal. Ia butuh keleluasaan untuk berenang nanti
"Zee!!! ". Teriakan Maya tak diindahkan oleh Zee, gadis itu terus berlari bahkan menambah kecepatan larinya.
Kini hampir semua mata menatap Zee yang berlari. Tak jauh dari Zee, seorang lelaki juga berlari dengan arah yang sama dengan Zee.
" Ada apa? ". Tanya Leon pada Aurel yang kini berdiri menatap khawatir pada Zee.
" Zee sayang.. " Aurel fokus pada Zee, sehingga Leon mengikuti kemana tatapan sang kekasih.
"Zee!! ". Seru Leon dari jauh yang tak mungkin Zee dengar.
" Mau apa anak itu". Gumam Leon.
"Aaahh astaga!! Ada yang tenggelam! ". Mei menutup mulutnya.
Telunjuknya mengarah pada seseorang yang terlihat tengah berjuang didalam air.
Zee menceburkan dirinya kedalam air laut, segera berenang untuk menggapai seseorang yang tengah berjuang antara hidup dan mati didepannya.
Untunglah disana bukanlah lautan dengan ombak besar. Entah akan seperti apa jadinya jika disana memiliki ombak yang ganas.
Pras yang rupanya juga melihat orang tenggelam hendak menolong. Namun rupanya Zee sudah lebih dulu menyadari,hingga akhirnya berlari dibelakang Zee.
Pras juga menceburkan dirinya ke dalam air. Berenang secepat mungkin agar bisa membantu Zee yang sudah mampu menggapai tubuh korban.
Pras mengambil alih tubuh seorang wanita yang sudah ditolong Zee. Kemudian membawanya ke tepian agar bisa segera mendapatkan pertolongan pertama.
Saat Zee dan Pras berhasil membawa korban yang hampir tenggelam ke tepi pantai, sudah banyak orang yang berkerumun disana.
Nafas Zee masih terengah, sisa berlarian dan berenang serta usahanya membawa tubuh manusia ke tepi pantai.
Zee memompa dada wanita yang sudah kehilangan kesadaran itu. Kemudian menempelkan telinganya kedada sang wanita. Begitu berulang hingga korban memuntahkan air laut dan batuk.
Zee menjatuhkan tubuhnya keatas pasir saat berhasil menyelamatkan korban. Ia menoleh dan bertemu tatap dengan Pras yang juga tengah menatapnya. Keduanya lantas saling berbalas senyum.
Senyum penuh kelegaan karena berhasil menyelamatkan nyawa seseorang.
Sementara itu terdengar tepuk tangan yang bergemuruh sebagai apresiasi atas tindakan Zee dan Pras yang sangat heroik.
Semua mulai membubarkan diri saat korban sudah dibawa oleh keluarganya. Ucapan Terimakasih berulang diberikan untuk Zee dan Pras dari keluarga korban.
Zee menoleh saat seseorang menyelimuti tubuhnya dengan sebuah handuk. Ia tersenyum pada sosok yang selalu tahu apa yang diperlukannya itu.
"Makasih May.. "
"Iye.. tuh isi baju kemana-mana kalo nggak eik tutupin". Sontak Zee melotot pada Maya yang dengan santai mengucapkannya.
" Wow.. kakak hebat banget". Pujian tulus dari Sasa membuat Zee mengurungkan niatnya untuk mengomeli Maya.
Hanya tatapan kekaguman yang kini ada disorot mata hampir semua orang. Mami Sandra semakin bertekad menjadikan Zee sebagai menantunya.
"Dia harus menjadi menantuku. Harus!! ". Batin mami Sandra. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan putra bule nya.
" Apa? Tunggu? Heiii!!! Dia juga sedang memperhatikan Zee? Benarkah? ". Batin mami Sandra girang saat melihat Ben tengah menatap intens pada Zee.
" Zee.. " Zee menoleh saat sebuah suara yang cukup familiar terdengar di telinga nya.
"Ini beneran kamu Zee? ". Seru seorang lelaki dengan wajah sumringah nya.
Sangat berbanding terbalik dengan Zee yang kini wajahnya tiba-tiba memucat dan perlahan mundur.
" Maaf semuanya.. saya permisi dulu mau ganti". Pamit Zee pada semua orang dan langsung berbalik tanpa menunggu respon.
"Zee!! Tunggu!! ". Si pria yang belum diketahui siapa namanya itu berlari mengejar Zee.
" Jangan ay.. biar Zee selesaikan sendiri jika memang ada masalah ". Aurel menahan lengan Leon saat lelaki itu hendak menyusul Zee dan pria yang belum pernah ian lihat sebelumnya itu.
" Tunggu Zee ". Zee menepis tangan yang menggenggam tangan nya.
" Ayo kita bicara Zee.. " Pinta si lelaki pada Zee. Tangan Zee meremas handuk yang menyelimuti tubuhnya, remasannya kian kuat guna menyembunyikan tangannya yang bergetar.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan". Sahut Zee dingin kemudian berlalu meninggalkan sesosok lelaki yang terpaku menatap punggung Zee yang menjauh.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Sapa lagi tuh?? Ama mas Ben belum juga deket ini nambah peserta aja nih si othor😔🤭😁...
...Sehat selalu untuk semua pembaca ya.. jangan lupa ritualnya pemirsah, like komen nya jangan ketinggalan ya✌✌🫰🫰❤...
...Happy reading semuanyaa, sarangheyo readerskuuhh💋💋💋 😘💋😍🥰🤩🤩😘❤❤❤💋😘🥰😍😍😘😘...