Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun berlabel nasehat
Beberapa hari berlalu, tapi udara di rumah itu tak pernah benar-benar bersih—selalu ada bau kepahitan yang mengendap di antara dinding, di balik tirai, bahkan di balik senyum palsu Aris saat menerima tamu.
Kirana tahu, itu bukan bau dapur atau pakaian yang belum dicuci. Itu bau penghinaan yang disiram pelan-pelan setiap hari, seperti racun yang diberi label “nasihat”.
Pagi itu, hujan rintik-rintik membasahi genteng. Kirana baru saja selesai menyuapi Gio bubur yang ia buat dari sisa beras semalam, dicampur sedikit gula merah yang hampir habis. Belum sempat menaruh mangkuk, suara Bu Widya sudah menggelegar dari ruang tamu.
“Kirana! Kamu pikir rumah ini kosan? Jam segini masih jemur baju di dalam? Nggak tahu malu, ya? Tamu Mas Aris bisa datang kapan saja, terus lihat jemuran baju anak bau susu nggantung di depan jendela?!”
Kirana bergegas mengangkat jemuran, meski bajunya masih lembap. Ia tahu, ini bukan soal jemuran. Ini soal memberi alasan—alasan untuk menghinanya, lagi.
“Maaf, Bu…” ujarnya lirih, menahan rasa sakit di punggung yang belum pulih sejak kemarin ia mengangkat karung beras dari pasar.
“Maaf doang? Maaf nggak bayar listrik! Maaf nggak bikin anak gemuk! Maaf nggak bikin suami betah di rumah!” Bu Widya menyilangkan tangan, matanya menyipit. “Kalau kamu nggak bisa jadi istri yang beneran, mending nggak usah nikah. Sekarang malah jadi beban keluarga Aris.”
Kirana menggigit lidah dalam-dalam. Ia ingin bilang, ("Aku yang bayar listrik pakai upah jahitku. Aku yang begadang kalau Gio demam. Aku yang diam saat Aris pulang mabuk dan melempar sepatu ke dinding.")Tapi ia tahu, suaranya nggak akan didengar. Di rumah ini, kebenaran nggak punya tempat—kecuali kalau yang bicara Aris atau Bu Widya.
----
Siangnya, Aris pulang lebih awal. Wajahnya cemberut, seperti biasanya . Ia melempar tas kerja ke sofa, lalu duduk sambil memencet-mencet ponsel.
“Kemarin, teman kantor nanya, kok rumah kita nggak pernah ada AC? Katanya, masa gajiku segini, rumah kayak gubuk?” katanya, tanpa menatap Kirana.
Kirana yang sedang mencuci beras di dapur berhenti sejenak. Gaji Aris? Yang mana? Yang lima ratus ribu yang “diberikan” kepadanya? Atau yang puluhan juta yang masuk ke rekening pribadinya—dan sebagian besar mengalir ke rekening wanita dengan foto profil bunga sakura di WhatsApp
“Kita memang nggak pasang AC, Mas…” jawabnya pelan. “Listrik bulan lalu naik karena mesin cuci rusak, terus…”
“Ya iyalah rusak! Kamu pake terus! Nggak tahu hemat!” potong Aris. “Padahal aku udah kasih lima ratus ribu—itu cukup buat hidup sederhana. Tapi kamu malah boros. Kalau nggak bisa ngatur, mending uangnya aku ambil aja, terus kamu kerja di luar. Biar tahu rasanya capek beneran.”
Kirana menatap beras di tangannya. Butir-butirnya kecil, pucat, tak berdaya—seperti dirinya. Tapi kali ini, ia tak menunduk. Ia menatap Aris lewat kaca dapur yang buram.
“Kalau Mas ambil uang itu, terus Gio makan apa?” tanyanya tenang, suaranya tak gemetar lagi.
Aris terdiam sesaat—kaget mungkin, karena biasanya Kirana langsung menangis atau diam seribu bahasa. Tapi ia cepat menyamarkan keterkejutannya dengan cemoohan.
“Ah, sok suci banget. Padahal aku tahu, kamu diam-diam jualan nasi bungkus ke tetangga, dapat untung, tapi nggak lapor. Itu namanya curang,” tuduhnya.
Kirana hampir tertawa. Jualan nasi bungkus dua ribu rupiah per bungkus, untung bersih lima ratus rupiah—itu curang? Tapi ia tak membantah. Ia tahu, ini bukan soal uang. Ini soal memastikan bahwa ia tetap di posisi bawah. Tak berharga. Tak berhak protes.
Malam itu, Bu Widya mengundang beberapa tetangga untuk arisan. Tentu saja, Kirana diminta menyiapkan camilan, menyeduh kopi, dan duduk di lantai sambil melayani—meski ia sendiri belum makan sejak siang.
Saat para ibu-ibu mulai bergosip, Bu Widya dengan lantang berkata, “Anakku Aris tuh dermawan banget. Sudah ngasih nafkah bulanan, masih bayarin susu sama popok cucuku. Padahal istrinya itu… ya, kalian tahu lah, cuma lulusan SMA, nggak bisa kerja beneran. Untung Aris nggak cerai, ya. Kasihan anaknya.”
Salah satu tetangga menoleh ke Kirana yang sedang mengisi gelas kopi. “Kirana, kamu bersyukur banget, ya, punya suami kaya Mas Aris. Sekarang susah cari laki baik kayak gitu.”
Kirana tersenyum tipis. Ia ingin jawab, ("Kalian tahu nggak, kalau semalam aku tidur di lantai karena suamiku bilang tempat tidur cuma buat yang ‘bersih’? Kalian tahu nggak, kalau aku sering puasa biar Gio bisa makan telur? Kalian tahu nggak, kalau ‘nafkah’ lima ratus ribu itu cuma sandiwara biar dia kelihatan suami sempurna di depan orang?")
