"Yang namanya di kampus, pasti banyak dong, mahasiswi-mahasiswi yang cantik, kan gampang tinggal pilih. Tapi kenapa kamu masih jomlo juga sampai kamu jamuran?
Jeff langsung menoleh, menatap Kayla dengan sorot mata tajam.
"Kamu pikir mencari istri itu mudah? Semudah mencari cabai dalam tumis kangkung? Enggak La?"
"Lagian siapa juga yang mau sama kamu. Galak. Palingan cuma aku doang" celetuk Kayla yang lagi-lagi membuat Jeff semakin geram.
"Aku juga kepaksa nikah sama kamu, siapa juga yang mau sama kamu. Janda dua kali dan gagal nikah tiga kali."
***
Jeff merasa apes. Sebab, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan Kayla yang sudah berkali-kali gagal berumah tangga. Bukan hanya itu saja, wanita itu juga galak dan sangat jutek.
Tapi, apa sebenarnya yang menyebabkan Kayla gagal berumah tangga berulang kali? Dan trauma apa yang pernah menjadi ketakutannya bila berdekatan dengan laki-laki?
Temukan jawabannya di sini~
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gimana aku bisa bahagiain kamu?
Keesokan harinya~
“Terima kasih Dok,” ucap Jeff kepada dokter yang telah memeriksa Kayla.
“Sama-sama Pak, Bu. Semoga kejadian-kejadian mengerikan itu tidak terulang lagi. Di dampingi selalu ya Pak, istrinya.” kata Dokter memberi Jeff pesan.
“Baik Dok.” jawab Jeff kemudian.
“Semoga setelah ini, kalian bisa segera memberikan kabar baik kepada keluarga besar.”
“Aamiin, aamiin Dok, insyaallah ....”
Raut bahagia begitu terpancar di wajah mereka berdua saat keluar dari ruang praktik dokter. Usai sudah semua terapi yang seharusnya masih dilakukan dalam waktu yang panjang. Karena Kayla yang sembuh jauh lebih cepat dari perkiraan. Dokter mengatakan bahwa Kayla sudah bisa menghandle rasa traumanya dengan baik. Terapi sudah boleh dihentikan, tapi dengan beberapa catatan, obat masih tetap jalan bila memang diperlukan. Mungkin ke depannya tinggal berencana untuk mempunyai momongan.
“Mau mampir ke tempat lain atau mau langsung pulang?” tanya Jeff kepada Kayla. Mereka sedang menuju lobby.
“Aku pengin pacaran, kita kan nggak pernah,” jawabnya terdengar merajuk.
“Pacaran itu, ngapain? Makan malam, nonton, atau duduk berduaan di taman?”
“Masa gitu aja nggak tau!” cebiknya terdengar kesal. Mau PMS atau tidak ya sama saja.
Jeff hanya mengedikkan bahu. Setahunya, pacaran ya, seperti yang ia sebutkan tadi. Memangnya apa lagi?
Tapi kalau disuruh memikirkan sendiri menentukan tempat yang tepat untuk berduaan, rasanya Jeff kebingungan. Jeff belum mengenal Kayla secara keseluruhan. Mereka hanya kenal biasa saja. Dekat pun, mulai sekarang-sekarang ini setelah mereka menikah. Tidak terlalu tahu lebih dalam apa-apa kesukaannya. Pernah kenal dekat waktu jaman SD, sudah berapa puluh tahun?
“Bagaimana baiknya, kamu mau ke mana aku turuti. Aku nggak pernah pacaran begituan. Kecuali pacaran di hp.” ucap Jeff setelah terdiam beberapa saat.
“Sama siapa?” tanya Kayla menyelidik. Kecemburuan jelas terlihat di wajahnya.
“Ya sama cewek lah, masa sama laki-laki.”
“Siapa nama mantan kamu?”
“Rahasia, La. Nggak boleh di sebutkan. Tidak boleh suami menceritakan mantan kepada istrinya. Pun sebaliknya. Karena ... bisa berpotensi merusak hubungan.” jelas Jeff seraya fokus menatap jalanan.
Tahu seberapa playgril-nya sang istri dulu sebelum menikah dengannya. Pasti akan menimbulkan rasa sakit jika mereka saling berbicara mengenai mantan. Meskipun itu bukan kehendak Kayla sendiri, melainkan karena sakit yang di deritanya.
"Ngomongin masa depan mungkin lebih baik daripada ngomongin masa lalu." sambung Jeff lagi.
Melewati Jalan Semanggi, Jeff mengendarai mobil lurus selama beberapa puluh kilo meter menuju ke Bundaran HI dan belok ke arah Plaza Indonesia.
“Ya sudah Kita ke Lamoda aja,” ucapnya dan diangguki oleh Kayla. Lamoda adalah cafe & resto menengah ke atas yang terletak di tengah-tengah Mall, tak jauh dari lobby.
