Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning sickness
Memasuki minggu kedelapan kehamilan keduanya, Alana menyadari bahwa setiap kehamilan memang memiliki ceritanya sendiri. Jika dulu saat mengandung Leo ia merasa cukup kuat meskipun tertekan secara mental, kali ini fisiknya benar-benar diuji. Morning sickness yang menyerangnya bukan lagi sekadar mual ringan di pagi hari, melainkan sebuah gelombang yang datang tanpa henti dari fajar hingga senja.
Pagi itu, aroma kopi yang biasanya sangat disukai Alana mendadak berubah menjadi pemicu bencana. Begitu bau itu tercium dari arah dapur, Alana segera berlari menuju kamar mandi, mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan tangan yang gemetar.
"Ugh... hukk..."
Sebelum ia sempat merasa sendirian, sepasang tangan kokoh sudah berada di sana, menahan rambutnya ke belakang dengan sangat hati-hati dan memijat tengkuknya dengan gerakan yang konstan. Brixton, yang seharusnya sudah mengenakan setelan jas untuk rapat direksi, kini hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana santai.
"Keluarkan semuanya, Sayang. Tidak apa-apa, aku di sini," bisik Brixton, suaranya terdengar sangat khawatir namun lembut.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat Alana mereda, wajah Brixton tiba-tiba berubah pucat. Ia menutup mulutnya dengan tangan satu lagi, matanya membelalak, dan ia ikut membungkuk di samping Alana.
"Brixton? Kau... kau tidak apa-apa?" tanya Alana di sela napasnya yang terengah.
"Aku... aku tidak tahu. Tiba-tiba perutku terasa seperti diaduk-aduk melihatmu mual," jawab Brixton sambil menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak di perutnya sendiri. Rupanya, ikatan batin yang begitu kuat antara mereka membuat Brixton mengalami sympathetic pregnancy atau sindrom Couvade—di mana sang suami ikut merasakan gejala kehamilan istrinya.
Melihat kondisi Alana yang semakin lemah karena tidak bisa memasukkan makanan, Brixton mengambil keputusan besar pagi itu juga. Ia meraih ponselnya, menghubungi asisten pribadinya, dan dengan nada yang tidak menerima bantahan, ia membatalkan semua jadwal pertemuan tatap muka selama sebulan ke depan.
"Batalkan semuanya. Aku akan bekerja dari rumah. Kirimkan semua dokumen melalui cloud dan kita akan melakukan rapat melalui konferensi video jika benar-benar mendesak. Jangan ganggu aku jika itu bukan masalah hidup dan mati perusahaan," tegas Brixton sebelum mematikan ponselnya.
Alana, yang kini sudah berbaring kembali di tempat tidur dengan wajah pucat, menatap suaminya dengan rasa tidak enak. "Brixton, kau tidak perlu melakukan itu. Kau punya tanggung jawab besar di kantor."
Brixton menghampiri Alana, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia mengangkat tubuh Alana dengan lembut, memangkunya layaknya seorang anak kecil yang sedang sakit. Ia menyandarkan kepala Alana di dadanya yang bidang, membelai pipinya dengan ibu jari.
"Kantor bisa berjalan tanpa aku, tapi kau dan calon adik Leo tidak bisa," ucap Brixton tegas. "Kau adalah duniaku, Alana. Melihatmu mual seperti ini membuat hatiku jauh lebih sakit daripada kehilangan kontrak miliaran dolar. Aku akan tetap di sini, merawatmu sampai kau merasa lebih baik."
Brixton benar-benar membuktikan kata-katanya. Sejak hari itu, kamar utama mereka berubah fungsi menjadi pusat kendali cinta. Brixton tidak lagi terlihat mengenakan dasi; ia lebih sering terlihat mengenakan celemek di dapur atau duduk di samping Alana sambil membawa baskom air hangat.
Untuk memastikan Alana mendapatkan nutrisi terbaik sesuai dengan seleranya yang sangat fluktuatif, Brixton melakukan sesuatu yang sangat "Brixton"—ia membuat sebuah mind mapping raksasa di salah satu dinding kamar mereka.
Di papan tulis putih yang ia beli khusus, terdapat diagram rumit dengan berbagai warna spidol. Di tengahnya tertulis nama "ALANA" dengan tanda hati besar. Dari sana, muncul cabang-cabang seperti: Makanan yang bisa diterima, Aroma pemicu mual, Keinginan mendadak (Craving), dan Jadwal Vitamin.
"Apa itu, Brixton?" tanya Alana sambil tersenyum geli melihat suaminya yang sangat serius mencoret-coret papan itu.
"Ini adalah strategi perangku melawan mualmu," jawab Brixton serius tanpa menoleh. "Setiap pagi, kau hanya perlu menunjuk apa yang ingin kau makan. Aku sudah memesan bahan-bahan organik terbaik dari perkebunan pribadi. Dan mulai hari ini, aku yang akan memasak untukmu. Tidak ada koki, tidak ada pelayan. Hanya aku."
Alana tertegun. Pria ini, yang biasanya hanya tahu cara menandatangani cek atau memimpin perusahaan, kini bersiap di depan kompor demi dirinya.
"Tapi kau tidak tahu cara memasak, Sayang," goda Alana.
"Aku bisa belajar apa saja demi kau," jawab Brixton sambil berbalik dan mencium dahi Alana. "Aku sudah menonton belasan tutorial semalam."
Dan dimulailah hari-hari penuh kasih di mana Brixton memperlakukan Alana benar-benar seperti seorang putri kecil. Jika Alana ingin stroberi di jam tiga sore, Brixton sendiri yang akan mencuci, memotong, dan menyuapkannya satu per satu ke mulut Alana sambil membisikkan kata-kata cinta.
