NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Inkuisitor Mata Merah dan Jebakan di Lembah

Lembah Sunyi yang tadinya mati, mendadak terasa berdenyut oleh frekuensi yang tidak wajar. Jiangzhu berdiri di bibir gua, tangannya yang bersisik mencengkeram dinding batu hingga remahannya luruh menjadi debu. Di langit kelabu Benua Barat, tiga kapal perang Sekte Cahaya Suci melayang rendah, mesin-mesin uap mereka mendesing pelan, mengeluarkan asap putih yang berbau ozon.

"Mereka tidak mencari dengan mata, Jiangzhu," Yue berbisik di belakangnya, suaranya nyaris tenggelam oleh desiran angin. "Mereka menggunakan Mata Merah. Inkuisitor elit yang telah mencungkil mata mereka sendiri dan menggantinya dengan permata pelacak esensi iblis. Jika kau melepaskan satu tetes Qi saja, mereka akan mengunci koordinat ini."

Jiangzhu menahan napas. Ia bisa merasakan energi Iblis di lengan kirinya berontak, ingin keluar dan merobek kapal-kapal besar di atas sana. "Pak Tua, apa ada cara untuk menidurkan lengan ini?" tanya Jiangzhu lewat batin.

Hanya satu cara, Bocah. Masukkan lenganmu ke dalam tanah yang mengandung mineral 'Yin' tinggi. Lembah ini penuh dengan itu. Biarkan bumi menghisap hawa panasnya untuk sementara, jawab Penatua Mo, suaranya terdengar seperti bisikan hantu.

Jiangzhu segera membenamkan lengan kirinya yang hitam ke dalam tanah lembah yang dingin dan lembap. Rasa sakitnya luar biasa seperti disiram air es tepat di atas luka bakar namun uap ungu yang keluar dari pori-porinya perlahan mereda.

Tiba-tiba, sesosok pria terjun bebas dari salah satu kapal perang tanpa menggunakan parasut atau alat bantu. Ia mendarat dengan suara dentum pelan tepat di tengah lembah, sekitar seratus meter dari gua mereka. Pria itu mengenakan jubah merah tua dengan penutup mata dari logam perak. Di tengah penutup mata itu, sebuah permata merah berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

Inilah Inkuisitor Malphas.

"Bau... bau yang sangat lezat," Malphas bergumam, suaranya melengking tinggi dan menjijikkan. Ia mengendus udara seperti anjing pelacak. "Bau kegelapan yang mencoba bersembunyi di balik ketiak bumi. Keluar lah, Anak Haram Raja Iblis. Jangan membuatku harus menggali setiap inci lembah ini."

Malphas mengangkat tangannya yang kurus, dan puluhan jarum perak melayang di sekelilingnya, masing-masing membawa aura suci yang mematikan.

"Yue, bawa Ibu dan Awan lewat celah di belakang gua. Aku akan menjadi umpan," perintah Jiangzhu tanpa menoleh. Matanya yang kini berwarna abu-abu pekat menatap tajam ke arah Malphas.

"Kau gila? Lenganmu sedang mati rasa, Jiangzhu!" Yue memprotes.

"Justru itu. Tanpa energi di lengan ini, aku adalah manusia biasa di mata permatanya. Dia tidak akan menyadarinya sampai aku berada cukup dekat untuk mencabut kepalanya," Jiangzhu menyeringai sinis, memperlihatkan taringnya yang masih tersisa.

Awan memegang ujung baju Jiangzhu, matanya yang biru berkaca-kaca. "Kakak... hati-hati."

Jiangzhu mengangguk singkat, lalu ia merangkak keluar dari gua dengan gerakan yang sangat lambat, memanfaatkan bayangan batu dan tanaman merambat yang layu. Ia bergerak tanpa menggunakan Qi, murni mengandalkan kekuatan otot manusianya yang sudah terlatih bertahun-tahun di hutan desa.

Di tengah lembah, Malphas mulai kehilangan kesabaran. "Tidak mau keluar? Baiklah. Mari kita lihat seberapa kuat gua-gua di sini menahan Hujan Penyaliban!"

Malphas melambaikan tangannya, dan jarum-jarum perak itu melesat ke segala arah, meledakkan batu-batu besar menjadi debu. Satu jarum menyerempet bahu Jiangzhu, merobek kulitnya dan meninggalkan rasa panas yang menyengat. Jiangzhu tidak mengerang. Ia terus merangkak, memutar ke belakang posisi Malphas.

Sekarang, Bocah! Saat dia menarik kembali jarum-jarumnya, ada celah satu detik di pertahanannya! teriak Penatua Mo.

Jiangzhu meledakkan diri dari tempat persembunyiannya. Ia tidak menarik lengannya dari tanah sampai saat terakhir. Begitu ia melompat, ia menarik lengan kirinya yang sudah dingin dan memukul udara dengan sekuat tenaga.

"Cengkeraman Iblis Langit!"

