Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 Situasi yang sulit.
Oma Misel dan Opa Akbar, anaknya Emir dan Emra, cucunya Fathir dan Fadel (Emir dan Kamila), Luna dan Ayra (Emra dan Kiara)
Oma Alena dan Opa Cakra, anaknya Kalandra dan Nidya, cucunya Jetro (Kalandra dan Adriana), Nathalia dan Adelia(Nidya dan Fathan)
Opa Adi Nugroho dan Oma Diana, orang tua dari Wijaya Agra Nugroho.
Opa Jaya Pangestu dan Oma Hastuti, orang tua dari istri pertama Wijaya Agra Nugroho, maminya Kael
●●●
Opa Adi Nugroho memegang dadanya dan ponselnya terlepas, jatuh ke lantai. Dia baru saja mendapatkan telpon dari pengawalnya yang dimintanya untuk mengikuti Kael yang istrinya lihat tadi di restoran.
"Ada apa?" tanya Oma Diana panik melihat kondisi suaminya
Perlahan, dia membantu suaminya untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.
Seoarang pegawai restoran yang melihat kejadian ini langsung memberikan sebotol air mineral.
"Ini minum dulu, nyonya."
"Terima kasih."
Oma Diana menerima botol minuman itu, kemudian memberikannya pada suaminya.
"Minum dulu, pa."
Suaminya menganggukkan kepalanya dan meneguk minumannya perlahan sambil berusaha menenangkan diri.
Oma Diana mengambil ponsel suaminya yang terjatuh tadi. Tapi sambungan telponnya sudah terputus.
"Perlu saya panggilkan dokter, nyonya?"
Oma Diana menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Tidak usah, nak. Terima kasih."
"Sama sama, nyonya."
Setelah pegawai restoran itu pergi, Oma Diana menatap suaminya setelah menggeser kursinya agar lebih dekat dengan suaminya.
"Sebenarnya ada apa?" tanyanya sambil menggenggam lembut tangan suaminya.
Adi Nugraha meletakkan botol yang sudah dia minum. Punggung tangan kanannya mengusap matanya yang berkaca kaca. Tubuhnya bergetar karena perasaannya yang bergejolak. Berita yang barusan dia terima meluluh lantakkan perasaannya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, ma," ucapnya lirih.
"Kenapa? Siapa yang ada di rumah sakit?" Jantung Oma Diana berdebar kencang. Ada firasat aneh menyusup di dalam dadanya.
Opa Adi Nugroho balas menggenggam tangan istrinya. Air mata membayang jelas di pelupuk matanya.
"Pengawal kita yang mengejar Kael---."
"Mereka menemukan Kael?" Mata Oma Diana mengerjap senang. Dia langsung memotong ucapan suaminya karena sudah tidak sabar.
Opa Adi Nugroho menggeleng. Air matanya sudah siap mengalir lagi.
"Kael kecelakaan. Karena itu kita harus ke rumah sakit."
DEG DEG
Oma Diana langsung pias. Keringat dingin membasahi kening dan punggung bajunya. Tubuhnya langsung merasa lemas.
"Kita pergi sekarang, ma."
Air mata Diana mengalir deras.
*
*
*
Opa Jaya Pangestu dan istrinya yang baru saja berada di rumah sakit, merasa heran melihat kesibukan di halaman rumah sakit.
"Ada apa, ya?" tanya Opa Jaya Pangestu sambil menatap wajah istrinya yang juga sedang mengawasi para tenaga medis yang sudah siap menunggu di halaman luar dengan alat alat yang cukup komplit.
"Mungkin ada pasien gawat darurat yang akan datang," ucap istrinya.
Opa Jaya Pangestu mengangguk prihatin.
"Semoga pasien yang datang nanti diberikan kesembuhan," harapnya.
"Semoga."
"Tante Hastuti?" panggil Kamila agak terkejut melihat keberadaan teman orang tuanya ketika dia sedang terburu buru hendak ke halaman rumah sakit. Menunggu ambulance yang membawa Kael-calon suami Adelia datang.
Luna sudah pergi duluan, tadi dia harus memerintahkan tenaga medis untuk menyiapkan ruang operasi.
"Kamila?" Hastuti tanpa ragu memeluk anak temannya. Dokter yang akan dia datangi.
"Apa kabar, nak?" tanyanya spontan.
"Tante baru mau ke ruangan kamu," lanjut Hastuti lagi.
