Nama Cahaya Mirwa Pelangi, biasa dipanggil Pelangi usia 20 tahun, seorang gadis yang bekerja di Satuan Polisi Pamong Praja, hidupnya nampak aneh karena dihadapkan oleh tuan muda yang kaya raya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viole, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pukul 11.00 malam
Zarow berdiri di balkon yang berada di kamarnya menikmati hembusan angin malam yang semilir, ia menatap lurus kedalam keheningan pekatnya malam. Sudah hampir setengah jam ia berdiri di sana setelah berusaha memejamkan matanya di tempat tidurnya tapi tak kunjung juga dapat memejamkan matanya.
Ada kegelisahan di dalam hati & pikirannya, ia takut jika ia tak bisa menjadi seorang suami yang baik menurut agamanya. Zarow yakin memberikan materi serta kehidupan yang layak bukanlah satu-satunya patokan dalam menjadi seorang suami yang baik dalam rumah tangga.
Sedangkan saat ini ia baru memulai menggali & mempelajari kehidupan agamanya kembali yang sudah lama ia lupakan. Pikirannya terus saja tertuju ke sana, ia mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ditatapnya langit malam yang tak sepenuhnya gelap karena banyak bintang bertaburan, harusnya hari ini ia bahagia karena doanya terkabul, alih-alih bahagia kini dirinya justru gundah-gulana.
Bukannya ia tak senang karena lamarannya di terima oleh Pelangi hanya saja ia belum yakin apakah ia mampu menjadi seorang kepala rumah tangga seperti yang diharapkan Pelangi.
" Tuhan bimbing lah hamba untuk bisa menjadi seorang suami & pemimpin rumah tangga yang benar sesuai dengan ajaran agamamu, bimbing lah hamba jika suatu saat hamba salah langkah " gumamnya sendiri.
Angin malam terasa semakin dingin terasa menusuk sampai ke tulangnya, ia segera masuk kedalam kamarnya kembali, di tutupnya kembali pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.
Malam semakin larut ia kembali naik keatas tempat tidurnya, di rebahkan nya tubuhnya di atas tempat tidurnya, kini pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit kamarnya.
Seketika senyumnya mengembang mengingat momen-momen saat Pelangi menerima pinangannya, saat itu ia bener-benar merasa sangat berdebar-debar, apalagi saat memasangkan cincin pengikat sebagai tanda pinangannya di terima.
Tetapi dari semua itu momen yang paling ia suka adalah saat ia berpamitan untuk pulang, Pelangi mencium punggung tangannya hingga membuatnya hampir tercengang, karena untuk pertama kalinya seorang gadis mencium punggung tangannya saat bersalaman.
Sekali lagi ia memegang jantungnya yang merasa berdebar mengingat setiap bayangan-bayangan Pelangi yang terlintas dipikirannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan perasaan yang ia rasakan akhir-akhir ini.
" kenapa akhir-akhir ini detak jantung jadi gak menentu ya?, apa jangan-jangan gue kena gejala jantung? " kata Zarow bertanya pada dirinya sendiri. " ah gak mungkin lah masa iya sih gue kena gejala jantung, perasaan gue sehat-sehat aja kok " ia masih terus berbicara sendiri.
Zarow masih terus memegang dadanya, kali ini jantungnya berdetak normal kembali tak seperti tadi, ia bangkit dari tidurnya & duduk di atas tempat tidurnya sambil meraba-raba dadanya memastikan detak jantungnya yang kini telah stabil kembali.
" normal lagi, ah kenapa ya gue? " kata Zarow sedikit berpikir. " kayaknya besok gue harus periksa ke dokter deh buat mastiin gue kenapa " kata Zarow masih mengoceh sendiri.
Tak terasa jam di dinding telah menunjukan pukul 12:00 malam tetapi matanya masih tak bisa terpejam & malah semakin terang, ia masih terus membolak-balikkan tubuhnya seperti tadi sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berdiri di balkon memandangi gelapnya malam.
" ah, kenapa jadi susah tidur gini sih? " keluh Zarow.