Tapi ia hanya mengangguk. “Iya, Bu. Aku bersyukur.”
Dalam hati, ia menulis: (“Hari ke-7: Mereka panggil aku istri. Tapi perlakuan mereka seperti pada pembantu yang keberatan minta bayaran.”)
Keesokan pagi, sebelum subuh, Kirana diam-diam pergi ke pasar. Ia mendapat pekerjaan tambahan: bantu potong sayur di warung nasi langganan. Upahnya lima puluh ribu per pagi, tapi ia harus pulang sebelum Aris bangun—kalau tidak, pasti kena omel.
Saat pulang, rambutnya masih basah oleh embun, bajunya lembap keringat. Belum sempat ganti baju, Aris sudah berdiri di depan pintu.
“Kamu ke mana pagi-pagi begini? Nggak takut diculik? Atau
Atau… ketemu laki lain?” sindirnya, mata menyipit penuh curiga.
“Ke warung Bu Surti, bantu masak,” jawab Kirana jujur.
“Masak? Kamu pikir aku nggak bisa cek? Nanti aku tanya Bu Surti, kalau bohong, kamu tanggung akibatnya,” ancamnya, lalu pergi sambil mengunci pintu dari luar—padahal Kirana belum sempat ganti baju.
Di dalam rumah, Gio menangis. Kirana berlari, memeluk anaknya erat-erat. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Karena marah. Karena lelah. Karena harga diri yang terus diinjak-injak.
Tapi ia menghapus air mata itu dengan punggung tangan. Ia tak akan menangis lagi untuk orang-orang yang tak pernah melihatnya sebagai manusia.
Sore harinya, Bu Widya kembali menyerang—kali ini soal penampilan. “Lihat, bajumu lusuh terus. Masa iya sih nggak punya baju bagus? Atau kamu sengaja biar Aris jijik? Kasihan suamimu, harus lihat istri kayak gelandangan setiap hari.”
Kirana menatap cermin kecil di kamar mandi. Wajahnya pucat, rambutnya kusam, matanya lingkaran hitam. Tapi di matanya, ada sesuatu yang baru: nyala. Bukan lagi putus asa. Tapi tekad.
Ia tak punya uang untuk baju baru. Tapi ia punya ide. Ia potong kain perca dari proyek jahit kemarin, lalu menjahitnya jadi ikat rambut kecil untuknya Sederhana, tapi rapi. Esok pagi, saat Aris melihatnya, ia hanya mendengus. Tapi Bu Widya berkata, “Kok malah pake aksesoris? Mau pamer? Padahal uang suami aja nggak cukup buat makan!”
Kirana tak menjawab. Ia tahu, mereka tak akan pernah puas. Tak peduli seberapa keras ia berusaha, seberapa diam ia bersikap, mereka akan selalu menemukan cara untuk menjatuhkannya.
Tapi kali ini, ia tak lagi berusaha membuktikan diri pada mereka. Ia berusaha membuktikan pada dirinya sendiri: bahwa ia layak dicintai. Bahwa ia layak hidup layak. Bahwa ia bukan sampah yang bisa dibuang setelah dipakai.
Malam itu, ia menulis lagi di buku catatannya, tinta merah masih
(“Mereka pikir aku lemah karena diam. Tapi diamku bukan kekalahan. Diamku adalah senjata. Dan senjata itu sedang diasah—pelan, pasti, dan tajam.”)
Ia memandang Gio yang tertidur pulas di pelukannya. Di lantai yang sama, dengan tikar yang sama. Tapi besok, ia berjanji, akan berbeda. Ia akan daftar kursus jahit online. Ia akan jualan baju anak hasil jahitannya. Ia akan simpan setiap rupiah,bukan untuk membeli kebahagiaan, tapi untuk membeli kebebasan.
Karena bagi Kirana, kebebasan bukan kemewahan. Itu kebutuhan. Dan ia rela berdarah-darah demi mendapatkannya.
Esok harinya, Aris kembali membawa “teman”. Kali ini, seorang perempuan muda—rambutnya diwarnai cokelat muda, parfumnya menusuk hidung, senyumnya seperti dipraktikkan di depan cermin. “Ini Maya, teman kantor,” katanya santai, seolah tak ada yang aneh.
Kirana diminta menyediakan makan siang—lagi. Dengan uangnya sendiri. Lagi.
Maya meliriknya sekilas, lalu berkata pada Aris, “Mas Aris baik banget, ya. Sudah kasih nafkah lima ratus
merasa terluka. Ia merasa… kasihan. Kasihan pada Aris yang tak sadar betapa mudahnya ia dibaca. Kasihan pada Maya yang pikir jadi selingkuhan itu jalan pintas menuju kehidupan mewah. Dan kasihan pada dirinya sendiri—dulu.
Karena sekarang, ia tahu: harga diri tak diukur dari pujian orang, tapi dari keberanian untuk berdiri sendiri.
Saat malam tiba dan semua tidur, Kirana membuka buku catatannya lagi. Di bawah tulisan sebelumnya, ia tambahkan:
(“Aku tak butuh pengakuan mereka. Aku butuh keberanian untuk pergi. Dan itu… sudah mulai tumbuh.”)
Ia memandang langit malam lewat jendela. Bintang-bintang bersinar, jauh, tapi nyata. Seperti harapannya: samar, tapi tak pernah padam.
Dan kali ini, ia tak akan lagi menangis. Ia akan menulis rencananya dengan tinta yang tak bisa dihapus—tinta keberanian, harga diri, dan cinta pada Gio. Anak yang layak punya masa depan.