Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.Pintu yang Terbuka Terlalu Cepat
Kabar itu datang di sela jam pelajaran, tanpa peringatan.
Selvina membaca pesan itu berulang kali, seolah huruf-hurufnya bisa berubah jika ia menatap cukup lama.
Ibu masuk rumah sakit.
Tangannya gemetar. Ruang kelas mendadak terasa terlalu sempit, terlalu bising. Ia berdiri sebelum guru selesai berbicara, meminta izin dengan suara yang hampir tak keluar.
Di luar gedung, Varrendra sudah menunggunya—entah sejak kapan. Ia tidak bertanya banyak. Tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata kosong.
“Aku ikut,” katanya singkat.
Di perjalanan, kota terasa bergerak terlalu cepat. Lampu-lampu, klakson, orang-orang—semuanya lewat seperti bayangan. Selvina menatap lurus ke depan, menahan ketakutan yang tidak ingin ia akui.
“Apa kondisi ibumu?” tanya Varrendra pelan.
“Tidak tahu,” jawab Selvina. “Mereka hanya bilang aku harus datang.”
Kalimat itu cukup untuk membuat mobil sunyi.
🐺🐺🐺
Lorong rumah sakit menyambut mereka dengan bau antiseptik dan langkah kaki yang tergesa. Selvina berjalan lebih dulu, Varrendra setengah langkah di belakang—cukup dekat untuk menopang jika ia jatuh, cukup jauh untuk tidak menekan.
Ketika mereka berhenti di depan kamar rawat, Selvina membeku.
Di balik kaca buram, ia melihat dua sosok yang tidak ia duga: Rivena dan Gevano.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Kebingungan bercampur waspada.
“Kenapa mereka di sini?” bisik Selvina.
Varrendra juga mengernyit. “Aku tidak tahu.”
Mereka mendekat. Pintu kamar sedikit terbuka. Suara dari dalam keluar samar—cukup jelas untuk didengar, terlalu pribadi untuk disimak.
“…aku tidak tahu harus bagaimana,” suara Rivena terdengar lebih rapuh dari yang pernah Selvina dengar. “Tubuhku berubah. Aku lelah sepanjang waktu. Mual setiap pagi. Dokter bilang—”
Ada jeda.
“—aku mengandung.”
Selvina menahan napas.
Suara ibunya menyusul, lembut namun tegas. “Kau selalu keras pada dirimu sendiri, Rivena. Bahkan sekarang.”
“Aku takut,” lanjut Rivena, hampir berbisik. “Aku tidak ingin Varrendra kehilangan fokus. Aku tidak ingin hidupnya berbelok karena kesalahanku.”
“Kau bukan kesalahan,” kata ibu Selvina. “Dan anak itu bukan beban.”
Selvina merasa dunia berputar. Rivena—perempuan yang selama ini ia lihat sebagai simbol kontrol—sedang berbicara tentang ketakutan paling manusiawi.
“Kau ingat dulu?” suara ibu Selvina tersenyum. “Saat kita masih muda, kau selalu bilang tidak butuh siapa pun. Tapi kau selalu datang saat aku jatuh.”
“Aku tidak pernah belajar bagaimana caranya meminta,” jawab Rivena lirih. “Hanya mengatur.”
“Kau tidak sendiri sekarang,” kata ibu Selvina. “Kau masih punya aku,Varrendra,Gevano,dan Selvina.”
Di samping Selvina, Varrendra membeku.
Wajahnya pucat. Matanya melebar, seperti baru saja dihantam kebenaran yang tidak pernah ia bayangkan.
“Ibu…” katanya tanpa suara.
Refleks mengambil alih.
Ia membuka pintu terlalu cepat.
Daunnya membentur dinding dengan bunyi keras.
Rivena menoleh tajam—lalu membeku.
Untuk sesaat, waktu berhenti.
Pandangan ibu dan anak bertemu.
Ada keterkejutan, ketakutan—lalu sesuatu yang lain menyusup tanpa izin: rasa senang. Tipis. Tak terbendung. Seperti cahaya kecil yang lolos dari retakan.
“Varrendra…” Rivena melangkah satu langkah, suaranya bergetar.
Varrendra berdiri kaku. “Apa yang—”
“Diam,” kata Gevano cepat.
Ia melangkah ke depan dan—plak.
Satu geplakan ringan di belakang kepala Varrendra. Tidak keras. Tapi cukup untuk memecah momen.
“Ini rumah sakit,” ujar Gevano datar. “Bukan tempat drama.”
Varrendra tersentak, menoleh dengan kaget. “Ayah—”
“Bukan sekarang,” potong Gevano. Tatapannya mengingatkan: ada hal-hal yang harus ditunda.
Selvina berdiri di ambang pintu, jantungnya masih berlari. Ia menatap Rivena—dan untuk pertama kalinya, melihatnya bukan sebagai lawan, bukan sebagai ibu Varrendra.
Melainkan sebagai perempuan yang sedang ketakutan.
“Ibu,” panggil Selvina pelan.
Ibunya menoleh, tersenyum lemah. “Masuklah.”
Di dalam, udara terasa berat oleh rahasia yang baru saja terkuak. Rivena menghela napas panjang, menegakkan bahu seperti biasa—tapi kali ini, kepura-puraannya transparan.
“Aku minta maaf,” katanya pada Selvina. “Kau tidak seharusnya mendengar itu dengan cara seperti ini.”
Selvina menggeleng. “Aku hanya… tidak menyangka.”
Tidak ada yang menambahkan apa pun. Beberapa kebenaran tidak perlu ditanggapi—cukup diakui keberadaannya.
Saat mereka keluar dari kamar, Rivena tertinggal di lorong. Ia menutup mata sejenak, menenangkan napas.
Dan di ujung lorong itu—di antara bayangan dan lampu yang berkedip—ia merasakan sesuatu.
Bukan orang. Bukan suara.
Sebuah kehadiran.
Seolah ada entitas yang menunggunya sejak lama.
Bukan untuk mengancam.
Melainkan untuk meminta.
Bantu kami.
Rivena membuka mata. Lorong itu kosong. Tapi dadanya terasa berat, seperti baru saja memikul permintaan yang tidak bisa ia tolak.
Ia tahu perasaan itu.
Itu bukan imajinasi.
Itu pertanda.
Dan ia tahu—mulai hari ini, bukan hanya masa depan anaknya yang berada di tangannya.
Ada sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, yang sedang bergerak ke arahnya.
Dan ia telah dipilih.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