Keduanya berjalan bergandengan bak sepasang kekasih yang sedang cinta-cintanya. Ini adalah kali pertama Kayla menjadi wanita bucin yang cukup menggelikan se Jagad raya. Sorot-sorot mata pengunjung tak lepas dari pemandangan ini. Bahkan tak sedikit mereka yang meminta untuk berfoto.
** *
Beberapa hari kemudian.
“Lagi apa ini Neng keriting?”
Jeff melihat rumah yang sedang berantakan. Karena siapa lagi kalau bukan Neng keritingnya.
“Udah tau pakai nanya.” jawab Kayla seraya fokus menatap cermin kecil. Wanita itu sedang menggunting rambut poninya sendiri di dekat teras yang terang benderang oleh sinar matahari. "Nanti aku beresin Tuan."
"Nggak nanya." ucap Jeff.
“Kenapa nggak ke salon aja nanti salah gunting jadi jelek.” Jeff mengingatkan sambil dirinya bersiap memakai jasnya. Jeff memang laki-laki yang sangat mandiri. Cekatan dan tidak bergantung kepada siapa pun. Setiap pagi, ia selalu menyiapkan pakaiannya sendiri serta keperluannya yang lain. Bahkan kadang Jeff membuat sarapan sendiri jika Kayla sedang malas melakukannya.
Merasakan harum tubuh Jeff yang menyeruak di indera penciumannya membuat Kayla lantas mendekat secara otomatis seperti magnet. Mendekat dan mengendus-endus tubuh Jeff mulai dari atas hingga bawah.
“Selesaikan dulu pekerjaanmu, nanti ponimu bisa miring, sayang.”
“Jeff, kamu mau berangkat ya?”
“Udah tau pakai nanya.” Jeff meniru kata-kata Kayla barusan dengan ciri khas yang sama.
“Ihhh! Sebel.” cebiknya karena senjata telah memakan tuan.
“Aku pergi dulu, kamu nggak boleh ke mana-mana.” Kecupan singkat mendarat di kening Kayla. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Pak, tolong laporin ke saya kalau istri saya pergi.” Pesan Jeff kepada security sebelum Jeff benar-benar masuk ke mobil.
“Iya, iyaaaa aku nggak ke mana-mana kok tenang ajaaaaa pakai dasters nggak usah bisik-bisik. Aku denger nih.” seru Kayla dari dalam.
Jeff hanya terkekeh pelan.
** *
Beberapa jam berlalu setelah Jeff pergi, Kayla menghubungi Daddy-nya menanyakan tentang pencariannya beberapa hari yang lalu. Apakah sudah beres atau-kah sebaliknya? Kayla belum mendengar kabar terbaru.
“Jadi sudah sampai mana progresnya Dad?” tanya Kayla. “Aku dah males nih di rumah terus, memangnya aku di suruh bertelor apa?”
Bosan sekali jika Kayla harus terkurung di rumah. Bagaikan sedang hidup di dalam rutan.
Terdengar helaan nafas kasar dari seberang yang membuat Kayla berprotes sambil mengusap-usap telinganya, “duhhh plis deh Dad, kalau nafas itu jangan di hadap ke hapenya bisa rusak pendengaranku.”
“Iya!” kesal Daddy.
“Jadi gimana kabar terbarunya, ah Daddy ini nggak ngomong-ngomong.”
“Orangnya belum ketangkep, malah nggak tau ke mana masih dalam pencarian.”
“Yang bener nih, aku takut. Kan aku dah bilang waktu itu nggak usah di ungkap lagi, aku dah nganggap masalah itu selesai. Daddy, sih!” Kayla mengeluarkan unek-uneknya. Dia takut akan posisinya yang masih belum aman.
“Kalau kayak gini ‘kan aku nggak tenang. Nggak nyenyak tidur karena merasa bahaya.”
“Tenang aja, itu gak akan. Kamu kan banyak yang jagain nggak usah khawatir.”
“Nggak akan gimana, Daddy nggak bisa memastikannya sebelu-”
“Ya udah kamu sabar aja. Kalau sedang diperjuangkan hak-haknya oleh seseorang, oleh Daddy atau siapa pun itu, seperti yang kamu alami sekarang ini, kamu jangan malah balik ke belakang. Dukung aja dengan mendoakan yang terbaik,” selak Daddy yang dapat membungkam mulut cerewetnya.
Iya, benar juga sih.
“Iya. Yaudah Dad, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, salam buat Mami aku tercinta.”
“Ya, tapi kamu tetap mawas diri jangan ceroboh, paham!”
“Ok Daddy tersayang!”
Tut tut tut.
Beberapa saat kemudian setelah panggilan diakhiri, suara mobil terdengar sangat jelas di telinganya yang Kayla ketahui itu adalah knalpot mobil milik Jeff.
