Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 – Langkah di Tengah Papan
Keesokan harinya, aula latihan dibuka lebih awal. Udara pagi terasa tajam, bukan karena dingin, tapi karena mata yang terus mengamati.
Ren Tao berdiri di tengah lapangan, mengamati gerakan murid lain. Setiap langkah mereka mengirimkan sinyal terlalu cepat, terlalu lambat, terlalu patuh semua itu bisa dibaca jika cukup teliti.
Unit Ketujuh bergerak bersamanya. Li Shen tetap di sisi, sikapnya tenang, namun matanya tidak melewatkan satu pun detail. Zhou Min dan Sun Qiao terlihat canggung, masih menyesuaikan dengan ritme Ren Tao. Han Yue diam, mengamati, belajar tanpa suara.
“Semua unit lain terlihat terburu-buru,” kata Ren Tao pelan. “Mereka tidak sadar bahwa medan ini sudah diatur ulang. Formasi yang mereka lewati terlihat aman, tapi itu jebakan sederhana untuk memaksa mereka bereaksi.”
Li Shen mengangguk. “Jadi kita hanya perlu bergerak dengan ritme sendiri?”
“Lebih dari itu,” jawab Ren Tao. “Kita bergerak sambil mencatat. Setiap kesalahan akan terekam. Tidak perlu menonjol, cukup terlihat tepat.”
Zhou Min mengerutkan dahi. “Kau selalu tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana kau bisa begitu yakin?”
Ren Tao tersenyum tipis. “Tidak yakin. Tapi aku belajar membaca pola lebih cepat daripada mereka belajar membuatnya.”
Simulasi dimulai.
Unit lain bergerak, tergesa-gesa. Murid-murid tergelincir, qi terganggu, langkah mereka salah. Beberapa memaksakan diri untuk memperbaiki, tapi hasilnya tercatat sebagai kesalahan minor. Semua itu terlihat jelas oleh para tetua yang mengamati dari balkon aula.
Ren Tao tetap tenang. Ia berjalan perlahan, menyusun langkah, memanfaatkan celah yang muncul dari kesalahan orang lain. Tidak ada pergerakan berlebihan. Tidak ada konflik langsung. Hanya koordinasi rapi antara pikiran, qi, dan tubuh.
Di salah satu sudut lapangan, sebuah formasi kecil memicu reaksi tak terduga. Qi yang tidak stabil menimbulkan gangguan. Murid dari Unit Kedua terhuyung. Ren Tao mencatatnya tanpa bergerak mendekat. Strategi diam ini efektif, mereka yang bergerak sembrono akan menampakkan diri.
Li Shen menepuk pundak Ren Tao pelan. “Kau membuatnya terlihat mudah.”
Ren Tao menatap wajahnya serius. “Mudah hanya di permukaan. Mereka tidak menyadari aturan tersembunyi yang aku gunakan.”
Beberapa detik kemudian, Sun Qiao terlihat panik karena salah membaca aliran qi di tanah. Ia mulai terburu-buru, langkahnya salah. Ren Tao hanya menggeleng tipis, memerhatikan saja, memastikan tidak ada yang terluka.
Simulasi berakhir. Unit lain kelelahan, beberapa kesalahan kecil tercatat. Unit Ketujuh? Hanya satu kegagalan minor lebih tepat daripada semua unit lain. Tapi yang terpenting, mereka tetap rapi dan tidak mencolok.
Di aula pengamatan, Tetua Lu membuka mata untuk pertama kali hari itu. Ia menatap laporan sementara. Sebagian murid terlalu agresif, sebagian terlalu pasif. Hanya satu unit yang tetap seimbang, dan stabil yaitu Unit Ketujuh.
Wei Kang berdiri di sisi aula, wajahnya datar. Tatapannya jatuh pada Ren Tao. “Ia mulai terlihat terlalu nyaman di tengah perhatian.”
Ren Tao duduk di kamarnya malam itu, membuka catatan pribadinya. Setiap langkah, setiap reaksi murid lain, dan setiap titik gangguan qi dicatat dengan rapi. Ia tahu sekarang setiap gerakan sekte adalah papan catur yang menunggu untuk dimanfaatkan. Semakin banyak mata tertuju padanya, semakin banyak informasi yang bisa dibaca.
Dan informasi itu—
lebih berharga daripada kekuatan kasar.
Ren Tao menutup mata, tersenyum tipis.
“Langkah di tengah papan,” gumamnya, “selalu yang paling sulit… tapi juga paling menguntungkan.”
Langit di luar jendela gelap, qi di sekte bergemuruh pelan. Ren Tao siap menghadapi hari berikutnya.
Ia tidak lagi hanya bertahan.
Ia mulai menguasai papan.
semangat terus ya...