Kembali lagi ia membalikkan tubuhnya menjadi terlentang menghadap langit-langit kamarnya kembali, kemudian Zarow kembali lagi duduk & menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Zarow turun dari tempat tidurnya & berjalan menuju arah pintu kamarnya, karena tak bisa tidur ia berpikir untuk menghilangkan rasa dahaganya sejenak yang sedari tadi telah ia tahan.
Di lantai bawah Zarow lalu menuang teko yang telah berisi air minum kedalam gelas, saat akan meminum air tersebut Zarow mendengarkan alunan suara merdu yang berasal dari area belakang rumahnya.
Ia segera menenggak air minumnya & pergi berjalan ke arah belakang untuk mencari sumber suara merdu tersebut berasal, semakin di telusuri sumber suara tersebut berasal dari rumah yang di sediakan untuk para ART serta pekerja yang bekerja di rumahnya.
Zarow tertegun terdiam mendengar alunan suara yang sering ia dengar sebelum Adzan sholat berkumandang di masjid, suara merdu seseorang yang melantunkan ayah suci alquran.
Mendengar betapa indahnya suara lantunan ayat suci alquran yang di baca seseorang yang berada di dalam rumah ART nya Zarow malah duduk di bangku yang berada tepat di depan teras rumah tersebut.
Matanya berkaca-kaca, meskipun ia tak mengerti apa maksud dari bacaan tersebut tetapi bacaan ayat suci tersebut sangat menyentuh di hatinya.
Zarow merenungi setiap perbuatan yang ia lakukan selama ini, perbuatan dosa yang seharusnya tak ia lakukan, betapa bodohnya ia selama ini pikirnya.
*******
Pelangi terbangun dari tidurnya, di lihatnya jam yang berada di atas mejanya telah menunjukan pukul 01.00 dini hari, ia kemudian duduk sambil terus mengucek-ngucek matanya.
Seperti kebiasaannya setiap malam ia akan menunaikan ibadah sholat sunahnya, ia segera bangkit & keluar dari kamarnya menuju arah dapur untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu.
Setelah selesai berwudhu Pelangi langsung masuk keruang musholah & memakai mukenah nya, ia langsung bersiap menunaikan ibadah sholat sunahnya. Setelah beberapa menit saat telah selesai menunaikan sholat tahajud Pelangi lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
" ya allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hanya padamu lah hamba memohon untuk segala urusan hamba, jadikanlah hamba & pasangan hamba kelak menjadi seorang muslim yang memiliki keimanan yang teguh, jadikan lah dia imam yang taat padamu ya allah, jadikan lah dia pasangan hidup hamba yang selalu membawa hamba selalu dekat padamu, bukalah pintu hidayah selebar-lebarnya untuk dirinya yang telah hamba pilih untuk jadi pasangan hidup hamba kelak "
Pelangi masih terus bersimpuh untuk mendoakan Zarow, ia sangat ingin Zarow mendapatkan pintu hidayahnya, ia ingin Zarow menjadi pribadi yang lebih baik lagi & memiliki iman yang baik dalam agama.
Bu Melati tak sengaja melihat putrinya sedang menunaikan ibadah sholat tahajud seperti kebiasaannya pada setiap bangun di tengah malam seperti ini, ia mendengar doa-doa putrinya untuk calon suaminya.
Tak jauh beda dengan ibu lainnya bu Melati juga berharap jika putrinya akan menjalani rumah tangganya dengan aman & tentram serta dijauhkan dari segala musibah apapun itu.
Pelangi kemudian berdiri setelah selesai berdoa, dilepasnya mukenah yang ia kenakan, dilipatnya kembali lalu di letakan kembali ke tempatnya. Saat Pelangi membalikkan tubuhnya ia melihat ibunya saat ini sedang berdiri di dekat pintu ruang musholah tersebut.
Bu Melati tersenyum ke arah Pelangi yang telah melihat kearahnya, ia lalu merangkul putrinya tersebut & mengelus-ngelus lengan putrinya, tentu saja bu Melati sangat menyayangi putri semata wayangnya tersebut yang sangat dewasa & tak pernah mengeluh.