Malphas tersentak. Permata merah di dahinya mendadak berputar gila, mengeluarkan peringatan bahaya yang terlambat. Jiangzhu muncul tepat di depannya, wajahnya kotor oleh tanah dan darah, matanya memancarkan kebencian yang murni.

KRAKK!

Tangan hitam Jiangzhu mencengkeram wajah Malphas tepat di penutup mata logamnya. Permata merah itu pecah berkeping-keping di bawah tekanan jari-jari Jiangzhu. Malphas menjerit melengking, sebuah jeritan yang sanggup merobek gendang telinga.

"Matamu terlalu berisik, Inkuisitor," desis Jiangzhu.

Ia memutar tubuhnya dan menghantamkan lututnya ke dada Malphas, membuat sang inkuisitor terpental menghantam dinding tebing. Tanpa memberi kesempatan, Jiangzhu menghunus pedang hitamnya dan menusukkannya tepat ke jantung Malphas yang masih berdetak cepat karena panik.

"Sekte Cahaya... akan... memburumu..." Malphas terbatuk darah emas, esensinya perlahan dihisap oleh pedang Jiangzhu.

"Biarkan mereka datang. Aku butuh lebih banyak energi untuk naik ke lantai selanjutnya," jawab Jiangzhu dingin.

Namun, kemenangan itu singkat. Suara sirine keras bergema dari kapal perang di atas. Mereka telah menyadari kematian Malphas. Ratusan prajurit mulai turun menggunakan tali energi.

"Sial, terlalu cepat!" Jiangzhu mencabut pedangnya dan segera berlari kembali ke arah gua.

Ia menemukan Yue dan yang lainnya sudah siap di mulut celah belakang. "Lari! Kita menuju Hutan Bayangan!"

Mereka berlari menembus kegelapan celah tebing saat ribuan anak panah cahaya mulai menghujani Lembah Sunyi. Jiangzhu merasakan dadanya sesak, racun di nadinya kembali bergejolak karena ia baru saja dipaksa menggunakan energi secara mendadak. Namun, setiap kali ia menatap Awan dan ibunya, rasa sakit itu seolah menjadi bensin bagi langkah kakinya.

Di belakang mereka, Lembah Sunyi hancur menjadi debu, namun sang Penghubung Tiga Dunia sekali lagi berhasil lolos dari taring kematian, meninggalkan jejak darah hitam yang akan menjadi peta bagi musuh-musuhnya di masa depan.

Jiangzhu mencengkeram dadanya yang terasa seperti dihantam palu godam setiap kali ia mencoba menarik napas. Udara di Lembah Sunyi yang tadinya murni kini tercemar oleh bau belerang dan uap logam dari kapal-kapal perang di atas sana. Ia bisa merasakan darah hitamnya sendiri mulai mengental di bulu matanya, membuat pandangannya sedikit merah dan buram. Setiap kali ia menggerakkan lengan kirinya, suara gemeretak dari balik sisik hitam itu terdengar seperti tulang yang sedang digiling perlahan.

"Jangan hanya diam dan menonton, Yue," desis Jiangzhu, suaranya parau dan mengandung nada ganda yang menjijikkan suara kemanusiaannya yang tersisa bertarung dengan geraman Li’er. "Jika kau punya rencana untuk membawa mereka keluar dari sini sebelum mata merah itu membakar otak kita, lakukan sekarang. Atau aku akan memastikan kau yang menjadi tumbal pertama untuk mengulur waktu."

Yue menelan ludah, tangannya yang memegang belati bergetar hebat hingga logamnya berdenting kecil. Ia melihat tangan Jiangzhu yang tertanam di tanah; tanah di sekitar jari-jari hitam itu mulai menghitam dan retak, seolah-olah bumi sendiri pun jijik pada energi yang dipancarkan Jiangzhu. "Kau sedang sekarat, Jiangzhu. Berhenti bersikap seolah kau memegang kendali," bisik Yue, meski ia tetap bergerak mengikuti perintah pemuda itu.

Bocah, rasakan itu... jantung inkuisitor itu berdetak dalam frekuensi 'Cahaya Suci' yang murni, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar seperti gesekan amplas pada kayu kering. Dia adalah predator bagi energi iblis sepertimu. Jika kau melakukan kesalahan satu milimeter saja saat menerjangnya, dia akan membekukan aliran darahmu hanya dengan tatapannya.

Jiangzhu tidak menjawab. Ia menggigit bibirnya hingga robek, membiarkan rasa asin darah yang hangat membangkitkan kembali kesadarannya yang mulai memudar. Di Benua Barat ini, doa hanyalah suara angin yang tidak berarti; hanya rasa sakit yang bisa memberimu bukti bahwa kau masih hidup. Ia menatap Awan yang meringkuk di sudut gua, dan untuk sesaat, amarah yang membara di dadanya mereda, digantikan oleh kedinginan yang mematikan. Ia akan menjadi monster, ia akan menjadi hantu, ia akan menjadi apa pun asalkan dia bisa merobek matahari yang sombong itu dari langit.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!