Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang Tidak Diucapkan
Grup Random tidak pernah dirancang untuk menjadi tempat yang serius.
Awalnya hanya ruang bercanda. Tempat menumpahkan lelah, membagi tautan aneh, atau sekadar mengirim pesan tanpa kewajiban ditanggapi. Tidak ada aturan. Tidak ada topik khusus. Bahkan namanya dipilih tanpa dipikir panjang.
Justru karena itu, ketika percakapan di sana mulai berubah nada, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung menyadarinya.
Pagi itu, Ari membuka ponselnya setelah bangun lebih siang dari biasanya. Hujan turun tipis di Yogyakarta. Udara lembap. Laptop belum ia sentuh. Piano dibiarkan tertutup. Ia memilih duduk di lantai, bersandar ke sofa, membaca pesan-pesan yang masuk semalam.
Tidak banyak. Tapi ada pola.
Kusuma menulis singkat. Wijaya menanggapi dengan hati-hati. Doli hanya menambahkan satu kalimat pendek. Tidak ada emotikon. Tidak ada candaan. Semua terasa lebih pelan dari biasanya.
Ari membaca ulang percakapan itu dua kali.
Ia tidak tahu detail pertemuan Kusuma dan Wijaya, tapi ia merasakan getarannya. Seperti membaca catatan kaki dari sesuatu yang belum ditulis lengkap. Ada jeda-jeda yang tidak diisi, dan justru itu yang membuatnya berat.
Ia mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Ari:
Gue ngerasa belakangan ini
kita ngomong makin dikit,
tapi maknanya makin padat.
Pesan terkirim.
Beberapa menit kemudian, Doli membalas.
Doli:
Karena yang kosong sekarang
bukan kata-kata,
tapi ruang buat aman.
Ari menatap kalimat itu lama. Ia tahu Doli tidak berlebihan. Ia juga tahu Doli jarang salah memilih diksi.
Di tempat lain, Yanto membaca pesan yang sama di sela pekerjaannya. Ia sedang duduk di motor, berhenti di pinggir jalan Bali yang panas. Helm masih di kepala. Ia tidak langsung membalas. Ia mematikan mesin, melepas helm, lalu menyalakan rokok.
Ia teringat percakapan terakhirnya dengan atasan. Tentang narasi aman. Tentang batas yang ditarik tanpa garis jelas. Pesan di grup itu terasa seperti gema yang datang terlambat, tapi tepat.
Yanto:
Yang berubah bukan kita doang.
Yang berubah cara dunia denger kita.
Pesan itu masuk. Wawan membacanya di kafenya yang belum ramai. Ia baru selesai menyapu lantai. Bau kopi masih tipis. Ia duduk, membaca perlahan, lalu menutup mata sejenak.
Ia tidak ingin percakapan ini berubah jadi keluhan bersama. Ia juga tidak ingin menjadi yang paling tenang ketika ketenangan justru terasa tidak jujur.
Wawan:
Gue masih pengen percaya semuanya baik-baik aja.
Tapi kok tiap kali gue mau bilang itu,
hati gue ragu.
Pesan itu membuat grup sunyi beberapa saat.
Tidak ada yang buru-buru menanggapi. Tidak ada yang mencoba menenangkan. Kesunyian itu bukan kosong, melainkan penuh oleh hal-hal yang belum siap diucapkan.
Di Surabaya, Wijaya membaca semua pesan itu di sela waktu istirahatnya. Ia duduk di ruang yang berbeda dari biasanya. Unit baru. Meja baru. Akses yang terbatas. Ia membuka map kecil di tasnya, memastikan isinya masih utuh, lalu menutupnya kembali.
Ia menulis satu kalimat, lalu berhenti. Menghapus. Menulis ulang.
Wijaya:
Kalau semua ini kebetulan,
kok kebetulannya rapi banget.
Pesan itu masuk dan bertahan tanpa balasan beberapa menit.
Kusuma membacanya sambil duduk di motor yang terparkir di Surabaya. Mesin mati. Helm di tangan. Ia belum tahu ke mana akan pergi setelah ini. Ia hanya tahu satu hal, membaca percakapan ini membuatnya tidak lagi merasa sendirian.
Ia mengetik pelan.
Kusuma:
Gue nggak nyari jawaban.
Gue cuma pengen tahu
ini beneran kejadian ke kita,
atau cuma gue doang yang kelelahan.
Pesan itu seperti membuka sesuatu yang sudah lama tertahan.
Ari membaca sambil menelan ludah. Ia sadar, ini bukan lagi soal tulisan, arsip, rute, doa, atau pertanyaan. Ini soal pengalaman yang mulai saling bertumpuk.
Namun tidak ada yang berkata, kita harus bertemu.
Tidak ada yang berkata, kita harus melakukan sesuatu.
Justru karena semua menyadari, kalimat-kalimat itu tidak bisa ditarik kembali begitu diucapkan.
Percakapan berlanjut pelan, terputus-putus. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada rencana. Tapi ada satu hal yang mulai jelas bagi masing-masing dari mereka.
Apa pun yang sedang terjadi, ini bukan lagi pengalaman individual.
Dan kesadaran itu, meski belum bernama, mulai mengikat mereka dengan cara yang lebih kuat daripada kesepakatan apa pun.
Percakapan di grup Random tidak berhenti. Ia hanya melambat.