" doanya khusus banget ya kayaknya malam ini? " kata bu Melati sambil tersenyum.
" heee, sebenarnya gak khusus-khusus banget sih bu, tapi kayaknya mulai sekarang Pelangi wajib mendoakan yang baik-baik buat mas Zarow " jawab Pelangi sambil tersenyum.
Bu Melati lalu melepaskan rangkulannya & menggenggam kedua tangan putrinya sambil tersenyum, ia terus memandang lembut kearah Pelangi, ia berpikir jika putrinya saat ini bahkan terdengar sangat bijaksana.
" iya sayangnya ibu, bener banget yang kamu omongin, ibu juga bakal mendoakan yang baik-baik untuk calon suami kamu, bukan cuman buat calon suami kamu tapi lebih tepatnya kalian berdua " kata bu Melati.
Pelangi tersenyum sambil mencium tangan ibunya, sebagai anak satu-satunya Pelangi khawatir jika setelah menikah ia tak akan bisa tinggal bersama kedua orangtuanya lagi.
" bu, Pelangi takut kalo habis nikah nanti Pelangi gak bisa tinggal sama ibu sama ayah lagi " kata Pelangi.
Bu Melati tersenyum kembali melihat kearah putrinya, sudah sewajarnya seorang wanita yang telah menikah ikut bersama dengan suaminya.
" kenapa takut nak, lagian sudah sewajarnya kan perempuan yang sudah nikah itu tinggal sama suaminya " jelas bu Melati.
Jika saja ia bisa memilih, maka ia akan memilih tetap tinggal bersama dengan orangtuanya meskipun ia sudah menikah nantinya, tetapi hal tersebut tak bisa ia lakukan karena benar kata ibunya, sudah sewajarnya wanita yang telah menikah harus ikut kemanapun suaminya mengajaknya tinggal.
" tapi kalo aku pergi dari rumah nanti gimana ibu sama ayah?, pasti ibu sama ayah bakal kesepian, Pelangi jadi sedih bu " tutur Pelangi.
" kamu jangan khawatir sama ibu sama ayah, kami pasti disini bakal baik-baik aja kok, lagian kamu juga kan bisa aja jenguk ayah sama ibu sewaktu-waktu kalo ada waktu senggang " jelas bu Melati, " yang jelas kamu harus bahagia sama suami kamu nantinya ya sayang, kalo kamu hidup bahagia ibu sama ayah juga bahagia disini " lanjut bu Melati.
Pelangi memeluk ibunya sambil menangis haru, ia sangat terharu mendengar setiap kata yang dikatakan ibunya, doa ibu adalah doa yang paling mujarab di dunia ini.
" loh kok nangis sih? " kata bu Melati sambil menghapus air mata putrinya. " harusnya kamu bahagia loh, bukannya nangis-nangis sedih kaya gini, kalo kamu nangis gini entar ibu mikirnya kamu terpaksa lagi nerima Zarow, kan ibu juga jadi sedih kalo kamu gak bahagia sama pilihan kamu ini nak " kata bu Melati panjang lebar.
" enggak bu, Pelangi gak terpaksa kok nerima mas Zarow, ibu juga jangan mikir kalo Pelangi salah pilih, doakan yang terbaik aja buat Pelangi sama mas Zarow bu, sama satu lagi Pelangi gak mau liat ibu sedih " tutur Pelangi.
Ia tak ingin membuat ibunya bersedih karena dirinya, sebisa mungkin ia akan membuat kedua orangtuanya terus tersenyum bahagia apapun yang akan terjadi.
" kalo kamu gak mau liat ibu sedih, kamu harus janji kalo kamu bakal hidup bahagia, kalo kamu bahagia ibu sama ayah juga pasti bahagia & gak bakal sedih " kata bu Melati.
" iya bu, insyallah " jawabnya singkat.
" ya udah sana kamu tidur aja lagi, lagian sholat subuh masih lama kok " kata bu Melati.
Pelangi hanya mengangguk sambil tersenyum, ia lalu berjalan menjauh dari ibunya menuju kamarnya kembali, di lihatnya ibunya masih terus melihat kearahnya entah apa uang dipikirkan oleh ibunya saat ini batinnya.