"Buka mulutmu, Putri Kecil. Satu suapan lagi untuk kesehatanmu," bujuk Brixton dengan nada bicara yang sangat manis, seolah ia sedang berbicara pada Leo.
"Aku sudah kenyang, Papa Brixton," gurau Alana, wajahnya merona karena diperlakukan sedemikian manja.
"Hanya satu lagi. Setelah itu, aku akan memijat kakimu sampai kau tertidur," janji Brixton.
Pemandangan di dapur keluarga Vance kini menjadi tontonan menarik bagi Bibi Martha dan para pelayan lainnya. Mereka sering melihat Tuan mereka yang gagah berdiri di depan kompor, dengan serius membaca catatan di ponselnya tentang cara membuat sup kaldu yang bening dan tidak berbau tajam agar Alana tidak mual.
"Tuan, biarkan saya saja yang mengaduk supnya," tawar Bibi Martha suatu kali.
"Tidak, Bi. Alana bilang dia menyukai tekstur sayuran yang aku potong. Biarkan aku menyelesaikannya," jawab Brixton dengan bangga, meskipun jarinya sempat teriris sedikit tadi pagi.
Lucunya, setiap kali sup itu mendidih dan mengeluarkan uap, Brixton akan kembali merasa mual. Ia akan berlari ke wastafel, muntah sejenak, lalu mencuci wajahnya dan kembali ke kompor dengan semangat yang tidak padam. Ia rela ikut menderita asalkan Alana merasa diperhatikan.
Setiap malam, sebelum tidur, Brixton akan memperbarui mind mapping di dinding. Ia akan menghapus makanan yang ternyata membuat Alana mual dan menggantinya dengan daftar keinginan baru. Ia bahkan terus membelikan makanan kesukaan Alana dari berbagai penjuru kota—mulai dari kue tradisional yang hanya ada di pasar kecil hingga camilan impor yang Alana sebutkan secara tidak sengaja dalam tidurnya.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Brixton?" tanya Alana suatu malam saat Brixton sedang mengoleskan minyak aromaterapi di perutnya yang masih rata.
Brixton menghentikan gerakannya, menatap Alana dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh kerinduan. "Karena aku ingin membayar setiap tetes air mata yang dulu kau tumpahkan sendirian saat mengandung Leo. Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak pernah sendiri lagi. Aku mencintaimu, Alana. Lebih dari nyawaku sendiri. Memanjakanmu adalah satu-satunya hal yang ingin kulakukan seumur hidupku."
Alana menarik leher Brixton, menyatukan kening mereka. "Kau sudah lebih dari cukup, Brixton. Melihatmu ada di sini saja sudah membuat mualku berkurang."
Hari-hari berlalu dengan ritme yang manis. Meski Alana masih sering lemas, perhatian Brixton yang tidak terbatas menjadi kekuatannya. Brixton tidak hanya menjadi suami, tapi juga perawat, koki, dan sahabat. Ia sering membawakan Leo ke kamar agar mereka bisa bermain bersama di atas tempat tidur, menciptakan momen keluarga yang sangat intim.
Brixton akan duduk di lantai dengan laptopnya untuk bekerja sejenak, namun setiap sepuluh menit sekali ia akan berdiri hanya untuk mengecek suhu tubuh Alana atau sekadar mencium tangannya. Ia benar-benar memposisikan dirinya sebagai pelindung yang siaga.
Pernah suatu ketika Alana mengidamkan buah mangga muda yang sangat asam di tengah hujan deras. Brixton, tanpa berpikir dua kali, langsung mengambil kunci mobil dan jas hujannya.
"Brixton, di luar badai! Jangan pergi, aku hanya bercanda!" cegah Alana.
"Aku tidak bercanda soal keinginanmu," jawab Brixton sambil memakai sepatunya. "Tunggu lima belas menit. Mangga mudamu akan sampai."
Dan benar saja, ia kembali dengan tubuh yang sedikit basah namun dengan wajah kemenangan sambil membawa satu kantong mangga. Ia kemudian mengupasnya dengan rapi, memotongnya kecil-kecil, dan menyajikannya di piring cantik lengkap dengan garam dan cabai sesuai permintaan Alana.
"Kau gila, Brixton Vance," ucap Alana sambil tertawa haru saat menerima piring itu.
"Aku memang gila karenamu," balas Brixton sambil ikut mencicipi mangga yang sangat asam itu, lalu wajahnya seketika meringis masam yang membuat Alana tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Alana adalah musik terindah bagi Brixton, obat paling ampuh untuk rasa mual yang juga ia rasakan.
Melalui mind mapping di dinding kamar dan masakan-masakan amatir namun penuh cinta dari tangannya, Brixton telah membangun sebuah dunia kecil yang hanya berisi kebahagiaan. Tidak ada lagi sekat antara pengusaha kaya dan istri yang terabaikan. Yang ada hanyalah seorang pria yang sedang belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada kelembutan, dan sebuah cinta sejati seringkali diuji bukan melalui kemewahan, melainkan melalui kesediaan untuk ikut mual bersama di depan wastafel kamar mandi.
Masa-masa morning sickness ini, yang seharusnya menjadi penderitaan fisik, justru menjadi periode paling romantis dalam pernikahan mereka. Di kamar itu, di antara coretan menu makanan dan aroma minyak kayu putih, Brixton dan Alana semakin menyatu. Mereka tidak hanya menanti kehadiran bayi kedua, tapi mereka sedang merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah tumbuh dewasa dan tak tergoyahkan oleh apapun.
"Aku mencintaimu, Alana," bisik Brixton setiap malam sebelum mereka terlelap.
"Aku jauh lebih mencintaimu, Brixton," jawab Alana, menutup matanya dengan perasaan aman yang sempurna di pelukan suaminya.