Tumben kok bisa pulang secepat ini? Padahal jam di dinding masih menunjukkan pukul sebelas siang, batin Kayla meninjau-ninjau. Heran, penasaran, takut ada apa-apa terjadi membuatnya cepat-cepat keluar untuk menghampiri.
Setelah Jeff turun, Kayla mengguncang bahu Jeff yang sangat lesu itu. “Jeff? Jeff?”
Tapi Jeff hanya diam seperti orang bingung.
"Kenapa kok kamu pulangnya cepet? Ini juga kamu mukanya kok jadi pucat begini. Apa kamu sakit?” tanya Kayla memberondong.
Jeff menggeleng lalu menundukkan kepalanya.
Kayla benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan melihat suaminya lemah lesu seperti itu. Kayla tidak punya keahlian lain, seperti merayu, membujuk, atau menyenangkan hatinya apalagi memberinya masakan-masakan yang enak. Kayla benar-benar tidak bisa apa-apa selain memberikannya pelayanan memuaskan di ranjang. Ahh bodoh bodoh bodoh! keahlian macam apa itu? Semua orang pun pasti bisa. Kayla merasa tak berguna sama sekali.
“Ada apa sebenarnya ini Jeff? Apa aku buat salah?”
“Maaf ya kalau aku buat salah. Kamu bilang dong apa salahku biar aku nggak ngulangin lagi,” ucapnya begitu menghiba.
“Bukan salahmu,” jawabnya masih dengan wajah semuram tadi.
"Lalu?" tanya Kayla dengan alis yang meninggi, berharap jawaban selanjutnya.
“Maaf La, aku baru saja dikeluarkan dari Kampus.”
Deg!
“Kalau seperti ini, gimana caranya aku bisa bahagiain kamu, La.”
** *
To be continued.
pertanyaan simple kenapa kalian tidak tanya pada diri kalian apakah kalian juga mengerti pada suami kalian, apakah kalian juga pengertian terhadap suami kalian
kenapa wanita dicap wanita egois ya ini
saat menuntut pengertian dia sendiri tidak mau mengerti keadaan suaminya
*jeff , hanya jeff berjuang untuk rumah tangganya, jeff sabar dengan segala kelakuan Kayla, jeff berkali memaafkan Kayla, jeff bersikap bodoh mempertahankan rumah tangganya, sampai jeff melawan ibunya untuk mempertahankan Kayla, jeff sabar menanti dan membujuk maaf dari Kayla,
*Kayla, pembangkang, melawan semua perintah suami, berkali2. melakukan kesalahan, yang gatal karena keras kepalanya yang menyebabkan nyawa janin keguguran, saat suami marah bukannya memujuk dan berjuang dan bersabar mendapatkan maaf suami, ini dia pergi dari rumah dan minta cerai (ini kesalahan fatal lagi) dia egois merasa dirinya yang tersakiti karena suami tidak mudah memaafkannya, nyatanya dia juga tidak mudah memaafkan suaminya,
sebutkan satu saja yang membuat jeff merasa beruntung dapat Kayla, kalau bagi aku tidak ada sama sekali
maaf aku bukan bilang novel tidak bagus, kalau mau jujur aku akui novelmu sangat bagus, dari sisi karya, ide cerita, penulisan dan jalan cerita yang mudah dimengerti dan moment penting juga dapat tapi hanya keadilan terhadap pemeran utama wanita dan pemeran utama pria yang kurang, karena author masih kurang adil terhadap pemeran utama pria
*coba kalau konflik awalnya istri yang salah buat istri yang menyesal, berjuang dapat maaf, berjuang meluluhkan hati suaminya, jangan kalian buat isu pengalihan yang istri buat salah kalian buat suami juga buat salah yang ujung suami yang meresa bersalah dan minta maaf dan berjuang
*coba kalian berani buat novel istri yang membuat salah istri juga yang menyelesaikan masalah itu tampa di beri pengalihan isu
*kayak konflik ini jelas2 Kayla yang salah, dia tidak menghargai suaminya, berbuat sesuka hatinya, tidak mau mendengar perintah suami, membangkang yang ujung mereka kehilangan janin yang jelas2 akibat kelalaian Kayla, memang ini musibah tapi kenyataannya kayla yang membuat musibah ini karena keegoisannya, tapi apa yang terjadi kalian tutupi kesalahan Kayla ini dengan membuat jeff juga buat salah yang ujung2 jeff yang dibuat bersalah, menyesal, dan berjuang
*aku secara pribadi akan salut ama author kalau author bisa berbesar hati buat Kayla yang berjuang mendapatkan maaf dan kesempatan dari suami sampai masalah ini selesai, buat Kayla jadi wanita tangguh yang berbuat salah dan berani menyelesaikan masalahnya tampa membuat pengalihan isu suami yang salah