Setelah melihat putrinya masuk kedalam kamarnya, bu Melati juga kembali ke kamarnya, mengingat adzan sholat subuh masih cukup lama ia akan kembali untuk tidur lagi.
Setelah berada di dalam kamarnya bu Melati mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tepat di sebelah suaminya yang saat ini masih memejamkan matanya.
" habis ngobrol bu sama Pelangi? " tanya pak Abdullah yang matanya masih terpejam.
Pak Abdullah sebenarnya hanya tidur-tidur ayam, dari dalam kamar ia samar-samar mendengar obrolan antara istrinya dengan putri mereka.
Bu Melati menoleh kearah suaminya yang masih memejamkan matanya, tadinya ia berpikir jika suaminya tersebut masih tertidur pulas ternyata sebenarnya suaminya saat ini juga telah terjaga.
" ngobrol dikit yah, ayah bangun juga? " kata bu Melati sambil bertanya.
" enggak, ayah tidur kok, tapi tidurnya tidur ayam, bunyi klitik-klitik bangun " jawab pak Abdullah, " ngomong-ngomong ibu sama Pelangi ngomongin apa bu? " lanjut pak Abdullah kepo.
Karena hanya samar-samar terdengar obrolan antara istrinya dengan putrinya sehingga pak Abdullah merasa penasaran dengan obrolan apa yang di bicarakan oleh mereka berdua.
" itu yah, katanya Pelangi takut kalo habis nikah bakal di bawa Zarow pergi dari rumah kita jadi dia nangis takut kita kesepian katanya " jawab bu Melati.
" kenapa Pelangi mikir gitu bu?, kan di rumah ini kita masih tinggal berdua bu, gak mungkin lah kita kesepian " tutur pak Abdullah.
Kesepian tak jadi masalah baginya asalkan Pelangi mendapatkan kebahagian yang sesuai dengan apa yang ia harapkan, meskipun yang diharapkan putrinya bukan hanya kebahagiaan di dunia semata.
Bu Melati terus menatap ke arah suaminya, setelah putrinya menikah nantinya mereka akan hidup berdua saja di rumah tersebut, bohong jika mereka tak akan kesepian karena selama ini mereka bertiga selalu hidup bersama & tak pernah berpisah.
" kaya mau tinggal jauh kemana aja ya anak kita yah, padahal tinggal masih satu kabupaten, satu daerah, yang jelas kalo dateng pasti cuman makan waktu satu jam " kata bu Melati.
" ya itulah bu anak kita, masih mikir gimana kita kalo dia nikah, ayah bangga banget sama Pelangi bu, alhamdulillah kita punya anak sholeha kaya Pelangi " tutur pak Abdullah lagi.
Disaat gadis seusianya sibuk dengan dunianya & membuat pusing para orangtuanya, putrinya justru sibuk memperbaiki dirinya untuk agama & akhiratnya, pak Abdullah sangat bersyukur putrinya tumbuh menjadi seorang wanita sholeha.
Bu Melati pun juga begitu, ia sama bangganya seperti suaminya kepada putrinya, putrinya adalah harta yang paling berharga baginya. Putrinya tersebut tumbuh dengan kepribadian yang sangat dewasa.
" yah menurut ayah, apa Zarow itu bakal bertanggung jawab dengan baik sama anak kita? " tanya bu Melati.
" insyallah bu, semua suami itu bakal bertanggung jawab sama keluarganya " kata pak Handoko.
" kalo pada akhirnya Pelangi gak nemuin kebahagiaannya di sana nantinya gimana yah? " tanya bu Melati kembali.
Pak Abdullah sejenak terdiam karena pertanyaan istrinya, sebagai orang tua tentunya ia tak ingin hal buruk terjadi pada anaknya, ia membuang nafas kasarnya dari hidungnya.
" ayah berharap Pelangi bahagia bu, tapi kalo seandainya emang dia gak bahagia, pintu rumah kita akan selalu terbuka lebar untuk dia, karena memang hanya pada orang tua lah tempat anak kembali pada saat memiliki masalah " kata pak Abdullah