Kalimat-kalimat yang masuk setelahnya pendek, berhati-hati, seolah masing-masing dari mereka sedang mengukur seberapa jauh kata bisa berjalan tanpa menyeret yang lain ke sesuatu yang belum siap mereka tanggung bersama.
Ari menatap layar ponsel lama. Ia merasakan dorongan untuk menulis sesuatu yang lebih tegas, tapi tangannya ragu. Selama ini, ia hidup dari jarak. Dari ruang privat yang memberinya kendali atas kata-kata. Di sini, jarak itu menipis.
Ia akhirnya mengetik.
Ari:
Gue nggak tahu apa yang harus kita lakuin.
Tapi gue ngerasa,
kalau kita pura-pura ini nggak ada,
itu juga pilihan.
Pesan itu tidak langsung dibalas.
Di Bali, Yanto membaca sambil berdiri di teras kecil penginapan. Ia menyandarkan punggung ke tiang, menatap langit yang mulai berubah warna. Ia terbiasa dengan pertanyaan, tapi kali ini yang berat justru keputusan untuk bertanya bersama.
Yanto:
Kalau kita ngomongin ini terus,
kita bakal ditanya balik.
Dan gue nggak yakin
kita siap jawabnya bareng.
Kalimat itu tidak bernada menakut-nakuti. Lebih seperti pengakuan jujur.
Wawan membacanya dengan napas tertahan. Ia duduk di kursi dekat jendela kafe, memandangi jalan yang mulai ramai. Selama hidupnya, ia diajari bahwa niat baik harus diikuti dengan kehati-hatian. Tapi kehati-hatian yang terlalu lama bisa berubah menjadi penghindaran.
Wawan:
Gue takut salah langkah.
Bukan karena aturan,
tapi karena takut bikin orang lain ikut kebawa.
Pesan itu membuat suasana kembali hening.
Doli membaca semuanya dari meja kerjanya. Ia tidak langsung menulis. Ia tahu, jika ia menulis terlalu panjang, percakapan ini akan berubah arah. Ia menunggu beberapa menit, membiarkan jeda bekerja.
Doli:
Mungkin kita nggak perlu langkah besar.
Cukup satu hal kecil
yang bikin kita tahu
kita beneran saling denger.
Kalimat itu menggantung. Tidak menawarkan solusi. Hanya kemungkinan.
Kusuma membaca sambil duduk di motor yang belum ia nyalakan. Ia merasa dorongan aneh di dadanya. Bukan keberanian, tapi kebutuhan sederhana untuk tidak sendirian dalam menunggu.
Kusuma:
Kalau kecil, gue bisa.
Asal nggak harus jelasin ke siapa pun dulu.
Balasan datang dari Wijaya beberapa menit kemudian.
Wijaya:
Kecil itu bisa sesederhana
ketemu tanpa agenda.
Bukan buat mutusin apa-apa.
Cuma buat memastikan
kita masih manusia,
bukan data terpisah.
Kalimat itu membuat Ari menutup mata sejenak. Ia tahu, bahkan usulan sekecil itu membawa konsekuensi. Pertemuan fisik berarti meninggalkan jejak. Waktu. Tempat. Kesaksian.
Ia mengetik, lalu berhenti. Menghapus. Menulis lagi dengan lebih pelan.
Ari:
Gue bisa.
Tapi gue pengen kita sepakat
kalau setelah itu
kita boleh mundur
tanpa penjelasan.
Yanto langsung membalas.
Yanto:
Setuju.
Kalau mundur nggak dianggap kalah.
Wawan membaca itu lama. Ia merasakan campuran lega dan takut. Lega karena ada batas yang disepakati. Takut karena batas itu menandai sesuatu yang baru.
Wawan:
Kalau cuma duduk dan denger,
gue ikut.
Percakapan berhenti lagi. Kali ini bukan karena ragu, tapi karena semua menyadari sesuatu telah bergeser. Tidak ada tanggal. Tidak ada tempat. Tidak ada keputusan final.
Namun satu keputusan kecil telah diambil bersama. Mereka tidak akan berpura-pura sendiri-sendiri lagi.
Di Yogyakarta, hujan mulai reda. Ari berdiri, menutup jendela, lalu kembali duduk. Ia tahu, langkah kecil ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Tapi ia juga tahu, menghindarinya akan membuat semua yang sudah mereka rasakan kehilangan makna.
Di Bali, Yanto mematikan rokoknya, menatap abu yang jatuh ke lantai. Ia tersenyum tipis. Ketakutan tidak hilang. Tapi kini ia dibagi.
Di Medan, Wawan berdiri, merapikan kursi, lalu duduk kembali. Doanya malam itu singkat. Bukan permohonan keselamatan, tapi kejernihan.
Di Jakarta, Doli menutup laptopnya lebih awal. Ia tidak menambahkan catatan apa pun malam itu. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan sesuatu berjalan tanpa ia dokumentasikan.
Di Surabaya, Kusuma menyalakan motor. Ia belum tahu ke mana akan pergi setelah ini. Tapi ia tahu, menunggu tidak lagi sepenuhnya sunyi.
Dan di ruang kecil bernama Random, enam orang menyepakati satu hal tanpa mengucapkannya keras-keras.
Bahwa melangkah itu menakutkan.
Bahwa tidak melangkah juga memiliki harga.
Dan untuk sementara, mereka memilih tetap berada di antara keduanya, bersama.