"Seperti yang tante lihat. Tapi maaf tante, om, sepertinya pertemuan kita akan ditunda sebentar, ya. Saya ada pasien darurat," balas Kamila saat menguraikan pelukannya. Wajahnya jadi tidak enak. Tapi pasien yang akan datang nanti keadaannya jauh lebih membutuhkan pertolongannya. Terlebih lagi, ini calonnya Adelia.
"Iya, iya, tidak apa apa. Sepertinya pasiennya sedang sakit parah, ya?" Hastuti berusaha mengerti.
"Tenang saja Kamila. Kita maklum, kok." Jaya Pangestu juga memberikan pendapatnya.
"Kecelakaan, Tante. Keadaannya katanya cukup parah. Terima kasih, om, tante. Saya pergi dulu," pamitnya, kemudian Kamila segera melangkahkan kakinya dengan agak cepat meninggalkan teman orang tuanya.
"Semoga ngga apa apa, ya," ucap Jaya Pangestu sambil menatap istrinya prihatin.
"Iya, pa," balas istrinya jadi khawatir juga.
Baru beberapa langkah Kamila pergi, ponsel Jaya Pangestu berdering.
Dengan wajah malas dia menatap layar ponselnya.
"Siapa yang telpon?" tanya Hastuti penasaran.
"Adi Nugraha."
"Diangkat aja, papa. Siapa tau ada kabar dari cucu kita, Kael?"
Oh iya. Kata kata istrinya membuat dia mengabaikan perasaan tidak sukanya.
"Ada apa?" tanyanya ngga ramah.
"Jaya, kamu di mana sekarang?" Suara Adi Nugraha terdengar panik.
"Di rumah sakit."
"Rumah sakit mana?"
Jaya Pangestu menghembuskan nafas kesalnya atas kecerewetan mantan besannya.
"Di rumah sakit Airlangga. Ada apa, sih, kepo banget."
"Syukurlah, syukurlah." Suara Adi Nugraha terdengar serak.
"Kamu kenapa? Senang aku sakit?" Jaya Pangestu berkata sinis.
Terdengar tawa getir Adi Nugraha.
"Cucu kita, Kael......"
"Kamu sudah menemukannya? Dia dimana? Aku juga mau ketemu dia," ucap Jaya Pangestu antusias. Dia merasa lega mendengarnya dan sudah tidak sabar mau bertemu.
Hastuti yang ada di sebelahnya tersenyum bahagia dengan dalam hati bersyukur.
"Kael..... dia.... dia mengalami kecelakaan.... Sekarang dia sudah dibawa ke rumah sakit tempat kamu berada."
DEG
Tubuh Jaya Pangestu menegang.
Tidak mungkin. Tidak mungkin, batinnya sangat terguncang. Dia tidak mau mempercayainya.
"Jangan jangan, pasien yang akan datang itu ..... Kael?" bisik istrinya dengan suara bergetar. Karena suaminya meloudspeaker ponselnya, hingga dia bisa mendengar percakapan suaminya dengan Adi Nugroho.
Jantung Jaya Pangestu seperti ditarik paksa dari tempatnya.
Dia belum siap mendengar kabar buruk tentang cucunya.
*
*
*
"Aku akan menghubungi orang menyebalkan itu. Bisa bisanya dia tenang saja padahal putranya sakit hilang ingatan begitu," omel Fathan pada istrinya yang kini sudah duduk di sampingnya.
Tapi istrinya menahan tangannya.
"Ini tidak bisa dibicarakan lewat telpon. Kamu ngga lupa, kan, kalo Kael lupa ingatan?"
Farhan menepuk keningnya cukup keras.
"Tapi aku malas bertemu dengannya."
Nidya tertawa pelan
"Bagaimana lagi kalo putranya dan anak kita saling mencintai."
Fathan mendengus kesal.
"Satu harapanku, Kael tidak menuruni watak papinya."
"Semoga. Aku yakin Kael akan mengikuti karakter mendiang istrinya," sahut Nidya mantap.
Fathan berharap agar yang dikatakan istrinya benar. Dia tidak mau Kael menduakan putrinya.
"Bagaimana kalo ingatan Kael kembali, tapi dia tidak mengingat hubungannya dengan Adelia?"
Nidya terdiam. Bisa saja yang dikatakan suaminya terjadi.
"Nanti saja itu kita pikirkan," ucap Nidya pelan. Dia juga takut sebenarnya.
Putrinya mencintai laki laki yang mengalami amnesia. Ini situasi yang rumit.
Kyknya Kael ingat Adel deh