Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Bagian 32
Karena Salah Nikah saya ikutkan lomba YAW, InsyaAllah saya akan update rutin. Mohon dukungannya dengan menyematkan like dan komentar, vote seikhlasnya dan giftnya. Karena itu semua adalah semangat untuk saya.
_______
Nesa mempersilakan Nendra duduk, lalu masuk ke dalam meminta Selma membuatkan teh untuk bosnya itu. Kebetulan sekali Salma sangat ingin bertemu dengan Nendra yang dia anggap ganteng melebih Kim Soo Hyun artis Korea yang selalu ia elu-elukan.
"Ma... mau ketemu sama Nendra nggak? Dia ada di luar tuh. Buatin minum, ya! " ucap Nesa saat melihat Selma yang sejak tadi duduk di kamar menonton drama Pent House yang kerap membuat diri Salma emosi.
Salma langsung berdiri, meletakkan laptopnya ke tempat tidur. "Heh... mbak, ojo ngapusi! (Heh... mbak, jangan bohong!)" sembur gadis itu tak percaya.
"Kok bohong! Aku ora bohong! Sana cek sendiri!" dengus Nesa, melenggang ke kamarnya.
"Mbak...." Salma menarik tangan kakaknya, hingga hampir terpelanting.
"Opo to?!" Nesa berbalik badan, menghempaskan tangan adiknya.
"Aku deg-degan!" jawab Salma memegang dadanya sembari terpaku menatap Nesa.
"Edan! Sana buatin teh! Sama satu lagi buat aku dan Adnan," perintah Nesa.
Nesa masuk kamar, meletakkan tas di atas meja dan membiarkan dua lelaki itu bersama bapaknya di ruang tamu, ia duduk di pinggir kasur, lalu menatap diri sendiri di depan cermin. Ingatannya kembali kepada suaminya. Ia berpikir sedang apa Alan saat ini, apakah dia baik-baik saja. Matanya melirik ke arah meja rias di mana sebuah amplop panjang berwarna putih ada di sana. Nesa beranjak meraih kertas itu—melihatnya, tulisan Pengadilan Agama Semarang, membuat dadanya serasa sesak. Suaminya benar-benar melakukannya, dan tak menginginkannya lagi. Tak terasa air matanya menetes membasahi ke dua pipinya. Tapi dia ingat buah hatinya—Ribi yang harus ia jaga, sayangi, dan bahkan cukupi. Kini ia harus berdiri tegap menjadi sosok ibu dan ayah untuk malaikat kecil Ribi. Meskipun hatinya perih, dia harus tetap baik-baik saja.
Nesa mengusap air matanya sendiri, memasukan kertas itu kembali ke dalam amplop, dan beranjak keluar untuk menemui Nendra dan Adnan. Saat ia melewati kamar Salma, tangannya kembali ditarik oleh sang adik hingga ia terpelanting dan hampir jatuh.
"Koe nopo to, Ma? (Kamu kenapa sih, Ma?)" Mata Nesa melotot ke arah adiknya karena kesal.
"Mbak... siapa yang pakai seragam polisi? Yang waktu itu ketemu kita di simpang lima, kah?" tanya Salma, setengah berbisik.
"Iya... kenapa?"
"Ganteng—" Salma menjawab sambil cengengesan.
"His... kambing disisirin aja kamu anggap ganteng!" desis sang kakak, melepaskan tangan adiknya. Lalu kali ini benar-benar keluar dari ruang tamu.
Nendra dan Adnan masih duduk di posisi yang sama, saat Nesa datang. Pak Eriawan pun ada di sana masih menemani ke dua lelaki itu.
"Ada apa, Ad?" tanya Nesa, ia duduk di kursi paling ujung agak jauh dari ke dua lelaki itu.
"Aku khawatir sama kamu, Nes," jawabnya. Tentu saja kalimat Adnan membuat Nesa menelan ludahnya sendiri, padahal di situ ada Bapaknya yang juga ada di sana, bisa-bisanya Adnan menjawab pertanyaan seperti itu.
"Aku baik-baik aja loh."
"Ehem.... " Pak Eriawan berdehem untuk mencairkan suasana yang canggung di antara mereka. "Ya, Mas Adnan ini juga pengen kenalan sama Bapak, Nes. Karena sering ketemu di kantor. Lagian kan dia temen kamu sekolah dulu," bela Eriawan.
"Iya, Pak. " Nesa menjawab ragu.
"Mas Nendra ini rumahnya mana? Oh, atasan Nesa, ya?" Kini Bapaknya Nesa beralih mencecar Nendra dengan pertanyaan.
"Banyumanik, pak. Nggak jauh dari sini."
"Wah... kakak saya juga ada yang di sana, maklum-lah, kami asli semarang. Eh... Nesa malah menikah sama orang Jakarta, alhasil diboyong sama suaminya ke sana," jelas Eriawan, seolah menunjukan kepada dua kumbang ini untuk sadar diri jika Nesa masih berstatus istri dari seorang suami.
"Iya, pak. Kebetulan saya ketemu Ribi dan Nesa waktu mereka pulang ke Semarang—di kereta," papar Nendra, menjelaskan dan mempertegas jika ia bertemu Nesa bukan untuk pertama kali.
"Iyakah, Nduk?" Eriawan menatap Nesa, dan diikuti anggukkan putrinya.
"Kalau Mas Adnan teman sekolah Nesa, ya?" tanyanya lagi.
"Njih, Pak. Saya teman sekolah waktu SMP."
Eriawan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan.
"Saya tahu, mungkin kalian cuma teman. Tapi jika kalian datang begini, apalagi sampai bareng begini. Saya rasa tidak etis karena Nesa masih berstatus istri orang, dan kalian berdua masih bujangan, mungkin iya kalian cuma teman. Tapi saya menempatkan diri sebagai tetangga saya. Bagaimana jika mereka berpikir macam-macam tentang Nesa?" jelas Eriawan santai namun menggunakan nada penuh penekanan.
Eriawan tahu betul, jika Nendra dan Adnan menaruh hati kepada anaknya hingga ia berkata demikian.
"Saya tidak melarang kalian untuk main ke sini, atau mendekati anak saya. Tapi kalian bisa tunggu sampai anak saya benar-benar lepas dari suaminya dan melewati masa iddah, saya akan lebih selektif tentang jodoh anak-anak saya. Bukan saya otoriter, ya. Tapi saya hati-hati, kesalahan Nesa tidak akan saya ulangi lagi, karena ini menyangkut perihal kebahagiaan anak-anak saya."
Adnan dan Nendra terdiam, seolah ia tertampar keras oleh ucapan ayah Nesa. Dan lagi, Nendra begitu was-was, bagaimana jika Eriawan tahu ia dan Nesa berbeda keyakinan.
"Ini bukan ajang perlombaan, siapa cepat dia dapat. Saya akan menyeleksi siapa yang akan mendekati anak saya," tandas pria paruh baya itu lagi.
Bersambung~
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny